Bundesliga di mata Bayern Munchen mungkin bagaikan taman bermain. Tapi di mata tim-tim Liga Inggris, Bundesliga dianggap seperti supermarketnya pemain-pemain potensial. Tak sedikit klub Inggris sukses berkat campur tangan pemain jebolan liga berlogo orang nendang bola itu.
Sebut saja seperti Kevin De Bruyne yang memberikan sentuhan berbeda di lini tengah Manchester City pasca didatangkan dari Wolfsburg atau mungkin variasi serangan Liverpool yang jauh meningkat setelah kedatangan Thiago Alcantara dari Bayern Munchen.
Anyway, ngomong-ngomong soal alumni Bundesliga, ternyata banyak yang gagal lho ketika berseragam Liverpool. Padahal kemarin The Reds baru mendatangkan jebolan Bundesliga lagi, yakni Dominik Szoboszlai. Mantan punggawa RB Leipzig itu patut waspada karena Liverpool punya riwayat buruk terhadap pemain jebolan Liga Jerman. Mau bukti?
Daftar Isi
Ozan Kabak
Alumni Bundesliga pertama yang masuk daftar ini adalah Ozan Kabak. Karena kemampuannya yang luar biasa bersama Schalke, namanya masuk dalam list transfer klub-klub raksasa macam Manchester United, Real Madrid dan tentunya Liverpool. Gaya bermain Kabak lugas, cepat, dan piawai mendistribusikan bola layaknya bek-bek modern.
Namun, tampaknya klub-klub tersebut terlalu cepat menilai Ozan Kabak. Digadang-gadang bakal jadi bek papan atas, pemain asal Turki itu justru lenyap bagai ditelan bumi. Pada tahun 2021, akhirnya Liverpool yang mendapatkan Kabak sebagai pemain pinjaman. Ia dipinjam karena The Reds saat itu sedang krisis bek setelah Virgil van Dijk, Joe Gomez, dan Joel Matip mengalami cedera panjang.
Diharapkan bisa menambal lubang yang ditinggalkan Van Dijk, Kabak justru tampil mengecewakan. Ia bermain seperti kebingungan dan sering salah tingkah sendiri. Momen yang paling diingat ketika laga melawan Leicester City, Kabak justru bertabrakan dengan Alisson sehingga membuat Jamie Vardy mencetak gol dengan mudah. Akhirnya Kabak hanya memainkan sembilan laga di Premier League dan tak dipermanenkan oleh The Reds.
Naby Keita
Pemain Guinea ini juga termasuk yang gagal bersama Liverpool. Naby Keita memang tak sebentar bersama Liverpool. Di awal-awal kedatangannya dari RB Leipzig, Keita juga sempat bermain apik. Bersama Jordan Henderson dan Giorgino Wijnaldum, Keita selalu jadi pilihan utama Jurgen Klopp untuk melengkapi trio lini tengah The Reds. Tapi ia memiliki masalah yang tak pernah rampung hingga kepergiannya musim panas ini.
Dilansir This is Anfield, Keita sebetulnya punya potensi. Tapi ia bermasalah dengan kebugaran dan bahasa. Keita selalu diselimuti cedera-cedera kambuhan yang mengganggu konsistensi permainannya. Selama lima musim bersama The Reds, Keita bahkan tak pernah mencatatkan lebih dari 25 pertandingan setiap musimnya. Musim lalu saja, ia hanya mengemas 13 pertandingan di semua kompetisi.
Loris Karius
Pemain yang satu ini mungkin sudah tak perlu dijelaskan panjang lebar soal kegagalannnya bersama Liverpool. Didatangkan dari Mainz pada tahun 2016, Karius diproyeksikan menjadi suksesor Simone Mignolet yang performanya mulai menurun. Tampaknya ekspektasi itu sangat ketinggian. Liverpool boleh berencana, tapi Karius yang menentukan.
Menurut 90min, pasca tragedi Kiev semua yang dilakukan Karius terasa salah. Penjaga gawang berkebangsaan Jerman itu tiba-tiba kehilangan kepercayaan dirinya. Merosotnya kepercayaan diri ternyata berpengaruh kepada mental bermain dan kemampuannya di lapangan. Blunder-blunder lain pun seperti mengikuti perjalanan karir Karius.
Setelah Liverpool mendapatkan Alisson Becker pada tahun 2018, Karius pun menjalani beberapa masa peminjaman ke Besiktas dan Union Berlin dengan harapan performanya kembali. Namun, ia tak kunjung membaik dan akhirnya dilepas pada tahun 2022. Untungnya, awal musim 2022/23 Newcastle mau menampung sang penjaga gawang.
Andriy Voronin
Mundur beberapa tahun ke belakang, Liverpool pernah mendatangkan striker bernama Andriy Voronin dari Bayer Leverkusen pada tahun 2007. Penyerang yang identik dengan rambut kuncir kudanya ini didatangkan karena performanya yang cukup baik bersama Leverkusen. Ia bahkan konsisten mencetak dua digit gol selama dua musim terakhirnya bermain di Bundesliga.
Sayangnya, Voronin datang bersamaan dengan Fernando Torres yang kala itu langsung gacor di musim perdananya. Voronin kalah saing dengan striker yang kala itu masih berusia 23 tahun. Selain itu, Voronin juga mengeluhkan bahasa dan lingkungan Kota Liverpool. Ia merasa tak bisa memahami instruksi dari rekan-rekannya dan cuaca kota tak cocok dengannya.
Pemain berkebangsaan Ukraina itu hanya mencetak enam gol dari 40 penampilannya bersama The Reds. Ia hanya bermain selama satu musim setengah sebelum akhirnya dipinjamkan ke Hertha Berlin dan dilepas secara permanen ke Dynamo Moscow pada tahun 2010.
Alexander Manninger
Berikutnya ada Alexander Manninger. Penjaga gawang veteran yang didatangkan bersamaan dengan Loris Karius ini riwayatnya jauh lebih buruk dari rekan seangkatannya itu. Didatangkan dari Augsburg, Manninger hanya berstatus sebagai penjaga gawang cadangan.
Saking mendalami perannya sebagai kiper cadangan, Manninger tak pernah mencatatkan satu pun penampilan bersama skuad utama Jurgen Klopp. Entah apa tujuan Liverpool mendatangkannya tahun 2016 kalau pada akhirnya tak pernah dimainkan. Pemain yang sempat melanglang buana di Serie A itu hanya bertahan selama satu musim sebelum akhirnya pensiun di usia 40 tahun. Makan gaji buta nih kiper.
Samed Yesil
Bernostalgia ke era Brendan Rodgers, ada Samed Yesil. Didatangkan dari Bayer Leverkusen pada tahun 2012, Yesil diharapkan bisa jadi penyerang haus gol di masa depan. Soalnya, ia didatangkan saat masih berusia 18 tahun dengan julukan Gerd, seperti legenda Jerman, Gerd Muller. Tapi lagi-lagi pemain jebolan Bundesliga tak mampu memenuhi ekspektasi tersebut.
Pemain jebolan akademi Bayer Leverkusen itu awalnya bermain untuk tim cadangan Liverpool di Premier League 2. Cukup memuaskan, ia akhirnya dipinjamkan ke FC Luzern agar merasakan kompetisi di kasta tertinggi. Namun, ketika kembali ke Liverpool Yesil jadi pemain yang sering berkutat dengan cedera.
Liverpool awalnya masih mempertahankannya. Namun, manajemen sadar kalau pemain yang sudah bermasalah dengan cedera di usia muda kemungkinannya kecil untuk bisa bersinar di kemudian hari. Yesil hanya mencatatkan dua kali penampilan bersama skuad utama The Reds sebelum dilepas secara free agent pada tahun 2016.
Alou Diarra
Terakhir ada pemain berposisi gelandang lagi. Ia adalah Alou Diarra. Mungkin beberapa dari kalian asing dengan nama ini. Bahkan fans Liverpool pun mungkin lupa kalau Diarra pernah berseragam Liverpool. Tapi perlu kalian tahu, Liverpool pernah mati-matian untuk memboyongnya dari Bayern Munchen pada tahun 2002.
Pemain berpaspor Prancis itu datang ke Anfield dengan status gelandang masa depan Timnas Prancis. Gaya bermainnya bahkan sempat disamakan dengan seniornya di Les Bleus, Patrick Vieira. Tapi Diarra tak berkembang maksimal di Liverpool. Ia sama sekali tak pernah menyamai level Vieira.
Diarra justru kesulitan menembus skuad utama The Reds yang kala itu masih diisi oleh pemain-pemain sekelas Steven Gerrard, Xabi Alonso, dan Danny Murphy. Diarra akhirnya dipinjamkan ke beberapa klub Prancis seperti,Le Havre dan SC Bastia, demi mendapat menit bermain yang cukup. Tapi hasilnya nihil. Ketika kembali ke Liverpool ia bernasib sama dengan Abou Diaby-nya Arsenal sebagai The Next Patrick Vieira lain yang gagal.
Sumber: Planet Football, This Is Anfield, Football365, Goal


