Kita sering menormalisasi kesedihan ketika merasa kehilangan. Memang hal ini sangat manusiawi, namun jika mau memaknai lebih dalam, kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita tak pernah benar-benar kehilangan apa pun. Pasalnya, semua hanyalah titipan.
Mungkin kalimat tersebut harus dipahami dengan baik oleh fans salah satu mantan klub raksasa Liga Rusia, Anzhi Makhachkala. Klub Rusia tersebut pernah mencoba untuk membangun skuad mewah secara instan tahun 2011. Sang pemilik saat itu tak ragu untuk menggelontorkan dana ratusan juta euro untuk memboyong pemain bintang ke wilayah Dagestan.
Namun, klub yang kemunculannya pernah menggemparkan dunia itu kini hilang bak ditelan bumi. Mereka telah bangkrut setelah menikmati kekayaan hanya dalam kurun beberapa tahun saja. Lantas, bagaimana kisah terbit dan tenggelamnya Anzhi Makhachkala di dunia sepakbola?
Daftar Isi
Klub Medioker
Anzhi Makhachkala terkenal sekitar tahun 2010. Klub asal Rusia tersebut memberikan gelombang kejutan kepada sepakbola Eropa bahkan dunia dengan pengeluaran gila-gilaan dari sang pemilik anyar, yakni Suleyman Kerimov. Namun, sebenarnya, klub macam apa sih Anzhi ini?
Sebelum invasi uang datang menghampiri Anzhi Makhachkala, klub yang akrab dengan warna kuning di jerseynya ini dikenal sebagai klub papan bawah. Mereka bahkan lebih sering naik turun kasta daripada memperebutkan gelar juara kompetisi kasta tertinggi Liga Rusia.
Sejak berdiri pada tahun 1991, Anzhi Makhachkala telah mengalami sejarah yang rumit. Memiliki hobi naik turun kasta membuat klub yang berbasis di wilayah konflik, Republik Dagestan ini barangkali sudah menjajal semua kasta di sepakbola Rusia. Meski demikian, kasta tertinggilah yang paling jarang mereka coba.
Bahkan butuh delapan tahun lamanya untuk kembali ke Divisi Pertama Rusia. Saat itu, The Eagles kembali ke kasta tertinggi dengan kepala tegak setelah mendominasi divisi kedua Liga Rusia. Sharif Mukhamad cs promosi melalui jalur juara divisi kedua. Pencapaiannya itu pun menarik pejabat Rusia untuk mengakuisisi klub yang bermarkas di Anzhi Arena tersebut.
Perubahan Nasib
Kisah Cinderella ala Anzhi Makhachkala dimulai pada Januari 2011. Baru semusim nongol di Liga Premier Rusia, Anzhi sudah dibeli oleh pengusaha sekaligus Senator Rusia yang juga berkampung halaman di Dagestan, yakni Suleyman Kerimov. Momen ini disambut baik oleh para fans dan masyarakat lokal.
Namun, pengakuisisian ini ternyata menuai kontroversi, baik proses pembeliannya maupun orang yang membelinya. Usut punya usut, terungkap fakta kalau Presiden Republik Dagestan kala itu, yakni Magomedsalam Magomedov memberikan 100% saham Anzhi Makhachkala termasuk 50% saham punya pemilik terdahulu Igor Yakovlev secara cuma-cuma kepada Kerimov.
Kalau dipikir-pikir, enak juga ya dapet klub secara gratis. Eits jangan salah. Presiden Dagestan memang tak meminta biaya pengambilalihan, tapi Magomedov tak sebodoh itu. Sebagai imbalan, ia menuntut Kerimov untuk memberikan dukungan finansial atas segala kepentingan pribadi Magomedov. Cukup cerdik bukan?
Meski tindakan semacam itu termasuk nepotisme dan gratifikasi, baik Magomedov maupun Kerimov tidak pernah mendapatkan penyelidikan dari otoritas hukum Negara Rusia. Hal tersebut justru dianggap wajar di Negeri Beruang Merah.
Rencana keuangan dan tujuan dari Suleyman Kerimov adalah menginvestasikan lebih dari 200 juta dolar atau sekitar Rp3 triliun apabila dikonversi menyesuaikan kurs sekarang. Dana tersebut disuntikan ke dalam infrastruktur klub, dengan sejumlah uang dengan nominal yang besar akan digunakan untuk membangun stadion baru berkapasitas 40 ribu kursi penonton sesuai dengan standar UEFA.
Anzhi Kalap
Dengan adanya Suleyman Kerimov, nama Anzhi Makhachkala bahkan sejajar dengan klub-klub kaya macam Manchester City dan Paris Saint-Germain yang kala itu juga baru muncul sebagai pendobrak bisnis sepakbola.
Tak hanya peningkatan infrastruktur, Kerimov juga menggelontorkan dana untuk merombak skuad. Awalnya, Kerimov langsung menunjuk Guus Hiddink sebagai juru taktik. Pada zaman itu, Hiddink merupakan pelatih top yang sudah malang melintang di sepakbola Eropa. Tak sampai di situ, Anzhi yang masih kebanyakan uang pun akhirnya mendatangkan pemain-pemain hebat.
Pemain-pemain bintang yang didatangkan Anzhi antara lain Samuel Eto’o dari Inter Milan, Yuri Zhirkov dari Chelsea, Chris Samba dari Blackburn, Willian dari Shakhtar Donetsk, Lassana Diarra dari Real Madrid hingga legenda Brazil pemilik tendangan geledek, Roberto Carlos. Willian jadi penandatanganan termahal Anzhi dengan kesepakatan yang mencapai 35 juta euro (Rp564 miliar).
Berbekal skuad mewah tersebut Anzhi menjadi klub yang berbeda. Yang tadinya cuma naik turun kasta, jadi klub penantang gelar. Ditangani Guus Hiddink, Anzhi menempati peringkat tiga klasemen akhir Liga Rusia 2012/13, menjadi runner-up Piala Rusia, dan mencapai babak 16 besar Europa League. Aksi mengejutkan Anzhi tentu saja membuat media-media Eropa menjadikan nama Anzhi Makhachkala sebagai headline berita mereka.
Awal Kehancuran
Nama yang kian terkenal membuat pergerakan dan pencapaian instan Anzhi menuai banyak kecurigaan. Setelah penyelidikan yang dilakukan oleh beberapa media, jurnalis BBC menemukan fakta yang mengejutkan berkaitan dengan sumber dana Anzhi. Untuk mendanai klub, Kerimov dikabarkan menggunakan uang dari hasil money laundering dan penggelapan pajak.
Bahkan menurut The Guardian, bisnis ilegalnya itu membuat Kerimov sempat ditangkap tangan saat mendarat di salah satu bandara di Prancis. Kerimov ditangkap dan diancam hukuman 10 tahun penjara karena kasus penggelapan pajak. Ia bisa ditangkap di Prancis karena memiliki beberapa aset mewah di sana.
Pada saat pemerintahan Presiden Donald Trump, Amerika Serikat juga membekukan aset Kerimov. Terbongkarnya bisnis-bisnis kotor Kerimov plus krisis ekonomi yang terjadi di Rusia berdampak buruk pada neraca keuangan Anzhi. Alhasil, pada akhir tahun 2013, Kerimov mengurangi anggaran tahunan klub hingga hampir 50%.
Collapse-nya bisnis Kerimov memaksa Anzhi harus menjual sebagian besar pemain-pemain bintangnya demi mendapatkan uangnya kembali. Yuri Zhirkov, Igor Denisov, dan Aleksandr Kokorin dikirim ke Dynamo Moscow dengan biaya yang dirahasiakan. Kemudian, pemain yang bertahan harus rela dipotong gajinya hingga 80%. Bencana keuangan ini pula yang membuat Willian dan Eto’o bergabung dengan Chelsea awal musim 2013/14.
Setelah skuad mewahnya dibubarkan dalam sekejap, musim 2013/14 Anzhi Makhachkala berjalan tak karuan. The Eagles finis di urutan terakhir dengan hanya mengantongi tiga kemenangan. Hasil itu membuat Anzhi harus rela kembali ke kasta kedua Liga Rusia.
Stadion yang dijanjikan akan berkapasitas lebih dari 40.000 penonton pun tak terealisasi. Markas Anzhi Arena memang tetap berdiri, tapi hanya memiliki kapasitas tempat duduk sebanyak 26.500 kursi, itu jauh lebih sedikit dari standar UEFA.
Bubar Jalan!
Penderitaan Anzhi tak sampai di situ. Kerimov yang sudah kewalahan menangani klub akhirnya melepas sebagian sahamnya kepada Osman Kadiev pada tahun 2016. Tapi semua itu sudah terlambat, Kadiev tak mampu melunasi hutang klub yang kian menggunung. Anzhi Makhachkala pun kembali ke setelan pabrik.
Sudah kembali menjadi klub miskin, pada akhir musim 2017/2018 Anzhi turun kasta lagi setelah kalah di laga play off degradasi. Berkutat di kasta ketiga, Anzhi justru dipersulit lisensinya oleh federasi sepakbola Rusia. Kisah Cinderella ala Anzhi pun tamat. Setelah berkutat dengan masalah lisensi dan keuangan, kini Anzhi Makhachkala dinyatakan bubar pada tahun 2022 kemarin.
Sumber: GMS, Sportskeeda, 90min, The Guardian, Breaking The Lines, Sportbible


