Carlo Ancelotti, Sang Penakluk Semifinal Liga Champions

spot_img

Carlo Ancelotti tidak ambil pusing soal pertandingan leg kedua semifinal menghadapi Bayern Munchen. Anak asuhnya tampil bagus dengan menahan imbang Die Roten di markasnya sendiri. Pertandingan kedua bisa dipikir belakangan.

Carletto seolah tak peduli pada pertandingan berikutnya. Tapi, di Bernabeu, ketika timnya menghadapi Bayern Munchen, Ancelotti seolah tahu caranya berkomunikasi dengan malaikat dan memintanya untuk menyampaikan pada Tuhan, bahwa Real Madrid butuh keajaiban-Nya.

Ancelotti pun membawa Real Madrid ke final. Ini adalah final ke-18 Los Blancos. Bagi Ancelotti ini adalah final keenamnya. Dahsyat sekali bukan?

Mari kita membahasnya. Namun, sebelum itu jangan lupa subscribe dan nyalakan loncengnya agar tak ketinggalan video terbaru dari Starting Eleven Story.

Satu-Satunya

Pertandingan di Wembley nanti bakal menjadi final keenam bagi Ancelotti. Pelatih berpaspor Italia ini enam kali mencapai final dengan dua tim yang berbeda. Tidak ada pelatih di seluruh dunia yang menyamai rekor ini. Carletto melewati rekor Marcello Lippi, Sir Alex, Pep Guardiola, Jurgen Klopp, dan Miguel Munoz yang masing-masing sudah empat kali tampil di final UCL. 

Dari keenam kali lolos ke final Liga Champions, Ancelotti memenangkannya empat kali. Dua bersama AC Milan, dua lagi bersama Los Galacticos. Namun, pencapaian ini tak mudah. Ancelotti bahkan butuh sentuhan keajaiban dan sedikit berani mengambil resiko untuk melakukannya.

Mencapai Final yang Tidak Mudah

Entah kenapa dalam kompetisi sepak bola mana pun, semifinal terasa lebih sulit dan lebih menjanjikan ditonton. Sajian sepak bola penuh drama acap terjadi di semifinal, ketimbang final. Di final kadang yang terjadi justru antiklimaks. Final seringkali kehilangan ketegangannya. Meski tidak selama begitu.

Di Liga Champions, menaklukkan semifinal lebih sulit dari mengalahkan Thanos. Kekuatan tim, kemahiran pelatih mengolah taktik, dan kematangan pemain saja tidak cukup. Disamping ketenangan dan, tentu saja pengalaman, sentuhan magic juga diperlukan. Namun, seperti halnya pertunjukkan sulap, butuh trik agar keajaiban yang diinginkan keluar.

Ancelotti khatam soal itu. Meskipun tidak terlalu menunjukkannya. Bagi Carletto, sepak bola hanya terdiri dari dua hal: menyerang dan bertahan. Bertahan adalah persoalan organisasi tim. Menyerang soal kreativitas.

Di laga itu, pertahanan Bayern Munchen rapat, rapi, terstruktur, dan sistematis. Belum lagi Manuel Neuer tampil kesetanan. Kelincahan Vinicius tak cukup. Butuh sentuhan kreativitas dalam menyerang. Ancelotti menyalurkannya lewat Luka Modric, Eduardo Camavinga, dan Joselu. Masuknya ketiga pemain itu mengubah jalannya pertandingan.

Modric dan Camavinga membaca rongga di struktur permainan Die Roten. Ancelotti sedikit berjudi dengan Joselu. Tapi sang pemain menafsirkan apa yang Carletoo mau. Bergerak dan terus memburu bola.

Pergerakan Joselu ini gagal diantisipasi sekali pun Tuchel menambah Kim Min-jae di sektor bek tengah. Dua golnya di menit genting lahir karena bek Bayern tak becus mengantisipasi pergerakan Joselu.

Keajaiban di Semifinal 2021/22

Ancelotti juga pernah menciptakan keajaiban yang sama di semifinal musim 2021/22. Ketika itu, Los Galacticos sudah kalah 4-3 di Etihad. Plus mereka tertinggal satu gol oleh Riyad Mahrez sebelum memasuki menit penghabisan. Namun, sekali lagi, hanya ada bertahan dan menyerang dalam kamus Ancelotti.

Sisanya, ia menyerahkan keputusan kepada para pemainnya. Kepercayaan itulah yang boleh jadi menumbuhkan semangat. Di Santiago Bernabeu, di tengah puluhan ribu pendukungnya sendiri, Manchester City menggempur pertahanan El Real.

Phil Foden, Bernardo Silva, Joao Cancelo, hingga Kevin de Bruyne bergiliran meneror pertahanan Los Galacticos. Tapi Thibaut Courtois punya kepercayaan diri penuh. Kiper Belgia itu jatuh bangun menyelamatkan gawang. Namun, Real Madrid tidak berkembang. Ederson nyaris tidak mendapat ancaman berarti.

Di tepi lapangan, arahan Ancelotti tak kelihatan. Ia seolah hanya menunggu pemainnya menciptakan kreasi dalam menyerang. Apa yang ditunggunya akhirnya muncul ketika kemenangan sudah berada di pelipis mata Guardiola.

Camavinga, Marco Asensio, dan Karim Benzema mengorkestrasi serangan Madrid. Gol pertama Rodrygo dihasilkan dari aksi Camavinga yang melihat pergerakan Benzy. Peraih Ballon d’Or itu lantas meneruskan umpan ke Rodrygo.

Menariknya, skema yang hampir sama juga berhasil di gol kedua. Asensio melakukan seperti Camavinga. Namun, kali ini mengincar kepala Rodrygo. Sang pemain bisa menjangkaunya dan menyundulnya ke gawang Ederson. Gol tercipta.

Namun, dua gol itu tak membuat sumringah Carletto. Ekspresinya kalem, seolah tak menyangka kalau para pemain bisa melakukan apa yang bahkan mungkin tidak ia perintahkan.

Comeback Dramatis di Semifinal 2004/05

DNA menaklukkan semifinal Liga Champions sepertinya sudah terbentuk sejak lama. Di AC Milan, Ancelotti juga pernah melakukan itu. Rossoneri pernah susah payah lolos ke final 2004/05. Waktu itu, di semifinal, pasukan Don Carlo menghadapi PSV Eindhoven asuhan Guus Hiddink.

Phillip Cocu dan kolega dengan gagal melaju ke semifinal mengalahkan finalis sebelumnya, AS Monaco di babak 16 besar dan menaklukkan Lyon di perempat final. Namun, PSV kalah lebih dulu di leg pertama. Ketinggalan dua gol membuat PSV ngegas di pertandingan kedua.

Laga belum genap 10 menit, Philips Stadium bergemuruh lewat gol Park Ji-sung. Gol cepat itu menambah keyakinan PSV. Semangat mereka berkobar dan membuat AC Milan kesulitan dan grogi. Publik Philips Stadium makin mengintimidasi.

Cocu mencetak gol kedua dan membuat agregat sama kuat. Hingga menit 90, laga sepertinya akan berlanjut ke babak tambahan. Namun, Ambrosini mematahkan hati penggemar PSV. Golnya membuat gol ketiga PSV tak ada artinya. Sayang, keajaiban di semifinal tak bisa diulangi Ancelotti di final.

Setelah unggul 3-0 di Istanbul. Alih-alih mempertahankan keunggulan, Liverpool berhasil mengejar ketinggalan. Bahkan membalikkan keadaan di babak adu penalti setelah berjuang tanpa henti.

Kesuksesan 2006/07

Selain musim 2004/05 yang berakhir tragis, jangan lupakan pula perjuangan Carletto dan AC Milan di UCL musim 2006/07. Bisa jadi pertandingan semifinal musim itu malam yang paling berkesan bagi penggemar Rossoneri. Para penggemar Milan melabeli laga ini sebagai “La Partita Perfetta”.

Saat itu, Manchester United musuhnya. MU datang dengan modal kepercayaan diri usai menaklukkan Milan di Old Trafford 3-2. Pertandingan ini sangat memorable karena di sana menghadirkan pertarungan antara Cristiano Ronaldo vs Ricardo Kaka. Antara Sir Alex melawan Carletto.

Kehilangan Andriy Shevchenko dan Rui Costa membuat Don Carlo harus melakukan beberapa perubahan taktik. Dengan reputasi sebagai pelatih yang fleksibel secara taktik dan memiliki kemampuan man-management kelas dunia, Carletto merancang taktik agar individu dapat mengekspresikan diri dan mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Muncullah taktik “Pohon Cemara”. Kaka dan Seedorf ditempatkan di belakang Inzaghi. Kedua pemain akhirnya mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Kaka dan Seedorf menyumbang dua gol di laga itu. Kedua pemain juga berperan dalam gol ketiga yang dicetak Gilardino.

Bisakah Ancelotti Membawa Madrid Juara Lagi?

Pertanyaannya, apakah setelah enam kali ke final, Ancelotti akan kembali membawa Real Madrid juara di Liga Champions? Peluang juara tentu saja ada. Apalagi ambisi Los Galacticos meraih gelar UCL akan selalu hidup. Mereka selalu kerepotan mendapat gelar Copa del Rey, tapi selalu punya cara meraih Si Kuping Besar.

Kalau juara, ini berarti untuk ketiga kalinya Carlo Ancelotti membawa Real Madrid juara UCL. Namun, ingat, Ancelotti pernah gagal sekali bersama AC Milan. Ia belum mengambil jatah gagalnya di final saat melatih Los Merengues. Jadi, football lovers, apakah musim ini waktunya Real Madrid melimabelaskan gelar Liga Champions atau malah sebaliknya?

Sumber: TheNationalNews, TheAthletic, EuroSport, SempreMilan, CNN, TheGuardian, ChampionsLeague

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru