Hadeh…. ada aja ya cobaan King Indo buat main di Piala Dunia. Kurang dari sebulan jelang lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026, Indonesia mendadak dapat surat cinta dari FIFA. Surat itu berisi hukuman baru yang dihadiahkan FIFA pada PSSI. Ya, hukuman baru karena ini bukan pertama kalinya Indonesia dihadiahi sanksi dari induk sepak bola dunia sepanjang gelaran Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Jelas saja, sanksi ini mengejutkan segala persiapan jelang pertandingan penentu melawan China dan Jepang bulan depan. Semua elemen sepak bola tanah air, mulai dari PSSI sampai suporter pun dibuat bingung dalam menyikapi sanksi baru ini. Euforia menyambut kembalinya laga Timnas Indonesia seketika terganggu dengan kabar ini.
Saat Indonesia sedang kelimpungan dengan sanksi baru, momen ini justru dimanfaatkan oleh media-media dari China yang menggoreng habis-habisan. Yang bikin tambah kesal, mereka mendorong agar FIFA mencoret Indonesia dari keikutsertaan Kualifikasi Piala Dunia, kalau sampai bertingkah aneh-aneh lagi. Dih, enak aja main coret-coret gitu. Yang bener aja, masak mau dicoret?
Daftar Isi
Gara-Gara Xenophobia, Sanksi Baru Datang
Asal muasal sanksi kedua yang dijatuhkan FIFA ini adalah saat laga kandang menjamu Bahrain di Gelora Bung Karno, 25 Maret lalu. Seperti yang kita tahu, hampir semua sudut stadion tertutup oleh lautan manusia dengan atribut Merah-Putih. Sayangnya, di tengah gegap gempita dan sorak sorai yang tercipta, ada sekitar 200-300 orang oknum suporter yang kedapatan melontarkan nyanyian intoleran, lebih tepatnya xenophobia kepada para pemain Bahrain.
Dari cuplikan video yang tersebar luas di media sosial, miris memang melihatnya. Apalagi ketika itu momennya masih bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Mimin ngerti kok kalau suporter Indonesia menyimpan dendam kesumat kepada Bahrain, namun nggak seharusnya dilampiaskan dengan cara yang seperti itu dong.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur, dan video itu sudah jadi bukti yang menggerakkan komite etik FIFA untuk menjatuhkan sanksi. Sabtu, 10 Mei 2025, surat resmi dari FIFA itu sampai di kantor PSSI. Dalam isi surat tersebut, FIFA memvonis Indonesia dinyatakan bersalah setelah suporter melakukan tindakan diskriminatif pada laga melawan Bahrain.
✅ RESMI : FIFA menjatuhkan 2 sanksi kepada PSSI akibat nyanyian bernada kebencian dari suporter saat laga vs Bahrain beberapa waktu lalu.
• Denda Rp400 juta
• Pengurangan kapasitas stadion 15% terutama di tribun Utara dan Selatan.Namun FIFA tetap memberi kesempatan laga… pic.twitter.com/2vtm0qXSUz
— Extra Time Indonesia (@idextratime) May 11, 2025
Pada bagian intinya, surat itu menyatakan Indonesia harus menerima dua hukuman sekaligus dari pusat. Pertama, Indonesia dikenakan denda hampir setengah miliar rupiah atau tepatnya sekitar 400 juta rupiah. Kedua, PSSI harus mengurangi 15 persen penonton dari kapasitas GBK, terutama di tribun belakang gawang, atau sektor utara dan selatan saat pertandingan menjamu China 5 Juni mendatang.
Insiden memalukan mewarnai laga Timnas Indonesia kontra Bahrain pada 25 Maret 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.
Ulah sebagian suporter yang meneriakkan ujaran kebencian berujung fatal: FIFA resmi menjatuhkan sanksi kepada PSSI.
Anggota Komite Eksekutif… pic.twitter.com/yjmKuf9raX
— VivaCoid (@VIVAcoid) May 13, 2025
Khusus untuk hukuman nomor dua, PSSI ternyata bisa mengajukan banding. Exco PSSI, Arya Sinulingga mengatakan FIFA tetap memberi kesempatan laga Indonesia vs China disaksikan penonton secara penuh. Dengan syarat, kuota 15 persen penonton itu diberikan kepada komunitas anti-diskriminasi. Kuota tersebut bisa diberikan kepada penonton yang membawa keluarga, dan PSSI diharuskan memasang atribut anti-diskriminasi.
Sanksi Kedua Sepanjang Kualifikasi Piala Dunia 2026
Seperti yang sudah sedikit disinggung di awal, sanksi ini menjadi yang kedua bagi Indonesia sepanjang gelaran Kualifikasi Piala Dunia 2026. Sebelumnya, Timnas Garuda sudah pernah mengalami sanksi pada September dan Oktober 2024. Ketika itu, Timnas Indonesia dua kali terlambat masuk ke lapangan menurut ofisial pertandingan yang bertugas.
Satu kali terjadi pada laga kandang kontra Australia di Jakarta pada 10 September 2024 dan yang kedua saat melawan China di Qingdao pada 15 Oktober 2024. Atas kelalaian itu, FIFA menjatuhkan denda dengan nilai total mencapai 20 ribu Franc Swiss atau setara 355 juta rupiah pada November 2024.
Respon KEMENPORA dan PSSI
Atas jatuhnya sanksi terbaru ini, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan tentunya PSSI segera turun tangan untuk menghadapinya. Menpora Dito Ariotedjo mengimbau seluruh elemen suporter Garuda, terutama pendukung setia Timnas Indonesia, untuk lebih santun dan dewasa dalam memberikan dukungan.
Untuk selanjutnya, Kemenpora akan memanggil PSSI terkait permasalahan yang menyangkut sepak bola Indonesia di wajah dunia ini. Menteri Dito juga menekankan perlunya evaluasi menyeluruh dan edukasi berkelanjutan kepada suporter, agar menunjukkan budaya mendukung sepak bola yang tetap santun dan manusiawi.
Sementara itu, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir juga menyampaikan pesan dan himbauan kepada suporter timnas untuk tidak lagi bertingkah aneh-aneh. Ia memohon agar dukungan suporter kepada Timnas Indonesia tidak dinodai dengan kelakuan tidak benar, yang ujungnya mencoreng sepak bola tanah air di level antar negara.
Derita Indonesia, Bahagia China
Emang dasarnya suka melihat calon lawannya sengsara, media-media di China ramai memberitakan sanksi yang diterima Indonesia sebagai kebahagian bagi timnas mereka. Salah satu media yang gencar mengirim narasi seperti itu adalah 163.com.
Media online ini dengan beraninya mengatakan, pengurangan jumlah suporter yang dialami Indonesia, membuat beban tekanan yang akan diterima Timnas China berkurang begitu signifikan saat melawat ke Jakarta.
“Untuk Timnas China, ini tidak diragukan lagi merupakan kabar baik. Pertama-tama, markas Timnas Indonesia yakni Gelora Bung Karno dapat menampung 77.000 orang. Dengan menutup 15 persen kursi, akan mengurangi jumlah orang lebih dari 10.000,” begitu tulis 163.com pada 14 Mei lalu.
Media itu juga berkoar, kalau setelah mendapat hukuman berat dari FIFA, suporter Indonesia tidak akan berani bertindak gegabah, seperti menyanyikan chants yang bernada mengejek atau membentangkan tifo yang bermakna menyudutkan Timnas China.
China dinilai mendapatkan kesempatan langka untuk meraih kemenangan di GBK usai Timnas Indonesia diberi sanksi oleh FIFA.
Tim tamu membidik kemenangan demi menjaga asa ke Piala Dunia 2026. 🇮🇩🇨🇳⏳https://t.co/9wU2WcWZAd
— SuperBall.id (@tribunSUPERBALL) May 14, 2025
Toh, ini sudah kedua kalinya Timnas Indonesia mendapat hukuman berat dari FIFA. Kalau sampai ketiga kalinya, bisa jadi hasil pertandingan akan dibatalkan. Tak heran kalau media itu memprediksi kalau anak asuh Branko Ivankovic dapat dengan mudah membawa pulang tiga poin dari tangan Jay Idzes dan kolega.
Sudahlah menari di atas luka, media itu lanjut mengompori dengan mendesak FIFA untuk mencoret Timnas Indonesia, jika terbukti kembali melakukan kesalahan saat menghadapi China, Juni nanti. Mereka berdalih, Indonesia sudah di level yang sangat keterlaluan bila mengulangi kesalahan ketiga kalinya, sehingga FIFA perlu bertindak tegas dengan menendang Garuda dari perlombaan menuju Piala Dunia 2026.
Ada Hukum Yang Mengatur Negara Bisa Dicoret Dari Kualifikasi
Lho, nggak bisa gitu dong. Memang ada aturan yang bisa membuat FIFA mengeluarkan Indonesia dari Piala Dunia? Jika ditelusuri aturan apakah sebuah negara bisa dicoret dari Piala Dunia oleh FIFA, sejatinya ada. Dalam Statuta FIFA, suatu negara bisa dikeluarkan dari Kualifikasi Piala Dunia karena sanksi, terutama jika pelanggarannya berat dan terjadi berulang kali.
FIFA sebagai badan tertinggi di sepak bola berhak menangguhkan negara yang bersangkutan. Dengan catatan terbukti. Lha kalau begitu apakah Indonesia bisa dicoret? Ha yo tidak, bung. Dua pelanggaran yang dilakukan Indonesia tidak termasuk dalam kategori pelanggaran berat.
Salah satu pelanggaran berat yang dimaksud FIFA adalah, apabila sebuah tim nasional dari suatu negara diintervensi pemerintahnya sendiri dalam operasionalnya. Seperti yang terjadi pada Indonesia pada 2015 lalu, saat pemerintah ikut campur dalam PSSI, sehingga terbentuknya dualisme federasi, antara KPSI dan PSSI. Di saat itulah, FIFA membekukan PSSI dan buntutnya, Timnas Indonesia tidak bisa mengikuti Kualifikasi Piala Dunia 2018.
30 Mei 2015 menjadi salah satu catatan kelam sepakbola Indonesia.
PSSI harus rela menjalani hukuman pahit: dibekukan dan Indonesia tak boleh terlibat dalam kegiatan sepakbola apapun.
Setelah 5 tahun berlalu, apakah menurut lo ada perubahan signifikan?#TiangJauh pic.twitter.com/udsmpTM0Me
— Box2Box Football (@Box2BoxBola) May 29, 2020
Selain itu, FIFA baru bisa mengeluarkan negara dari kualifikasi jika pelanggaran yang dilakukan sama bentuknya dan terjadi berulang kali. Dalam kasus Indonesia, kemungkinan untuk dikeluarkan begitu kecil, melihat pelanggaran yang dilakukan bentuknya berbeda, walaupun terjadi dalam satu kali kualifikasi.
Indonesia Pernah Mundur dari Kualifikasi Piala Dunia 1958
Lagi pula, Indonesia sebenarnya memiliki reputasi bagus di mata FIFA. Tidak seperti Rusia yang kena banned. Indonesia belum pernah sampai dikeluarkan dari Kualifikasi Piala Dunia. Yang terjadi pada edisi 1958 pun itu bukan dikeluarkan. Waktu itu Indonesia memang menolak bertanding melawan Israel atas instruksi Presiden Soekarno dan memutuskan mundur dari Piala Dunia 1958.
Akibat keputusan ini, Komite Eksekutif FIFA selain mencoret Indonesia dari kualifikasi Piala Dunia 1958, juga menjatuhkan denda sebesar 5.000 franc karena sengaja melanggar Pasal 6 Peraturan FIFA.
Kalau menurut football lovers, apakah sanksi baru yang dihadiahkan FIFA akan mengurangi antusiasme suporter untuk tetap spartan mendukung pasukan Patrick Kluivert, dan membuat fokus Timnas Indonesia terganggu?
bola.okezone.com, tvonenews.com, cnnindonesia.com, tempo.co, superball.bolasport.com


