Sekitar April 2020 lalu, Induk organisasi sepak bola dunia, FIFA, mengeluarkan aturan mengenai larangan bagi pemain untuk meludah di lapangan ketika laga berlangsung. Pemain yang melanggar aturan tersebut akan diganjar kartu kuning, sanksi seperti halnya saat pemain membuka baju ketika pertandingan masih berjalan. FIFA menetapkan larangan itu dalam rangka pencegahan penularan virus corona kepada pemain lain.
Seperti diketahui, air ludah merupakan sarana penyebaran berbagai penyakit, termasuk COVID-19. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, FIFA menilai ludah di rumput bisa menjadi media penularan, sehingga berpotensi membahayakan.
Para pesepak bola memang tidak jarang meludah di lapangan saat pertandingan berlangsung. Hal itu seperti sudah menjadi kebiasaan para pemain sepakbola.
Namun meski sering menjadi kebiasaan, meludah dianggap sebagai sesuatu yang tidak sehat. Melansir The Telegraph, menurut seorang dokter bernama D’Hooghe, para pemain harus segera mengubah kebiasaan itu.
“Itu kebiasaan yang tidak sehat dan bisa menjadi media penularan virus. Kita harus berhati-hati saat sepak bola nanti dimulai lagi. Aku tak pesimistis, hanya sedikit ragu,” jelas D’Hooghe.
Ahli virus dari Universitas Cambridge, Ian Brierley, sependapat dengan pernyataan D’Hooghe. Selain itu, Brierley meminta para pemain juga mengurangi tindakan bersentuhan di lapangan.
“Saat seseorang terinfeksi, kendati tidak menunjukkan gejala, virus yang ada di tenggorokan akan menyebar dari ludahnya. Para pemain harus mulai memikirkan cara mereka merayakan gol, dengan tidak bersentuhan,” papar Brierley.
Meski dianggap tidak sehat dan para pemain sepakbola diminta untuk mengubah nya, apa yang membuat pemain hingga terbiasa meludah ke lapangan?
Menurut mantan kiper internasional Nigeria dan pemenang Olimpiade Emas Atlanta ’96 Joseph Dosu, dia juga menjadi salah satu pemain yang sering meludah ke lapangan. Alasannya adalah karena untuk membuat tenggorokan menjadi lega.
Dengan suhu tubuh yang naik begitu cepat, pemain sepakbola kerap mengalami masalah berupa tenggorokan kering atau dehidrasi. Maka dari itu lah, mereka meludah dengan tujuan membasahi tenggorokan sekaligus menstabilkan suhu tubuh. Dengan cara seperti itu pula, nafas akan menjadi lebih lancar dan membuat para pemain nyaman ketika bertanding.
Menurut Dosu, meludah bukan sesuatu yang disengaja, melainkan sebuah respon tubuh untuk mengantisipasi sesuatu hal yang mengganggu.
Hal ini kemudian menjadi sesuatu yang menarik. Pasalnya jika bicara bahwa atlet membutuhkan kebiasaan semacam itu untuk mengurangi dehidrasi, maka seharusnya hal ini juga berlaku untuk para atlet semisal tenis, basket dan olahraga indoor lainnya, yang notabene mereka juga melakukan aktivitas olahraga.
Dalam hal ini, Dosu kembali menjawab kalau meludah bukan satu-satunya cara untuk menghilangkan tekanan sewaktu pertandingan. Atlet tenis hingga basket seharusnya paham, bila mereka melakukan hal ini, maka akan sangat membahayakan, yang mana tidak hanya bagi mereka sendiri melainkan juga bagi pemain lain. Karena seperti yang kita tahu, setiap ada air sedikit saja di lapangan, hal itu bisa membuat pemain tergelincir. Itu mengapa ada petugas yang langsung mengepel lapangan basket atau tenis ketika terdapat air.
Sekali lagi, meludah sendiri tidak menjadi satu-satunya cara, dan sebetulnya bisa dihindari. Melansir dari laman alodokter, menurut dr. Jati Satriyo, Air liur atau ludah dalam bahasa medis disebut sebagai saliva, dimana ludah berfungsi dalam hal pengunyahan, pencernaan, melindungi gigi dari lubang, serta mencegah perkembangan mikroorganisme. Air liur diproduksi oleh kelenjar yang bernama kelenjar Saliva, di mana pada kondisi tertentu dapat meningkat produksinya yang salah satunya pada saat seseorang mengalami dehidrasi.
Jika seseorang meludah hanya pada saat berolahraga, kemungkinan kebiasaan ini terjadi oleh karena produksi ludah yang berlebihan, yang terkait oleh karena olahraga mengakibatkan dehidrasi, sehingga hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Hal ini bisa dicegah dengan cara meminimalisir dehidrasi pada saat olahraga, yaitu memperbanyak minum air putih pada saat berolahraga.
Bila minum banyak air saat berolahraga dirasa bisa mengganggu pencernaan, maka para atlet bisa menggunakan cara lain, dengan minum beberapa tegukan saja, lalu cukup minum air dari botol untuk kemudian meludahkannya kembali.
Ya, menurut para ilmuwan nutrisi yang dikutip oleh New York Times, itu adalah trik untuk menipu otak agar mendapatkan rangsangan pada otot yang kelelahan.
Ketika air memenuhi mulut, maka yang terjadi adalah reseptor mulut dirangsang mendeteksi beberapa jenis karbohidrat dan mengirim sinyal “kegembiraan” ke pusat-pusat kesenangan otak.
Persepsinya adalah akan ada lebih banyak energi dalam meredakan stres dan membuat otot bekerja lebih banyak tanpa melelahkan atlet. Dan semakin lama cairan berada di dalam mulut, semakin besar kontak dengan reseptor oral dan semakin baik hasilnya.
Dokter Paul Onyeudo yang merupakan Wakil Direktur di Komisi Olahraga Nasional Nigeria dan juga sempat menjadi dokter untuk timnas Nigeria, mengatakan bahwa sebetulnya belum ada penelitian tentang fungsi meludah bagi para atlet. Namun yang pasti, menurutnya, sepakbola menjadi olahraga yang memiliki tekanan paling besar. Sehingga selain meludah bisa mengurangi masalah dehidrasi, hal tersebut juga dipercaya bisa membuat pemain lebih tenang.
Maka untuk mengetahui fungsi dari meludah itu sendiri, sang dokter berharap ada peneliti yang menindaklanjuti hal semacam ini. Masalahnya, meski dipercaya dapat membuat pemain lebih tenang, seperti yang sudah dijelaskan, meludah juga sangat berpotensi menularkan berbagai macam penyakit.
Namun kembali lagi, meski berpotensi menularkan penyakit dan banyak yang memandang hal ini sebagai perilaku menjijikan, dokter Onyeudo tidak menyalahkan pemain yang sering meludah ke lapangan. Karena menurutnya, setiap pemain memiliki kadar air liur berbeda. Itu merupakan proses normal dan mau tidak mau, dalam sepakbola, kita harus menyaksikan kejadian semacam ini.
Sumber referensi: Goal, New York times, Livescience, Telegraph


