Apa Yang Sebenarnya Terjadi Dengan Timo Werner dan Kai Havertz?

spot_img

Timo Werner dan Kai Havertz akhirnya berhasil unjuk gigi lagi setelah lama tenggelam. Kedua pemain Timnas Jerman itu jadi starter saat Chelsea melakoni laga babak ketiga Piala FA kontra Morecambe di Stamford Bridge. Werner dan Havertz lantas menjawab kepercayaan Lampard dengan manis. Setelah Chelsea membuka keunggulan lewat Mason Mount di menit ke-19, Timo Werner menggandakan keunggulan di menit ke-44. Pada babak kedua, Callum Hudson-Odoi memperbesar keunggulan Chelsea di menit ke-49 sebelum ditutup sepakan keras Havertz di menit ke-85.

Chelsea menang 4-0 dan melaju ke babak keempat Piala FA. Kemenangan yang penting untuk mendongkrak moril para pemain Chelsea setelah serangkaian hasil buruk. Tapi, untuk Werner dan Havertz, hasil ini begitu melegakan mengingat mereka belakangan dikritik habis karena performanya begitu buruk.

Namun meski berhasil mencetak gol, harus diingat bila itu adalah ajang Piala FA, dengan lawan yang dihadapi juga tidak terlalu bisa dijadikan sebagai patokan kembalinya performa Werner dan Havertz. Apa yang telah ditampilkan kedua berlian Jerman tersebut memang tak sebanding dengan harga mahal yang harus dikeluarkan Chelsea untuk menebus mereka, sekitar 150 juta euro.

Ya, memang benar bila nama Werner dan Havertz kerap mendapat sorotan. Namun bukan hal positif, melainkan sebuah kekecewaan yang terutama hadir dari para penggemar The Blues.

Timo Werner sempat menjalani 12 pertandingan tanpa gol sebelum menjebol jala Morecambe, meski dia adalah pemain tertajam Chelsea musim ini dengan delapan gol. Sementara, Havertz malah baru bikin lima gol dan enam assist musim ini.

Gol terakhir Kai Havertz sebelum ini adalah ke gawang Southampton pada 17 Oktober saat laga berakhir iimbang dengan skor 3-3.

Sekali lagi, bila dilihat dari harga dan ketajaman kedua pemain sebelumnya, tentu Chelsea merasa sangat dirugikan. Bayangkan saja, Timo Werner tiba dengan modal 78 gol dalam 127 penampilan bersama Leipzig di Bundesliga. Sementara itu, di usia yang baru menginjak 21 tahun, Havertz sudah menorehkan sebanyak 10 penampilan untuk timnas Jerman, dan 100 penampilan untuk klub yang dibelanya.

Dengan catatan tersebut, wajar bila Lampard begitu optimis ketika Chelsea berhasil mendaratkan dua pemain tersebut. Akan tetapi, hal tersebut hanyalah jadi harapan belaka. Lampard yang awalnya ingin mengembangkan Chelsea dengan mendatangkan pemain-pemain berkualitas, malah tampil lebih buruk dari yang sebelumnya, dimana dia hanya mengandalkan banyak pemain akademi.

Musim ini, meski dihuni oleh banyak pemain hebat, termasuk Werner dan Havertz, Chelsea masih kesulitan untuk menembus posisi empat besar. Lantas apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua pemain tersebut?

Gelandang Manchester City, Ilkay Gundogan, mengaku tidak kaget dengan kesulitan yang dialami dua rekrutan anyar Chelsea dari Liga Jerman, Timo Werner dan Kai Havertz, dalam upaya beradaptasi ke Liga Primer Inggris. Gundogan sendiri mengaku mengalami situasi serupa ketika hijrah ke City dari Borussia Dortmund pada musim panas 2016.

“Mereka [Chelsea] punya dua pemain Jerman baru yang berusaha beradaptasi sebaik mungkin,” kata Gundogan (via Sky Sport)

“Secara umum, aku pikir memang tidak mudah untuk beradaptasi dengan cepat di Liga Primer Inggris jika kalian datang dari negara berbeda dan situasi yang terjadi saat ini juga aku rasa membuat level kesulitan bertambah,” ujarnya menambahkan.

Menurut Gundogan, kedua bintang Chelsea itu hanya mengalami kesulitan adaptasi. Tapi dia masih sangat percaya bila baik Werner maupun Havertz punya kualitas yang sangat luar biasa.

Apa yang dikatakan Gundogan memang tidak sepenuhnya salah. Seperti yang kita tahu, Pada laga pertama Premier League menghadapi Brighton, Werner mengomentari bek besar yang harus dihadapi. Werner sendiri mengakui perbedaan aspek fisik antara Bundesliga dan Premier League. Tidak mudah beradaptasi dengan hal ini apalagi di tengah pandemi dan jadwal padat.

Pun dengan Havertz yang mengakui intensitas serta gaya bermain lawan yang dihadapi di Liga Primer Inggris sangat berbeda dengan apa yang ada di Bundesliga. Dengan permasalahan tersebut, kedua pemain tidak menemukan banyak ruang untuk dieksploitasi.

Bila dilihat dari posisi, kedua pemain tersebut tidak dipasang di posisi terbaik pada klub sebelumnya. Bersama RB Leipzig, Julian Nagelsmann kerap menduetkan Yussuf Poulsen dengan Werner. Poulsen sering dijadikan pemantul yang sangat berguna bagi produktivitas Werner.

Sementara itu, Lampard lebih sering menempatkan Werner di posisi kiri. posisi yang membuat Werner harus bermain dari area yang cukup rendah. Dampaknya tentu dia tidak bisa memaksimalkan kecepatan yang dimiliki.

Di sisi lain, Havertz juga memiliki masalah yang sama. Meski fleksibel, Havertz kurang bisa dimanfaatkan sebagai pemain yang dituntut menjadi sumber kreativitas. Dia lebih nyaman digunakan sebagai sayap pencetak gol, memanfaatkan ruang di belakang lini pertahanan lawan atau mencari posisi yang tepat untuk menyambar umpan silang.

Dalam hal ini, Lampard bisa menggunakan opsi menduetkan Timo Werner dengan Olivier Giroud. Dengan begitu, dia akan memiliki peran yang sama seperti saat berada dibawah asuhan Julian Nagelsmann. Untuk Havertz, Lampard bisa mencoba untuk menginstruksikannya agar bebas mencari ruang dengan tujuan mencetak gol. Dalam hal ini, bila Ziyech sudah fit, kedua pemain tersebut bisa bertukar peran, dengan eks pemain Ajax bermain sebagai playmaker dan Havertz fokus membobol gawang lawan.

Selain adaptasi dan posisi, performa individu kedua pemain juga perlu disorot. Werner beberapa kali terlihat tidak membuat tembakan tepat sasaran. Dia beberapa kali gagal memanfaatkan peluang yang pada akhirnya tidak mampu menciptakan sesuatu yang berbahaya bagi tim lawan.

Soal umpan, Werner juga tidak terlalu meyakinkan. Dia tak jarang gagal mengirim umpan secara akurat hingga menyebabkan kerugian bagi tim.

Sementara Havertz, dia lebih sering kehilangan bola karena tampak terlalu santai saat berada di atas lapangan, hingga gagal mengimbangi intensitas pertandingan Liga Inggris.

Segala faktor tersebut, ditambah dengan tekanan serta situasi yang tengah melanda dunia dipercaya membuat Werner dan Havertz kesulitan unjuk gigi di panggung tertinggi Inggris.

Bila masalah tersebut tidak segera diselesaikan, maka tak cuma berimbas pada prestasi skuat Chelsea. Namun demikian juga pada masa depan manajernya, Frank Lampard.

 

Sumber : What The Hell, Panditfootball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru