Satu raksasa asal Jerman bernama FC Bayern selalu bisa tampil prima dalam setiap pertandingan. Pada tiap lapangan yang dimasuki, detik yang terus dilewati, hingga lawan yang sudah siap menanti, selalu bisa ditaklukkan oleb klub bergelimang trofi.
Tidak sulit memang untuk menyukai FC Bayern. Klub yang sudah memenangkan banyak sekali gelar bergengsi itu berkali-kali menjadi ancaman dunia dalam turnamen besar yang diselenggarakan. Ditengah para pembenci yang menyebut jika kompetisi Jerman tidak terlalu memiliki nilai tinggi, Bayern datang dengan armada terkuat milik Negeri Teknologi.
Mereka mampu membuktikan bahwa meski bermain di kompetisi yang dianggap kurang menantang adrenalin, tak butuh banyak keringat untuk bisa taklukkan seluruh raksasa sepak bola yang ada di dunia.
Bayern tak ubahnya menjadi tim paling bersejarah di tanah Jerman. Sejak pertama kali berdiri, Bayern langsung menjadi klub yang dikenal luas. Hal itu dikarenakan mereka sering memenangkan pertandingan dengan skor besar. Beberapa trofi liga lokal amatir berhasil mereka raih, termasuk menjadi juara Kreisliga, liga regional di kawasan Bavaria di tahun pertama mereka dibentuk.
Setelah era perang dunia kedua, Bayern meneruskan tradisi memenangkan sejumlah kompetisi regional, termasuk kejuaraan sepakbola Jerman Selatan di tahun 1926. Di tahun 1932, mereka berhasil menyabet gelar kompetisi nasional untuk pertama kalinya. Isu Nazi di era Perang Dunia II sempat membuat Bayern terpuruk karena mereka sempat dilatih oleh orang yang memiliki ras Yahudi. Akibatnya Bayern dibenci oleh publik Jerman.
Setelah sempat alami masa pasang surut, termasuk ketika kompetisi Bundesliga baru digulirkan, perlahan tapi pasti, raksasa Bavaria teruskan tradisi dalam meraih trofi. Awal masuk kedalam kompetisi elit itu, Bayern digawangi oleh tiga pemain muda, yakni Franz Beckenbauer, Sepp Maier, dan Gerd Muller. Selama periode 1965 hingga 1979 Bayern menjelma menjadi klub raksasa yang mulai menguasai persepakbolaan Jerman. Dalam kurun waktu 14 tahun, Bayern mampu memenangi tiga gelar Bundesliga, Winners Cup tahun 1967, dan Piala Eropa tiga kali beruntun.
Kejayaan FC Bayern menjadi penyebab masa kejayaan yang juga diraih oleh tim nasional Jerman. Pemain-pemain berkelas yang mengisi ruang didalam skuat berhasil tunjukkan bakat. Mereka berlari secepat kilat, menumpas segala hadangan dengan sangat cepat, dan tak lupa menggondol trofi dengan cara yang bermartabat.
Bayern, dalam sejarahnya, begitu akrab dengan seruan Mia San Mia. Ungkapan yang terdengar asing bagi sebagian orang itu ternyata memiliki filosofi yang begitu mengagumkan. Mia san Mia memiliki filosifi yang dianggap sakral yang berarti Kita adalah Kita. Meski terlihat sederhana, kalimat ini memiliki cakupan yang luas mengenai arah dan semangat yang ingin dibangun di dalam tim berjuluk The Hollywood.
Mia san Mia berkaitan erat dengan tanggung jawab, saling tolong menolong serta kebersamaan sebagai sebuah keluarga. Di dalam Mia san Mia mengandung beberapa yang wajib ditaati semua warga Bayern Munchen.
Beberapa cakupan yang terkandung dalam ungkapan Mia San Mia adalah Mia san Ein Verein atau yang berarti FC Bayern selalu melandaskan pada nilai nilai yang sama serta sederajat. Mia san Botschafter yang berarti semua pemain punya tanggung jawab untuk berlaku baik. Mia san Vorbilder yang berarti semua pemain harus menjadi teladan yang baik. Mia san Tradition yang berarti semua harus menjaga tradisi, hingga Mia san respekt, yang berarti bahwa status semua orang di klub sama, dan semua orang harus menunjukkan rasa hormatnya antara satu dengan lainnya.
Seluruh ungkapan tersebut jelas tidak bisa dianggap enteng. Ada sebuah kehormatan yang harus dijunjung tinggi oleh setiap elemen yang berada di FC Bayern.
Salah satu legenda mereka, Oliver Kahn, memahami betul apa maksud dari filosofi Mia San Mia. Jika diperhatikan, ia memiliki semua elemen yang terkandung dalam ungkapan akbar tersebut. Kahn adalah sosok yang dihormati, ia punya dedikasi tinggi, lalu ia juga merupakan pemain yang selalu menjaga tradisi dan menunjukkan rasa hormat kepada siapapun.
Baginya, bermain untuk FC Bayern adalah mengerahkan seluruh jiwa dan raga untuk klub tersebut. Tidak peduli apapun yang terjadi, kehormatan tim harus selalu dijunjung tinggi.
Singkatnya, menjadi bagian dari klub tersukses di Bundesliga itu sangat membanggakan, namun bukan berarti melupakan prinsip hidup yang lain seperti berbagi dan saling menghormati.
Dengan segala dedikasi dan kehormatan tinggi tim yang bermarkas di Allianz Arena, ada satu momen dimana ungkapan agung Mia San Mia benar-benar menyebar ke seluruh Eropa, bahkan dunia. Apalagi kalau bukan ketika FC Bayern berhasil memecahkan rekor sebagai tim Bundesliga pertama yang mampu menjadi jawara di tiga kompetisi berbeda.
Trebel Winner, menjadi salah satu penghargaan yang tidak semua tim hebat bisa mendapatkan. Butuh kerja ekstra untuk bisa meraih titel tersebut. Bahkan, tim sekelas Real Madrid yang kita tahu memiliki perjalanan emas di kancah Eropa belum pernah torehkan prestasi semacam itu.
Namun kali ini, Bayern dengan segudang ambisi, mampu menduduki tahta tertinggi di tiga kompetisi paling dihormati.
Kala itu, di musim 2012/13, Bayern berhasil meraih titel Eropa kelima mereka. Perlu diketahui bahwa sebelum meraih titel ini, Bayern harus menelan pil pahit setelah di musim sebelumnya, mereka gagal meraih gelar juara meski tampil di depan pendukung sendiri.
Di musim tersebut, tak hanya di level Eropa, mereka juga harus mengakui keunggulan Borussia Dortmund di level domestik, dengan menempati urutan kedua di Bundesliga Jerman dan takluk 5-2 di final DFB-Pokal. Sementara di level Eropa, mereka harus takluk dari Chelsea dengan cara yang amat dramatis. Seperti diketahui, mereka takluk adu penalti dari Chelsea di Allianz Arena, kandang mereka sendiri yang kebetulan menjadi venue final Liga Champions musim itu.
Namun, segala kegagalan tersebut justru menjadi pelecut semangat bagi para skuat Bayern. Musim 2012/13, mereka lebih dulu mengamankan gelar Bundesliga Jerman. Taktik transfer dengan melakukan pembelian pemain penting seperti Xherdan Shaqiri, Dante, Mario Mandzukic, hingga Javi Martinez, menjadi kekuatan tersendiri bagi Jupp Heynckes untuk kencangkan laju lari.
Diisi nama tenar lainnya seperti Manuel Neuer, Arjen Robben, Frank Ribery, Philip Lahm Toni Kroos, hingga Thomas Muller membuat langkah Bayern makin sulit terhenti. Kompetisi Liga Champions Eropa menjadi gelar berikutnya yang berhasil mereka raih.
Dengan perjalanan luar biasa, termasuk melibas FC Barcelona dengan skor 7-0 membuat mereka perkasa hingga partai puncak. Bertemu musuh bebuyutan, Borussia Dortmund, Bayern langsung menekan lini pertahanan tim lawan. Tampil di Stadion Wembley yang begitu mewah, Bayern berhasil tampil begitu perkasa.
Mereka menang dengan skor 2-1. Gol FC Bayern dicetak dicetak oleh Mandzukic menit 60, dan Arjen Robben menit 88. Sedangkan satu-satunya gol Dortmund dicetak oleh Gundogan pada menit 68 lewat tendangan penalti.
Keberhasilan Heynckes membawa Bayern menjadi raja Eropa kelima kalinya sendiri membuat dirinya bergabung dengan Ernst Happel, Jose Mourinho dan mantan pelatih Bayern Ottmar Hitzfeld, sebagai salah satu dari empat pelatih yang memenangkan Liga Champions dengan dua klub berbeda.
Heynckes membawa Bayern menjadi juara untuk pertama kalinya sejak tahun 2001, atau dalam jangka waktu 12 tahun. Namun bagi Heynckes ia harus menunggu lebih lama untuk menjadi juara di turnamen tersebut. Dia merengkuh gelar Liga Champions untuk pertama kalinya pada tahun 1998, ketika ia mengantar Real Madrid menaklukkan Juventus.
Berhasil meraih dua trofi bergengi, kemenangan 3-2 atas Stuttgart di final DFB-Pokal akhirnya membuat Bayern resmi memeluk treble. Mereka pun bergabung dengan sejumlah tim elit, termasuk FC Barcelona dan Inter Milan, yang menjadi klub peraih tiga gelar bergengsi dalam satu musim kompetisi.
Bayern berbangga. Nyanyian Mia San Mia, semakin melegenda!


