Tak ada yang abadi. Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Itu sudah menjadi paket yang tak bisa dijual secara terpisah. Begitupun di sepakbola. Pemain setia seperti Jamie Vardy pun tak bisa selamanya membela Leicester City. Ada masanya ia harus berhenti dan membiarkan pemain yang lebih muda untuk mengambil alih posisinya.
Datang pada tahun 2012 dan tak pernah berpaling. Vardy adalah saksi hidup dari perjalanan klub yang meluncur bak roller coaster. Selama kurang lebih 13 tahun mengabdi, Vardy akan dikenang abadi oleh para fans dan publik Leicester. Selain namanya, Vardy juga akan mewariskan beberapa memori istimewa yang tak pernah bisa dilupakan. Dan berikut adalah beberapa diantaranya.
Daftar Isi
Sebelum Sepakbola
Dalam buku sejarah Jamie Vardy, tak semua bab berisi suka cita atau kemenangan. Di halaman awal, kisah hidup Vardy bahkan menggambarkan dirinya yang jauh dari profesi sebagai pesepakbola profesional. Ya, salah satu kisah yang mungkin sudah cukup akrab di telinga kalian adalah tentang profesi apa yang Vardy tekuni sebelum menjadi pesepakbola profesional.
Vardy menekuni pekerjaan sebagai buruh pabrik sambil tetap menjalani kehidupan sebagai pesepakbola amatir. Saat itu, klub yang ia bela bernama Stockbridge Park Steels. Namun, karena kesulitan menembus skuad utama, Vardy mengambil pekerjaan sampingan sebagai buruh pabrik di salah satu pabrik karbon fiber di Inggris.
Meski pada akhirnya Vardy mampu menembus skuad utama Stockbridge, dirinya tetap menjalani pekerjaan sebagai buruh untuk mendapatkan gaji tambahan. Ia lahir dari keluarga menengah bawah. Ayahnya hanya berprofesi sebagai pekerja derek. Jadi Vardy harus berdiri di kaki sendiri demi memenuhi kehidupannya sendiri.
Selain jadi buruh pabrik, Vardy juga diisukan pernah jadi vokalis sebuah band. Fakta ini jarang diketahui oleh banyak pihak karena hanya menjadi pembicaraan di kalangan fans saja. Vardy suka musik genre grime dan pernah “nge-rap” di acara lokal. Teman-temannya pun bersaksi bahwa Vardy suka tampil di klub malam atau pub sebagai hype man atau MC lucu-lucuan aja. Maklum, Vardy emang doyan banget party.
Dikhianati dan Gaji Kecil
Masih berhubungan dengan memori sebelumnya, Jamie Vardy sebetulnya punya alasan lain mengapa dirinya bekerja di pabrik dan tetap menekuni dunia itu meski sudah bermain di skuad utama Stockbridge. Yang pertama adalah rasa sakit hati. Vardy bekerja di pabrik karena sakit hati dengan klub favoritnya, Sheffield Wednesday.
Lahir di Sheffield pada 11 Januari 1987, Vardy tumbuh sebagai fans sejati Sheffield Wednesday. Di usia muda, mimpi Vardy untuk menjadi pesepakbola profesional hampir terwujud bersama klub tanah kelahirannya itu. Akan tetapi, Sheffield tidak jadi memboyong Vardy karena perawakannya yang terlalu kecil dan kurus untuk anak seusianya
Hal itu ternyata membuat Vardy kecewa. Hingga ketika beranjak dewasa, Vardy berpikir bahwa dia tak akan memikirkan sepakbola lagi. Nah, buruh pabrik dipilih menjadi exit plan kala itu.
Soal kenapa masih ditekuni, meski sudah menjadi pesepakbola, itu karena gajinya di Stockbridge yang sangat kecil. Jika melihat prestasi dan penampilannya saat ini, sulit dipercaya Vardy pernah menerima gaji sebesar 30 pound per pekan atau kalau kurs sekarang kira-kira setara dengan Rp672 ribu. Itu adalah bayaran yang sangat kecil. Bahkan lebih kecil dari bayaran pemain tarkam per match di salah satu kota kecil di Jawa Tengah.
Catatan Kriminal dan Kebiasaan Aneh
Jamie Vardy memang dikenal dengan kehidupannya yang random. Di luar sepakbola, berpesta dan karaoke adalah kegiatan wajib bagi Vardy. Namun, kegiatan-kegiatan seperti itu tak selamanya membawa hal baik kepada sang pemain. Kadang, bisa bikin mood jadi baik. Tapi, di sisi lain pernah membawa Vardy ke kantor Polisi.
Pada tahun 2007, kehidupan Jamie Vardy sempat berada di titik nadir ketika ia terlibat dalam sebuah perkelahian di luar sebuah pub yang berujung pada vonis kasus penyerangan. Akibatnya, ia diwajibkan mengenakan gelang elektronik selama enam bulan dan menjalani jam malam, yang membatasi partisipasinya dalam pertandingan tandang bersama Stocksbridge Park Steels.
Tak sampai di situ, kerandoman Vardy juga ada yang bertahan hingga sekarang. Sepanjang karirnya, Vardy dikenal sebagai pemain yang memiliki ritual super tidak biasa sebelum kick off. Dirinya selalu minum beberapa kaleng Red Bull dan mengkonsumsi makanan cepat saji terlebih dahulu untuk memompa energinya di lapangan.
Ia juga pernah makan chewing gum nikotin sebelum kickoff untuk membantu fokus. Vardy mengklaim rutinitasnya itu membuatnya lebih “meledak” di lapangan. Selain hobi meminum minuman berenergi, Vardy juga tak suka pergi berlatih ke gym. Menurut mantan pemain Fleetwood Town ini, latihan di gym akan membuat kecepatan larinya menurun.
Gelar dan Rekor Vardy
Tak lupa, Jamie Vardy juga mencatatkan beberapa rekor dan prestasi saat menjalani puncak karirnya bersama Leicester City. Beberapa pencapaian inilah yang membuatnya layak disebut sebagai legenda klub.
Seperti saat dirinya menjadi tokoh utama dalam dongeng spektakuler saat The Foxes meraih gelar Premier League musim 2015/16. Di musim itu, Vardy jadi mesin gol Leicester dengan mengemas 24 gol dari 36 pertandingan. Kontribusinya yang begitu vital membuatnya jadi player of the year Premier League musim itu.
Setelah musim yang luar biasa itu, Vardy tak henti-hentinya mencetak gol untuk The Foxes. Jika ditotal, Vardy kini menjadi top skor sepanjang masa Leicester City dengan torehan 198 gol. Rekor ini bisa saja bertahan selamanya mengingat sudah langkanya pemain yang mau bertahan di satu klub untuk jangka waktu yang begitu lama.
Tak berhenti di situ, Vardy juga memecahkan rekor bersejarah dengan mencetak gol dalam 11 laga beruntun. Itu mengalahkan catatan ikonik yang sebelumnya dipegang oleh legenda Manchester United, Ruud van Nistelrooy. Uniknya, Nistelrooy yang rekornya telah dipecahkan kini justru jadi pelatih Vardy di Leicester.
Menolak Klub Raksasa
Bertahan selama 13 tahun bukan tanpa godaan. Dengan performa Vardy yang terus stabil dalam beberapa tahun, banyak klub raksasa yang menggodanya. Namun, Vardy tetap setia pada The Foxes. Ia merasa berhutang budi pada Leicester. Di saat tak ada yang menginginkannya, Leicester justru menyiapkan tempat bernaung yang nyaman.
Tercatat, ada dua klub yang sempat menawar Vardy: Manchester United dan Arsenal. Ketajaman Vardy di mulut gawang bikin dua klub itu kesemsem. United bahkan sangat ambisius untuk memboyongnya dengan mahar 15 juta pound. Nominal yang lebih besar 15 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan Leicester untuk merekrutnya dari Fleetwood Town pada 2012.
Dengan United, seharusnya Vardy bisa merasakan tampil di kompetisi Eropa. Atau mungkin, meraih trofi yang lebih banyak. Namun, alih-alih tergoda dengan nama besar, Vardy justru mengabaikan proposal tersebut. Dalam satu tarikan nafas, ia menegaskan kesetiaan dan cintanya pada klub yang membesarkan namanya.
Jadi Film
Fakta menarik yang mungkin belum banyak orang tahu adalah soal Jamie Vardy dan film. Ya, setelah namanya viral di tahun 2016, ada produser film asal Inggris yang nawarin Vardy jadi cameo penjahat di film aksi lokal. Tapi Vardy menolak karena merasa “itu bukan gue banget.”
Vardy justru lebih tertarik ketika Adrian Butchart, seorang produser yang sebelumnya menggarap film sepakbola legendaris “Goal!”, menawarkan kerjasama agar kisah hidup Vardy diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Nantinya, film ini akan mengangkat perjalanan hidup Vardy yang nyaris tak masuk akal. Dari buruh pabrik hingga juara Premier League bersama Leicester.
Kabarnya, film ini masih dalam tahap pengembangan. Belum ada tanggal rilis pastinya. Pemeran utama yang nantinya akan memerankan Vardy pun belum ditentukan. Hmmm, jadi penasaran, siapa yang bakal jadi Vardy. Taron Egerton kayaknya pas sih, tengil dan britishnya dapet.
Sumber: Sky Sport, Daily Mail, Bola.com, Jawa Pos


