“Tak akan pernah berhenti untuk selalu percaya, walau harus menunggu seribu tahun lamanya.”
Pernah denger penggalan lirik lagu itu nggak? Lirik dari lagu berjudul “1000 Tahun Lamanya” yang dipopulerkan Jikustik dan Tulus ini tampaknya menjadi pedoman hidup bagi fans Union Saint-Gilloise di Liga Pro Belgia selama berpuluh-puluh tahun. Fans tak pernah berhenti mendukung tim kesayangannya dan tetap percaya kalau USG akan kembali menjadi tim terbaik di Belgia, walau harus menunggu sangat lama.
Seakan sudah guratan takdir, Union Saint-Gilloise kembali dinobatkan sebagai juara liga setelah penantian amat panjang yang tak cuma hitungan 10 tahun, 20 tahun, atau 50 tahun, melainkan 90 tahun lamanya atau hampir seabad. Pecah telur yang membuat fans USG tak perlu menunggu sampai seribu tahun untuk kembali merasakan nikmatnya perayaan juara.
Lantas, seperti apa perjalanan ajaib Union Saint-Gilloise hingga memungkasi paceklik juara selama sembilan dekade musim ini? Benarkah sebenarnya klub ini adalah raksasa Liga Belgia yang sudah lama tertidur dari masa kejayaannya?
Daftar Isi
Klub Macam Apa Union Saint-Gilloise?
Mungkin banyak yang mengira klub bernama lengkap Royale Union Saint-Gilloise adalah klub raksasa Belgia dan untuk menjuarai Liga Belgia bukan perkara sulit. Klub yang berdiri pada 1897 itu toh rutin bermain di Eropa. Bahkan nih sejak musim 2022/23, Union Saint-Gilloise tak pernah absen tampil di kompetisi Eropa.
Musim lalu mereka meladeni Liverpool di Liga Eropa. Musim ini Saint-Gilloise bertemu seperti AS Roma dan Ajax. Singkat kata, tak salah rasanya bila menyebut Union Saint-Gilloise punya DNA Eropa. Tapi sering bermain di kompetisi Eropa tidak berarti mudah bagi sebuah tim untuk menjuarai liga domestik.
2-0 after a hard-fought battle from the boys! You made us proud! 💛💙#LIVUSG #UEL pic.twitter.com/prHZUxh119
— Royale Union Saint-Gilloise (@UnionStGilloise) October 5, 2023
Saint-Gilloise begitu. Tim ini sudah lama tenggelam di perebutan gelar juara Liga Belgia. Betul bahwa sebelum Perang Dunia II tim ini merupakan kekuatan besar Belgia. Tapi mereka terakhir kali juara pada 1935. Setelah itu hancur. Bahkan Union Saint-Gilloise sempat lama sekali berkubang di divisi empat pada 1980, sejak pertama kali degradasi pada 1963.
Menariknya, ternyata ada campur tangan pemilik Brighton and Hove Albion, Tony Bloom di balik kebangkitan USG. Bloom menyuntikkan uangnya pada USG. Pria yang ketagihan main judi di pacuan kuda itu menjadi pemilik Union Saint-Gilloise dari 2018 hingga 2023. Tim ini pun mampu kembali ke habitatnya, yakni Liga Pro Belgia pada musim 2021/22.
Brighton gets a lot of praise for their operating model and the precision in the decisions the club makes. But it becomes more impressive. Owner Tony Bloom bought Belgian side Union Saint-Gilloise in 2018 and in 2021 they returned to top-flight football after a 48-year absence… pic.twitter.com/6tmcp4fQg0
— Maxi (@MaaxiAngelo) May 12, 2023
Saat diakuisisi Bloom, ia cukup cerdas dalam menemukan pemain. Lihat saja bagaimana Bloom menemukan bakat seperti Kaoru Mitoma, Denis Undav, dan Simon Adingra, sehingga tiga pemain itu juga pernah berseragam Union Saint-Gilloise. Lalu, bagaimana akhirnya Union Saint-Gilloise hanya butuh kurang dari empat tahun untuk menjuarai liga setelah kembali ke kasta teratas?
Mengalah Di Awal, Tapi Mengerikan Di Akhir
Cerita perjuangan luar biasa USG justru dimulai dari perpisahan. Pelatih yang membawa mereka juara di Piala Belgia musim lalu, Alexander Blessin pergi dan bergabung ke St Pauli di Bundesliga. Di situasi itu, USG memanggil kembali Sebastien Pocognoli yang dulu pernah melatih tim U-21. Pelatih blasteran Belgia-Italia berusia 37 tahun itu belum pernah menukangi tim utama, namun diminta melatih tim utama Union Saint-Gilloise.
Coach of the season appreciation post. 🫶 pic.twitter.com/K07MAZgOUx
— Royale Union Saint-Gilloise (@UnionStGilloise) May 27, 2025
Tentu ini kesempatan yang sulit ditolak. Musim 2024/25 pun menjadi musim pertama Pocognoli menukangi Union Saint-Gilloise, sekaligus musim pertamanya bekerja sebagai pelatih kepala. Di seri reguler, USG tak mengesankan. Tim asal Brussels ini hanya finis di posisi ketiga, lebih buruk dari musim lalu, di mana mereka memuncaki klasemen seri reguler.
Harus kalah di seri reguler, USG pun memasang mode yang berbeda saat babak final dimulai. Rival sekota Anderlecht ini tampil lebih baik dari laga pertama hingga kesepuluh. Pada laga pertama saja, USG sudah ngegas dengan menggasak Antwerp 5-1 di kandang sendiri. Sejak itu, tim yang identik dengan jersey biru-kuning ini tampil begitu menjanjikan di laga-laga berikutnya.
USG mampu mempermalukan dua tim yang berada di atas mereka saat seri reguler, yakni Genk dan Club Brugge. Begitupun dengan Anderlecht, raja Liga Belgia yang juga dipaksa bertekuk lutut oleh Les Unionistes. Tercatat, hingga laga kesembilan, USG belum pernah tersentuh noda kekalahan, dengan 8 kemenangan dan sekali imbang.
Hari Pentahbisan Juara Setelah 1935
Maka, tibalah laga pamungkas babak final. Sebelum laga tersebut dimulai, USG memuncaki tabel babak final dengan 53 poin. Jumlah yang sebelumnya masih belum aman untuk menggapai juara, karena hanya terpaut satu poin dari Club Brugge yang membuntuti di nomer dua. Alhasil, laga kesepuluh itu wajib dimenangi bila mau berpesta.
Pada laga kesepuluh, baik USG maupun Club Brugge kebagian jatah main di rumah sendiri. USG menjamu KAA Gent di Stade Joseph Marien, sedangkan Club Brugge menerima kunjungan Antwerp di Stade Jan Breydel. Kedua laga tersebut dimainkan bersamaan, sehingga menciptakan suasana yang tegang di antara fans kedua tim.
Club Brugge were dethroned as champions of Belgium as they were held to a 1-1 draw by Antwerp. #CLUANT pic.twitter.com/LJc4QrsWIA
— Football 24/7 (@Foet247Benelux) May 29, 2025
Saat memasuki jeda turun minum, USG dan Club Brugge sama-sama ditahan 1-1 oleh tim tamu. Sehingga babak kedua berjalan lebih mendebarkan. Kala itu, ribuan fans Club Brugge berharap agar Gent bisa menjebol gawang USG, sambil berdoa agar tim mereka menambah gol. Malangnya, permintaan mereka tak diijabah.
Justru USG yang berhasil menjaringkan tambahan dua gol dari Promise David Akinpelu menit 68 dan 75, sedangkan Club Brugge tak kuasa membongkar pertahanan Antwerp. USG pun menang dengan skor akhir 3-1, berbalik hasil imbang 1-1 yang diterima Club Brugge.
ILS L’ONT FAIT ! L’UNION EST CHAMPIONNE DE BELGIQUE ! 🤩🤩🤩 pic.twitter.com/c3MIncgoWq
— Royale Union Saint-Gilloise (@UnionStGilloise) May 25, 2025
Sepersekian detik setelah wasit menutup pertandingan, massa fans USG menyerbu lapangan Stade Joseph Marien untuk meluapkan kegembiraan bersama para pemain. Sontak air mata terlihat dari fans, maupun pemain yang merasa terharu karena menjadi pelaku dan saksi sejarah dalam kembalinya marwah USG sebagai penguasa Belgia setelah sekian lamanya.
Pemandangan yang sama juga tampak di beberapa sudut pusat keramaian di distrik Gilloise, Brussels. Atribut serba biru-kuning bertebaran. Tiada kata berhenti sedetikpun untuk larut dalam euforia. Hari itu, 25 Mei 2025 dicatat sebagai sejarah baru, sebab untuk pertama kalinya sejak 1935, USG kembali kedatangan trofi Liga Pro Belgia.
Juara Tanpa Bertabur Pemain Berlabel Bintang
Bila Anderlecht punya Jan Vertonghen, Club Brugge diperkuat Simon Mignolet, atau Antwerp dihuni Toby Alderweireld, Union Saint-Gilloise justru tak ditempati oleh nama yang tenar. Jika ditelaah, USG bisa dinobatkan sebagai juara musim ini tanpa bantuan dari skuad yang berlabel bintang atau berharga mahal. Inilah yang membuatnya terasa lebih istimewa.
Koki Machida is a Belgian league champion! 🇧🇪!
Union Saint-Gilloise have won their first title in 90 years (their last was in 1934/35), and secured a spot in next season’s UEFA Champions League league phase.
Machida was a regular starter throughout their historic campaign. pic.twitter.com/02BF2CXf64
— Samurai Warrior (@SamuraiWarriorz) May 25, 2025
Beberapa nama yang boleh dikatakan menjadi ikon dari USG musim ini adalah Koki Machida, Sofiane Boufal, dan Kevin MacAllister. Machida adalah bek tengah Timnas Jepang yang pernah bermain penuh saat berjumpa Timnas Indonesia di Gelora Bung Karno tahun lalu.
Boufal adalah gelandang veteran berpaspor Maroko yang pernah membela Lille dan Southampton. Sementara Kevin MacAllister yang dimiliki USG bukanlah tokoh utama dalam film Home Alone, melainkan kakak kandung dari pemain Liverpool, Alexis MacAllister.
Kendati tak dihuni nama glamor, USG tetap beruntung memiliki Promise David Akinpelu. Secara popularitas, pemain 23 tahun asal Kanada memang kalah tenar dibanding penyerang Liga Pro Belgia lainnya.
Promise David’s HISTORIC first season in Belgium
19 Goals (3rd)
4 Assists
23 Goals + Assists (4th)
16.6 XG (6th)
0.88 G/90 (2nd)🏆 First League title in 90 years
Big things coming for the #CanMNT youngster 📈 pic.twitter.com/mCpLaf36xN
— Promise David Prophecier (@torontomaplefc2) May 25, 2025
Namun, siapa sangka ia menjadi top skor USG musim ini dengan torehan 19 gol. Jumlah gol yang membawanya menduduki posisi ketiga top skor liga. Promise juga yang berjasa mengakhiri dahaga juara USG dengan dua golnya ke gawang Gent.
Akhirnya dengan gelar juara ini, Union Saint-Gilloise join the trend. Menjadi tim yang buka puasa gelar di musim ini. Sungguh musim 2024/25 adalah musim yang benar-benar luar biasa. Semua tim yang telah lama menantikan gelar juara, akhirnya bisa berbuka puasa gelar, kecuali yang tidak.
lequipe.fr, brusselstimes.com, marca.com, republika.co.id, sports.yahoo.com


