Tubuh tinggi yang disertai dengan ayunan kaki, terlihat lebih indah dari seorang penari. Rumput lapangan yang menjadi panggung pertunjukkan menjadi sebuah tontonan sempurna bagi siapapun yang pernah nikmati masa kejayaan seorang berdarah Galicia.
Juan Carlos Valeron, menjadi permata dalam setumpuk kilau berlian di negara yang kaya akan pemain bertalenta. Valeron menjadi salah satu pemain paling flamboyan dalam sejarah sepak bola. Sebelum sepak bola negeri matador begitu populer dengan nama-nama seperti Andres Iniesta hingga David Silva, negara pemegang satu trofi Piala Dunia itu lebih dulu punya satu talenta luar biasa bernama Juan Carlos Valeron.
Tak bosan rasanya menyebut nama pemain yang begitu melegenda. Jika kita tengah menonton pertandingan yang terdapat Valeron didalamnya, mungkin terasa tidak sopan jika kita beranjak lebih cepat sebelum pertandingan selesai, dan benar-benar tuntas dengan aksi briliannya sepanjang permainan.
Valeron, digambarkan oleh seorang pelatih hebat bernama Arrigo Sacchi sebagai pemain yang memiliki nafas Zinedine Zidane. Ia begitu anggun, dan pergerakannya diatas lapangan, sangat layak menjadi perhatian yang jauh lebih menggelegar.
Bahkan, untuk seorang David Silva, Valeron sudah cukup berwibawa untuk “memaksa” dirinya mengenakan nomor punggung 21 sepanjang perjalanan karirnya.
Dilahirkan pada tahun 1975 di kota Arguineguin, Kepulauan Canary, Valeron tumbuh menjadi seorang yang sangat penasaran dengan permainan sepak bola. Sempat menimba ilmu di klub lokal, Valeron melakukan lompatan besar kala resmi berseragam Las Palmas. Lebih dulu bermain di tim muda memang. Namun untuk merekam perjalanan sang legenda, dibutuhkan banyak ruang untuk menyimpan barisan kisah legendaris nya dalam mencapai level yang lebih istimewa.
Valeron dengan tekun dan teliti terus kembangkan bakat di berbagai tingkat yang disediakan Las Palmas. Mulai dari akademinya, tim B Las Palmas, hingga pada akhirnya ia mampu pentas di level senior bersama klub yang bermarkas di Estadio Gran Canaria.
Meski wilayah tampat tinggalnya, Canary, lebih terkenal dengan seniman macam penyair, pelukis, penyanyi hingga penulis, Valeron datang dengan segudang talenta untuk dituangkannya ke sebuah lapangan sepak bola. Ia begitu percaya bahwa jalan yang ditempuhnya akan memberikan makna. Lebih dari itu, kecintaannya terhadap olahraga sepak bola juga akan selalu terkenang dan membuat namanya terus dikumandangkan.
Pada 1995 hingga 1997 Valeron mentas bersama Las Palmas dan berhasil torehkan 54 pertandingan liga. Sementara torehan lima gol menjadi catatan pelengkap bagi pemain yang beroperasi di lin i tengah.
Pada tahun 1997, Valeron lalu putuskan hengkang dan memilh bergabung dengan Real Mallorca. Disana ia hanya bertahan selama satu musim saja . Namun tetap saja, keberadannya diatas lapangan kerap menjadi ancaman bagi tim lawan.
Kejeniusan Valeron kala itu berhasil menarik minat klub asal ibukota, Atletico. Namun begitu, langkahnya di stadion Vicente Calderon tidak terlalu bahagia. Ia menjadi bagian dari tim terburuk Los Rojiblancos yang terjeblos ke jurang degradasi pada akhir musim 1999/00.
Dirinya pun lalu hengkang ke Deportivo La Coruna, dimana klub tersebut akan memberi banyak sekali kenangan baginya.
Meski tidak masuk kedalam skuat bersejarah Super Depor yang berhasil meraih trofi La Liga, Valeron tetap mampu menyelip dalam lipatan sejarah klub yang pernah diisi nama-nama Djalminha, Roy Makaay, Diego Tristan, dan tentunya dilatih oleh si jenius Javier Irureta.
Tak butuh waktu lama bagi Valeron untuk kegumkan publik Riazor. Awal dari perjalanan 13 tahunnya bersama Deportivo diwarnai dengan sejumlah cerita melegenda. Diantaranya adalah gelar juara Copa del Rey tahun 2002. Memiliki kemahiran mengolah bola dan mendikte permainan, Valeron seolah sudah merekatkan bola pada kakinya. Ia tahu kapan harus memberi umpan, dan kapan harus melakukan tusukan, hingga laju yang dihasilkan berbuah petaka bagi tim lawan.
Di laga final Copa del Rey, Valeron bersama dengan kolega harus berhadapan dengan tim sekelas Real Madrid. Klub ibukota jelas diunggulkan. Meski Deportivo sama sekali tidak bisa diremehkan, banyak sekali pengamat yang menaruh nama el Real di garda terdepan.
Beroperasi di lini tengah, Valeron yang ditemani Mario Silva dan Victor Sanchez berhasil membuat skuat asuhan pria Andalusia bermain lebih bertenaga. Hasilnya di babak pertama, mereka sukses sarangkan dua gol sekaligus ke gawang tim ibukota.
Di babak kedua, el Real hanya bisa mengamankan satu gol lewat aksi sang pangeran, Raul Gonzales.
Laga usai, peluit panjang dibunyikan. Valeron berhasil sumbangkan satu trofi pertamanya , plus menghancurkan perayaan seratus tahun Real Madrid di depan penggemar sendiri.
Perjalanan sang pria elegan berlanjut. Valeron terus menjadi bagian penting dari skuat Deportivo saat itu. Selain torehan tersebut, Piala Super Spanyol juga ditorehaknnya di tahun 2002. Selebihnya, ia mampu membawa klub kebanggaan tampil di kompetisi Liga Champions Eropa selama lima musim secara beruntun, dengan periode 2003/04 menjadi yang terbaik baginya.
Saat itu, di fase gugur, Deportivo berhasil tuntaskan perlawanan Juventus dalam dua leg sekaligus. Dan selanjutnya, salah satu comeback terbaik dalam sejarah tercipta, kala Deportivo berhasil kandaskan AC Milan dengan gelontoran empat gol tanpa balas, meski di pertandingan pertama mereka kalah dengan skor 4-1 di Italia.
Valeron jelas turut andil dalam pertandingan tersebut. Pada akhirnya, mereka berhasil lolos ke fase semifinal meski kalah dari FC Porto dengan agregat 1-0. Capaian itu menjadi salah satu yang terbaik bagi Deportivo, dan bagi Valeron sendiri khususnya. Ia mampu mengantarkan klub asal Spanyol berbicara banyak di panggung Eropa hingga sampai lolos ke babak semifinal, dimana capaian itu belum sanggup lagi ditorehkan oleh klub yang kini masih tampil di kasta kedua.
Valeron, secara tidak langsung menjadi panutan bagi para gelandang flamboyan asal Spanyol. Ia menjadi inspirasi bagi para pemain hebat seperti Xabi Alonso hingga Santi Cazorla. Bahkan, sekali lagi, gelandang sekelas Andres Iniesta begitu menaruh hormat kepadanya.
“Aku pikir semua orang senang menonton Valeron. Dia adalah salah satu pemain yang layak untuk ditonton. ” Andres Iniesta (via planetfootball)
Valeron memang layak disebut sebagai legenda sepak bola asal Spanyol. Namanya kerap mengisi barisan sebelas pemain La Furia Roja yang berlaga di turnamen Internasional. Piala Dunia 2002 serta Piala Eropa 2000 dan 2004 sempat dicicipinya. Tampil bersama barisan legenda pun praktis dirasakannya.
Namun sayang segala perjalanan luar biasa nya sempat terhenti di tahun 2006. Ia mengalami cedera parah dan mengharuskannya berhenti sejenak dari segala hal yang berbau sepak bola. Valeron sampai harus melakukan operasi sebanyak tiga kali. Rasa sakitnya terus dirasakan sampai tahun 2008. Sempat menghilang dari peredaran, membuat tempatnya di lini tengah Spanyol sudah diambil alih oleh nama Xavi dan Iniesta. Tahun 2008, Spanyol berhasil meraih gear juara tanpa namanya.
Meski begitu, setidaknya ia masih bisa kembali bermain untuk Deportivo. Namun langkahnya yang sudah tak lagi kuat harus memaksa Deportivo terdegradasi di tahun 2011. Valeron yang sempat pensiun pun kembali ke lapangan dan berjanji untuk mengembalikan Deportivo ke tangga teratas.
Pasca kembali, ia memenuhi janjinya dengan membawa tim kesayangannya tampil sekali lagi di kompetisi La Liga. Namun sayang, karena materi pemain yang sudah tidak lagi menawan, menyusul krisis yang dialami klub, Deportivo kembali terjungkal ke jurang degradasi.
Kali ini, Valeron tak lagi sanggup melangkah. Ia menyerah karena kakinya sudah tak lagi kuat menanggung beban. Meski begitu, namanya terus diserukan para penggemar. Seluruh isi stadion selalu mengumandangkan namanya di masa-masa terakhir karir sepak bolanya.
Sempat pulang ke Las Palmas, Valeron mengakhiri karir sepakbolanya disana. Pada tahun 2016, di usianya yang sudah menginjak angka 40 tahun, Valeron resmi undurkan diri. Air mata mewarnai proses perpisahannya, seolah kesedihan mendalam tak bisa disembunyikannya.
Dengan segudang tawa, cerita, dan kebahagiaan yang terlahir dari talentanya, Juan Carlos Valeron layak disebut sebagai salah satu legenda sepanjang masa.


