Pada tahun 2016 lalu, Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan berhasil mengukir sejarah, setelah mereka sukses memenangi trofi Piala Eropa. Itu menjadi capaian yang begitu luar biasa. Pasalnya, Portugal datang sebagai tim yang tidak diunggulkan. Belum lagi, lawan mereka di partai puncak adalah sang tuan rumah, Prancis. Selain menjadi tuan rumah, Prancis juga disebut-sebut bakal jadi raja di rumah sendiri, menyusul skuad luar biasa yang mereka miliki.
Akan tetapi, nyatanya, Portugal tak ciut nyali. Mereka yang bahkan harus kehilangan pemain andalan Cristiano Ronaldo di pertengahan babak, berhasil membalikkan prediksi dan keluar sebagai yang terbaik.
France vs. Portugal.
The Euro 2016 finalists meet again in Group F 🍿 pic.twitter.com/Xb0lUxXjal
— B/R Football (@brfootball) November 30, 2019
Beberapa tahun berselang, meski gagal tampil memukau di ajang Piala Dunia, Portugal kembali unjuk gigi di panggung Eropa. Kali ini, kompetisi UEFA Nations League sukses mereka habisi.
Melihat sejumlah gelar yang mereka dapat dalam setidaknya kurun waktu lima tahun terakhir, semua pasti setuju bila timnas Portugal kini memiliki generasi emas yang berpotensi bakal ditakuti.
Bicara tentang generasi emas atau yang biasa disebut sebagai geração do ouro, nama Portugal sebenarnya tidak terlalu asing dengan istilah tersebut. Dalam sejarahnya, kita semua tahu bila Portugal pernah menjadi salah satu tim paling ditakuti ketika disana terdapat nama Eusebio. Penyerang dengan produktivitas sangat tinggi itu menjadi satu dari sekian legenda yang namanya tak akan pernah terganti.
Lalu, Portugal juga pernah memiliki barisan pemain muda berbakat pada akhir 80 an hingga awal 90 an. Ketika itu, mereka berhasil memenangi kejuaraan Eropa tingkat remaja, dimana pemain seperti Luís Figo, Manuel Rui Costa, João Pinto dan Jorge Costa, menjadi bintangnya. Barisan pemain tersebut merupakan salah satu yang terhebat pada masanya. Bahkan, mereka disebut sebagai generasi emas Portugal yang tidak lama lagi akan taklukkan turnamen akbar.
Kebanyakan dari tim muda berbakat Portugal ketika itu turut ambil bagian di turnamen Piala Eropa tahun 2000. Kompetisi tersebut menjadi awal dari tonggak sejarah Portugal. Meski hanya mampu tampil hingga babak semifinal, empat tahun berselang, mereka kembali kepakkan sayap di benua biru. Piala Eropa yang digelar di tanah sendiri nyaris membuat mereka menjadi raja, yang tentunya skuad saat itu diisi nama hebat, termasuk Luis Figo.
Sayang, Negeri Seribu Dewa menghancurkan mimpi mereka untuk tampil sebagai juara di negeri sendiri.
On this day, exactly 16 years ago, Greece beat Portugal 1-0 in the EURO 2004 final to shock the world. 🇬🇷🇵🇹 pic.twitter.com/KV9UA8iOQk
— Football Factly (@FootballFactly) July 5, 2020
Dua tahun berselang, atau tepat pada gelaran Piala Dunia 2006, nama Cristiano Ronaldo mulai muncul sebagai andalan. Dengan dibekali skuad yang cukup mumpuni, Portugal berhasil mencapai fase semifinal setelah takluk dari Prancis.
Pada turnamen-turnamen selanjutnya, Portugal sempat mengalami masa krisis. Utamanya di gelaran Piala Dunia 2010, mereka mulai kehilangan banyak pemain andalan. Nama seperti Luis Figo, Rui Costa, hingga Nuno Gomes, pamit dari panggung Internasional.
Memasuki dekade baru, Portugal kembali merancang segalanya untuk ciptakan generasi penerus bangsa. Sayangnya, meski di masa itu nama Cristiano Ronaldo tengah menjadi buah bibir, Portugal justru menuai hasil sebaliknya. Gelaran Piala Dunia 2014 menjadi yang harus dilupakan oleh skuad Samba Eropa. Mereka gagal lolos dari fase grup, setelah disingkirkan Jerman dan Amerika Serikat.
Pelatih Portugal ketika itu, Paulo Bento, langsung dipecat karena dianggap minim kreativitas. Dia hanya fokus pada sosok Ronaldo. Dia ingin mengandalkan mantan bintang Real Madrid itu, namun ternyata hal tersebut justru menjadi boomerang baginya.
Portugal bukan hanya tentang Ronaldo, namun seluruh tim yang layak mendapat sanjungan serupa.
Benar saja, sosok Fernando Santos yang ditunjuk sebagai pengganti langsung memahami hal tersebut. Dia tidak ingin terjebak dengan kebintangan Ronaldo. Dia ingin mengelola tim secara menyeluruh. Dia ingin mengubah perspektif lain dengan menyerahkan tanggung jawab kepada seluruh pemain yang tampil di lapangan.
Cara yang diterapkan pun berbuah manis. Seperti yang sudah disinggung, Portugal berhasil memberikan kejutan dengan membungkam skuad luar biasa Prancis di partai final. Tiga tahun berselang, penaklukkan kompetisi UEFA Nations League semakin mengukuhkan mereka sebagai salah satu tim yang wajib diwaspadai di masa mendatang.
On this Day Cristiano Ronaldo captained Portugal to their Second International trophy. The UEFA Nations League🇵🇹🏆 pic.twitter.com/C9SKFQHdVc
— SF⁷ 🍷 (@Schule7i) June 9, 2020
Meski UEFA Nations League dipandang sebagai kompetisi yang kurang berbobot, Portugal tetap mampu merasakan imbas yang begitu besar. Dari situ, mereka semakin mengukuhkan nama hebat seperti Goncalo Guedes, Bernardo Silva, Joao Felix, Ruben Neves, Bruno Fernandes, Nelson Semedo, Joao Cancelo, William Carvalho, Danilo Pereira dan Ruben Dias. untuk dijadikan andalan di turnamen-turnamen berikutnya.
Para pemain tersebut telah bermain di level tertinggi untuk klub mereka, dan itulah alasan utama mengapa Portugal mulai berkembang.
Dalam membangun segala hal penting di skuad Portugal, Fernando Santos menerapkan pola permainan cepat, memainkan serangan indah dan terstruktur, serta tak melupakan lini pertahanan yang kokoh. Satu hal yang pasti, ia ingin melihat Portugal sebagai tim, bukan sebagai satu atau dua pemain saja.
Di balik kegemerlapan timnas Portugal ketika itu, ternyata juga diikuti oleh para pemain muda yang turut sumbangkan piala.
Pada Mei 2016, skuad muda Portugal yang berkompetisi di turnamen Piala Eropa 2016, dipimpin langsung oleh mantan skuad muda berbakat Portugal di masa lampau, Helio Sousa. Di babak kualifikasi, sang pelatih berhasil membawa anak asuhnya melibas tiga pertandingan, dengan menciptakan tujuh gol dan hanya kebobolan sebanyak dua kali. Pada putaran final, mereka berhasil lolos dari fase grup, untuk kemudian menumbangkan perlawanan Austria dan Belanda, sebelum akhirnya melibas Spanyol di partai puncak, melalui drama adu penalti.
Dari turnamen tersebut, Portugal berhasil menelurkan nama-nama seperti Diogo Costa, Rúben Vinagre, Diogo Dalot, Diogo Leite, Florentino Luís, Gedson Fernandes, Domingos Quina, Jota dan José Gomes.
Dua tahun berselang, para pemain tersebut tampil di ajang Piala Eropa U19, dimana terdapat nama baru seperti Francisco Trincão dan Thierry Correia. Melakukan perjalanan ke Finlandia yang ditunjuk sebagai tuan rumah, Portugal berhasil merasakan gelar pertama mereka di level U 19 sepanjang sejarah.
Dengan kumpulan pemain muda berbakat, pemain muda yang telah tampil di kompetisi tertinggi, serta sejumlah nama senior yang sampai saat ini masih sangat bisa diandalkan, Portugal sangat berpotensi jadi negara terbaik di turnamen yang akan datang.
Keyakinan penggemar memuncak dengan berkumpulnya para talenta hebat di negara mereka. Euro 2020 dan PIala Dunia 2022 bakal menjadi kompetisi empuk untuk mereka taklukkan. Apalagi salah satu bintang terbesarnya, Cristiano Ronaldo, tengah diambang masa pensiun.
Dengan kesempatan membawa Portugal jadi yang terbaik di dunia akan segera tertutup, Ronaldo diyakini bakal tampil habis-habisan. Dia tentu tidak akan melewatkan kesempatan untuk memberi peninggalan berarti, bagi seluruh bakat Portugal pasca generasinya berakhir.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=nn5-RTtVoC0[/embedyt]
Sumber referensi: proxima-jornada, indosport, sportco, squawka


