Tidak ada yang lebih indah dari seorang pemain yang begitu mencintai sepak bola. Satu dari sekian nama diluar sana, Santi Cazorla, berada diantaranya. Cazorla banyak menghabiskan waktu diatas lapangan. Dibekali keanggunan yang begitu melegenda, Santi Cazorla banyak dapatkan kekaguman dari para penggemar.
Tak ada yang meragukan kemampuannya. Bahkan, satu masalah besar yang pernah menimpanya, berhasil dilewati dengan begitu luar biasa.
Lahir di Llanera pada 13 Desember 1984, Cazorla mulai menimba ilmu sepak bola di Covadonga. Empat tahun menimba ilmu disana, Cazorla lalu putuskan pindah ke Real Oviedo. Permaiannya cukup ciamik disana. Oleh sebab itu, klub sekelas Villareal berani membawanya ke Estadio de la Ceramica.
Santi Cazorla berhasil melewati tiap tantangan yang berada di Villareal. Mulai dari bermain di tim muda hingga masuk ke tim utama. Pada tahun 2003, ia catatkan debut pertamanya untuk tim kapal selam. Tepat pada 30 November 2003, ia memainkan laga pertamanya melawan Deportivo de La Coruna.
Dia mencetak gol pertamanya dalam kemenangan 3-0 di Odense Boldklub, di Piala Intertoto pada musim panas berikutnya. Pada musim 2004/05, Cazorla mulai mainkan peran utama. Namun meski catatkan lebih dari 50 penampilan dalam masa tiga tahunnya, Cazorla harus menjalani masa peminjaman di Recreativo Huelva.
Bermain selama satu musim disana, Santi Cazorla benar-benar sukses kembangkan bakat. Musim berikutnya, atau pada 2007/08, ia pun lalu kembali dipulangkan oleh Villareal. Di masa ini, ia mendapat begitu banyak kepercayaan. Seperti kebanyakan orang bilang, pemain yang memang punya talenta khas asal Negeri Andalusia ini sukses kesankan penggemar, dan juga memberi tontonan yang tidak semua pemain bisa lakukan.
Satu langkah yang dihasilkannya banyak mendapat tepukan dari para penonton yang setia duduk diatas sana. Hingga pada akhirnya, talentanya begitu diminati oleh klub raksasa ibukota. Real Madrid, benar-benar menaruh hati pada sosok bertinggi 168 senti. Namun begitu, ia gemparkan media-media disana setelah dengan tegas menolak tawaran yang diajukan.
Alasannya? Ia masih ingin berkembang bersama Villareal. Memang benar jika bergabung dengan klub ibukota akan berikan banyak prestasi ternama. Namun baginya, dengan bertahan di Villareal, ia akan mendapat banyak cerita pertumbuhan yang akan terus diikuti oleh para penggemar.
Nahas, keputusannya bertahan yang diiringi dengan niat terhormat harus terhalang dengan masalah cedera. Pada musim 2009/10, Cazorla harus dihadapkan dengan masalah cedera fibula kanannya. Ia gagal pentas di Piala Dunia. Namun tak mengapa, karena di musim berikutnya, ia berhasil antarkan Villareal lolos ke kompetisi teratas Eropa.
Akan tetapi, perjuangan keras seolah lekat dengan nama Santi Cazorla. Meski berhasil torehkan 23 gol dalam 127 pertandingan, ia dibiarkan pergi ke Malaga. Dengan biaya sebesar 21 juta euro atau setara 377 milliar rupiah, Cazorla memainkan debut pertamanya pada 28 Agustus 2011.
Disana, ia mainkan peran yang cukup krusial. Ia banyak ciptakan peluang, dan terkadang satu sontekan manisnya berhasil dimanfaatkan oleh rekan setimnya. Ia tampil sangat gemilang dan berhasil torehkan prestasi lainnya, seperti menjadi pencetak gol terbanyak kedua setelah Salomon Rondon, dan membawa Malaga ke kompetisi teratas Eropa untuk kali pertama.
Hasil kerja kerasnya di Andalusia akhirnya ditebus oleh tim asal Britania, Arsenal. Pada Agustus 2012, Cazorla resmi menandantangani kontrak dengan klub yang pada akhirnya benar-benar melambungkan namanya.
Bermain di Arsenal, Cazorla memulai segalanya dengan sangat menyenangkan. Ia menjadi salah satu pemain andalan di lini tengah. Perannya memang krusial, ia sulit untuk disingkirkan dan kerap membuat pemain lawan kebingungan.
Di musim pertamanya, ia berhasil mainkan sebanyak 49 pertandingan. Dilengkapi dengan torehan 12 gol, Cazorla kembali melakukan hal luar biasa di musim berikutnya. Selain tampil dalam 46 pertandingan, ia juga sukses sumbangkan gelar pertamanya untuk tim asal ibukota. Piala FA di musim 2013/14 dan diikuti dengan satu gelar yang sama di musim berikutnya, membuat namanya semakin tidak bisa disingkirkan.
Ditambah lagi, gelar Community Shield ikut mampir di lemari piala Arsenal. Namun sayang, pada musim-musim berikutnya, hadangan mulai datang dalam karirnya. Jumlah penampilannya semakin berkurang, terlebih pada musim 2016/17. Total hanya 11 pertandingan yang ia mainkan. Penyebabnya? Tentu cedera parah yang menggerogoti salah satu bagian tubuh terpentingnya.
Cerita indah Santi Cazorla terhenti di tengah perjalanan. Tepat di laga melawan Ludogorets, ia harus kesakitan setelah mengalami cedera tendon di turnamen Liga Champions Eropa. Meski operasi dan pengobatan lainnya sudah dilakukan, Cazorla tetap tidak berdaya.
Ia perlahan menghilang, dan sosoknya mulai dilupakan.
Ia yang dikenal sebagai sosok yang akrab dengan cedera benar-benar payah dalam menghadapi cobaan dalam rupa yang sama. Keadaan semakin diperparah dengan adanya bakteri yang terus menggerogoti cedera nya.
Sepuluh kali operasi yang dilakukan pun tak buahkan hasil. Mengerikannya lagi, ia sempat divonis tak bisa kembali tapakkan kaki. Atau dengan kata lain, ia sempat dihadapkan pada pilihan untuk segera amputasi kaki.
Sekali lagi, masalah utama dari cedera yang dialami adalah karena bakteri. Sempat dilakukan cangkok kulit hingga berbagai pengobatan lain, itu semua tidak berhasil. Antibiotik yang diberikan sang spesialis pun tidak berarti. Hingga solusi amputasi benar-benar menjadi satu-satunya solusi yang diberi.
“Aku sering melakukan latihan dengan bersepeda dan beberapa jahitan sempat terbuka. Karena (jahitan) itu berada pada luka yang terbuka, bakteri bisa masuk, lalu serangga pun bisa masuk ke dalamnya. Pada malam hari, cairan kuning selalu keluar,”
“Setiap kali mereka menjahit (kaki) ku, lalu terbuka kembali, serta banyak cairan. Mereka melakukan cangkok kulit tetapi tidak melihat apa yang ada di dalamnya, ada bakteri yang menggerogoti dan terus menggerogoti,” tutur Cazorla (via The Guardian)
Namun dengan segala keyakinan di hati, ia yang juga turut dikuatkan oleh orang yang dicintai, tak jadi melakukan proses amputasi. Merasa frustasi dengan pengobatan yang dilakukan para dokter Inggris, ia berinisiatif untuk pergi ke kampung halaman. Tepat di wilayah Salamanca, Cazorla kembali temui asa.
Dokter di sana merekonstruksi tendon Cazorla menggunakan otot semitendinosus yang dipotong dari hamstring dan memasukkan plat ke tumitnya. Selain pengobatan akurat yang terus dilakukan, dokter disana juga disebutnya lebih memotivasi pasien, sehingga perasaan untuk cepat pulih pun muncul.
Hasilnya, ia bisa kembali tertawa. Peran krusial dokter disana benar-benar membuat nya bahagia. Meski masih berhasrat untuk membela Arsenal, Cazorla akhirnya resmi dilepas oleh klub tersebut secara cuma-cuma.
Klub masa kecilnya, Villareal, menampungnya dengan segudang asa. Cazorla, yang hari-harinya sempat diwarnai awan gelap, kembali temukan secerca harapan dibalik rumput lapangan Villareal.
Ia disambut bahagia. Diiringi kepulan asap putih yang memenuhi tabung melingkar, Cazorla dengan kepala tegak resmi diperkenalkan kembali di klub yang telah membesarkan namanya.
Riuh penonton, kerlipan cahaya yang bersumber dari kamera, mengiringi langkah kecil sang legenda di stadion kebanggaan. Sempat mengira mimpinya terkubur bersama masalah cedera, Cazorla kembali tertawa bahagia berkat perjuangan tiada tara.
Sejak 2018, ia sudah kembali ke lapangan bersama Villareal. Laga melawan Montpellier pada pra-musim menjadi awal kebangkitan yang emosional bagi pemain bertalenta.
Hingga saat ini, ia sudah mainkan lebih dari 70 laga untuk tim kapal selam. Senyumnya kembali merekah, harapannya kembali menyala, dan tentang apa yang menjadi penjuangannya, Cazorla, masih pantas disebut sebagai pemain bertalenta.


