Belum lama ini, FC Barcelona baru saja melakukan pemilihan untuk presiden baru mereka. Joan Laporta, yang sebelumnya pernah duduk di kursi yang sama kini kembali terpilih untuk menjadi pemimpin di kubu Blaugrana. Pria 58 tahun ini terpilih dengan total 30.184 suara atau 54,28 persen. Dengan ini, dia mengungguli para pesaingnya, seperti Víctor Font dengan persentase 29,99 persen dan Toni Freixa yang hanya kumpulkan sebanyak 8,58 persen suara.
Dalam pemilihan tersebut, tercatat ada 55.611 anggota yang menggunakan haknya. Sementara itu, dilaporkan, sebanyak 3.628 surat suara tidak sah dan 351 lainnya adalah surat suara kosong.
Lebih lanjut, Laporta akan menduduki kursi kepresidenan FC Barcelona sampai setidaknya 30 Juni 2026.
Menjadi presiden yang disebut bakal mengembalikan kejayaan FC Barcelona, siapa sebenanya sosok Joan Laporta?
Laporta lahir di Barcelona pada 29 Juni 1962. Dia merupakan sosok yang berlatar belakang pendidikan hukum lulusan Universitas Barcelona. Laporta sendiri punya konsultan hukum bernama “Laporta & Arbos Advocats Associats”.
Laporta pertama kali terlibat dengan FC Barcelona adalah pada tahun 1998 silam. Ketika itu, dia menginisiasi pergerakan Elefant Blau yang mengkritik era kekuasaan Presiden Barcelona era 1978 hingga 2000, Josep Lluis Nunez. Tiga tahun setelah momen tersebut, dia mengajukan diri sebagai calon presiden FC Barcelona. Saat itu, Laporta disebut sebagai kandidat yang tidak difavoritkan, mengingat ada sosok Lluis Bassat yang memiliki janji untuk mendatangkan pemain sekelas David Beckham, bila dirinya terpilih menjadi presiden klub.
Namun ternyata, Joan Laporta mampu membalikkan keadaan. Melalui dukungan besar dari lingkaran pendukung Barcelona, termasuk deretan pebisnis di wilayah Katalan, Laporta akhirnya terpilih untuk memimpin Barcelona pada Juni 2003.
Bila pesaingnya berjanji untuk mendatangkan David Beckham, maka Laporta lebih memilih untuk mendatangkan bintang Piala Dunia 2002 asal Brasil, Ronaldinho. Benar saja, tepat setelah di terpilih sebagai presiden FC Barcelona, nama Ronaldinho yang lebih dulu ngetop bersama Paris Saint Germain langsung didatangkan ke Camp Nou.
Selain itu, Laporta juga menjadi sosok penting dalam perekrutan pelatih asal Belanda, Frank Rijkaard. Lebih lanjut, dia tidak mau melupakan produk asli akademi klub dengan mengirim pemain-pemain seperti Carles Puyol, Xavi Hernandez, Victor Valdes, hingga Andres Iniesta, ke tim utama el Barca.
Perlahan tapi pasti, Laporta mulai menunjukkan kualitasnya sebagai perancang terbaik. Di bawah kepemimpinannya, Barcelona berhasil meraih satu per satu gelar La Liga. Selama selama dua musim berhasil merengkuh gelar La Liga, prestasi besar Barcelona di bawah Laporta datang di tahun 2006. Ketika itu, pemain bintang mereka saat ini, Lionel Messi, turut menjadi saksi dari keberhasilan Los Cules di ajang Liga Champions Eropa. Tahun tersebut, Barcelona berhasil merengkuh trofi Liga Champions untuk pertama kalinya sejak musim 1991/92, setelah mengalahkan Arsenal di partai final.
Ternyata, segala raihan itu masih belum cukup bagi Laporta. Setelah posisinya sempat goyah pada tahun 2008 karena penurunan prestasi, Laporta mengambil langkah jitu dengan mengangkat nama Pep Guardiola sebagai pelatih tim utama. Barcelona mendominasi dan menjelma menjadi tim terbaik di seluruh dunia.
Meski harus menghadapi resiko tinggi dengan menunjuk Guardiola untuk gantikan Rijkaard, Laporta tetap percaya diri. Hasilnya pun kita semua sudah mengetahui. Di era Laporta, Barcelona menjadi klub Spanyol pertama yang mampu meraih tiga gelar dalam satu musim kompetisi, yakni La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions Eropa, pada tahun 2009 silam. Bahkan, tidak hanya tiga gelar itu saja yang berhasil mereka dapatkan, melainkan enam, yang tiga trofi lainnya adalah Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antar Klub.
Selain soal prestasi di atas lapangan, Laporta juga menjadi presiden yang mampu memajukan klub dalam sektor ekonomi dan kemampuan sosial. Di bawah kepemimpinannya, FC Barcelona berhasil mengalami kenaikan pendanaan dari 170 juta euro atau setara 2,9 triliun rupiah, menjadi 455,5 juta euro atau setara 7,8 triliun rupiah.
Disamping itu, dia menjadi sosok yang mampu membuat Barcelona sebagai tim yang melawan kekerasan di Stadion. Melalui dirinya, el Barca dianggap sebagai pembawa standar dalam hal kedamaian, solidaritas, demokrasi, serta kebebasan individu dan kolektif.
Dengan hal tersebut, Laporta semakin menyempurnakan status FC Barcelona sebagai klub yang memiliki nilai-nilai perdamaian. Melalui motto “mes que un club”, Laporta bekerja sama dengan Unicef, Unesco, dan Acnur. Bersama Unicef yang sudah digandeng sejak 2006, Barcelona terus memberi dukungan finansial sebagai bentuk perlindungan terhadap anak-anak.
Selain itu dia juga membuka XICS Center di seluruh dunia lewat FC Barcelona Foundation.
Setelah mendapatkan sebanyak empat gelar La Liga, dua Liga Champions Eropa, dan satu Piala Dunia Antar Klub, Laporta resmi mengundurkan diri dari jabatan presiden el Barca pada tahun 2010. Usai meninggalkan jabatannya di Barcelona, Laporta lantas sebuah partai demokratis Katalan dan menjadi wakil di Parlemen Catalonia sejak November 2010 hingga Oktober 2012.
Pada periode 2011 sampai setidaknya 2015, Laporta juga aktif menjadi penasehat di Dewan Kota Barcelona.
Sempat mencalonkan diri sebagai presiden Barcelona pada tahun 2015 dan gagal, kini, ia berkesempatan membuat Barcelona kembali berjaya. Dia memiliki misi untuk mempertahankan Lionel Messi, agar terus mau berseragam FC Barcelona dan tentunya memberi gelar Eropa yang sudah lama tidak didapatkan.
Yang tak kalah penting, dia akan mendatangkan sejumlah pemain yang dianggap mampu menaikkan performa el Barca. Kabarnya, nama Sergio Aguero dan Erling Haaland masuk ke dalam radar.
Dengan segala tantangan yang lebih besar, Laporta berharap bila semua rencananya untuk kembali memajukkan Barcelona berjalan dengan lancar.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=n42j5QVJKO8[/embedyt]
Sumber referensi: bbc, ligalaga, suara, bola kompas, sport detik


