Aneh Tapi Nyata! Kenapa Para Pemain Ini Masih Saja Dipanggil Ke Piala Dunia?

spot_img

Bagi sebagian fans, terkadang terlontar protes ketika pemain yang masih tampil bagus di level klub, namun nyatanya pemain itu tak dipanggil negaranya ke ajang sebesar Piala Dunia.

Namun sebaliknya, justru banyak para pemain yang tak terlalu moncer bahkan jarang bermain reguler di level klub, eh malah dipanggil. Hal inilah yang terkadang membuat kita terheran-heran dan ingin tahu parameter apa sih yang digunakan para pelatih ketika memanggil para pemain ke timnas.

Nah berikut ini adalah pemain sepakbola yang tak disangka ternyata masih dipanggil untuk Piala Dunia 2022.

Dani Alves

Pertama ada Daniel Alves. Bek kanan kawakan asal Brazil yang sudah berusia 39 tahun. Aneh, ketika seorang yang sudah sangat berumur dan berposisi sebagai bek kanan masih harus dipanggil ke Piala Dunia.

Pengalaman memang tak bohong. Namun dia seusai terakhir kali bermain di Barcelona, fisiknya sudah tak seprima dulu. Sekarang, di Liga Meksiko pun ia juga tak sepenuhnya prima.

Namun jika menilai alasan kenapa Tite memanggilnya, dapat ditemui dua alasan. Yang pertama, mungkin nanti posisi Alves akan lebih bermain sebagai gelandang tengah seperti apa yang sering ia lakukan di klubnya sekarang. Mengingat di posisi itu, fisiknya masih bisa terjaga daripada sebagai seorang bek kanan.

Dan yang kedua, kita tahu sendiri kelemahan Selecao di Piala Dunia kali ini. Ya, mereka krisis bek sayap. Dan mungkin Dani Alves adalah nama yang terpaksa disiapkan sebagai pelapis di posisi itu.

Diego Godin

Berikutnya ada bek Uruguay, Diego Godin. 36 tahun usianya. Ia masih saja dipanggil Timnas Uruguay di Piala Dunia kali ini. Pertanyaanya, di mana dia bermain sekarang? Apakah masih berada di level prima untuk menggalang pertahanan La Celeste?

Performa Godin mulai menurun sejak musim 2021/2022. Ketika ia kehilangan tempat di tim utama Cagliari. Setelah itu, Godin bermain untuk Atletico Mineiro dan Velez Sarsfield. Godin tidak bermain reguler di dua klub tersebut. Bahkan di Velez klubnya sekarang, ia baru memainkan 8 laga. Ia juga sudah lama dibekap cedera sejak bulan Agustus sampai Oktober yang lalu.

Meskipun sudah ada regenerasi macam Araujo maupun Jose Gimenez nampaknya pelatih muda Uruguay, Diego Alonso masih takut meninggalkan para bintang tua mereka termasuk Godin. Mungkin karena alasan pengalaman dan mental. Boleh jadi Godin ini hanya akan jadi mentor bagi para pemain muda di ruang ganti.

Pablo Sarabia dan Ferran Torres

Kemudian ada Pablo Sarabia dan Ferran Torres di Timnas Spanyol. Memang kedua gelandang serang ini umurnya tergolong belum uzur. Namun dari segi performa di level klub, sepertinya tergolong biasa saja.

Sarabia berada di PSG di bawah bayang-bayang Trio Messi-Mbappe-Neymar. Dari 16 pertandingan yang ia mainkan, ia selalu masuk sebagai pemain pengganti. Menit bermainnya pun tak banyak, total hanya 487 menit dari 16 laga. Dengan tanpa assist dan gol.

Sementara Ferran Torres di Barcelona juga hampir sama. Kedatangan Lewandowski, Raphinha maupun kembalinya Dembele dan Ansu Fati dari cedera membuat ia terganggu untuk tampil reguler. Ferran hanya bermain 18 kali dan tidak selalu menjadi reguler. Performanya pun tak terlalu mentereng.

Namun begitu, Enrique tetap membawa mereka untuk dijadikan kunci di permainan sayap La Furia Roja. Nampaknya Enrique sudah kadung percaya dan nyaman bekerja sama dengan keduanya. Terbukti sejak di Euro 2020 yang lalu.

Youssouf Poulsen

Yang berikutnya ada striker Denmark, Youssuf Poulsen. Denmark padahal tak kekurangan striker. Masih ada Lord Braithwaite, Cornelius, Dolberg, maupun Skov Olsen yang lagi moncer bersama Club Brugge.

Poulsen ini sudah lama performanya anjlok dan baru sembuh dari cedera. Poulsen juga kehilangan tempat di starting eleven Leipzig musim ini. Tujuh kali dimainkan, enam kali sebagai pengganti. Bahkan ia belum pernah mencetak gol satu pun di musim ini.

Sisi pengalaman dan kenyamanan bekerja sama di Euro 2020 lalu, mungkin menjadi alasan pelatih Tim Dinamit, Kasper Hjulmand masih memanggilnya.

Sadio Mane dan Paulo Dybala

Lalu ada Sadio Mane dan Paulo Dybala. Dua pemain pesakitan yang terpaksa dibawa ke Piala Dunia, entah apa tujuannya. Mungkin masing-masing negaranya berharap akan ada keajaiban mereka berdua masih bisa sembuh sewaktu-waktu ketika di Piala Dunia nanti. Namun jika tidak bagaimana?

Sadio Mane kita tahu adalah maskot bagi timnas Senegal. Kehadirannya walaupun tak bermain, akan tetap menjadi pengaruh bagi rekan-rekannya di Qatar nanti. Sedangkan Dybala performanya juga masih moncer bersama Roma. Bagaimanapun kalau bisa sembuh di tengah kompetisi, performa Dybala juga masih bisa diandalkan La Albiceleste.

Luuk De Jong

Kemudian ada Luuk De Jong, striker jangkung Belanda yang usianya sudah 32 tahun. Dengan stok striker Belanda yang sebenarnya melimpah dan muda-muda, namanya masih saja masuk skuad. Padahal di PSV pun, ia tak menjadi pemain inti. Cederanya dari Agustus hingga Oktober lalu juga mengganggunya.

Namun Van Gaal mungkin membawanya hanya sebagai pelapis sekaligus mentor. Atau bisa jadi, ia akan dimanfaatkan tinggi badannya untuk duel bola atas ketika para striker cepat dan mungil De Oranje mengalami deadlock.

Mario Gotze

Lalu di Jerman juga ada nama Mario Gotze. Memang, dia adalah pencetak gol kemenangan ketika menggondol juara dunia 2014 lalu. Namun seiring usia dan performa terkini, nama Gotze terasa aneh ketika dipanggil ke Qatar.

Gotze ini sudah sangat lama hilang dari peredaran langganan skuad Der Panzer. Gotze terakhir kali membela timnas pada November 2017 silam. Bahkan di Frankfurt, ia secara statistik juga biasa-biasa saja. Hanya 2 gol dan 4 assist.

Mungkin Hansi Flick melihat salah satu faktor “X” yang dipunyai Gotze. Ia bisa menjadi penular mental juara dunia 2014 kepada rekan-rekannya di skuad. Selain itu, ia juga bisa dijadikan alternatif ketika lini penyerangan mengalami deadlock.

Harry Maguire, Callum Wilson dan Kalvin Phillips

Berikutnya ada trio The Three Lions, Lord Maguire, Callum Wilson dan Kalvin Phillips. Dari Callum Wilson, striker Newcastle ini mengejutkan ketika namanya dipanggil sebagai gantinya Ivan Toney yang dicoret. Kalau secara posisi, Wilson nantinya hanya akan menjadi pelapis Kane.

Namun secara statistik jika dibandingkan dengan Toney, Wilson masih kalah jauh. Toney sudah mencipta 11 gol dan 3 assist. Sedangkan Wilson hanya 6 gol 2 assist. Di penghujung jelang Piala Dunia pun, Wilson masih mengalami gangguan cedera. Beda dengan Toney yang mengamuk ketika mengalahkan Manchester City.

Kemudian di lini tengah ada nama Kalvin Phillips. Pemain yang musim ini menjadi pemain pesakitan yang lebih akrab dengan meja perawatan di Manchester City. Bermain hanya 4 kali dengan total hanya 53 menit.

Mungkin Southgate hanya modal percaya karena sudah lama bekerja sama dengannya ketika di Euro 2020 yang lalu. Terlebih masih ada juga nama Bellingham, Rice, maupun Henderson di posisi itu.

Tak beda jauh dengan Lord Maguire. Kapten sejuta umat ini adalah salah satu anak kesayangan Southgate. Jarang tampil reguler di MU dan sering blunder, tak membuat Southgate berpaling. Entah apa yang dilihat Southgate, sulit untuk menjawabnya. Mungkin saja dia lebih tau segalanya. Jadi, kita lihat saja di Qatar nanti penampilannya akan seperti apa.

Sumber Referensi : bola.net, headtopics, diotv.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru