Entah apa yang salah dari PSG tapi mereka selalu menghadapi nasib buruk di Liga Champions. Padahal skuad parisiens adalah tim yang bertabur bintang paling mahal seantero Eropa. Tapi mereka masih belum bisa menaklukan kompetisi Eropa. Semalam mereka kembali harus menghadapi keterpurukan. Messi dan kolega tidak bisa melangkah ke fase berikutnya setelah dipecundangi oleh Bayern Munchen.
Daftar Isi
PSG Keok Lawan Bayern Munchen
PSG tidak berdaya di dua leg melawan Bayern Munchen. Nyatanya raksasa Jerman itu memang lebih perkasa di setiap aspek permainan. Lini serang parisiens diredam dengan baik oleh pertahanan gemilang die roten. Trio Neymar, Mbappe, dan Messi hanya menghasilkan 10 tembakan selama dua leg itu. Sebuah catatan yang memalukan untuk tiga pemain dengan bayaran tertinggi di dunia saat ini.
Padahal mereka bisa menunjukan ketajaman di liga domestik. Lini depan PSG terlihat begitu tajam setelah mencetak 11 gol dalam tiga kemenangan beruntun di Liga Prancis. Yang terakhir adalah kemenangan 4-2 atas Nantes, dimana Mbappe mencatatkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub. Ia telah mengoleksi 201 gol untuk les parisiens.
Di leg kedua ini, Neymar harus absen karena cedera jangka panjangnya. Dan itu membuat PSG semakin tak berdaya melawan Bayern Munchen. Duet Messi dan Mbappe tidak cukup tajam untuk menembus pertahanan yang dipimpin oleh Matthijs de Ligt. Bek asal Belanda itu menunjukan kemampuan bertahan luar biasa ketika menghalau tendangan Vatinha yang nyaris melewati garis gawang.
Meskipun PSG lebih dominan di babak pertama, mereka tidak bisa memanfaatkan momentum. Skuad Galtier mampu mencatatkan penguasaan bola yang lebih unggul. Namun mereka harus puas dengan skor kacamata di babak pertama.
Masuk ke babak kedua, Bayern membuat awal yang kuat. Eric Maxim Choupo-Moting, yang merupakan mantan pemain Paris memasukan bola ke gawang yang menganga di menit ke-60. Membuat agregat menjadi 2-0.
Setelah itu, kedua manajer membuat beberapa pergantian pemain di sepuluh menit terakhir. Tapi pemain pengganti Bayern yang membuat dampak lebih signifikan. Serge Gnabry masuk ke ruang terbuka dan membuat skor menjadi 2-0 di menit ke-89. Kini agregat jadi 3-0 dan membuat punggawa PSG makin frustasi. Sampai peluit panjang dibunyikan tidak ada gol tambahan. Bayern pun melaju ke perempat final dengan mudah.
Champions Adalah Rumah Bayern
Gambaran terakhir di Allianz Arena menceritakan kisah mereka masing-masing. Kegembiraan tersaji di sisi tuan rumah yang merayakan kesuksesan mereka. Sementara itu Mbappe dan Messi langsung menghilang dari lapangan. Tidak lebih dari enam pemain PSG yang datang ke tribun suporter tamu untuk berterima kasih kepada fans yang sudah jauh-jauh datang dari Paris.
Mereka tentu kecewa lagi-lagi hanya sampai di 16 besar. Namun quarter final memang sudah jadi rumah Bayern yang mereka tempati secara reguler. Die Roten telah lolos ke perempat final Liga Champions untuk ke-21 kalinya. Itu lebih banyak daripada klub lain di Eropa.
Thomas Muller CS juga telah memenangkan 16 dari 18 laga kandang di Champions League terakhir mereka. Bayern hanya pernah sekali menang dan sekali kalah. Menunjukan bagaimana kekuatan mereka jika bermain di rumah sendiri.
Tidak hanya itu. Bayern kini mencatatkan tujuh clean sheet dalam delapan pertandingan Liga Champions musim ini. Yang tidak terduga adalah, satu-satunya tim yang bisa mencetak gol ke gawang mereka adalah Viktoria Plzen dalam kemenangan 4-2. Itu terjadi di Republik Ceko pada fase grup.
Catatan PSG di Champions
Catatan luar biasa Bayern di liga Champions itu sangat berbanding jauh dengan catatan PSG. Les Parisiens telah menjalani 137 pertandingan Liga Champions tanpa menjuarai kompetisi. Itu jadi catatan terburuk kedua sepanjang masa sebuah klub. Yang terbaik masih dipegang oleh Arsenal. Meriam London mencatatkan 177 pertandingan tanpa pernah juara Champions.
Ini tentu bertolak belakang dengan visi pemilik PSG saat ini. Qatar Sport Investment sangat ingin membawa gelar Champions pertama ke Parc de Princes. Sementara klub telah mendominasi liga domestik sejak tahun 2011. Tapi di Champions League, mereka selalu gagal meskipun sudah belanja pemain besar-besaran.
Dengan tersingkirnya PSG musim ini di babak 16 besar, itu memperpanjang catatan buruk klub di Eropa. PSG telah delapan kali dalam 10 tahun hanya bisa sampai di perempat final. Hanya dua kali tim Menara Eiffel berhasil melewati perempat final. Yakni mencapai final pada musim 2019/20 dan semifinal 2020/21.
Donnarumma mungkin punya penyesalan lebih atas catatan PSG di Champions League itu. Pasalnya AC Milan yang merupakan klub lama Donnarumma berhasil melaju sampai ke perempat final setelah mengalahkan Tottenham. Tapi ia mengaku masih bangga berseragam PSG dan ikut senang atas pencapaian AC Milan.
“Kami kecewa dan marah. Sangat mengecewakan tersingkir dari Champions League. Ya, saya senang Milan bisa terus maju, tapi saya sangat bangga berada di PSG.” Ungkapnya dikutip dari the Athletic.
Masa Depan Messi dan Mbappe
Donnarumma mungkin masih bisa bertahan di PSG beberapa musim kedepan. Tapi yang jadi pertanyaan adalah akankah ini jadi musim terakhir Mbappe dan Messi di Paris? Setelah menjuarai Piala Dunia, Messi tentu ingin sekali lagi menjuarai Liga Champions sebelum ia pensiun. Tapi mimpinya itu akan sulit jika terus berada di Paris.
Kontrak Messi akan habis pada musim panas mendatang. Ada laporan bahwa ia sudah ditawari perpanjangan kontrak selama satu tahun di PSG. Tapi kabar itu masih simpang siur dan belum ada kejelasan lebih lanjut. Baik itu dari pihak klub maupun Messi sendiri.
Untuk Mbappe, kontrak tiga tahun yang ia tandatangani musim lalu memang bisa meredam rumor untuk sementara waktu. Tapi Mbappe masih saja selalu dikabarkan akan bergabung dengan Real Madrid. Ia masih punya sisa kontrak di PSG selama dua tahun. Tapi ia bisa membatalkan kontrak tersebut dan pergi dari klub.
Apakah itu akan terjadi di akhir musim ini? Akankah akhirnya Mbappe mendarat ke Bernabeu? itu semua masih belum pasti. Tapi yang pasti adalah Mbappe ingin menjadi pemain terbaik dan mendapatkan gelar Ballon d’Or. Ia tidak bisa mendapatkannya kalau belum menjuarai Liga Champions. Dan Real Madrid adalah klub paling tepat jika ia ingin dapat gelar Liga Champions.
Sumber referensi: Athletic, Sporting, Sportskeeda


