Sebagai seorang striker, Ramadhan Sananta telah berkali-kali dihadapkan dengan situasi sulit di lapangan. Situasi yang memaksanya untuk mengambil keputusan dalam waktu sepersekian detik. Namun, kali ini situasi yang dihadapi agak berbeda dan lebih beresiko. Sebab, keputusan yang diambil akan mempengaruhi karir sepakbolanya di musim depan.
Di tengah ketertarikan klub Ibukota, Persija Jakarta, Ramadhan Sananta justru memilih jalan yang lebih gelap dan berliku dengan bergabung klub Brunei Darussalam, yang namanya teramat panjang sehingga orang-orang lebih sering menyingkatnya menjadi DPMM FC. Sananta memenuhi kuota ASEAN di klub tersebut.
Namanya cukup asing di telinga penikmat sepakbola Indonesia. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, DPMM ini ternyata memiliki latar belakang dan sejarah yang unik. Lantas, seunik apa klub tersebut?
Daftar Isi
Kepemilikan Klub
Mungkin secara nama, DPMM FC memang tak begitu terkenal, apalagi di Indonesia. Namun, jika kalian mengetahui apa kepanjangan dari DPMM FC, mungkin kalian akan mulai tertarik mempelajari sejarah tentang klub ini. DPMM FC bernama lengkap sebagai Duli Pengiran Muda Mahkota Football Club. Dari sini sudah penasaran?
Ya, penyebutan kata “Pengiran Muda Mahkota” di situ bukan hanya kiasan. Sama halnya dengan “Real” pada nama Real Madrid, klub yang bernuansa hitam ini memang punya hubungan erat dengan keluarga kerajaan Brunei. Karena DPMM FC didirikan pada tahun 2000 oleh Pangeran Mahkota Al-Muhtadee Billah, putra sulung Sultan Hassanal Bolkiah.
Klub ini masih tergolong muda, tapi bukan berarti kita bisa meremehkan klub yang satu ini. Sebagai pemilik resmi klub, Pangeran Mahkota Al-Muhtadee Billah juga terjun langsung dalam pengelolaan tim. Al-Muhtadee Billah memainkan peran vital dalam pengembangan klub, baik dari segi pendanaan, infrastruktur, maupun visi jangka panjang.
Seberapa Kaya DPMM FC?
Nah, karena jadi klub yang berafiliasi langsung dengan kerajaan, soal pendanaan, DPMM tak pernah ada kendala. Mungkin ini jadi salah satu pertimbangan Ramadhan Sananta untuk mencampakan klub lokal dan memilih DPMM. Udah kapok kayaknya main di kompetisi yang klub-klubnya doyan menunda gaji.
Anyway, muncullah pertanyaan. Sekaya apa sih DPMM FC? Mengutip dari situs Transfermarkt, market value tim berada di angka 2,63 juta euro. Namun, market value tidak bisa dijadikan patokan seberapa kaya klub tersebut. Sejauh ini, tidak ada informasi pasti tentang nilai kekayaan yang dimiliki oleh Al-Muhtadee Billah.
Namun, karena sebagian besar uang klub berasal dari ayahnya, maka bisa dibilang kekayaan sang pewaris tahta hampir sama dengan kekayaan yang dimiliki oleh Kesultanan Brunei Darussalam. Kekayaan ayahnya berada di angka 20 miliar dolar Amerika. Itu menjadikan Sultan Hassanal Bolkiah sebagai salah satu orang terkaya di dunia.
Tapi, apakah kekayaan Al-Muhtadee sama dengan ayahnya? Tentu tidak. Tapi, kemungkinan besar sang putra mahkota memiliki akses terhadap sumber daya dan fasilitas yang signifikan. Yaaaa, meskipun detail spesifik mengenai aset atau kekayaan pribadinya tidak dipublikasikan secara luas.
Markas dan Fasilitas Klub
Kestabilan finansial juga membuat DPMM FC memiliki fasilitas yang relatif maju untuk ukuran klub sepakbola di Asia Tenggara. Untuk laga kandang, DPMM FC menggunakan Stadion Nasional Hassanal Bolkiah di Bandar Seri Begawan, sebagai markas utama. Sebuah stadion berkapasitas 28.000 penonton yang telah mengalami beberapa renovasi sejak dibuka pada tahun 1983.
Stadion Hassanal Bolkiah sendiri dikenal sebagai salah satu stadion terbesar di Asia Tenggara. Kapasitasnya bisa dimaksimalkan menjadi 30.000 penonton. Selain stadion utama, DPMM FC juga memiliki stadion mini untuk dijadikan kamp latihan. Jerudong Park Mini Stadium namanya.
Tempat itu digunakan sebagai tempat latihan dan seleksi pemain muda. Fasilitasnya pun kelas wahid. Jauh, jika dibandingkan dengan klub-klub Brunei yang lain. Kamp latihan ini dilengkapi fasilitas yang mendukung program pengembangan pemain.
Untuk aspek kebugaran, para pemain DPMM FC dapat memanfaatkan fasilitas di Fitness Zone, pusat kebugaran modern di Kiulap. Di situ, klub menawarkan program latihan yang dirancang khusus untuk meningkatkan kekuatan, daya tahan, dan performa atletik para pemain DPMM FC.
Pelatih dan Materi Pemain
Dengan kemampuan finansial yang aduhai, apakah DPMM FC bertabur bintang? Hmmm, bisa dibilang begitu. Karena pemain-pemain terbaik Brunei Darussalam wajib hukumnya berseragam DPMM. Secara struktur, skuad DPMM berimbang antara pemain lokal dan pemain asing.
Di lini tengah, mereka diperkuat oleh Farshad Noor, gelandang asal Afghanistan yang juga pernah memperkuat tim nasional Belanda U-17. Selain itu, ada Gabriel Gama, gelandang serang muda berbakat asal Brazil. Selain itu, pemain lokal seperti Hanif Hamir dan Azwan Ali Rahman memberikan stabilitas dan pengalaman di skuad DPMM FC.
Pemain-pemain tersebut dilatih oleh mantan tim nasional Skotlandia, Jamie McAllister. Sewaktu masih jadi pemain, Jamie adalah andalan Aberdeen dan Bristol City. Secara CV, Jamie juga terbilang lumayan. Dirinya mengantongi lisensi UEFA Pro dan pernah jadi asisten pelatih di Sunderland, Bristol Rovers, dan Bristol City.
Klub yang Doyan Pindah-pindah Liga
Ini yang aneh. Meski didirikan di Brunei, oleh putra mahkota Kesultanan Brunei, dan bermarkas di Brunei, DPMM FC dikenal sebagai klub yang doyan berkelana dari negara satu ke negara lain. DPMM adalah satu-satunya klub di Asia Tenggara yang secara sah dan konsisten berlaga di liga negara lain, menjadikan mereka sebagai simbol unik sepakbola lintas batas di ASEAN
Musim ini, DPMM FC berlaga di Singapore Premier League. Di kompetisi yang hanya diikuti oleh sembilan tim, DPMM sejauh ini masih bercokol di urutan keenam dengan perolehan 41 poin. Sementara di Piala Singapura, mereka masih berjuang di babak semifinal. DPMM akan menghadapi Lion City Sailors dalam sistem dua leg.
Menariknya, dilansir CNN Indonesia, setelah tiga musim mentas di Liga Singapura, DPMM memutuskan untuk hengkang dan hijrah ke Liga Malaysia mulai musim depan. Jadi, Ramadhan Sananta nantinya akan berkompetisi di Liga Malaysia, bukan Singapura, apalagi Brunei. Ini bukan kali pertama DPMM berpartisipasi di Liga Malaysia. Sebelumnya, mereka sudah melakukannya pada tahun 2005 hingga 2008.
Petualangan mereka dalam menjajal kompetisi di negara tetangga sempat terhenti pada tahun 2010. Sebab, Brunei Darussalam kala itu mendapat sanksi dari FIFA akibat intervensi pemerintah dalam asosiasi sepak bolanya (BAFA). DPMM FC pun dilarang berkompetisi secara internasional selama setahun.
Bagaimana Prestasi DPMM?
Tapi, kenapa DPMM bisa pindah-pindah kompetisi gitu ya? Bagaimana caranya? Sebetulnya, di Brunei pun ada kompetisi liga. Namun, level kompetisinya relatif rendah dan kurang stabil. Sebagai satu-satunya klub yang dikelola secara profesional, DPMM membutuhkan kompetisi yang lebih menantang untuk mengembangkan tim.
Tapi DPMM tidak bisa asal pilih negara tujuan. Harus memenuhi regulasi dan syarat yang ditetapkan. Baik Liga Malaysia maupun Liga Singapura memang membuka pintu bagi klub asing untuk bergabung, asalkan memenuhi syarat administratif dan finansial. Syaratnya yakni stabil secara keuangan, punya stadion berkualitas, serta mampu menarik sponsor dan media. Dan DPMM FC jelas memenuhi itu.
Meskipun berstatus tim pendatang, tak jarang DPMM justru keluar sebagai juara kompetisi. Contohnya saja saat menjuarai Liga Singapura pada tahun 2015 dan 2019. Aneh juga ya, yang juara Liga Singapura klub asal Brunei. Tapi yang makin aneh sih nasib Sananta ya. Pas mudik lebaran, ketemu om dan tante, pasti dapet pertanyaan basa-basi. “Sekarang main di klub mana?” Kira-kira doi bakal jawab main di klub Brunei, apa klub Malaysia ya?
___
Sumber: Okezone, Bolasport, Bola, CNN Indonesia


