Aturan Main Bola di Masa Kecil Yang Bikin Kangen

spot_img

Nostalgia bal-balan semasa kecil, bagi anak laki-laki era 90 an merupakan hal yang sangat-sangat membuat rindu. Tak ada yang merasa kalah, tak ada juga yang merasa menang. Permainan dilakukan hanya untuk mencari kebahagiaan. Lebih dari itu, momen kaki terkena pecahan kaca, pusaka terkena bola, hingga sliding tekel yang mungkin membuat luka, cukup dijadikan sebagai bumbu-bumbu penyedap dari kegembiraan sesungguhnya.

Pada kesempatan kali ini, kami berniat mengajak kalian, kaum adam khususnya, kembali ke era dimana masalah terberat hanyalah pr matematika. Tiada putus cinta, cicilan yang belum terbayar, atau mungkin tuntutan memperkenalkan calon kepada orang tua.

Berikut adalah aturan-aturan tak tertulis bermain sepakbola di masa kecil.

Tempat Bermain Yang Tidak Selamanya Lapangan

Anak kecil selalu pandai menemukan kebahagiaan. Mereka akan mudah tertawa ketika sudah berkumpul dengan teman-temannya. Dalam hal ini, sepakbola tentu menjadi permainan yang selalu membekas di hati mereka.

Untuk memainkan olahraga ini, kita, pada masa kecil dulu, tidak terlalu membutuhkan lapangan dengan rumput hijau yang sedap dipandang mata. Ada banyak sekali tempat yang bisa dijadikan sebagai ajang adu bakat dalam hal mengolah bola. Dimana sajakah itu?

Lahan kosong, lorong sekolah di depan kelas, halaman rumah, gang-gang sempit, hingga lapangan RW yang mungkin tidak semua memiliki rumput yang rata. Selama ada ruang, lawan main, dan tentunya bola untuk ditendang, sebuah pertunjukkan mewah pun bisa dengan mudah dirasakan.

Yang Gendut Jadi Kiper

Satu aturan ini tentu sangatlah sering terdengar ditelinga kita semua. Bila ada salah satu teman kita bertubuh gemuk, maka sudah bisa dipastikan bila dirinya lah yang akan berposisi sebagai seorang penjaga gawang.

Alasan dipilihnya anak bertubuh gemuk sebagai kiper adalah karena tubuhnya dianggap akan menutupi sebagian besar gawang, sehingga lawan sulit untuk mencetak gol. Selain itu, mereka yang bertubuh gemuk juga biasanya memiliki masalah kesulitan dalam berlari. Oleh sebab itu, menjadi kiper merupakan solusi terbaik bagi mereka untuk tetap ikut dalam permainan.

Gawang Menggunakan Tumpukan Sandal

Gawang sejatinya dibuat dengan menggunakan tiang. Gawang juga memiliki ukuran tertentu dan tidak asal dibuat. Namun pada masa kecil dulu, kita selalu kesulitan mencari gawang. Oleh sebab itu, dengan seringnya mendapat tempat yang terbatas, maka cukup dengan menggunakan tumpukan sandal sebagai penanda titik gol atau tidaknya sebuah tendangan.

Biasanya ukuran lebarnya juga ditentukan melalui kesepakatan kedua belah pihak.

Karena tidak adanya bentuk gawang sempurna, maka tendangan melambung yang tidak bisa dijangkau kiper juga seringkali dianggap goal kick. Selain itu perlu diperhatikan pula bila bola yang ditendang oleh lawan melintas tepat diatas sandal, maka itu dianggap tidak gol.

Namun dalam aturan ini, sering ada pemain yang curang dan sedikit nakal, dengan menggeser gawang yang dibuat dengan menggunakan sandal agar tampak lebih lebar. Sehingga tim yang dibelanya memiliki kesempatan lebih besar untuk mencetak gol.

Pelanggaran Hanya Ketika Pemain Menyentuh Bola Atau Handball

Entah mengapa, pemain yang bertanding di lapangan tampak begitu kuat. Mereka tidak akan menghentikan permainan bila pelanggaran tidak benar-benar membuat lawan cedera parah. Maka dalam hal ini, permainan seringkali berhenti sejenak ketika ada yang melakukan pelanggaran handball.

Namun bila tidak ada yang memperhatikan, maka permainan pun akan terus berlanjut.

Tidak Ada Aturan Offside

Apa itu offside? Ya, dalam permainan sepakbola masa kecil dulu, kita tidak mengenal apa itu offside. Tidak ada aturan tersebut dalam permainan, maka tak jarang kita sering menemui pemain yang hanya menunggu bola di depan gawang pemain lawan tanpa mendapat penjagaan ketat.

Malah, ketika ada anak yang tengah membeli minum di pinggir lapangan dan bola menghampirinya, maka tak jarang pemain tersebut akan berlari untuk mencetak gol sambil membawa es yang dibungkus ke dalam plastik lengkap dengan sedotannya.

Sangat Sulit Mencetak Gol Melalui Tendangan Bebas

Bila David Beckham, Andrea Pirlo, atau bahkan Juninho Pernambucano ikut bermain sepakbola di lapangan penuh kerikil pada jaman kita dulu, maka akan sangat sulit bagi mereka untuk mendapat predikat sebagai sang dewa free kick.

Ya, ketika sebuah tim mendapat tendangan bebas yang mungkin itu didapat karena pemain lawan melakukan handball, sangat sulit sekali untuk bisa mencetak gol dalam situasi tersebut. Betapa tidak? Hadangan yang dibuat oleh tim lawan akan sangat rapat, diisi oleh lima, enam, atau bahkan satu RT mereka undang untuk membentuk pagar betis.

Belum lagi, jarak antara bola dan pagar betis sangatlah dekat. Bisa satu jengkal atau bahkan lebih dekat lagi.

Skor Bisa Mencapai Lebih Dari Sepuluh Gol

Karena waktu yang tidak terbatas dan tidak ditentukan berapa lama harus dimainkan, maka skor yang dicetak bisa sampai lebih dari sepuluh gol. Hal itu memang biasa terjadi dalam dunia sepakbola masa kecil.

Bahkan, sepakbola yang kita mainkan dulu juga seringkali tidak menggunakan sistem babak pertama dan babak kedua. Permainan hanya berjalan begitu saja sampai semua merasa lelah dan terkadang meminta adu tendangan penalti untuk mendapatkan suasana berbeda.

Jika Selisih Gol Terpaut Sangat Jauh, Maka Akan Terjadi Pertukaran Pemain

Pertukaran pemain sering terjadi ketika dua kubu yang saling berhadapan dinilai tidak berimbang. Terkadang, ada satu sisi yang diisi oleh pemain-pemain hebat. Namun di sisi lain, tim lawan hanya dihuni oleh pemain berkemampuan terbatas dan sulit mencetak gol.

Oleh sebab itu, aturan ini pada akhirnya harus digunakan. Melalui kesepakatan bersama, kedua tim akan berunding guna menentukan pemain pilihan yang dianggap berimbang untuk saling berhadapan.

Peluit Panjang Bisa Ditentukan Dalam Beberapa Situasi

Namanya juga sepakbola anak-anak, maka mereka tidak akan berhenti sampai merasa lelah dan puas. Selain itu, ada beberapa hal lain yang membuat permainan benar-benar berhenti alias peluit panjang telah dibunyikan.

Hal yang bisa menggantikan posisi peluit panjang adalah sang pemilik bola disuruh pulang oleh ibunya, bola mengenai kaca tetangga, hingga adzan maghrib yang mengharuskan semua pemain menghentikan permainan dan segera bergegas, dari lapangan menuju mushola terdekat.

Selain aturan-aturan tersebut, aturan apalagi yang membuat kalian merasa rindu bermain bola dengan teman sebaya semasa kecil dulu? Yuk share di kolom komentar.

Sumber referensi: Panditfootball, Yukepo

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru