Bukti Real Madrid Si Paling Jago Liga Champions

spot_img

Berakhir sudah Liga Champions musim 2021-22. Real Madrid, meski kita bosan menyebutnya, kembali menjadi juara Liga Champions. Sejak 1998, Real Madrid memang tak pernah gagal di final.

Dijagokan atau tidak, klub yang satu ini memang sudah ditakdirkan menjadi kampiun. Jadi, tak usah bertaruh lebih dengan lawan Real Madrid di final Liga Champions. Sudah pasti jika mereka masuk final, mereka pasti jadi juara.

1998

Real Madrid adalah pemegang gelar 6 kali Liga Champions, di mana gelar yang terakhir diraihnya pada tahun 1966. Sudah 32 tahun mereka tanpa gelar Liga Champions lagi. Sebelumnya mereka dihantui kegagalan, ketika terakhir kali ditekuk Liverpool di final 1981. Los Merengues frustasi dalam pencarian mereka untuk gelar ketujuhnya yang dikenal dengan “La Septima”.

Namun, malah terwujud pada musim 1997/98. Lolos sebagai juara grup di atas Rosenborg, Olympiakos dan Porto, langkah Madrid di bawah Jupp Heynckes berhasil mulus mencapai final setelah di perempat final menyingkirkan Bayern Leverkusen dan di semifinal menyingkirkan juara bertahan, Borussia Dortmund.

Di final, El Real dihantui kegagalan lagi setelah bertemu lawan kuat, Juventus. Juventus yang notabene terakhir kali juara di musim 1995/96 dan jadi runner up musim 1996/97. Juventus adalah calon kuat juara musim itu.

Tapi, Madrid menunjukan tajinya kali ini. Diperkuat pemain macam Roberto Carlos, Raul, Morientes, sampai Seedorf, Madrid tampil penuh perlawanan. Juventus yang dilatih Marcello Lippi dengan trio Zidane, Del piero dan Inzaghi-nya tak mampu menembus pertahanan Hierro cs.

Gol satu-satunya lahir di menit 66 yang dicetak Predrag Mijatovic. Hasil 1-0 ini membuat gelar “La Septima” bagi Madrid terwujud. Dari gelar ini Madrid mulai menancapkan pondasinya sebagai penguasa Eropa kembali.

2000

Tak perlu penantian panjang lagi Madrid masuk final Liga Champions. Di musim 1999/00 Madrid kembali mentas di partai puncak. Kali ini mereka ditantang rekan senegaranya, Valencia yang mengandaskan Barca di semifinal. Ini adalah final pertama yang mempertemukan dua klub senegara di Liga Champions.

Madrid di bawah pelatih pengganti Vicente Del Bosque, melaju mulus dengan menundukan juara bertahan MU di perempat final dan runner up musim lalu Bayern Munchen di semifinal.

Skuad Madrid masih berisikan sebagian besar pemain bekas juara 1998, ditambah kedatangan pemain baru macam McManaman, Anelka, Salgado maupun Helguera. Sementara, Valencia di bawah Hector Cuper yang menjadi underdog musim itu berisikan pemain macam Kily Gonzalez, Mendieta sampai Claudio Lopez.

Final yang berlangsung di Paris itu akhirnya menjadi milik El Real dengan kemenangan telak 3-0 lewat gol Morientes, McManaman, dan Raul. Ini adalah Gelar kedelapan bagi Madrid di Liga Champions.

2002

Tak usah berlama-lama lagi, Madrid kembali mentas di final musim 2001/02. Pasukan Del Bosque kembali dihadapkan pada gelar juaranya yang ke-9. Bermodalkan skuad yang masih sama di 2000 ditambah Zidane dan Figo, Madrid menjadi sangat diunggulkan ketika lawannya yakni Bayern Leverkusen merupakan underdog di musim itu.

Menyingkirkan Munchen di perempat final dan Barcelona di semifinal, Madrid tak usah diragukan lagi kapasitasnya untuk meraih gelar di final yang dihelat di Glasgow, Skotlandia. Hal itu tercermin dari raihan mereka ketika di final 1998 dan 2000 kemarin.

Benar saja, gol Raul dan sepakan indah Zinedine Zidane membawa gelar ke-9 bagi El Real. Kemenangan 2-1 atas Leverkusen itu sekaligus penasbihan bagi Madrid sebagai penguasa Eropa selama 5 tahun terakhir sejak 1998. Di mana mereka selalu meraih gelar ketika sudah mencapai final di tiga musimnya.

2014

Penantian panjang lagi terjadi di kubu Madrid. Mirip kejadian Madrid mencari gelar La Septima-nya sejak 1966. Kini, 12 tahun waktu yang dibutuhkan Madrid untuk kembali menjadi raja Eropa.

Madrid selama 12 tahun tidak lagi sampai ke partai puncak dalam rangka pencarian gelar “La Decima”. Sampai akhirnya El Real dibawa Carlo Ancelotti kembali tampil di final musim 2013/14. Harapan La Decima pun di depan mata.

Menyingkirkan 3 wakil Jerman sekaligus seperti Schalke di 16 besar, Dortmund di perempat final dan Munchen di semifinal. Madrid di tangan Ancelotti bersua tim senegaranya sekaligus rival sekota, Atletico Madrid asuhan Simeone di final.

Final di Lisbon 2014 itu menjadi mimpi indah bagi publik Bernabeu. Pasalnya, gelar La Decima itu akhirnya singgah di Bernabeu setelah Madrid mencukur Atletico di final dengan skor 4-1 lewat extra time. Dominasi Madrid pun kembali di Eropa setelah 12 tahun. Mereka juga menunjukan sekali lagi bahwa ketika mereka mampu menuju final, mereka pasti bisa merebut juara.

2016

Selang dua tahun kemudian, di bawah komando baru legenda mereka, Zinedine Zidane, Madrid diuji mental Eropanya. Zidane yang notabene pelatih baru disangsikan peluangnya mempertahankan status El Real sebagai penguasa Eropa.

Namun, cerita berkata lain. Zidane dengan sentuhan pengalaman mental Eropanya mampu mengantarkan Madrid kembali ke final. Dan mereka kembali mesti bertemu Atletico Madrid. Tradisi selalu menang di final tetap berlanjut.

Zidane mulus dengan racikan barunya trio Modric-Kroos-Casemiro serta trio penyerang Benzema-Bale-Ronaldo. Mereka menang lewat drama adu penalti di San Siro. Itu adalah gelar Liga Champions pertama bagi Zidane dan ke-11 bagi Madrid.

2017

Musim berikutnya kekuatan Madrid bersama Zidane yang sebagian besar skuadnya hampir sama dengan musim lalu, membuat mereka kembali masuk final. Menyingkirkan Napoli di 16 besar, Munchen di perempat final, serta Atletico di semifinal, El Real menatap gelar ke-12 nya.

Bermodalkan DNA Liga Champions, mereka tak gentar menghadapi Juventus asuhan Allegri. Waktu itu, Juventus juga sangat berambisi merebut gelar setelah mereka gagal di tahun 2015. Namun nahas, Juve tak sekuat itu untuk merebut gelar dari Madrid.

Madrid menekuk Juve 4-1 di final yang berlangsung di Cardiff. 2 gol dicetak Ronaldo serta 1 gol masing-masing dicetak Casemiro dan Asensio. Dengan itu dominasi Madrid bersama Zidane benar-benar terbukti. Madrid keluar sebagai juara Liga Champions back-to back. Dan itu adalah prestasi tersendiri bagi El Real dan Zidane.

2018

Seakan menjadi langganan tetap final Liga Champions. Musim berikutnya, Madrid yang masih bersama Zidane plus kerangka skuad yang kurang lebih hampir sama dengan musim sebelumnya, kembali menuju partai final.

Hattrick masuk final dan akhirnya hattrick juara Liga Champions berhasil diwujudkan di Kiev. Tatkala mereka mengandaskan wakil Inggris, Liverpool di bawah Jurgen Klopp. Skor 3-1 beserta blunder kiper Liverpool, Loris Karius dan cederanya Mo Salah menjadi cerita abadi di final itu. Zidane mencatatkan rekor baru bagi Madrid. Tiga kali masuk final tiga kali juara. Gelar itu juga menjadi bukti bahwa Real Madrid tak tertandingi di final Liga Champions.

2022

Setelah terakhir kali meraih gelarnya yang ke-13 pada 2018, di bawah Zidane, Real Madrid mencicipi rasanya tidak masuk final lagi. Sampai Carlo Ancelotti, pelatih yang mempersembahkan La Decima datang, dan mereparasi ulang Real Madrid. Membuat Real Madrid kembali ke setelan pabrik.

Dengan kerangka tim sisa juara 2018, ditambah amunisi muda membuat mereka tampil mulus hingga final. Real Madrid mengandaskan PSG di 16 besar, Chelsea di perempat final kemudian City di semifinal.

Bertemu Liverpool di final yang makin matang bersama Klopp, bukan lawan yang mudah bagi Madrid. Tragedi final Kiev 2018 pun tak mau diulangi pasukan Anfield di Paris 2022 ini. Tapi Madrid, ya.. tau sendiri kalau sudah masuk ke final hasilnya bakalan seperti apa.

Mental itu kembali terbukti setelah akhirnya gelar ke-14 Madrid terwujud di Paris, setelah kemenangan tipis 1-0 berkat gol Vinicius Junior serta kehebatan Courtois dalam membendung serangan yang dibombardir pasukan Klopp. Dengan hasil ini, terang sudah jika Madrid masuk final Liga Champions lagi musim depan atau musim kapan pun, percayalah, sudah pasti El Real bakal memenangkannya.

Sumber Referensi : theathletic, en.as, therealchamps, sportingnews

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru