Manajemen Everton resmi menunjuk Frank Lampard menjadi manajer baru Everton. Eks nakhoda Chelsea dan Derby County menyetujui kontrak dua setengah tahun yang disodorkan oleh manajemen The Toffees.
Kedatangan pelatih berusia 43 tahun itu menggantikan Rafael Benitez yang dipecat pada Januari 2022 karena rentetan hasil buruk, di mana dari 13 pertandingan hanya meraih 1 kemenangan.
🔵 Frank Lampard could become the 13th permanent @Everton manager in a row to avoid defeat in his first #PL match#NEWEVE pic.twitter.com/AsGf6aD5hW
— Premier League (@premierleague) February 8, 2022
Pilihan Farhad Moshiri kepada pria berjuluk Super Frank untuk menukangi Everton jelas menginginkan klubnya tidak terjerembab ke jurang degradasi.
Harapan pemilik klub dijawab elegan oleh eks pemain Chelsea dengan memuji kesebelasan yang bermarkas di Goodison Park sebagai tim dengan tradisi kuat.
“Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk mengelola klub Everton. Saya sangat lapar untuk memulai [pertandingan],” kata Lampard seperti dikutip dari BBC Sport.
Lampard tidak ingin fafifu berjanji bak politisi di depan para jurnalis. Rentetan hasil minor klub dan ambisi pemilik mesti ia buktikan melalui hasil-hasil positif di lapangan.
Pria yang mencatatkan 106 caps untuk Inggris, mendapat tugas mengangkat Everton ke papan tengah di sisa musim ini. Sebab The Toffees kini berada di tangga ke-16 klasemen sementara. Bagaimana cara Lampard melakukan pembaharuan instan di sisa musim ini untuk Everton?
Dua Langkah Taktis Lampard
Langkah Lampard di Goodison Park berjalan dengan dua opsi. Pertama, menggunakan tenaga pemain muda yang sebelumnya telah digunakan oleh Rafael Benitez.
Di Everton, eks pelatih Derby County akan menggunakan pemain muda seperti, Nathan Patterson, Anthony Gordon, Lewis Dobbin, dan Jarrad Branthwaite.
Dari empat nama pemain di atas, Anthony Gordon merupakan pemain di bawah 23 tahun yang telah diberi kepercayaan memainkan 20 laga dengan menyumbangkan dua gol dan assist. Berposisi sebagai midfielder right maupun left, pria berusia 20 tahun memiliki kemampuan tembakan jarak jauh yang apik dengan membubuhkan 9 shots on target.
Kepiawaian pemain berkebangsaan Inggris untuk urusan short pass juga telah membubuhkan 111 kali dengan rataan 12,7 per 90. Meski hanya nongkrong di urutan kesembilan perihal short pass, capaian ini lebih baik ketimbang pemain di usia sebayanya di The Toffees.
Catatan ini menjadi curriculum vitae baginya untuk mendapatkan menit bermain lebih di bawah asuhan Lampard yang menyukai pemain left/right midfielder dengan kemampuan menusuk ke area kotak penalti dan melakukan tembakan untuk memecah kebuntuan.
Lalu, Nathan Patterson yang masih berusia 20 tahun diprediksi akan mendapatkan tempat sebagai full-back kanan. Ia akan bergantian dengan Seamus Coleman. Lampard bakal melihat kelebihan Nathan Patterson sebagai punggawa muda yang memiliki kekuatan untuk membantu serangan dan bertahan sama baiknya.
Nama-nama seperti Lewis Dobbin (19) yang baru dimainkan dua kali dan Jarrad Branthwaite (19) empat kali bisa jadi pelapis Richarlison maupun Garay. Lampard tak perlu pusing mencari pengganti sebab memberikan menit bermain kepada pemain muda akan menambah pengalaman dan jam terbang.
Kedua, opsi mendatangkan pemain dengan melakukan pembelian Dele Alli dari Tottenham dan Donny van de Beek pinjaman dari Manchester United.
Nama pertama merupakan andalan Tottenham Hotspur yang dua musim terakhir melempem. Kepindahannya ke Everton jelas menginginkan menit bermain untuk mengembalikan sentuhan ciamiknya di area serang The Toffees.
Bado tunajiuliza, Everton yenye utajiri wa viungo itafanya itajipanga vipi chini ya Lampard, ni wazi kabisa kwamba Dele na Donny watakuwa regular options kwake.
Tutarajie kuiona Everton ya 4-3-3, ambapo Dele na Donny wakisimama juu ya Allan na kuuwasha moto😀 pic.twitter.com/SHtCRkZLvz
— RiCH (@RichWorldwide10) February 2, 2022
Pada musim 2020/2021 ia hanya mencatatkan 15 kali bermain dan menurun di musim berikutnya, sebanyak 10 kali tampil. Torehan tersebut menurun drastis semejak ia didatangkan dari MK Dons 2015/2016.
Namun, kemampuannya layak masuk line up Lampard sebagai pemain tengah dalam skema 4-3-3 atau 4-2-3-1. Di tengah ia mampu melakukan akselerasi melalui dribble individu yang bakal memancing lawan untuk melakukan press. Pada saat inilah, ia dapat melepaskan umpan kunci ke Calvert di tengah dan Garray atau Richarlison di sayap.
Nama kedua merupakan andalan Ajax Amsterdam yang diboyong Manchester United. Nasibnya 11-12 dengan Dele Alli. Semenjak mendarat di Old Trafford, ia hanya mendapat kesempatan 27 kali merumput dengan torehan sepasang gol dan sebiji assist. Jumlahnya menurun drastis semenjak berseragam The Red Devils.
DIRISHA LA USAJILI WA WANASOKA LIMEFUNGWA RASMI JANA USIKU:
Shuka na UZI huu ujue klabu yako imemsajili nani! ✍️ FOLLOW @SwahiliNewsSoka
✍️ Frank Lampard amerejea mzigoni, ndio kocha mpya Everton
✍️ Donny van De Beek wa Man Utd ametua Everton kwa mkopo mpaka mwisho wa msimu. pic.twitter.com/SfigZFsWAw
— 𝐒𝐖𝐀𝐇𝐈𝐋𝐈 𝐒𝐎𝐊𝐀 𝐔𝐏𝐃𝐀𝐓𝐄𝐒 (@SwahiliNewsSoka) February 1, 2022
Padahal Donny memiliki kualitas yang cukup bagus. Di tengah ia kerap melakukan block terhadap progresi build up lawan. Ia juga mempunyai kualitas umpan kunci yang mengubah dari fase bertahan ke menyerang.
Kepiawaian ini mirip dengan Jorginho di Chelsea. Donny van de Beek rasa-rasanya diperlukan dalam puzzle taktik Lampard.
Menyerang Oke, Bertahan Oke?
Frank Lampard dikenal pelatih yang sering menggunakan menggunakan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1 atau 3-4-3. Gaya permainan yang bakal diterapkan kepada anak asuhnya berupa penguasaan bola dan melakukan press secara intens terhadap lawan.
Penguasaan bola ala Lampard (Lampard Ball) akan di mulai sejak build up dari belakang. Proses ini berdampak pada lini belakang menjadi pemain yang sering melakukan umpan.
Hal tersebut tercermin dalam debutnya menukangi Everton saat melawan Brentford. Dua pemain belakang Everton, Keane dan Holgate berperan dalam melakukan progresi umpan.
Kegemarannya menggunakan empat full back yang dapat melakukan progresi serangan jelas memberikan surplus dalam proses penyerangan. Namun, gaya ini juga memiliki kelemahan sama seperti di Chelsea.
Kedua full back yang tidak di back-up pemain tengah akan memudahkan serangan balik lawan. Hal ini yang harus diperhatikan oleh back tengah sebagai pembagi bola
Di tengah, Lampard hobi menggunakan double pivot dan satu attacking midfielder untuk melakukan progresi serangan. Alan akan memainkan peran Kante jika Lampard memilih 4-2-3-1. Pemain asal Brasil itu memiliki kesamaan dengan Kante dalam gaya bermainnya.
Kompatriotnya, Abdoulaye Doucoure dilaporkan akan absen selama sebulan akibat cedera, posnya akan dihuni oleh Donny van de Beek untuk mengubah situasi bertahan ke menyerang dengan kesiapan progressive pass yang dimilikinya.
Wajah Dele Alli, Alex Iwobi, Andre Gomes akan bergantian mengisi pos tersebut untuk melakukan umpan dan dribble ke penyerang maupun sayap kanan. Layaknya Lampard saat menjadi pemain, posisi ini juga diberikan kebebasan untuk melakukan tembakan jarak jauh demi memecah kebuntuan saat melawan tim dengan pertahanan blok rendah.
Sayap kanan dan kiri akan dihuni nama-nama seperti Richarlison, Demarai Gray, Andros Townsend, Anthony Gordon, dan Anwar El Ghazi. Uniknya, empat nama sayap Everton telah membubuhkan minimal dua gol. Kemampuan yang akan dieksplorasi tidak sekadar melakukan umpan maupun tusukan ke kotak penalti lawan, juga melakukan tembakan ke arah gawang.
Terakhir, pos penyerang tunggal akan dihuni oleh Dominic Calvert-Lewin. Kini ia akan menjadi striker tunggal yang tidak sekedar piawai memposisikan diri dalam urusan mencetak gol. Kewajiban lainnya, melakukan press sejak lawan melakukan build up.
Everton beat Brentford 4-1 in their first match under Frank Lampard 👀 pic.twitter.com/1iRoWvpcIV
— GOAL (@goal) February 5, 2022
Akumulasi langkah-langkah Lampard untuk menanggulangi Everton akan di uji di lapangan. Bukti instannya, terlihat saat debut kemenangan atas Brentford di putaran keempat FA Cup dengan skor 4-1 dan kekalahan 3-1 atas Newcastle pada lanjutan Premier League.
https://youtu.be/cOotMr3HPk8
Referensi : Who Scored, FBref, ABF, Tifo, Tifo, Hayters TV, Statman Dave, FMS Transfermark, Mastermind, Flanker, Mirror, BBC


