Akhir Nafas Panjang yang Luar Biasa Leicester City di Liga Champions

spot_img

Dongeng cinderella Leicester juara Liga Inggris 2015/16 menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan. Namun kenangan manis itu tak hanya sampai di situ saja. Banyak kisah yang menyertai perjalanan The Foxes pasca peristiwa bersejarah tersebut. Termasuk catatan manis yang diukir mereka di Liga Champions. Sebuah pencapaian yang belum pernah mereka raih.

Debutan

Perjalanan Leicester City masuk Liga Champions 2016/17 menjadi sebuah fenomena yang bersejarah. Bagaimana tidak? The Foxes adalah tim debutan di kompetisi tersebut. Tak pernah ada dalam cerita sejarah mereka tampil di Liga Champions.

Euforia publik King Power Stadium pun tak terelakan. Mereka antusias menanti anthem ikonik Liga Champions yang khas itu tiap tengah pekan.

Leicester ini memang baru pertama kali ikut Liga Champions, tapi mereka ternyata dalam sejarahnya sudah pernah tiga kali ikut di kompetisi Eropa. Tapi hanya selevel Piala Winner dan Piala UEFA. Piala Winner di tahun 1961, sedangkan Piala UEFA dua kali di tahun 1997 dan 2000.

Pencapaiannya pun tergolong buruk. Mereka kalah atas Atletico Madrid di babak pertama Piala Winner 1961. Lalu di Piala UEFA 1997, mereka juga keok atas lawan yang sama yakni Atletico Madrid, di babak pertama pula. Sedangkan di Piala UEFA 2000, meski sama-sama gugur di babak pertama, namun kali ini atas Red Star Belgrade.

Persiapannya Tak Terlalu Mencolok

Belajar dari catatan buruk tersebut, tentu Leicester tak mau dong hanya sekadar numpang lewat di Liga Champions. Pasalnya selain kompetisi itu sangat bergengsi, mereka juga berstatus sebagai juara liga terbaik dunia, Liga Inggris. Tentu dong, mereka tak mau menanggung malu muka masyarakat Inggris di Eropa.

Maka dari itu, Leicester di bawah Claudio Ranieri berbenah menyiapkan skuad yang dalam untuk menyambut musim baru yang penuh tantangan. Termasuk aktivitas yang mereka lakukan di bursa transfer.

Namun sayang, justru mereka malah kehilangan pilar vitalnya di lini tengah, yakni N’Golo Kante yang hijrah ke Chelsea. Kehilangan Kante sangat berimbas pada performa Leicester. Mencari penggantinya saja mereka kesusahan. Mereka hanya mendatangkan pemain sekelas Nampalys Mendy dan Wilfred Ndidi sebagai penerus Kante.

Di lini lain, kerangkanya praktis tak berubah. Namun ada beberapa tambahan yang notabene juga kurang mencolok. Meski baru juara, dana yang mereka belanjakan di bursa transfer tak terlalu besar. Hal itu yang membuat Leicester hanya belanja seadanya. Seperti misal Ahmed Musa, Islam Slimani, maupun kiper Ron Robert Ziegler.

Compang-Camping Di Liga Inggris

Hasilnya terbukti. Mengarungi beberapa kompetisi yang padat dengan skuad yang kedalamanya tak mumpuni, berakibat fatal bagi Leicester. Mereka sejak awal musim 2016/17 sudah tak konsisten di Liga Inggris.

Kalah di Community Shield atas MU menjadi awal buruk Leicester. Sedangkan dari 14 laga pertama Liga Inggris, The Foxes hanya mampu menang tiga kali. Hal itu menjadi evaluasi mendalam bagi skuad, termasuk juga bagi Claudio Ranieri.

Juara Grup

Namun tunggu dulu, di saat di Liga Inggris compang-camping, ternyata Leicester di Liga Champions mampu berbicara banyak. Pasukan Ranieri di babak grup Liga Champions, berhasil menjadi juara grup.

Leicester berada di Grup G bersama Porto, Club Brugge, dan Copenhagen. Mereka hanya kalah sekali, itupun di partai terakhir yang tak menentukan kala melawan Porto. Selebihnya mereka mengumpulkan 13 poin dari hasil 4 kali menang, 1 kali imbang, dan 1 kali kalah.

Dari hasil tersebut membuktikan bahwa performa The Foxes sangat berbanding terbalik seperti di Liga Inggris. Saat di liga, mereka justru melempem. Ranieri menjelaskan bahwa ternyata ia tak dapat menahan inkonsistensi berkat materi skuadnya yang tak dalam. Ia mengakui sendiri betapa sulitnya mengarungi Liga Champions sekaligus Liga Inggris yang makin ketat.

Ranieri Dipecat

Leicester menapaki babak 16 besar Liga Champions sebagai juara grup. Pencapaian yang kembali dicatat di buku sejarah The Foxes. Namun pasca lolos ke 16 besar, performa Leicester di liga pun tak ada tanda-tanda gelagat membaik.

Mereka justru semakin terjerumus di jurang degradasi. Bulan Februari 2017 ternyata menjadi bulan kelabu bagi Claudio Ranieri. Kekalahan 1-0 melawan Millwall di Piala FA, serta kekalahan 2-1 atas Sevilla di leg pertama 16 besar Liga Champions, telah menjadi akhir dari perjalanan “The Tinkerman” di King Power Stadium.

Ranieri dipecat dan digantikan oleh pelatih interim, Craig Shakespeare. Anehnya, justru di bawah pelatih interim itulah The Foxes tak tau kenapa performanya kembali bangkit. Salah satu buktinya adalah lima laga pertama di bawah Shakespeare, Leicester selalu menang di Liga Inggris.

Perempat Final Liga Champions

Tapi yang perlu menjadi fokus adalah sentuhan Shakespeare di Liga Champions. Setelah kalah atas Sevilla di Ramon Sanchez Pizjuan The Foxes mampu membalikan keadaan menjadi 2-0 di leg kedua yang berlangsung di King Power Stadium. Gol yang disumbangkan Wes Morgan dan Marc Albrighton itu mampu membawa Leicester lolos ke perempat final dengan agregat 3-1.

Sebuah pencapaian baru lagi yang bisa dicatat di buku sejarah The Foxes. Harusnya pencapaian itu mampu dilanjutkan. Namun sayang, mereka kembali bersua Atletico Madrid. Tim yang notabene pernah menjadi mimpi buruk mereka di Piala Winner dan Piala UEFA dulu.

Ya, akhir panjang cerita manis Leicester di Liga Champions harus terhenti di babak perempat final. Tapi jangan salah, mereka hanya kalah tipis kok dari Atletico Madrid dengan agregat 2-1. Sebuah hasil yang maksimal bagi tim debutan yang masih banyak masalah di musim itu.

Hasil pencapaian perempat final Leicester City di musim itu juga membanggakan masyarakat Inggris. Karena bagaimanapun faktanya hanya Leicester satu-satunya tim Liga Inggris yang tersisa di perempat final Liga Champions musim itu. Arsenal dan Manchester City sama-sama sudah gugur di 16 besar. Sedangkan Tottenham Hotspur malah sudah gugur duluan di fase grup.

Lolos Degradasi

Setelah tersingkir dengan kepala tegak dari Liga Champions, Leicester pulang ke Inggris dengan membawa harapan. Harapan untuk bisa lolos dari cengkraman degradasi. Maklum mereka butuh beberapa poin untuk selamat dari zona degradasi.

Dua kemenangan atas West Bromwich Albion dan Watford di bulan April 2017, serta hasil imbang di pekan terakhir melawan Bournemouth, membuat posisi Leicester akhirnya bisa aman dari Degradasi, dan bahkan bisa mengumpulkan 44 poin. Hasil itu menempatkannya jauh dari zona degradasi yakni di peringkat 12 klasemen Liga Inggris.

Sebuah akhir cerita yang manis bagi Leicester di musim itu. Meski terpuruk dan banyak masalah, mereka menyimpan sebuah prestasi yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Mungkin tiada trofi, tapi yang penting bagi mereka adalah perjuangannya bertahan dari krisis. Kini mereka sedang terpuruk dan hanya bermain di Championship. Tapi cerita indah itu akan selalu dikenang.

Sumber Referensi : goal, uefa.com, onefootball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru