Setelah Ricky Yacobi dan Stefano Lilipaly, kini Sandy Walsh jadi pemain Indonesia berikutnya di Liga Jepang. Per Februari, Sandy sudah berstatus pemain baru Yokohama F Marinos. Saat dirinya memperkenalkan diri menggunakan bahasa Jepang pun jadi sorotan. Sebagai pendatang, bahasa Jepang Sandy terbilang sangat bagus.
Dirinya memang dikenal sebagai sosok yang rajin dan tekun dalam mempelajari budaya baru. Dirinya bahkan jadi pemain diaspora paling lancar berbahasa Indonesia saat ini. Namun, skill bahasa Jepang Sandy bukan part yang paling mengejutkan. Yang bikin terkejut justru keputusan Sandy untuk hengkang dari KV Mechelen.
Kepindahannya ke Asia terkesan buru-buru. Padahal, Sandy bisa punya opsi lebih banyak saat berstatus bebas transfer di akhir musim nanti. Setelah ditelaah lebih dalam, ternyata ini adalah sebuah pengorbanan Sandy untuk Mechelen. Lantas apa yang sebenarnya terjadi?
Daftar Isi
Mechelen Selamatkan Karir Sandy
Sebelumnya, kita akan membahas sedikit latar belakang hubungan antara Sandy Walsh dan KV Mechelen. Di Belgia, Sandy tergolong pemain yang cukup dihormati. Sebab, Sandy termasuk pemain lawas di KV Mechelen. Suami dari Aislinn Konig itu sudah bergabung KV Mechelen sejak 2020.
Saat itu masih pandemi Covid-19. Era itu jadi era terberat dalam hidup Sandy. Setelah proses naturalisasinya tertunda, tahun tersebut Sandy justru diputus kontrak oleh Zulte Waregem. Di saat krisis dan semua orang butuh uang, Sandy justru harus menganggur.
Jika dihitung-hitung, Sandy menganggur selama empat bulan. Dicampakkan Indonesia dan tak mendapat pemasukan selama empat bulan, membuat mental Sandy sedikit terganggu. Dirinya dihantui ketakutan akan ketidakjelasan karirnya. Sandy cukup frustrasi dengan kondisi ini.
Ketika Sandy telah berpikir untuk pensiun dini, ibu dan saudara perempuannya berusaha menguatkannya. Mereka bersama-sama berziarah ke makam kakeknya yang ada di Surabaya. Terduduk di depan makam, ibunya berdoa dan bercerita bahwa sang putra sedang mengalami masa sulit di Belgia.
Doa Sandy pun diijabah. Karena pandemi, bursa transfer Liga Belgia pun diperpanjang hingga Oktober 2020. Di waktu yang singkat itu Sandy menerima proposal dari KV Mechelen. Tanpa pikir panjang, Sandy langsung menerima pinangan Mechelen. Entah apa jadinya jika Mechelen tidak datang menawari Sandy kontrak jangka pendek.
Kepindahan Tiba-tiba
Sejak resmi berseragam KV Mechelen, Sandy Walsh memutuskan untuk senantiasa berkomitmen pada klub. Dirinya rela berbuat apa pun, dimainkan di posisi apa pun, asalkan itu bisa membantu Mechelen berjuang di kasta tertinggi Liga Belgia. Keputusan Mechelen untuk mengontrak Sandy pun terbilang tepat.
Pemain Timnas Indonesia itu dengan cepat menyesuaikan diri dan menjadi bagian penting di skuad utama. Seperti janjinya, Sandy bersedia bermain di berbagai macam posisi. Meski berposisi asli sebagai bek kanan, tak jarang pemain kelahiran Brussel itu dimainkan sebagai bek tengah, bek kiri, bahkan pernah bermain sebagai sayap sebanyak empat kali.
Dengan kinerja itu, KV Mechelen langsung memberikan kontrak berdurasi empat tahun pada 2021. Kontrak jangka panjang itu sebetulnya membuat Sandy bertahan di Mechelen hingga akhir musim 2024/25. Namun, setelah mengumpulkan 133 penampilan untuk Mechelen, Sandy memutuskan hengkang pada awal Februari ini. Yokohama F Marinos dipilih jadi destinasi berikutnya.
Tapi, mengapa harus keluar dari Eropa? Kenapa tidak pindah ke liga-liga di Eropa Timur atau ke Belanda? Dan jika harus keluar dari Eropa, kenapa harus Jepang? Kenapa bukan Arab Saudi atau liga-liga Timur Tengah lainnya? Ini jadi keputusan yang aneh, mengingat opsinya akan lebih banyak jika Sandy hengkang dengan status free transfer di akhir musim.
Hutang Mechelen
Setelah dianalisis lebih dalam, kepindahan yang terkesan dipaksakan itu ternyata meninggalkan kisah pilu yang melibatkan Sandy Walsh dan internal klub KV Mechelen. Sandy rela tidak diperpanjang kontraknya dan hengkang di sisa enam bulan kontraknya demi menyelamatkan Mechelen dari kebangkrutan.
Menurut salah satu media Belgia, Voetbalkrant, KV Mechelen menderita kerugian lebih dari 11 juta euro atau Rp185,5 miliar pada musim 2023/24. Hal ini terbukti dari laporan tahunan yang disampaikan kepada Bank Nasional. Mungkin, bagi sebagian klub top Eropa, 11 juta euro adalah angka yang sangat kecil. Tapi, tidak bagi klub macam Mechelen.
Mechelen kesulitan menyeimbangkan neraca keuangan karena pemasukan mereka tidak jauh meningkat. Di sisi lain, biaya operasional terus bertambah sekitar 3 juta euro per tahun. Meski merugi, klub tetap berusaha membayar semua gaji pemainnya dengan nominal yang sesuai. Tanpa harus memotong atau mengalami keterlambatan.
Masalah Mechelen bukan di keuangan yang minus saja. Menurut De Tijd, ada tanggungan sebesar 4,6 juta euro kepada Inspektorat Pajak Khusus (BBI). Biaya tersebut muncul karena setelah beberapa penyelidikan, Mechelen terlibat kasus penipuan sepakbola di masa lalu. Oleh De Tijd, penipuan ini tidak dijelaskan secara rinci.
Yang bikin makin berat, denda ini tak bisa dicicil. Maka dari itu, KV Mechelen butuh banyak pemasukan untuk menyeimbangkan laporan keuangan sebelum akhirnya diserahkan Bank Nasional Juni nanti. Penjualan pemain pun dirasa jadi salah satu cara cepat untuk mendapatkan pemasukan yang tinggi.
Upaya Klub
Nah, dalam situasi sulit ini, Sandy Walsh pun membuktikan janjinya. Ia jadi salah satu pemain yang bersedia dilepas, demi kelangsungan hidup Mechelen. Tidak ada nominal pasti berapa biaya transfer yang dibayarkan oleh Yokohama. Namun, jika mengacu pada nilai pasarnya, Sandy dihargai sekitar 2 juta euro.
Di Jepang, Sandy menandatangani kontrak berdurasi 2,5 tahun. Selain karena membantu keuangan tim, Sandy juga merasa bahwa menit bermain di Mechelen sudah jauh menurun ketimbang musim lalu. Maka dari itu, ini jadi waktu yang tepat baginya untuk pindah.
Namun, apakah Sandy jadi satu-satunya pemain yang dikorbankan? Tentu tidak, ada lima pemain yang sudah dilepas lebih dulu pada musim panas 2024. Mechelen sudah menjual Ngal’ayel Mukau ke Lille dan Munashe Garananga ke FC Copenhagen. Jika ditotal, keduanya memberikan pemasukan sebesar 9 juta euro.
Hasil penjualan mereka akan dimasukan dalam laporan keuangan Mechelen musim ini. Selain penjualan pemain, menurut media Belgia, HLN, para pemegang saham Mechelen, yakni Van Esch, Jos Sluys, dan Eddy De Reys, sedang berdiskusi untuk menyuntikan dana segar senilai enam juta euro. Namun, rincian pembagian porsinya belum disepakati.
Kenapa Jepang?
Kembali ke Sandy Walsh, ada satu lagi pertanyaan yang belum terjawab. Yaitu, soal mengapa Sandy lebih memilih untuk menepi dari Eropa dan bermain di Asia? Ternyata, menjajal sepakbola Asia adalah salah satu mimpi Sandy. Dirinya sudah memberi kode pengen main di Asia sejak awal tahun 2024.
Mengutip Gazet van Antwerpen pada Januari tahun lalu, Sandy Walsh secara terang-terangan menyebut ingin bermain di kompetisi Asia. Saat itu, J League atau K League jadi tujuan yang menarik baginya. “Liga-liga tersebut tidak begitu dikenal di sini. Tetapi saya ingin menjelajahinya suatu hari nanti. Jika ada tawaran yang datang, saya pasti akan mendengarkannya,” kata Sandy.
Tak heran jika agen dari Sandy Walsh, Zouhair Essikel memposting foto yang menampilkan dirinya dan Sandy dengan caption “Mimpi akan jadi kenyataan”. Foto itu diambil di bandara, sesaat sebelum keduanya melangsungkan perjalanan dari Belgia ke Jepang.
Kepindahan Sandy ke Yokohama pun menimbulkan berbagai respons dari warganet. Banyak yang mendukung, tapi tak sedikit pula yang meremehkan. Sebab transfer ini dianggap sebuah penurunan karir bagi Sandy. Meski begitu, jika untuk memperjuangkan menit bermain, Liga Jepang bukan pilihan yang buruk.
Apalagi jika tim yang dibela adalah Yokohama F Marinos, saudara jauh Manchester City. Yokohama merupakan klub tersukses kedua di Jepang dengan torehan lima gelar sejak 1992. Mereka juga jadi wakil Jepang di kompetisi antarklub Asia paling bergengsi, AFC Champions League Elite musim ini. So, daripada jadi camat di Belgia, mending pindah ke Jepang. Lumayan, siapa tahu bisa dipanggil ke Piala AFF.


