Andrew Roberston: Seorang Tuna Karya Yang Kini Menjadi Andalan Liverpool

spot_img

Tepat di tahun 2012, Andrew Robertson, seorang pria yang berasal dari Skotlandia, mengeluh di akun sosial medianya. Saat itu, ia menggunakan twitter sebagai media nya untuk berkeluh kesah.

“Menyedihkan sekali, diusia sekarang aku hidup tanpa memiliki uang.”

Kicauannya itupun diakhiri dengan tagar #needajob.

Memulai akademi sepak bolanya, Andrew Robertson ‘diusir’ oleh Akademi Celtic karena tubuhnya dianggap terlalu kecil. Berat badan bocah berusia 15 tahun itu dinilai tak ideal untuk menjadi seorang pesepak bola profesional.

Akan tetapi ia tak patah semangat. Penolakan Celtic untuk menampungnya di akademi sepak bola mereka membuat bocah asli Glasgow itu punya motivasi lebih untuk terus berlatih.

Hingga pada akhirnya, ia ditampung oleh klub semenjana Skotlandia, Queen’s Park. Di Queen’s Park, dirinya berlatih dua kali seminggu di malam hari, karena dia harus bekerja setiap harinya dari jam sembilan pagi sampai lima petang.

Sembari berlatih, Robertson bekerja penuh waktu di stadion klub, Hampden Park, sebagai penunggu telepon untuk menjawab panggilan masuk, jika-jika ada orang yang mau membeli tiket pertandingan atau konser.

Di musim 2012/13 itu, ketika bermain di divisi tiga Liga Skotlandia, Robertson mencatatkan 34 penampilan dan berhasil menorehkan 2 gol. Usianya baru 19. Musim itu dihabiskannya dengan kerja keras.

Performa yang ditunjukannya bersama klub tersebut membuat tim pemandu bakat Dundee United tertarik untuk mengajaknya bergabung di Premiership. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung menerima tawaran dari Dendee United.

Karier cemerlangnya pun berlanjut, hingga ia mendapat penghargaan sebagai PFA Scotland Young Player of The Year sebelum akhirnya direkrut oleh Hull City pada 2014.

Dengan biaya transfer yang cuma 3 juta poundsterling, Hull memboyong Robertson ke Inggris. Dan tak perlu waktu lama baginya untuk mencuri perhatian. Di bulan kompetitif pertamanya, Agustus 2014, pemuda kidal itu sudah mendapat penghargaan pemain terbaik klub.

Tiga tahun menjalani kariernya bersama The Tigers, ia akhirnya resmi bergabung dengan salah satu klub terbaik di Liga Inggris, Liverpool. Memaknai hal ini, Robertson mengaku bahwa kepindahannya ke Liverpool bagai mimpi yang jadi kenyataan. Seperti yang diungkapkannya pada sesi konferensi pers pertamanya dengan LFC TV.

“Rasanya sedikit tak nyata sekarang. Tapi jelas saya sangat bahagia. Ada banyak spekulasi selama beberapa minggu namun saya senang kesepakatan akhirnya selesai dan saya menjadi pemain Liverpool.”

“Saya ingin membuktikan kepada orang-orang, saya bisa melakukannya di level ini, dan semoga saya mampu berbuat sesuatu di musim ini dan melakukan hal bagus untuk klub.”

Saat bergabung dengan Liverpool, Robertson menuai berkah dari cederanya bek asal Spanyol, Alberto Moreno.

Semua penggemar The Reds sempat pesimis karena tidak ada bek kiri selain Robertson. James Milner saat itu sudah diplot di posisi gelandang oleh Jurgen Klopp.

Namun, kecemasan para pendukung Liverpool berangsur turun. Pemuda berambut cokelat itu menunjukkan performa yang melegakan.

Sementara itu, bagi Klopp sendiri, ia sangat menyukai sikap yang telah ditunjukkan Robertson selama ini hingga akhirnya dia menjadi bagian dari skuatnya.

“Bagi Andrew ini adalah sebuah langkah besar lain dari perjalanan personal yang luar biasa dalam jangka waktu yang singkat,”

“Saya menyukai kisahnya, dari mana dia berasal untuk mencapai titik ini.”

Pujian sontak mengarah kepada pemain bernomor punggung 26 itu. Dia dianggap sebagai bek kiri terbaik yang akhirnya dimiliki Liverpool sepeninggal John Arne Riise dan Fabio Aurelio.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru