Dongeng cinderella Leicester juara Liga Inggris 2015/16 menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan. Namun kenangan manis itu tak hanya sampai di situ saja. Banyak kisah yang menyertai perjalanan The Foxes pasca peristiwa bersejarah tersebut. Termasuk catatan manis yang diukir mereka di Liga Champions. Sebuah pencapaian yang belum pernah mereka raih.
Leicester City players celebrating the moment they became Premier League champions in 2016.
— ESPN FC (@ESPNFC) April 19, 2021
(via @FuchsOfficial)pic.twitter.com/P5atnqhwho
Daftar Isi
Debutan
Perjalanan Leicester City masuk Liga Champions 2016/17 menjadi sebuah fenomena yang bersejarah. Bagaimana tidak? The Foxes adalah tim debutan di kompetisi tersebut. Tak pernah ada dalam cerita sejarah mereka tampil di Liga Champions.
#OnThisDay in 2016, the Foxes played their first ever Champions League home game 🏟
— Leicester City (@LCFC) September 27, 2019
Leicester City 1️⃣ Porto 0️⃣ pic.twitter.com/DDw4fub6fZ
Euforia publik King Power Stadium pun tak terelakan. Mereka antusias menanti anthem ikonik Liga Champions yang khas itu tiap tengah pekan.
Leicester ini memang baru pertama kali ikut Liga Champions, tapi mereka ternyata dalam sejarahnya sudah pernah tiga kali ikut di kompetisi Eropa. Tapi hanya selevel Piala Winner dan Piala UEFA. Piala Winner di tahun 1961, sedangkan Piala UEFA dua kali di tahun 1997 dan 2000.
Pencapaiannya pun tergolong buruk. Mereka kalah atas Atletico Madrid di babak pertama Piala Winner 1961. Lalu di Piala UEFA 1997, mereka juga keok atas lawan yang sama yakni Atletico Madrid, di babak pertama pula. Sedangkan di Piala UEFA 2000, meski sama-sama gugur di babak pertama, namun kali ini atas Red Star Belgrade.
On This Day 14th September, 2000…
— Filbert Street (@FiIbertStreet) September 14, 2018
Leicester City embarked on their second UEFA Cup campaign in four seasons with a first round first leg tie against former European champions Red Star Belgrade at Filbert Street #LCFC pic.twitter.com/WTkeE7n14m
Persiapannya Tak Terlalu Mencolok
Belajar dari catatan buruk tersebut, tentu Leicester tak mau dong hanya sekadar numpang lewat di Liga Champions. Pasalnya selain kompetisi itu sangat bergengsi, mereka juga berstatus sebagai juara liga terbaik dunia, Liga Inggris. Tentu dong, mereka tak mau menanggung malu muka masyarakat Inggris di Eropa.
Maka dari itu, Leicester di bawah Claudio Ranieri berbenah menyiapkan skuad yang dalam untuk menyambut musim baru yang penuh tantangan. Termasuk aktivitas yang mereka lakukan di bursa transfer.
Namun sayang, justru mereka malah kehilangan pilar vitalnya di lini tengah, yakni N’Golo Kante yang hijrah ke Chelsea. Kehilangan Kante sangat berimbas pada performa Leicester. Mencari penggantinya saja mereka kesusahan. Mereka hanya mendatangkan pemain sekelas Nampalys Mendy dan Wilfred Ndidi sebagai penerus Kante.
🦊 Leicester ➡️ Chelsea 🔵
— Premier League (@premierleague) July 16, 2021
N'Golo Kante arrived at @ChelseaFC #OnThisDay in 2016… 🏆 pic.twitter.com/Gk88Qd7Twj
Di lini lain, kerangkanya praktis tak berubah. Namun ada beberapa tambahan yang notabene juga kurang mencolok. Meski baru juara, dana yang mereka belanjakan di bursa transfer tak terlalu besar. Hal itu yang membuat Leicester hanya belanja seadanya. Seperti misal Ahmed Musa, Islam Slimani, maupun kiper Ron Robert Ziegler.
Commentator Jon Champion: "Leicester City spent loads of money on Islam Slimani (#Algeria) and Ahmed Musa (#Nigeria), they are not even in the squad. It's turning into a waste of money." #LCFC #KweseFootball pic.twitter.com/dKz2Zi6EP5
— Oluwashina Okeleji (@oluwashina) December 16, 2017
Compang-Camping Di Liga Inggris
Hasilnya terbukti. Mengarungi beberapa kompetisi yang padat dengan skuad yang kedalamanya tak mumpuni, berakibat fatal bagi Leicester. Mereka sejak awal musim 2016/17 sudah tak konsisten di Liga Inggris.
Kalah di Community Shield atas MU menjadi awal buruk Leicester. Sedangkan dari 14 laga pertama Liga Inggris, The Foxes hanya mampu menang tiga kali. Hal itu menjadi evaluasi mendalam bagi skuad, termasuk juga bagi Claudio Ranieri.
Leicester City have lost four consecutive Premier League games for the first time since February 2017 – the losing streak which saw title winning manager Claudio Ranieri sacked.
— Squawka (@Squawka) September 1, 2022
The Foxes are limping. 🤕 pic.twitter.com/oHhuaSUtzc
Juara Grup
Namun tunggu dulu, di saat di Liga Inggris compang-camping, ternyata Leicester di Liga Champions mampu berbicara banyak. Pasukan Ranieri di babak grup Liga Champions, berhasil menjadi juara grup.
Leicester berada di Grup G bersama Porto, Club Brugge, dan Copenhagen. Mereka hanya kalah sekali, itupun di partai terakhir yang tak menentukan kala melawan Porto. Selebihnya mereka mengumpulkan 13 poin dari hasil 4 kali menang, 1 kali imbang, dan 1 kali kalah.
On this day in 2016:
— Claudio Ranieri (@DonRanieri) November 22, 2018
Claudio Ranieri's Leicester City won Champions League Group G and progressed to the knockout stages!#lcfc #Ranieri pic.twitter.com/ThAKTAITRo
Dari hasil tersebut membuktikan bahwa performa The Foxes sangat berbanding terbalik seperti di Liga Inggris. Saat di liga, mereka justru melempem. Ranieri menjelaskan bahwa ternyata ia tak dapat menahan inkonsistensi berkat materi skuadnya yang tak dalam. Ia mengakui sendiri betapa sulitnya mengarungi Liga Champions sekaligus Liga Inggris yang makin ketat.
Ranieri Dipecat
Leicester menapaki babak 16 besar Liga Champions sebagai juara grup. Pencapaian yang kembali dicatat di buku sejarah The Foxes. Namun pasca lolos ke 16 besar, performa Leicester di liga pun tak ada tanda-tanda gelagat membaik.
Mereka justru semakin terjerumus di jurang degradasi. Bulan Februari 2017 ternyata menjadi bulan kelabu bagi Claudio Ranieri. Kekalahan 1-0 melawan Millwall di Piala FA, serta kekalahan 2-1 atas Sevilla di leg pertama 16 besar Liga Champions, telah menjadi akhir dari perjalanan “The Tinkerman” di King Power Stadium.
May 2016: Win the Premier League with Leicester City
— B/R Football (@brfootball) February 25, 2017
February 2017: Sacked as Leicester City manager
The dream died for Claudio Ranieri 😢 pic.twitter.com/ahZ6SZxvll
Ranieri dipecat dan digantikan oleh pelatih interim, Craig Shakespeare. Anehnya, justru di bawah pelatih interim itulah The Foxes tak tau kenapa performanya kembali bangkit. Salah satu buktinya adalah lima laga pertama di bawah Shakespeare, Leicester selalu menang di Liga Inggris.
🇬🇧 LEICESTER CITY CON CRAIG SHAKESPEARE:
— Leicester City 🏴 (@Leicester_GO) April 5, 2017
➔ 6 PJ
➔ 6 PG ✔
➔ 15 GF ⚽
➔ 4 GC ⚽
➔ Cuartos de Champions League 🏆#ComeOnFoxes. 💙🐺 pic.twitter.com/b4C6IPLigv
Perempat Final Liga Champions
Tapi yang perlu menjadi fokus adalah sentuhan Shakespeare di Liga Champions. Setelah kalah atas Sevilla di Ramon Sanchez Pizjuan The Foxes mampu membalikan keadaan menjadi 2-0 di leg kedua yang berlangsung di King Power Stadium. Gol yang disumbangkan Wes Morgan dan Marc Albrighton itu mampu membawa Leicester lolos ke perempat final dengan agregat 3-1.
ON THIS DAY 2017: Leicester City reach the Champions League Quarter Final at home to Sevilla "Let slip the dogs of war" #LCFC pic.twitter.com/c0MzAq5IRP
— FootballAwaydays (@Awaydays23) March 14, 2021
Sebuah pencapaian baru lagi yang bisa dicatat di buku sejarah The Foxes. Harusnya pencapaian itu mampu dilanjutkan. Namun sayang, mereka kembali bersua Atletico Madrid. Tim yang notabene pernah menjadi mimpi buruk mereka di Piala Winner dan Piala UEFA dulu.
Ya, akhir panjang cerita manis Leicester di Liga Champions harus terhenti di babak perempat final. Tapi jangan salah, mereka hanya kalah tipis kok dari Atletico Madrid dengan agregat 2-1. Sebuah hasil yang maksimal bagi tim debutan yang masih banyak masalah di musim itu.
Leicester City have been eliminated by Atletico Madrid three times in Europe. The 1961/62 European Cup Winner's Cup, the 1997/98 UEFA Cup and the 2016/17 UEFA Champions League.#Leicester #PremierLeague #ChampionsLeague #Atleti #trivia #football pic.twitter.com/Srzb4Efgsj
— Trivial Football (@TrivialFooty) April 13, 2020
Hasil pencapaian perempat final Leicester City di musim itu juga membanggakan masyarakat Inggris. Karena bagaimanapun faktanya hanya Leicester satu-satunya tim Liga Inggris yang tersisa di perempat final Liga Champions musim itu. Arsenal dan Manchester City sama-sama sudah gugur di 16 besar. Sedangkan Tottenham Hotspur malah sudah gugur duluan di fase grup.
Lolos Degradasi
Setelah tersingkir dengan kepala tegak dari Liga Champions, Leicester pulang ke Inggris dengan membawa harapan. Harapan untuk bisa lolos dari cengkraman degradasi. Maklum mereka butuh beberapa poin untuk selamat dari zona degradasi.
Dua kemenangan atas West Bromwich Albion dan Watford di bulan April 2017, serta hasil imbang di pekan terakhir melawan Bournemouth, membuat posisi Leicester akhirnya bisa aman dari Degradasi, dan bahkan bisa mengumpulkan 44 poin. Hasil itu menempatkannya jauh dari zona degradasi yakni di peringkat 12 klasemen Liga Inggris.
Sebuah akhir cerita yang manis bagi Leicester di musim itu. Meski terpuruk dan banyak masalah, mereka menyimpan sebuah prestasi yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
'Let Slip The Dogs of War'
— BBC Sport (@BBCSport) March 14, 2017
Craig Shakespeare's Leicester City reach Champions League quarter-finals:https://t.co/DSj4rWLBDw #bbcfootball pic.twitter.com/R2Md2qbzO8
Mungkin tiada trofi, tapi yang penting bagi mereka adalah perjuangannya bertahan dari krisis. Kini mereka sedang terpuruk dan hanya bermain di Championship. Tapi cerita indah itu akan selalu dikenang.
Sumber Referensi : goal, uefa.com, onefootball


