Sepak bola adalah permainan momentum, apalagi di pertandingan Liga. Bahkan tim terbaik dengan para pemain terbaik bisa dirugikan karenanya. Real Madrid yang di gameweek sebelumnya bisa memanfaatkan momentum untuk menempel Barcelona, sekarang malah terpeleset dengan kalah melawan Villareal dengan skor 2-1.
Villarreal mampu unggul lebih dahulu lewat gol dari Yeremi Pino di menit ke-47. Kemudian Madrid baru bisa membalas lewat gol penalti dari Karim Benzema di menit ke-60. Tak lama setelahnya, Villarreal bisa kembali unggul lewat gol berjarak 12 yard dari Gerard Moreno di menit ke-63.
Menariknya dalam pertandingan tersebut, Real Madrid untuk pertama kalinya dalam sejarah tidak menurunkan satupun pemain Spanyol kedalam starting eleven. Entah karma atau nasib buruk, yang jelas sekarang Madrid tertinggal tiga poin dengan Barcelona yang saat ini memuncaki klasemen.
Daftar Isi
Ancelotti Bikin Sejarah
Dalam 121 tahun dan 4.436 pertandingan terakhir, Real Madrid selalu memasukan nama pemain Spanyol kedalam starting eleven mereka. Ini adalah pertama kalinya sejak Real Madrid didirikan. Bisa dibilang, Ancelotti membuat sejarah baru untuk Real Madrid.
Meskipun begitu, starting eleven Ancelotti masih bertabur dengan bintang-bintang eropa. Dani Ceballos dan Dani Carvajal sedang cedera. Sedangkan Lucas Vazquez dan Marco Asensio malah duduk di bangku cadangan. Kedua pemain itu pada akhirnya dimasukan sebagai pemain pengganti.
Vazquez dan Asensio merupakan satu-satunya perwakilan dari negara mereka di pertandingan ini. Dilihat dari hasilnya, para kritikus tentu tidak senang dengan keputusan Ancelotti ini. Pada dasarnya dengan tidak adanya pemain Spanyol di starting eleven Madrid dicerminkan sebagai skuad tanpa bakat dan kepemimpinan orang Spanyol.
Satu-satunya pemain Spanyol yang sampai sekarang masih menjadi favorit Ancelotti adalah Carvajal. Sayangnya ia masih terus berjuang dengan kebugarannya. Ini hal yang bisa dimengerti setelah ia menjadi bagian skuad Luis Enrique di Piala Dunia 2022. Begitupun dengan Marco Asensio.
Tapi kekalahan Real Madrid dari Villarreal bukanlah karena starting lineup mereka. Melainkan Estadio de la Ceramica, markas Villarreal memang jadi salah satu stadion paling angker untuk Madrid. Buktinya, el real hanya menang dua kali dalam satu dekade terakhir mengunjungi stadion tersebut. Los Blancos lebih sering menang di Camp Nou atau Metropolitano daripada di markas Villarreal ini.
Terakhir kali Real Madrid bisa menang di markas pasukan yellow submarine adalah di bulan Februari 2017. Saat itu Madrid menang dengan skor 3-2. Starting lineup yang tersisa dari pertandingan itu adalah Karim Benzema, Toni Kroos, dan Luka Modric.
Bagaimana Barca Salip Madrid?
Bagi Villarreal, kemenangan impresif atas raksasa Spanyol itu adalah kemenangan beruntun dalam lima pertandingan terakhir. Sekaligus membuat mereka naik ke posisi kelima di La Liga. Sementara bagi Madrid, ini bukan hal bagus. Dengan kekalahan ini, el real harus tersingkir dan tersalip Barca yang di pertandingan lain mampu mengalahkan Atletico Madrid.
Bertandang ke markas Atletico, Xavi Hernandez melakukan beberapa perubahan dari pertandingan melawan Espanyol. Seperti memasang Araujo berduet dengan Christensen sebagai bek tengah. Bisa dibilang, perubahan yang dilakukan Xavi itu berhasil, mereka sudah menciptakan peluang demi peluang sejak menit ke-4.
Sampai akhirnya di menit ke-22, Barca bisa unggul terlebih dahulu berkat gol dari Ousmane Dembele. Atletico berusaha untuk menaikan intensitas serangan setelahnya, tapi usaha mereka sia-sia. Babak pertama pun harus berakhir dengan keunggulan Barcelona.
Masuk ke babak kedua, anak asuh Xavi berusaha untuk mendapatkan permainannya kembali. Tapi absennya Lewandowski akibat skors membuat daya gedor Blaugrana berkurang drastis.
Atletico dan Barcelona bermain dengan keputusasaan setelah berbagai percobaan tidak bisa dimaksimalkan. Di menit ke-2 perpanjangan waktu, Stefan Savic dan Ferran Torres malah bergulat di tengah lapangan. Itu membuat wasit harus mengeluarkan kartu merah untuk kedua pemain. Situasi 10 lawan 10 tidak menguntungkan Barcelona maupun Atletico. Skor 1-0 pun bertahan sampai peluit panjang dibunyikan.
Ini tentu kemenangan besar untuk Blaugrana. Dengan ini mereka bisa kembali memuncaki klasemen dengan selisih tiga poin dari Real Madrid. ini juga jadi pertama kalinya Barcelona bisa mencetak gol di markas Atletico. Terakhir kali mereka melakukannya adalah di tahun 2019. Waktu itu Lionel Messi yang tercatat sebagai pencetak gol.
Lini Pertahanan Kuat Barca
Duo bek tengah Barcelona, Araujo dan Andreas Christensen patut mendapatkan pujian atas aksinya di pertandingan ini. Araujo memang bermain agak ceroboh dan sedikit lambat dalam bereaksi. Tapi ia jadi pahlawan di menit ke-93 setelah melakukan penyelamatan impresif.
Sementara Andreas Christensen tampil lebih bagus. Dia selalu berada di posisi yang sangat baik selama pertandingan. Ia menahan lini belakang Barcelona dengan sigap dan cemerlang. Christensen setidaknya melakukan 3-4 penyelamatan sepanjang pertandingan tersebut. Ia mampu memastikan gawang Ter Stegen tetap bersih dari gol.
Xavi puas dengan bek asal Denmark tersebut. Ia berkata bahwa penampilannya sudah luar biasa. Seakan memanas-manasi keadaan, Xavi bahkan menambahkan kalau Christensen lebih baik daripada Rudiger.
“Tentunya pembelian Christensen kurang jadi sorotan media. Tapi dia luar biasa. Saya ingat, ketika banyak orang berkata kalau Real Madrid mendatangkan bek tengah utama Chelsea dan Barcelona mendatangkan cadangannya.”
Meskipun lini pertahanan Barcelona mengagumkan, para fans seolah tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan lini serang. Ditambah dengan tidak adanya Robert Lewandowski, yang diskors dua pertandingan lagi. Xavi memilih untuk memainkan dua pemain sayap alami, Ousmane Dembele dan Ansu Fati. Dembele mencetak gol di pertandingan tersebut, tapi Ansu Fati tampil tidak menjanjikan.
Barcelona juga masih dapat masalah lain. Ferran Torres pasti kena hukuman dilarang bermain di beberapa pertandingan. Itu berkat kartu merahnya setelah terlibat perkelahian dengan Savic. Tapi ini bisa jadi berkah untuk Memphis Depay. Ia tampil memuaskan bersama Belanda di Piala Dunia 2022. Meskipun begitu dirinya masih minim mendapatkan menit bermain di Camp Nou.
Griezmann Kembali ke Setelan Pabrik
Sementara itu dari sisi Atletico Madrid, pemain yang patut disorot adalah Antoine Griezmann. Salah satu kritik yang paling jelas dari Atletico Madrid adalah bagaimana mereka tidak bisa memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Dan ini adalah tidak luput dari tanggung jawab penyerang asal Prancis tersebut.
Setelah menjalani empat minggu yang luar biasa di Piala Dunia bersama Prancis. Ia kembali ke klub dan kembali ke setelan pabrik. Set-piece nya buruk, pilihan arah tembakannya patut dipertanyakan, dan finishingnya tidak memuaskan. Diego Simeone mungkin harus memindahkan Griezmann ke posisi tengah. Dimana itu adalah posisi yang ia kuasai di Piala Dunia.
Sumber referensi: Managing Madrid, ESPN, Universal, Daily, Sporting


