Gol dari James Ward-Prowse ke gawang Kepa pada hari Sabtu, 18 Februari lalu cukup untuk membuat Chelsea kalah saat menjamu Southampton. Padahal Southampton adalah klub yang berada di dasar klasemen.
Tapi Chelsea harus mengakhiri pertandingan dengan kekalahan lagi. Dengan ini, London biru telah menjalani lima pertandingan di semua kompetisi tanpa satupun kemenangan. The Pensioners juga masih berkutat di peringkat 10, berada di bawah Brentford dengan selisih empat poin.
Sorotan utama tentu saja ada di juru taktik, Graham Potter. Mantan manajer Brighton yang menggantikan Thomas Tuchel itu dinilai jadi penanggung jawab utama atas buruknya performa the Blues musim ini. Apalagi Potter saat ini menangani Chelsea yang telah menghabiskan banyak uang di bursa transfer Januari kemarin.
Pemain-pemain kelas dunia ia datangkan sambil memecahkan rekor transfer. Tapi Chelsea masih saja bapuk. Dalam 14 pertandingan terakhir di Premier League, the Pensioners hanya pernah dua kali menang.
Tentu saja banyak yang menyerukan pemecatan Graham Potter. Tapi kenapa, pelatih asal Inggris itu tidak kunjung dipecat? Seakan Todd Boehly begitu percaya dengan Graham Potter.
Daftar Isi
Potter Gampang Diatur
Berdasarkan sumber dari The Telegraph, alasan pertama adalah Potter tidak senang berdebat dengan dewan klub. Atau istilah lainnya, Ia lebih suka membuat keputusan berdasarkan apa yang terbaik untuk klub. Contohnya, ia nurut sama staf medis untuk tidak buru-buru menurunkan pemain yang sedang cedera. Potter juga sering mendiskusikan masa depan para pemainnya, seperti Aubameyang, ke dewan klub.
Berbeda dengan Potter, alasan mengapa Tuchel dipecat adalah karena ia tidak ragu untuk mengeluarkan pendapat pribadinya. Tuchel bahkan tidak ragu untuk mengkritik para pemain dan petinggi klub itu sendiri.
Tuchel juga punya masalah emosi di pinggir lapangan. Tentu kita masih ingat insiden Tuchel dengan Antonio Conte pada bulan Agustus tahun 2022. Berbanding terbalik dengan dirinya, Potter malah mendapatkan kritik kurang bersemangat di pinggir lapangan. Potter bahkan jarang marah ketika memberikan pendapat ketika Chelsea kalah.
Tapi gaya kepelatihan ini justru lebih disukai oleh para dewan klub. Sebab, dengan begitu Potter punya kemungkinan kecil untuk membeberkan urusan dapur klub ke media. Meskipun begitu, Potter masih tetap bisa dengan tenang membicarakan hal-hal yang sulit dan teknis ke media.
Chelsea Punya Utang ke Potter
Alasan lain yang membuat Potter masih bisa bertahan di Stamford Bridge adalah Chelsea punya hutang kepadanya. Bukan hutang uang, melainkan hutang budi. Ketika Chelsea memecat Tuchel dan merekrut Potter, Potter sedang berada di posisi yang nyaman.
Ia melatih Brighton sambil membawa klub itu duduk di peringkat keempat liga Inggris dengan 13 poin dari enam pertandingan. Brighton saat itu bahkan bisa unggul tiga poin dari Chelsea. Juga telah mengalahkan MU dan Leeds di awal musim. Potter menyulap the Seagull jadi tim paling atraktif di liga Inggris.
Di posisi seperti itu, Potter bisa saja menolak tawaran Chelsea untuk pindah. Terlebih pindah ke klub yang sama-sama bermain di liga Inggris adalah hal yang tidak biasa. Juga pelatih senior biasanya tidak suka mengambil pekerjaan di paruh musim. Contohnya Marcelo Bielsa yang menolak tawaran Everton.
Jadi, dengan kata lain Chelsea punya hutang balas budi atas keberanian Potter mengambil pekerjaan berat ini di awal musim. Setidaknya seorang pelatih harus diberikan kesempatan untuk meracik klub di pramusim. Dan itu sebabnya Chelsea enggan memecat Potter. Ditambah mencari pengganti Potter di saat-saat seperti ini adalah hal yang sulit.
Tahap Rebuild Klub
Todd Boehly, sebagai pemilik juga sadar kalau permasalahan ini bukanlah dari Potter semata. Melainkan Chelsea saat ini sedang berada dalam masa transisi kepemilikan. Ini memang situasi yang tidak stabil bagi klub manapun yang mengalaminya. Para fans juga harus sadar akan hal itu.
Dilansir dari telegraph pemilik Chelsea saat ini, Todd Boehly dan Behdad Eghbali mengklaim proses pembangunan ulang klub kan memakan waktu satu tahun dan tiga jendela transfer. Proses itu tentu akan membawa pasang surut dan berdampak pada performa klub. Beberapa bulan terakhir yang terlihat hanyalah surutnya saja.
Patut diakui bahwa Potter bukanlah orang yang meninggalkan Chelsea dengan skuad membengkak. Meskipun memang, transfer besar-besaran di bulan Januari lalu adalah usaha Potter untuk menyesuaikan susunan dengan filosofi bermainnya. Dan hal itu membuat klub memiliki terlalu banyak pemain untuk dirotasi.
Fokus utama pada Chelsea saat ini adalah klub, bersama dengan Potter harus berjuang dan bekerja sama melalui masa sulit ini. Dilaporkan juga kalau Potter harus membereskan beberapa masalah yang ditinggalkan Tuchel sambil mengintegrasikan pemain baru.
Ingin Seperti City
Masa transisi memang sulit bagi kub. Contohnya saja Manchester City. Citizen memberikan tolak ukur untuk Chelsea saat ini. Setelah memecat Manuel Pellegrini dan mendatangkan Pep Guardiola, City waktu itu sudah menghabiskan 170 juta pounds.
Tapi Pep tidak mendapatkan gelar apapun di musim pertamanya dan hanya finis di peringkat empat liga. Meskipun begitu, petinggi Manchester City tahu kalau ini semua butuh proses. Hasilnya, Pep telah mendatangkan empat gelar Premier League ke Etihad. Juga FA Cup dan empat Piala Liga.
Itu mungkin yang ingin dipelajari Chelsea saat ini. Klub London itu juga dikabarkan telah mempelajari bagaimana direktur olahraga, Txiki Begiristain bekerjasama dengan Pep Guardiola di Etihad Stadium.
Di Chelsea Potter juga punya direktur olahraga, Paul Winstanley. Mereka berdua telah bekerja sama dengan baik di Brighton. Sama seperti Begiristain yang pernah bekerja sama dengan Guardiola sebelumnya di Barcelona.
Chelsea percaya bahwa mereka masih memiliki dukungan yang tepat dengan orang-orang disekitar Potter. Mereka juga percaya rekrutan di bursa transfer bulan Januari lalu bisa berkembang di bawah bimbingan Potter.
Skuad saat ini juga diharapkan bisa berkembang menyesuaikan gaya permainan yang Potter ingin. Baik itu di dalam lapangan maupun di luar lapangan. Tapi Potter bahkan belum punya waktu satu bulan untuk mengembangkan pemain barunya. Boehly dan Eghbali juga tidak yakin kesuksesan jangka panjang Chelsea akan datang dari pergantian manajer, pelatih, atau staf.


