Tato dan pesepakbola bak dua hal yang tak bisa dipisahkan. Tubuh atletis mereka acap kali dihiasi dengan berbagai macam gambar dan bentuk guna memberikan aksen gahar sekaligus indah pada tubuhnya. Namun, tak ada pemain yang lebih identik dengan tato daripada Daniel Agger, mantan bek Liverpool era 2010-an.
Di balik masa kejayaannya menjadi idola para fans Liverpool, Daniel Agger ternyata menyimpan memori kelam bersama The Reds. Ia memendam rasa sakit dan kecewa karena tak dihargai oleh sang pelatih. Mengapa seperti itu? Berikut kisah penderitaan yang disembunyikan Daniel Agger semasa berseragam Liverpool.
Daftar Isi
Hampir ke Everton?
Sebelum dikenal sebagai salah satu legenda Liverpool seperti sekarang, ternyata Daniel Agger yang masih berseragam Brondby IF pernah hampir bergabung dengan rival sekota The Reds, Everton. Pada bursa transfer musim panas tahun 2005, manajer Everton kala itu, David Moyes bahkan sampai terbang ke Denmark untuk menemui orang tua Agger dan membujuk mereka untuk merelakan anaknya guna bergabung dengan The Toffees.
Tapi hingga berakhirnya jendela transfer musim panas tersebut, transfer Agger ke Everton tak pernah terealisasikan. Karena di saat-saat terakhir Moyes justru mengurungkan niat untuk memboyong sang pemain. Akhirnya, Agger tetap berseragam Brondby IF hingga pertengahan musim 2005/06.
Hari ini pada 2006, Daniel Agger bergabung dengan Liverpool. Idola siapa nih? pic.twitter.com/8kOvIskCYi
— The Reds Indonesia (@The_RedsIndo) January 12, 2022
Setelah gagal bergabung dengan Everton, Agger justru bergabung dengan Liverpool pada Januari 2006. Ia bergabung dengan skuad Liverpool sebagai anak muda yang harus bersaing dengan bek-bek kelas atas macam Jamie Carragher, Sami Hyypia, hingga sang pemilik tendangan geledek, John Arne Riise.
Jadi Idola Baru Anfield
Bersaing dengan nama-nama besar nyatanya tak membuat nyali Daniel Agger ciut. Ia justru tertantang untuk merebut satu tempat di skuad Miracle of Istanbul asuhan Rafa Benitez. Toh apabila belum menjadi pilihan utama di musim pertama, itu hal yang wajar. Karena Agger masih berusia 21 tahun.
Sebagai pemain yang didatangkan di paruh musim, Agger sudah mengemas empat penampilan di Liga Inggris di musim pertamanya. Itu angka yang cukup untuk melahirkan pujian dari sang pelatih, Rafa Benitez. Dikutip This is Anfield, Benitez menaruh keyakinan pada Agger bahwa kelak sang pemain akan menjadi salah satu bek terbaik di Liga Inggris.
That’s one way to score your first 😱#OnThisDay in 2006, Daniel Agger netted his reds debut goal… 𝑰𝒏 𝒔𝒕𝒚𝒍𝒆 🤩 pic.twitter.com/AYNs51l7nj
— Liverpool FC (@LFC) August 26, 2020
Di usia yang masih muda, Agger sudah menarik perhatian dengan pola permainan sepakbola cerdas. Dia tampak sebagai pembelian yang brilian saat itu. Kemampuan dan ketenangannya saat mengolah bola, serta pembacaan permainan yang cerdik berhasil menyihir publik Merseyside. Dengan cepat pemain kidal itu jadi idola baru di Anfield.
Saat Agger menjalani musim penuh pertamanya, ia menjadi pemain reguler di skuad asuhan Rafa Benitez. Saat Liverpool berhasil mencapai final Liga Champions, Agger mencetak gol saat melawan Chelsea di semifinal yang dimainkan di Anfield. Dan tentu saja, gol itu akan hidup selamanya dalam ingatan fans.
Meski kerap dibekap cedera, Agger tetap menjadi pilihan utama di lini bertahan Liverpool. Ia diduetkan dengan Jamie Carragher saat Sami Hyypia pergi pada tahun 2009. Ketenangan dalam menguasai bola dan sesekali membantu serangan membuat Agger berhasil membangun kombinasi yang solid dengan Carragher.
Menahan Sakit Demi Liverpool
Meski begitu, Agger tak bisa dipisahkan dengan cedera. Pada musim 2010/11 performanya terganggu oleh cedera hamstring yang kembali kambuh. Terlebih cedera punggung yang ia alami pada tahun 2009 juga belum sembuh 100% membuat performa Agger sempat tak stabil.
Cedera punggungnya itu membuat Agger rajin mengkonsumsi obat penahan nyeri atau biasa disebut anti-inflamasi. Dan saat kursi kepelatihan berganti ke Brendan Rodgers pada tahun 2012, Agger makin rajin mengkonsumsi obat penahan rasa sakit demi bisa bermain untuk Liverpool.
Ia rela menahan rasa sakit di setiap pertandingan, karena sang pelatih sangat membutuhkan peran Agger di lini pertahanan Liverpool. Namun, hubungan antara Agger dengan pelatih asal Skotlandia itu justru memburuk gara-gara performa sang pemain dinilai jauh dari standar. Padahal Rodgers sendiri tahu, bahwa Agger selalu bermain dengan menahan rasa sakit.
Daniel Agger returned to Brøndby on 30 August 2014 after playing 232 matches for #LFC. Injuries had curtailed his career after a bad fall (pictured) in a pre-season game in Singapore in 2009. A fantastic representative for the club. pic.twitter.com/kR7ZiJZemz
— LFChistory.net (@LFChistory) August 30, 2018
Liverpool menelan kekalahan di Liga Inggris musim 2013/14 saat melawan Southampton. Saat itu Rodgers menyalahkan Agger atas satu-satunya gol yang tercipta dan membuat Liverpool kalah. Rodgers sama sekali tak mengajak Agger berbicara dan sang pemain merasa ada yang salah dengan situasi tersebut.
Pemain asal Denmark itu bahkan sampai meminta maaf kepada Rodgers. Tapi seperti yang dikatakan oleh salah satu fisioterapi Liverpool, Agger seharusnya tak usah meminta maaf, karena ia sudah memainkan 50 kali pertandingan dalam kondisi menahan rasa sakit. Jadi ketika Agger tak menampilkan 100% kemampuannya di lapangan, itu merupakan hal yang wajar. Sayangnya, Brendan Rodgers tak berpikir demikian.
Merasa Tak Dihargai
Rodgers yang sudah naik pitam akhirnya menyingkirkan Agger dari skuad inti, dan Itu sangat melukai hati Agger. Ia kecewa dengan sikap dan respons Rodgers, padahal ia baru sekali melakukan kesalahan selama 50 kali bermain sambil menahan rasa sakit.
Posisi Agger di skuad Liverpool pun kian tak tertolong. Ia bahkan menjadi pilihan keempat di bawah Mamadou Sakho, Martin Skrtel, dan Kolo Toure. Rodgers lebih senang memasang Sakho untuk menjadi tandem Skrtel ketimbang Agger. Awalnya ia tak masalah dengan hal itu, asal itu yang terbaik untuk tim. Tapi lama-lama Agger pun mulai habis kesabaran.
Daniel Agger: “Brendan Rodgers adalah penyebab aku hengkang dari Liverpool. Dia tidak menghargai kontribusiku.” pic.twitter.com/Xa9gpO94N6
— SuporterFC (@SuporterFC) September 23, 2014
Dan itu membuat sikap Agger di ruang ganti kian memperkeruh suasana. Dilansir The Guardian, segalanya kembali memuncak ketika Liverpool bertemu Swansea City pada Februari 2014. Di jeda babak pertama, perdebatan antara Agger dan sang pelatih tak terhindarkan.
Rodgers mengkritik dua bek tengah Liverpool, Skrtel dan Agger karena telah membiarkan Wilfried Bony dengan nyaman menguasai bola. Sehingga mantan punggawa Manchester City itu bisa mencetak gol dengan mudah. Di tengah keheningan ruang ganti, Agger yang tersulut emosi pun berdiri dan berteriak untuk membela rekan-rekannya dengan kalimat yang cukup kasar. Dan setelah insiden itu, penilaian Rodgers pada Agger tak lagi sama.
Pensiun dan Bisnis Aneh
Agger yang sudah muak pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari Liverpool pada akhir musim 2013/14. Ia kembali bergabung dengan klub masa kecilnya, Brondby IF dengan kontrak selama dua tahun. Dia harus rela mengalami pemotongan gaji yang signifikan demi bermain di liga yang tidak terlalu menuntut kemampuan fisik.
Setelah menyelesaikan dua tahun di periode keduanya bersama Brondby, Agger memutuskan pensiun dini di usia 31 tahun pada Juni 2016. Beberapa saat setelah gantung sepatu, Agger langsung banting setir. Bek jangkung itu tidak lagi aktif di dunia sepakbola, tapi mulai menggeluti dunia usaha.
Menariknya, bidang usaha yang ia pilih terkesan nyentrik dan beda dari yang lain. Daniel Agger membuat tiga usaha unik, yaitu toko baju anak-anak, studio tato, dan sedot WC. Hmmm, jadi penasaran, Agger juga nempelin brosur sedot WC-nya itu di tiang listrik tidak ya?
https://youtu.be/0CIWiQ8weRU
Sumber: The Athletic, The Guardian, This Is Anfield, These Football Times, ESPN, Panditfootball


