Mengapa Kiper Sulit Mendapat Penghargaan Ballon D’or?

spot_img

Bagi setiap individu, bisa mendapat penghargaan Ballon D’or merupakan sebuah hal yang sangat istimewa. Seorang pemain akan dianggap sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa ketika sudah pernah naik podium untuk menerima penghargaan tersebut. Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, dua nama terhebat, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, terus jadi topik pembicaraan. Betapa tidak? Dua superstar sepakbola itu silih berganti untuk membawa pulang penghargaan Ballon D’or.

Beruntung, pada tahun 2018, pemain asal Kroasia bernama Luka Modric mampu mematahkan dominasi dua pemain tersebut. Meski pada edisi berikutnya Lionel Messi kembali terpilih menjadi pemain terbaik, keberadaan Luka Modric diantara dua nama hebat itu tetap menjadi yang paling bersejarah.

Semua orang dibuat puas dengan kemenangan yang diraih oleh Modric, meski sebagian tetap mengatakan bahwa belum ada pemain yang mampu melebihi kualitas Messi maupun Ronaldo.

Satu hal yang mencuri perhatian lainnya, dalam malam mewah milik Luka Modric pada tahun 2018 silam, adalah ketika tidak ada satupun kiper yang ikut duduk dalam daftar 10 besar. Disana, hanya terdapat nama Thibaut Courtois yang cuma duduk di tangga ke 14. Apa yang menjadi perhatian tersebut lantas memunculkan pertanyaan, mengapa seorang kiper terlihat sangat sulit untuk mendapat penghargaan Ballon D’or?

Melansir dari laman ligalaga, untuk menjawab pertanyaan semacam ini, kita perlu menarik jauh ke belakang, tentang bagaimana peran dan posisi kiper sebelum masuk ke era sepakbola modern. Menurut sejarah, atau tepat pada abad ke 19, sepakbola yang sudah menjadi olahraga yang mulai terkenal, memiliki tujuan bahwa permainan ini hanyalah mencetak gol sebanyak-banyaknya. Tidak peduli seberapa banyak sebuah tim kebobolan, yang pasti, mereka harus mencetak gol lebih banyak untuk bisa memenangkan sebuah pertandingan.

Melalui konsep ini, posisi kiper ketika itu sama sekali belum ada. Sebuah tim hanya memunculkan pemain belakang yang ditugaskan untuk menyapu bola ke depan, ketika lawan datang menyerang. Saat itu, pemain tersebut juga belum dianggap sebagai kiper. Dia hanya berposisi sebagai pemain belakang yang punya tugas lebih, dan tentunya, tidak diperbolehkan untuk menyapu bola dengan menggunakan tangan.

Pemain yang memiliki peran itu juga pada akhirnya disebut sebagai “anti-footballer”, yang merujuk pada sebuah istilah yang mengatakan kalau sepakbola adalah tentang konsep sepakbola yang mana para pemain harus menyerang dan mencetak gol sebanyak-banyaknya. Pemain dengan peran tersebut dianggap sudah cukup digunakan untuk menjaga pertahanan, yang sebenarnya pada saat itu, mereka juga tidak terlalu dibutuhkan.

Lalu, stigma seorang pemain yang menghalau bola dari serangan lawan juga semakin buruk ketika, kiper, yang posisinya sudah mulai diakui, digunakan sebagai bentuk “hukuman” oleh para pihak Gereja. Mengapa gereja? Ya, karena pada saat itu, olahraga sepakbola digunakan sebagai alat dakwah oleh pihak gereja. Di buku Jonathan Wilson, The Outsiders, pihak gereja menjadikan sepakbola sebagai olahraga yang memperkuat persatuan umat sekaligus mengajarkan nilai-nilai moralitas dalam konsep spiritual atau rohani.

Mereka mengatakan bila gawang adalah surga. Jadi semua pemain harus berlomba-lomba untuk bisa mencetak gol ke dalam gawang. Dalam hal ini, bentuk “hukuman” merujuk pada kiper yang jelas dianggap sebagai antithesis dari semua sifat surgawi. Kiper dianggap sebagai penghalang menuju surgawi. Lebih lanjut, posisi kiper biasanya dihuni oleh para anak-anak nakal yang tengah terkena hukuman.

Dari sejarah yang telah terangkum tersebut, orang-orang jadi sulit untuk menganggap bahwa sosok kiper adalah pahlawan. Mereka sudah terlanjur memandang sebelah mata posisi kiper dan menganggap bahwa pemain yang berdiri di bawah mistar hanya sebagai pelengkap sebuah kesebelasan saja.

Dari fakta tersebut pula, kiper sulit untuk mendapat sebuah penghargaan individu, apalagi yang sifatnya sekelas penghargaan Ballon D’or.

Beruntung pada tahun 1963, ada sosok luar biasa berada di bawah mistar bernama Lev Yashin. Lev Yashin adalah kiper Uni Soviet, yang sampai saat ini, namanya masih dianggap sebagai kiper terbaik sepanjang masa. Lev Yashin bisa dibilang menjadi penjaga gawang terhebat dunia yang pernah ada. Dia telah bermain sebanyak 22 musim untuk Dinamo Moskwa, yang mana itu menjadi satu-satunya klub yang pernah ia wakili. Selama perjalanannya, Yashin juga berhasil memenangkan lima kejuaraan liga dan tiga kejuaraan lainnya.

Dalam seluruh perjalanan karirnya, dia telah memenangkan banyak piala, dan juga bermain di tiga edisi Piala Dunia (1958, 1962 dan 1966). Kemudian pada tahun 1956, dia juga menjadi salah satu pemain tim nasional Uni Soviet yang sukses memenangkan olimpiade di Melbourne. Empat tahun kemudian ia berhasil memenangkan kejuaraan Eropa.

Penghargaan tertinggi dari segala pencapaiannya tentu satu penghargaan Ballon D’or yang dia dapat pada tahun 1963. Dari situ, Lev Yashin benar-benar mengubah stigma penggemar sepakbola tentang buruknya posisi penjaga gawang. Apparel perlengkapan olahraga mulai berdatangan untuk menawarkan sebuah kerja sama. Beragam produk, seperti sarung tangan, topi, hingga kaos kaki diproduksi khusus untuk para penjaga gawang.

Namun begitu, semenjak Yashin terpilih sebagai pemenang penghargaan Ballon D’or tahun 1963, tidak ada lagi kiper yang mampu naik ke panggung tertinggi.

Bila diperhatikan, meski citra buruk seorang kiper sudah berhasil diredam oleh Lev Yashin, ada sejumlah alasan lagi yang membuat kiper masih akan sulit mendapat penghargaan Ballon D’or, salah satunya tentu tentang munculnya para pemain-pemain hebat, yang tidak berposisi sebagai kiper.

Dalam hal ini, penyerang khususnya, sering dianggap sebagai pahlawan. Mereka yang mencetak gol untuk kemudian memberikan sebuah gelar untuk timnya masih terus didewakan. Jadi bila ada seorang kiper yang ingin memenangkan penghargaan Ballon D’or, maka harus ada masa dimana tidak ada seorang penyerang atau bahkan winger yang tampil paling menonjol. Jika masih ada pemain seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, akan semakin sulit pula bagi kiper untuk bisa unjuk gigi di panggung tertinggi.

Jika pun pemain hebat selain kiper akan terus lahir, maka para kiper setidaknya harus berharap bahwa pada dalam satu tahun, pemain yang dianggap hebat tersebut mengalami cedera, dan di sisi lain, kiper tersebut harus banyak melakukan penyelamatan-penyelamatan penting, seperti tampil paling menonjol di partai final atau semacamnya.

Dalam hal ini, kiper bisa bertindak sebagai pemain yang menggagalkan tendangan penalti, melakukan penyelamatan satu lawan satu, dan dilengkapi dengan aksi heroik lainnya, yang tentunya semua itu dilakukan di partai-partai krusial.

Jika situasi tersebut tidak bisa didapatkan, maka kiper-kiper yang ada akan mengalami nasib yang sama dengan sejumlah nama di bawah mistar seperti Dino Zoff, Oliver Kahn, Gianluigi Buffon, sampai Manuel Neuer. Mereka semua gagal menjadi yang terbaik karena ada pemain yang tentunya tidak berposisi sebagai seorang kiper, yang dianggap lebih berpengaruh pada timnya dalam memenangi gelar juara.

Karena dianggap sulit memenangi penghargaan Ballon D’or, para kiper kini bisa sedikit lemparkan senyum, karena France Football telah menciptakan sebuah penghargaan yang khusus diberikan kepada seorang kiper bernama Yachine Trophy. Sudah jelas bahwa nama Yachine Trophy diambil dari sosok kiper hebat yang berasal dari Uni Soviet.

Direktur Football France, Pascal Ferre, menyebut bahwa penghargaan tersebut memang khusus diberikan kepada penjaga gawang terbaik, yang dipilih oleh panel spesial Internasional yang juga ditugaskan untuk memilih pemenang penghargaan Ballon D’or.

Pada edisi pertama Yachine Trophy yang diselenggarakan, kiper Liverpool, Alisson Becker, menjadi pemenangnya. Alisson berhasil memenangkan penghargaan tersebut karena sukses membawa Liverpool menjuarai gelar Liga Champions Eropa dan mengantar timnas Brasil jadi juara Copa America. Menyusul prestasi terbaiknya itu, Alisson juga berhasil menempati posisi ke tujuh daftar terbaik peraih penghargaan Ballon D’or 2019 lalu.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=Q0EgMlRvKbU[/embedyt]

 

Sumber referensi: ligalaga, as, quora

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru