Harus diakui lagi kalau Premier League adalah liga paling makmur sejagad. Oleh karena itu, setiap kontestan rela menginvestasikan banyak uang untuk bisa bertahan di kasta teratas.
Namun, tidak ada jaminan tim yang telah menggelontorkan banyak uangnya di lantai bursa akan lolos dari jeratan degradasi. Situasi menggenaskan itulah yang kini tengah dihadapi oleh Southampton.
Mengenal Sport Republic, Pemilik Baru Southampton
Tidak banyak yang menyadari kalau musim lalu ada dua klub yang berganti kepemilikan. Nama pertama sudah pasti Newcastle United yang begitu menyita perhatian. Tiga bulan setelah Newcastle diambil alih konsorsium Arab Saudi, giliran Southampton yang berganti kepemilikan.
Setelah dikuasai oleh pengusaha asal Cina, Gao Jisheng sejak musim panas 2017, kepemilikan Southampton kembali berpindah pada awal Januari 2022. Adalah Dragan Šolak, miliarder asal Serbia yang kini jadi pemilik baru The Saints.
Melalui perusahaan investasi olahraga dan hiburan bernama Sport Republic yang dibentuk pada 2021 lalu oleh Henrik Kraft dan Rasmus Ankersen, Šolak membeli 80% saham Southampton yang dimiliki Gao Jisheng seharga £100 juta.
Pergantian pemilik ini menandai sebuah era baru di St Mary’s Stadium. Setelah diselamatkan dari kebangkrutan oleh Markus Liebherr pada 2009 silam, The Saints kemudian mengalami penurunan prestasi dan menjadi akrab dengan papan bawah sejak dikuasai oleh Gao Jisheng yang dianggap pelit oleh fans.
Oleh karena itu, kedatangan Sport Republic disambut dengan optimisme. Apalagi, investor utama Sport Republic, Dragan Šolak, pernah dinobatkan sebagai orang terkaya di Serbia. Sementara itu, Rasmus Ankersen yang bertindak sebagai CEO Sport Republic adalah mantan direktur olahraga sekaligus salah satu dalang di balik promosinya Brentford ke Premier League dengan metode moneyball-nya yang terkenal.
Sport Republic sendiri merupakan pemain baru dalam dunia Multi-Club Ownership. Setelah memiliki Southampton, mereka mengakuisisi 70% saham klub divisi 2 Liga Turki, Goztepe. Mungkin, karena masih baru dan membagi konsentrasinya di dua tim, Sport Republic jadi kurang maksimal dalam mengelola Southampton.
Dua Pelatih Dipecat Setelah Southampton Berjudi dengan Pemain Muda di Bursa Transfer
Langkah pertama Sport Republic adalah mempertahankan manajer Ralph Hasenhüttl. Di sisi lain, mereka justru memecat 3 asisten pelatih tim utama, yakni Dave Watson, Kelvin Davis, dan Craig Fleming. Ketiga merupakan asisten yang sudah lama bekerja di St Mary’s.
Langkah ini mendapat kritik, sebab di akhir musim lalu, Southampton hanya meraih 1 kemenangan dan menelan 10 kekalahan dalam 13 pertandingan terakhir yang membuat mereka finish di urutan ke-15.
Setelah mempertahankan Ralph Hasenhüttl, Sport Republic kemudian menggelontorkan dana yang cukup lumayan di lantai bursa transfer pemain. Sebanyak 15 pemain anyar didatangkan dengan dana £127 juta yang dibelanjakan di dua bursa transfer pemain. Dana sebesar itu menjadi rekor pengeluaran terbanyak Southampton untuk belanja pemain baru.
Namun, Southampton membuat perjudian besar. Pasalnya, para pemain anyar yang datang ke St Mary’s Stadium rata-rata baru berusia 22,5 tahun.
Seperti 3 pemain yang didatangkan dari Manchester City U21. Saat direkrut, Gavin Bazunu masih berusia 20 tahun, sedangkan Samuel Edozie dan Romeo Lavia masih berusia 19 tahun dan 18 tahun.
Sementara itu, rekrutan termahal Southampton, Kamaldeen Sulemana masih berusia 20 tahun saat pertama kali datang ke St Mary’s Stadium. Begitu juga dengan Carlos Alcaraz yang juga masih berusia 20 tahun. Langkah tersebut juga diikuti dengan penjualan pemain senior semacam Fraser Forster, Shane Long, Nathan Redmond, dan Oriol Romeu.
Tak ayal, perombakan skuad tersebut membuat Southampton kini tercatat memiliki skuad paling muda di Premier League. Takada yang salah berjudi dengan pemain muda. Toh, sudah banyak contoh yang berhasil menuai prestasi dengan cara tersebut dan salah satunya adalah Arsenal.
Dengan rataan usia 24,3 tahun, skuad Southampton memiliki rataan usia yang sama dengan Arsenal. Namun, hasilnya bagai bumi dan langit. Arsenal jadi pimpinan klasemen, sementara Southampton jadi juru kunci.
Dalam 14 pertandingan pertama musim ini, Southampton hanya meraih 12 poin. Hasil itu kemudian membuat manajer Ralph Hasenhüttl dipecat.
Oleh para penggemar, pemecatan tersebut dianggap terlambat dua musim. Di bawah asuhan manajer asal Austria itu, Southampton pernah mencatat kekalahan terburuk sepanjang sejarah ketika dibantai 9-0 oleh Leicester City dan Manchester United.
Sempat ditangani asisten Ruben Selles selama 1 pertandingan, Southampton kemudian merekrut Nathan Jones dari Luton Town sebagai suksesor Ralph Hasenhüttl. Musim lalu, Nathan Jones dinobatkan sebagai manajer terbaik Championship.
Namun, prestasi itu takada artinya di hadapan ketatnya Premier League. Pertaruhan Southampton dengan merekrut Nathan Jones yang tak punya pengalaman melatih di kasta teratas berakhir menjadi bumerang.
Setelah kalah 2-1 dari Wolverhampton pada 12 Februari lalu, Jones meninggalkan klub dengan hanya meraih 1 kemenangan liga dalam 8 pertandingan yang membuat Southampton terjun ke dasar klasemen. Pemecatan tersebut membuat Nathan Jones hanya bertahan selama 94 hari di St Mary’s. Ia adalah manajer dengan masa jabatan terpendek dalam sejarah klub.
Setelah Nathan Jones, terbitlah Rubén Sellés, asisten pelatih yang kembali naik pangkat menjadi caretaker. Pertandingan pertamanya di Liga Inggris ditandai dengan kemenangan mengejutkan 1-0 di kandang Chelsea. Sepertinya, berkat kemenangan tersebut, Sellés kemudian dipermanenkan sebagai manajer Southampton hingga akhir musim 2022/2023.
Pelatih berusia 39 tahun itu sebenarnya punya CV yang bagus. Sellés memiliki gelar Master di bidang Olahraga & Fisiologi dari University of Valencia, dan lulus dari program Lisensi Pro UEFA pada usia 25 tahun. Sebelum bekerja di Southampton, ia memiliki pengalaman melatih di Yunani, Rusia, Azerbaijan, Denmark, dan Spanyol.
Namun, seperti halnya Nathan Jones, Rubén Sellés mewarisi skuad muda Southampton yang kurang pengalaman. Inkonsistensi jadi momoknya. Setelah menundukkan Chelsea, The Saints takluk 1-0 atas Leeds United, kemudian menang 1-0 atas Leciseter City, lalu imbang 0-0 melawan Manchester United, dan terbaru takluk 2-0 di kandang atas Brentford.
Rangkaian hasil tadi membuat Southampton tak beranjak dari dasar klasemen. The Saints baru mengumpulkan 22 poin dari 27 pertandingan.
Southampton Diprediksi Bakal Terdegradasi
Semua kekacauan ini tentu muaranya adalah perjudian yang Southampton lakukan di bursa transfer pemain. Sekali lagi, takada salahnya berjudi dengan pemain muda. Sayangnya, para youngster yang didatangkan membuat skuad The Saints terlihat rapuh. Pada pertengahan September lalu, Ralph Hasenhüttl bahkan pernah menggambarkan timnya sebagai tim yang “mengerikan untuk ditonton”.
Meski kontroversial, tetapi pernyataan tersebut tak sepenuhnya salah. Pasalnya, kini sebagian besar pemain yang menghuni skuad bisa dibilang belum berpengalaman mentas di liga dengan tingkat persaingan tinggi seperti Premier League.
Disinilah letak perbedaannya mereka dengan skuad Arsenal yang sama-sama muda. Meski masih muda, para pemain yang didatangkan Arsenal sudah memiliki pengalaman, sementara para pemain anyar yang didatangkan Southampton bisa dibilang merupakan bakat mentah yang butuh waktu untuk adaptasi.
Namun, para pemain muda Southampton sebenarnya tak seburuk itu. Seperti Armel Bella-Kotchap yang tahun lalu menembus skuad Jerman di Piala Dunia 2022. Lalu ada Gavin Bazunu. Meski sudah kebobolan 43 gol, kiper muda yang menggeser Alex McCarthy dan Willy Caballero ini mendapat pujian atas 4 clean sheets yang ia catat.
Ada juga Carlos Alcaraz, gelandang anyar yang baru datang bulan Januari lalu. Baru 7 kali tampil, ia sudah menyumbang 2 gol. Begitu juga dengan Romeo Lavia, gelandan bertahan 19 tahun yang tampil reguler mendampingi James Ward-Prowse.
Namun, sekali lagi, para pemain muda ini masih butuh waktu untuk mekar dan akan serasa percuma jika hanya mereka yang berkembang. Pasalnya, saat ini Southampton juga tengah kekurangan pemain berkualitas. Hanya kapten James Ward-Prowse saja yang bisa diandalkan. Gelandang tengah berusia 28 tahun itu jadi top skor The Saints dengan torehan 6 gol, dimana 3 gol di antaranya ia buat lewat sepakan bebas.
Kondisi tersebut diperparah dengan fakta mandulnya lini depan Southampton. Che Adams baru mencetak 4 gol, sedangkan Adam Armstrong baru mencetak 1 gol. Sementara Sekou Mara yang direkrut pada musim panas lalu belum menyumbang satu gol pun.
Masalah tersebut sudah coba ditangani dengan mendatangkan Kameldeen Sulemana, Paul Onuachu, dan Mislav Orsic pada bursa transfer musim dingin. Namun, ketiga penyerang tersebut juga belum memberi kontribusi. Dengan torehan 20 gol dalam 27 pertandingan, Southampton adalah tim dengan jumlah gol paling sedikit di Premier League musim ini.
Menilik dari usia para pemain Southampton musim ini, Sport Republic bisa dibilang tengah menjalankan proyek jangka panjang. Namun, proyek ini tak ada artinya jika pada akhirnya Southampton terdegradasi dari Liga Primer Inggris.
Sang pemilik baru juga melupakan satu hal penting. Premier League adalah liga yang kejam. Siapa yang gagal nyetel dalam waktu singkat harus siap menerima konsekuensi terburuk.
Kini, perjudian Southampton yang membuang pemain senior dan merekrut pemain-pemain muda kurang pengalaman telah berbuah menjadi bumerang yang mengancam eksistensi mereka di Premier League. Setelah bekali-kali lolos dari jeratan degradasi secara ajaib, ancaman turun kasta kini terlihat begitu nyata bagi Southampton.
Dengan persentase sebesar 69,1%, super komputer milik Opta bahkan menempatkan Southampton sebagai tim pertama yang bakal terdegradasi dari Premier League musim ini. Lalu, apakah prediksi tersebut akan terbukti? Jika Southampton tak segera berbenah, prediksi tersebut mungkin bakal segera terbukti dalam waktu dekat.
Referensi: DailyEcho, SkySports, The Guardian, SkySports, The Analyst, Transfermarkt.


