Ada Cuan di Balik Rencana FIFA Gelar Piala Dunia Dua Tahun Sekali

spot_img

Induk sepak bola dunia, FIFA memunculkan wacana yang menggemparkan. FIFA menginginkan Piala Dunia digelar dua tahun sekali. Padahal sebelumnya, Piala Dunia adalah siklus empat tahunan. Hal itu tentu saja membuat penggemar sepak bola, federasi, dan para klub meradang. Sekalipun kita tahu FIFA dan PSSI tentu saja berbeda.

Wacana Piala Dunia dua tahun bukan hanya buah bibir. Presiden FIFA, Gianni Infantino mengatakan kalau pihaknya telah menerima usulan tersebut melalui proposal yang diajukan oleh Arab Saudi. Lewat proposal yang katanya mengesankan itu, Arab Saudi mengklaim sudah ada 166 federasi sepak bola nasional yang sepakat, sedangkan 22 lainnya mengambil sikap menolak usulan itu.

Tentu sebagai lembaga internasional yang tidak inggah-inggih saja, FIFA lantas melakukan semacam studi. Studi itu dikomandoi oleh mantan arsitek Arsenal yang kini menjabat Direktur Pengembangan Sepak bola Global FIFA, Arsene Wenger. Dari riset itu, entah bagaimana dari 210 asosiasi sepak bola nasional yang dibawah naungan FIFA, 166 di antaranya sepakat untuk menggelar Piala Dunia dua tahun sekali.

Dalam laporan studi yang diterbitkan FIFA tersebut, Wenger juga menulis kalau Piala Dunia yang digelar empat tahun sekali itu kuno. Jika FIFA ingin naik level, kualitas sepak bola harus ditingkatkan. Tapi pertanyaannya, apakah mesti dengan mengubah siklus Piala Dunia menjadi dua tahunan?

UEFA dan CONMEBOL Tidak Sepakat

Konfederasi sepak bola Asia (AFC), konfederasi sepak bola Afrika (CAF), dan konfederasi sepak bola Amerika Utara dan Tengah (CONCACAF) tampaknya menjadi tiga konfederasi yang sepakat atas usulan FIFA. Sementara, kalian harus tahu bahwa dua lainnya, yang menjadi kekuatan besar sepak bola tidak sepakat. Yup, konfederasi sepak bola Eropa (UEFA) dan sepak bola Amerika Selatan (CONMEBOL) mengambil sikap untuk berseberangan.

Para fans sepak bola di Eropa merasa riset FIFA yang dipimpin Arsene Wenger itu lebih ngaco dari sepak bola Indonesia. Mereka meradang dan tak terima dengan usulan Piala Dunia dua tahun sekali. Enak saja mengklaim para penggemar sepak bola sepakat.

Kita tentu patut memaklumi mengapa dua konfederasi tersebut menolak keras usulan Piala Dunia dua tahun sekali. Semua orang tahu bahwa UEFA memiliki kalender sepak bola yang padat. Di Eropa sepak bola sudah seperti gaya hidup.

Tengoklah kompetisi-kompetisi domestik. Mulai dari liga-liga domestik yang jadwalnya begitu padat, Liga Champions Eropa, Europa League, UEFA Conference League, dan tentu saja EURO. Jadi wajar kalau UEFA menolak. Terlalu banyak kompetisi di waktu yang berdekatan bisa merugikan klub. Kebugaran para pemain tentu akan terganggu.

Begitu juga di CONMEBOL. Jadwal di sana juga tak kalah padat. Mulai dari liga domestik, Copa Libertadores, sampai Piala CONMEBOL itu sendiri. Namun, FIFA juga punya cara untuk ngeles. Arsene Wenger bilang bahwa kalender internasional bisa diatur lagi.

Menggembosi UEFA

Pada sebuah laporan dari situs olahraga, ESPN, UEFA curiga ide Piala Dunia dua tahun adalah upaya untuk menggembosi kekuatan UEFA di kancah sepak bola. Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, dikutip ESPN mengatakan kalau, FIFA belum melakukan riset secara mendalam. Liga-liga top, tentu saja yang dimaksud Eropa belum tersentuh.

Ceferin pun tegas menolak proposal sekaligus riset yang dilakukan Wenger dkk. Kecurigaan ini boleh jadi benar belaka. Sebab sejak 2002, negara-negara Eropa selalu keluar sebagai kampiun Piala Dunia. Bahkan Brazil yang paling banyak mengoleksi gelar Piala Dunia pun mulai melempem sejak 2002.

Kalau ini benar, FIFA boleh jadi tengah menggali kuburannya sendiri. Bukan tidak mungkin kalau UEFA akan memberontak dan FIFA mesti siap untuk kehilangan satu kekuatan sepak bola. Sebetulnya, jika ingin persaingan menjadi ketat, konfederasi-konfederasi lain lah yang mesti berbenah untuk mengejar kualitas sepak bolanya masing-masing.

Ironisnya, UEFA bukan apa-apa tanpa pebisnis dari Qatar, Uni Emirat Arab, China, dan Amerika Serikat. Sebab tak dapat dimungkiri kalau finansial UEFA masih bergantung pada negara-negara tersebut. Dan sungguh malang nasib UEFA, negara-negara pemasok keuangan mereka justru pihak yang paling getol mendukung FIFA.

FIFA Mengincar Keuntungan yang Berlimpah

Mari kita tinggalkan dulu UEFA yang kini sedang seperti makan buah simalakama. Nah, ada satu tulisan menarik di Kumparan, ditulis Hedi Novianto. Dalam tulisannya itu, Hedi melihat ada semacam kecemburuan antara FIFA dengan UEFA. Namun, jangan dibayangkan seperti cemburunya hubungan suami istri.

Meski sama-sama menjalin hubungan, FIFA dan UEFA tak memulainya di KUA. Maka kecemburuan FIFA bukan karena UEFA selingkuh, tapi karena finansial UEFA jauh lebih banyak ketimbang FIFA. Hedi menulis, pemasukan FIFA terbanyak hanya dari Piala Dunia.

Setiap empat tahun sekali, FIFA mengantongi 4 miliar poundsterling atau Rp 77,7 triliun. Sementara UEFA, dalam kurun waktu yang sama mampu meraup 11 miliar poundsterling atau setara Rp 213,9 triliun. FIFA tentu iri dan merasa terdzolimi. Bagaimana mungkin organisasi di bawah naungannya justru mengantongi pemasukan yang lebih banyak ketimbang FIFA itu sendiri?

Sejauh ini keuntungan FIFA hanya berasal dari penjualan tiket dan hak siar saja, dan itu empat tahun sekali. Sementara tiga tahun lainnya, FIFA boleh dibilang sebatas mendapat uang receh saja. Itu berbeda dengan UEFA yang seolah memiliki kompetisi yang tak pernah libur.

Maka dari itu, kita bisa melihat jika FIFA menginginkan keuntungan lebih banyak. Dengan menggelar Piala Dunia dua tahun sekali, itu artinya FIFA tak perlu menunggu empat tahun untuk menghitung finansialnya sambil tersenyum. Bukankah cuan itu di atas segalanya?

Campur Tangan Arab Saudi

Satu hal yang menarik dari usulan ini, ada campur tangan Arab Saudi di sana. Tampaknya, memang negara-negara Timur Tengah sedang berlomba-lomba menguasai sepak bola. Arab Saudi sendiri seolah tak mau kalah dari Qatar dan UEA.

“Arab Saudi ingin sekali menjadi pemain besar dalam ranah olahraga, terutama sepak bola,” begitu kata James Dorsey, penulis buku The Turbulent World of Middle East Soccer (2016) dan peneliti dari S. Rajaratnam School of International Studies Singapura, kepada laman Dawn.

Beberapa tahun belakangan, muncul gelagat kalau Arab Saudi adalah sekutu kental FIFA. Arab Saudi diduga telah berperan penting dalam menghidupi operasional FIFA. Nah maka dari itu, mungkin saja diterimanya proposal dari Arab Saudi dengan enteng merupakan bentuk balas budi FIFA.

Apalagi meski Piala Dunia dua tahun sekali masih sebatas wacana, Arab Saudi telah bergerak cepat untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah. Jika usulan itu mendapat lampu hijau, Arab Saudi yang menggandeng Mesir akan menggelar Piala Dunia 2028 atau 2030.

Lalu, apakah rencana Piala Dunia dua tahun sekali itu baik? Tentu, kalau kita taqlid buta pada FIFA, Wenger, dan Arab Saudi. Namun kita bisa melihat siapa yang menolaknya. UEFA bukan hanya konfederasi sepak bola belaka. Ia adalah kekuatan terbesar dunia sepak bola.

Jika Piala Dunia digelar dua tahun sekali, UEFA bakal kesulitan mengatur jadwal pertandingan. Bukan hanya pemain yang dirugikan, tapi klub, organisasi penyiaran, dan fans juga bakal sama-sama merugi. Selebihnya, Piala Dunia dua tahun sekali hanya seperti usulan konyol. FIFA, bagaimanapun tak perlu lah membikin drama, karena itu tugasnya PSSI.

Sumber referensi: espn.com, forbes.com, kumparan.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru