AS Roma 3-0 Barcelona: Malam UCL Terindah di Kota Roma

spot_img

Puitis bak pujangga adalah ciri khas dari seorang Peter Drury. Berkat celotehannya yang khas, sudah banyak pertandingan sepak bola yang berhasil ia hidupkan.

Tak hanya menghidupkan euforia, komentar Peter Drury juga kerap membuat momen bersejarah yang tercipta di lapangan hijau menjadi ikonik dan memorable. Salah satunya “the Greek God in Rome” yang ia katakan saat Kostas Manolas mencetak gol bagi AS Roma ke gawang FC Barcelona dalam pertandingan leg kedua babak perempat final UCL musim 2017/2018.

Komentar tersebut tak hanya menggambarkan betapa emosionalnya situasi pertandingan saat itu, tetapi juga menyempurnakan momen yang terjadi di dalamnya. Pasalnya, laga tersebut menjadi salah satu laga comeback terbaik yang pernah tercipta dalam sejarah Liga Champions. Dan, bagi AS Roma sendiri, itu menjadi malam UCL terindah mereka.

Leg Pertama

Musim 2017/2018 sejatinya merupakan musim yang cukup berat bagi AS Roma. Di awal musim, mereka ditinggal oleh Mo Salah dan Antonio Rüdiger yang masing-masing dijual ke Liverpool dan Chelsea. Luciano Spalletti yang di musim sebelumnya sukses membawa Roma menjadi runner-up Serie A juga hengkang ke Inter Milan.

Selain itu, musim tersebut juga jadi kali pertama Roma tampil tanpa Francesco Totti yang baru saja memutuskan pensiun. Untuk itulah, tidak ada ekspektasi lebih yang dibebankan kepada skuad Roma kala itu. Akan tetapi, di bawah asuhan pelatih anyar Eusebio Di Francesco, Giallorossi justru berhasil tampil melampaui ekspektasi.

Yang paling kentara terjadi di ajang Liga Champions. Roma secara mengejutkan berhasil keluar dari Grup C yang berisikan Chelsea, Atletico Madrid, dan Qarabag sebagai pemuncak klasemen. Setelah memuncaki grup neraka, Giallorossi berhasil melaju ke perempat final UCL pertama mereka dalam 10 tahun terakhir usai menyingkirkan Shakhtar Donetsk berkat aturan gol tandang.

Namun, di partai 8 besar, hasil undian mempertemukan AS Roma dengan Barcelona yang tengah on fire. Dan sesuai dengan dugaan, pertandingan leg pertama yang digelar di Camp Nou pada 4 April 2018 berakhir tragis bagi Serigala Roma.

Mereka pulang ke rumah dengan kondisi babak belur. Meski tanpa Philippe Coutinho, Paulinho, dan Ousmane Dembele, Barcelona asuhan Ernesto Valverde masih sanggup menghajar Giallorossi dengan skor telak 4-1. Selain jebol karena gol Gerard Pique dan Luis Suarez, gawang Alisson Becker juga jebol karena gol bunuh diri Daniele De Rossi dan Kostas Manolas.

Edin Dzeko yang jadi pencetak gol tunggal bagi AS Roma di laga ini merasa kalau timnya berhak mendapat hadiah penalti. Di menit ke-10, Dzeko dijatuhkan Nelson Semedo di kotak penalti Barcelona. Namun, wasit Danny Makkelie tak menganggapnya sebagai sebuah pelanggaran.

Kejadian serupa terjadi di menit ke-41 tatkala Lorenzo Pellegrini dilanggar di tepi kotak penalti Barcelona. Namun, wasit asal Belanda itu hanya memberi Roma tendangan bebas.

Pelatih Eusebio Di Francesco juga merasa kalau hasil pertandingan di leg pertama tidak adil bagi Roma. Sebab, meskipun pahit, Roma harus menyesali diri karena terlalu banyak membuat kesalahan dan membuang peluang.

Sementara itu, di sisi lain, kemenangan 4-1 memperbesar peluang Barcelona untuk lolos ke semifinal UCL pertama mereka setelah menjadi juara di musim 2014/2015. Kemenangan tersebut juga membuat Barcelona berpeluang meraih treble usai sebelumnya telah memastikan tampil di final Copa del Rey dan tengah memimpin klasemen La Liga dengan keunggulan 9 poin dari pesaing terdekatnya.

Sekali lagi, Blaugrana jauh lebih difavortikan ketimbang Giallorossi meskipun harus menjalani laga tandang di leg kedua. Akan tetapi, kelak Lionel Messi dan kolega akan menyesali satu gol tandang yang AS Roma bawa pulang dari Camp Nou.

Leg Kedua

Sepanjang sejarah Liga Champions Eropa, baru ada dua tim yang pernah membalikkan ketertinggalan tiga gol atau lebih di leg pertama. Mereka adalah Deportivo La Coruna di musim 2004 dan FC Barcelona di musim 2017.

Artinya, peluang Roma untuk membalikkan keadaan di leg kedua terbilang tipis. Bahkan, sebelum kickoff, Roma hanya diberi peluang kemenangan sebesar 5% saja.

Tak bisa dipungkiri kalau ada banyak pihak yang tidak percaya kalau Roma akan mampu mengatasi Barcelona. Meskipun 16 tahun silam Roma pernah mengalahkan Barcelona 3-0 di arena yang sama, tetapi kondisi kedua tim saat ini jelas sangat berbeda. Barcelona asuhan Ernesto Valverde datang ke ibukota Italia dengan membawa rekor sebagai tim yang baru kebobolan 3 gol sepanjang turnamen.

Akan tetapi, Serigala Roma tak patah arang. Mereka percaya bisa mencetak minimal 3 gol untuk menyingkirkan Barcelona. Dua tahun setelah laga ini, Alessandro Florenzi mengungkap bahwa saat itu hanya ada 1 orang dalam skuad Roma yang tidak yakin bisa lolos ke semifinal. Pemain yang dimaksud terebut adalah Kostas Manolas.

Di laga leg kedua yang digelar di Stadion Olimpico pada 10 April 2018, sang tamu FC Barcelona tidak mengubah susunan pemain maupun formasi. Sementara di sisi lain, Eusebio Di Francesco sedikit mengubah susunan pemain dan formasi AS Roma dari 4-5-1 menjadi 3-5-2.

Kembalinya Radja Nainggolan ke starting eleven dan keberadaan Patrick Schick sebagai tandem Edin Dzeko membuat AS Roma tampil menekan sejak awal laga. Tekanan juga tak hanya datang dari pemain, tetapi juga dari 56 ribu lebih pendukung Roma yang memadati Olimpico. Sejak kickoff, mereka selalu bersiul saat Lionel Messi dan kawan-kawan menguasai bola dan riuh saat Roma membuat peluang.

Pemainan tempo tinggi dan penuh energi yang disajikan Giallorossi akhirnya membuahkan hasil ketika Edin Dzeko membawa Roma unggul 1-0 di menit ke-6. Setelah gol tersebut, Roma tak sedikit pun mengendurkan serangannya. Bahkan makin gencar mengancam pertahanan Barca. Namun, babak pertama berakhir dengan skor 1-0.

Barulah di babak kedua, tepatnya di menit ke-56, Roma mendapat peluang emas setelah Edin Dzeko dijatuhkan Gerard Pique di kotak penalti. Wasit Clement Turpin dari Prancis kemudian memberi Roma hadiah penalti. Tanpa ampun, Daniele De Rossi yang dipercaya sebagai algojo sukses menjebol gawang Ter Stegen dan mengubah kedudukan menjadi 2-0 untuk tuan rumah.

Dukungan fans Roma menjadi makin riuh setelah gol tersebut. Beberapa peluang juga tercipta setelahnya, tetapi satu gol yang bisa mengubah hasil pertandingan tak kunjung tiba. Hingga akhirnya, di menit ke-82 Roma mendapat peluang dari situasi bola pojok. Dengan menit yang makin menipis, situasi tersebut terlihat seperti sebuah peluang biasa.

Cengiz Under yang mengambil sepak pojok tersebut kemudian mengirim umpan silang ke tiang dekat. Dan, secara tiba-tiba, Kostas Manolas, satu-satunya pemain yang tidak yakin Roma bisa lolos ke semifinal, menyambut umpan tersebut dan mengubahnya menjadi gol yang sukses memantik kehebohan.

Gol tersebut membuat para pemain, staff, hingga ballboy Roma berlari kegirangan. Di bangku penonton, para fans juga saling berpelukan dan bersorak merayakan gol yang mengubah agregat tersebut. Sementara di bangku cadangan Barcelona, Andres Iniesta terlihat tak percaya dengan apa yang terjadi.

Namun, misi AS Roma belum tuntas. Masih tersisa 7 menit plus 3 menit tambahan waktu. Barca memasukkan Paco Alcacer dan Ousmane Dembele untuk menambah daya gedor. Beberapa peluang tercipta, tetapi kedisiplinan pemain Roma plus penampilan apik Alisson membuat skor tak berubah.

Wasit pun meniup peluit akhir. Sebuah perayaan meriah pun pecah di seantero Kota Roma. AS Roma yang tak diunggulkan dinyatakan lolos ke semifinal berkat 1 gol tandang yang mereka curi dari Camp Nou.

Roma Nyaris Mengulang Keajaiban

Lolos ke semifinal UCL di musim 2017/2018 adalah pencapaian terbaik AS Roma di panggung Liga Champions. Roma nyaris menyamai prestasi pendahulunya yang mampu lolos ke final Piala Champions musim 1984. Namun, di babak 4 besar, mereka gagal mengulang keajaiban.

Menghadapi Liverpool, lawan yang dulu mengalahkan mereka di final Piala Champions 1984, Roma tertinggal 5-2 di Anfield. Kembali membutuhkan kemenangan dengan margin 3 gol, Roma hanya sanggup membalas 4-2 di Olimpico.

Meski pada akhirnya langkah mereka terhenti, tetapi prestasi AS Roma saat itu menjadi sebuah kejutan tersendiri di Eropa. Comeback yang mereka lakukan di babak perempat final menjadi salah satu comeback terbaik yang pernah tercipta di panggung UCL. Dan kini, memori comeback tersebut menjadi kenangan terindah yang akan selalu kekal dalam ingatan seluruh pendukung AS Roma.


Referensi: Roma, UEFA, The Analyst, Goal, Sportsbrief, BBC.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru