Menonton Sepakbola Dengan Menggunakan Teknologi Spidercam

spot_img

Seiring berkembangnya zaman, sepakbola juga turut menerima dampaknya. Sebuah pertandingan kini sudah memiliki banyak kemajuan. Utamanya dalam hal teknologi. Ada sejumlah teknologi yang sampai saat ini sudah dikenal banyak orang, seperti teknologi garis gawang sampai VAR yang mengundang banyak sekali pro dan kontra.

Namun ada satu teknologi yang jarang sekali mendapat protes dari massa. Adalah spidercam atau teknologi penyiaran yang menggunakan kamera laba-laba.

Kamera laba-laba, atau yang akrab dikenal sebagai spidercam, yang merujuk pada merk dagang, merupakan kamera yang memang berbentuk seperti laba-laba. Menggantung di atas dengan dikelilingi oleh kabel yang sangat kuat. Spidercam tak ubahnya menjadi suatu teknologi yang dianggap lebih baik dari kamera-kamera sebelumnya.

Sejarah mengatakan bila teknologi ini pertama kali ditemukan oleh Gareth Brown pada 1984. Kamera dengan bobot 15 kg ini kemudian dikembangkan oleh Jens C. Peters yang tak lain dan tak bukan adalah pendiri CCSystem Inc.

Perusahaan asal Austria yang berdiri pada tahun 2000 tersebut terus melakukan berbagai percobaan dan pengembangan tentunya untuk membuat teknologi yang diciptakan Gareth Brown bisa dimanfaatkan dengan baik. Setelah segala upaya dilakukan, sampailah pada tahap pengujian tahun 2003. Setahun berselang, teknologi kamera ini mulai digunakan secara luas.

Sebelum teknologi ini hadir, dalam sepakbola khususnya, sebuah pertandingan harus menyiapkan setidaknya 11 kamera untuk memberi tontonan yang menarik dan nyaman dipandang oleh pemirsa layar kaca.

Terdapat satu kamera jimmy jib di belakang setiap gawang, satu kamera di setiap sudut lapangan, tiga kamera di tribun utama, dan dua kamera lainnya yang bertugas untuk merekam bangku cadangan. Meski teknologi tersebut sudah tergolong baik, namun lama kelamaan banyak yang menganggap bila itu membosankan dan kaku.

Kemudian, untuk memenuhi kebutuhan penonton layar kaca, sebuah inovasi bernama spidercam pun mulai digunakan. Dalam hal ini, teknologi spidercam jelas memiliki fungsi yang lebih baik dari kamera sebelumnya. Kamera tersebut mampu menambah sudut pandang penyiaran yang tidak bisa dilakukan oleh teknologi kamera sebelumnya. Kamera ini memiliki tingkat fleksibilitas luar biasa, karena memiliki ruang gerak yang sangat luas.

Bahkan, kamera ini bisa bergerak mendekati pemain bila kondisi memungkinkan.

Seperti yang sudah dijelaskan, kamera ini dimanfaatkan melalui sambungan kabel yang sangat kokoh untuk menjaga keseimbangan. Kabel yang diketahui berbahan kevlar tersebut mampu menjadikan kamera spidercam memiliki kualitas yang jauh lebih baik dari drone.

Sebagaimana diketahui, drone memiliki daya baterai terbatas, dan itu bisa sangat berbahaya bagi para pemain yang tengah menjalani pertandingan. Selain unggul dalam masalah ketahanan durasi, kamera spidercam juga dianggap memiliki kualitas gambar yang jauh lebih baik dari drone. Oleh sebab itu, teknologi ini lebih disukai untuk merekam setiap kejadian dalam pertandingan.

Dalam pengoperasiannya, dibutuhkan setidaknya dua orang untuk bertugas. Orang pertama bertugas untuk mengatur gerak spidercam, sementara satu orang lainnya bertugas untuk mengoperasikan kamera, seperti misalnya zoom in atau zoom out.

Bicara tentang penggunaan kamera spidercam, bagaimana kamera ini kemudian bisa terpasang rapi di stadion?

Memasang teknologi kamera super canggih ini bukan perkara mudah. Pihak stadion penyelenggara perlu menghubungkan kamera ke sebuah komputer, dengan tujuan untuk mentransfer gambar yang nantinya akan disalurkan ke televisi penonton sepakbola. Tentunya, untuk bisa mengoperasikan kamera ini, dibutuhkan pula kabel super panjang dan kokoh, yang nantinya digunakan sebagai penyangga sekaligus trek dari kamera itu sendiri.

Kabel yang dipasang di setiap sudut stadion itu akan dikaitkan dengan spidercam dan menjadi layaknya katrol agar kamera bisa bergerak bebas dengan aman.

Perlu diketahui pula bahwa untuk memuluskan pengoperasian spidercam, terdapat setidaknya empat tiang pancang yang dipasang di titik strategis stadion, dengan fungsi sebagai pengulur dan penggulung kabel baja spidercam.

Selain mempersiapkan alat yang diperlukan, butuh kehati-hatian ekstra untuk memasang alat ini agar tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Diperlukan sebuah pemeriksaan dan pemastian secara detail demi menjaga keselamatan bersama. Bila tidak, maka sebuah insiden tak diinginkan pun bakal terjadi, seperti apa yang menimpa penonton yang hadir di ajang Olimpiade Rio 2016 lalu.

Atau seperti insiden yang terjadi dalam sebuah pertandingan kriket, dimana kapten Australia, Steve Smith, sempat menyalahkan keberadaan spidercam dalam sebuah pertandingan yang dijalaninya, setelah ia gagal menangkap bola karena dianggap menyentuh kabel kamera terlebih dahulu.

Sebagai informasi, teknologi spidercam memang tidak hanya digunakan di olahraga sepakbola saja. Ada voli, renang, tenis, hingga cricket.

Dalam sejarahnya, teknologi spidercam sudah mulai diimplementasikan pada acara Piala Eropa Renang di Hungaria pada tahun 2004 silam.

Di ajang sepakbola sendiri, menurut Sports Video Grup Eropa, ajang Piala Eropa 2008 sudah menggunakan teknologi ini. Dua tahun berselang, sepakbola kembali menggunakan kamera ini pada gelaran besar di tahun 2010 silam, tepatnya pada ajang Piala Dunia di Afrika Selatan. Setelah itu, Brasil juga turut menggunakan teknologi ini ketika menggelar ajang empat tahunan. Tak ketinggalan pula gelaran Euro 2016, dan terbaru, diikuti oleh ajang Piala Dunia 2018 yang digelar di Rusia.

Selain ajang antar negara, kompetisi sepakbola di masing-masing negara juga sudah menggunakan teknologi ini. Satu yang paling mendapat sorotan tentu laga akbar antara Real Madrid melawan FC Barcelona dalam tajuk el clasico, yang dihelat pada tahun 2011 lalu.

Dengan penggunaan alat tersebut, el clasico pada saat itu tidak hanya menyuguhkan laga panas dengan tensi tinggi, namun juga sebuah tontonan berkelas, yang setiap detailnya bisa terlihat dengan sangat jelas oleh pemirsa layar kaca.

Di Indonesia sendiri, teknologi ini juga sempat dipakai pada gelaran SEA Games 2011. Ketika itu, teknologi spidercam digunakan pada acara pembukaan ajang tersebut di Stadion Jakabaring, Palembang.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=53K1yFa0JOE[/embedyt]

 

Sumber referensi: Panditfootball, Ligalaga, The Sun, Indosport

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru