Semua Akan Munchen Pada Waktunya

spot_img

Slogan semua akan Munchen pada waktunya memang bukan kaleng-kaleng, karena itu bukan spekulasi dari netijen yang hobi nyari sensasi, bukan. Tapi nyata adanya dan selalu berjalan hampir setiap musim. Baik di lingkup kompetisi maupun transaksi jual-beli.

Sudah hampir satu dekade juara Bundesliga selalu bermuara ke kota Munchen, nyaris tidak ada halangan serius untuk menyudahi dominasi mereka di liga. Musim kemarin The Bavarian baru saja mengakhiri liga dengan raihan treble winner yang kedua kalinya, dan belum genap dua pekan kebelakang mereka bisa memecahkan rekor Barcelona sebagai klub satu-satunya yang meraih sixtuple. Ya memang sih ada bedanya juga, Munchen sixtuple sebagai angkatan generasi Corona.

Terakhir kali Bayern gagal juara Bundesliga Jerman itu jaman Juergen Klopp belum jadi pelatih gabut yang ngitungin pinalti lawan, alias dia masih waras gitu lah fokus ke timnya sendiri bareng Borussia Dortmund. Sisanya semua diboyong Munchen, bahkan trofi kaleng-kaleng macem DFB Pokal pun nggak mau ketinggalan diangkutin juga. Ini pemilik klub macem udah ngebeli liganya sekalian pas ngakuisisi Munchen.

Memang tidak dipungkiri jika faktor finansial amat berpengaruh terhadap dominasi suatu klub di liga. Seperti contohnya PSG yang saat ini menguasai Liga Perancis, Manchester City? Dia masih kalah kuat dengan nama besar Manchester United yang masih melindungi si Setan Merah sebagai klub terkaya di tanah Britania.

Bayern Munchen merupakan raksasa Jerman yang juga subur secara finansial. Memang sih rata-rata klub Jerman itu saham terbesarnya milik suporter, tapi sokongan sponsor ternama seperti Audi, Adidas dan Allianz juga turut menyumbang menjadi sumber terbesar kucuran kekayaan Bayern. Belum ditambah kecerdikan orang-orang manajemen klub yang pintar mengelola keuangan, mereka mampu mendatangkan pemain gratisan dengan kualitas mumpuni dari sesama tim Bundesliga, sekaligus mendatangkan pemain impor dengan harga tergolong murah tapi skill nggak murahan. Blunder Renato Sanches anggep aja cuma khilaf ya itu gengs.

Selain karena faktor sponsor, Bayern Munchen bisa mendominasi liga juga dipengaruhi karena mereka hobi sekali memboyong pemain dari sesama tim Bundesliga. Istilah kasarnya jambal tim sendiri bonus bisa sekalian ngegembosin tim lawan. Cerdik kali ah. Agak sedih memang kadang-kadang, tapi mau gimana lagi ya sepak bola kan tetap kompetisi yang harus dimenangkan, jadi siapa yang mampu ya dia yang menang. Dan nggak terlalu susah juga proses kepindahan pemain dari sesama tim Jerman tuh, nggak seribet liga lain macam Premier League atau La Liga.

Jika di Liga Inggris saat suatu klub ingin memboyong pemain lawan, apalagi itu pemain kunci, pasti puanjang sekali dramanya, udah gitu harganya juga mahal nggak ketulungan. Macam Fernando Torres saat pindah ke Chelsea dan Harry Maguire saat direkrut Manchester United. Di La Liga pun sama juga, Antoine Griezmann yang pindah dari Atletico ke Barcelona juga wow sekali harganya, sampe sampe itu cicilan lama amat lunasnya.

Ngomong-ngomong kepindahan pemain, ada lah beberapa nama yang Munchen rekrut dari sesama tim Bundesliga. Dimana nama-nama tersebut merupakan pemain andalan dari klubnya terdahulu. Yang paling anget nih karena kemaren baru pengumuman, ada Dayot Upamecano.

Minggu kemaren RB Leipzig secara resmi mengumumkan jika mereka sudah mencapai kesepakatan untuk melepas Dayot Upamecano ke Bayern dengan harga €42,5 juta. Eh malihhh itu pemain rumornya lari larian ke MU, Liverpool, Chelsea kesana kemari dan tertawa, resminya ya ke Munchen juga. Kan sudah aku bilang nggak usah lah terlalu ngarep, karena semua akan Munchen pada waktunya.

Si Dayot ini baru akan bergabung dengan Bayern pada bulan Juli mendatang. Nah loh musim depan auto nggak bisa diganggu gugat lagi ini dominasinya Munchen. CEO RB Leipzig, Oliver Mintzlaff juga memberi klarifikasi nih buat kita semua yang penasaran kenapa dia melepas pemain andalannya ke klub rival. Ini saya dapet dari situs resmi klub ya, jadi valid no debat.

“Pasti lah bro kita pengennya si Dayot ya stay aja di Leipzig. Tapi, Dayot ya kek pemain pada umumnya, dia pengen lah ngejalanin tantangan baru di karirnya, jadi yaudah mumpung ada kesempatan dia ambil deh.”

Ini juga agak mirip-mirip sama kasusnya Robert Lewandowski dulu. Bedanya masih mending Leipzig nglepas pemain masih tetep dapet duit, lah si Lewy ini dulu dilepas ke Bayern gretongan, alias gratis tanpa dipungut biaya, ongkir doang kali ya. Pada tahun 2014 silam Lewandowski memang pindah dari Dortmund ke Bayern karena sudah habis kontrak dan dia tidak mau memperpanjang. Nah pantesan kan ye sekarang Dortmund kalo ngasih harga ke pemainnya bener bener nggak ada akhlak, rupanya pernah rugi dulu nglepas si Lewy.

Dodol kali memang, padahal di musim sebelumnya, Dortmund bisa melepas Mario Gotze juga ke Bayern dengan harga €37 juta, dimana harga segitu udah pecahin rekor sebagai pemain Jerman termahal kedua setelah Mesut Ozil. Wajar sih Gotze dilirik sama Bayern, pasalnya Bayern pernah kalah sama Dortmund di Piala Jerman 2012, jadilah dia ngebajak Gotze yang notabene pemain bintang Dortmund untuk memperkuat amunisi mereka. Terus hasilnya bagaimana kawan-kawan? Kalian tau sendiri jawabannya lah ya, Gotze balikan lagi sama Dortmund.

Dua tahun setelah kepindahan Robert Lewandowski, Bayern Munchen kembali mendatangkan pemain dari Borussia Dortmund. Kali ini ada Mats Hummels yang ditebus dengan harga €35 juta, nilai yang sudah masuk kategori standar di tahun itu. Kedatangan Mats Hummels ini semakin membuat baris pertahanan Bayern makin paten, total dia membantu Bayern Munchen memenangkan tiga Bundesliga, tiga DFL Super Cup, dan satu DFB Pokal. Untuk Mats Hummels ini sebenarnya bukan orang asing bagi Bayern, karena sebelum disekolahin ke Dortmund dia memang pemain Bayern.

Jauh sebelum nama-nama itu menghiasi Allianz Arena, ada nama Manuel Neuer yang juga direkrut Bayern dari sesama tim Bundesliga, yaitu Schalke. Pada saat itu ada dua spekulasi terkait masa depan Neuer, dia ini pengen nyari tantangan baru buat main di klub besar, dan saat itu Manchester United juga santer dikaitkan akan merekrut Neuer sebagai pengganti Edwin Van Der Sar. Bahkan Sir Alex Ferguson juga memang minat dengan skill Neuer ini. Tapi ternyata Neuer pengennya pindah ke sesama klub Jerman, mendaratlah dia ke Bayern Munchen. Lalu bagaimana dengan nasib MU? Tenang, mereka merekrut kiper Atletico Madrid, David De Gea dan masih bertahan jadi palang pintu terakhir MU sampai tulisan ini diterbitkan.

Kurang lebih itulah alasan mengapa Bayern Munchen bisa mendominasi liga mereka sendiri, tapi saya pribadi tetap menaruh respek yang tinggi buat Munchen, terlepas dari hobi mereka yang membajak pemain lawan. Setidaknya Bayern Munchen menjadi klub besar ya karena usaha mereka sendiri, hasil kerja orang-orang dan suporter mereka yang solid, sehingga mental juara untuk bersaing di Eropa pun ada.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru