Aaron Ramsdale: Kiper Sial yang Cinta Degradasi?!

spot_img

Jika ada sebuah klub papan bawah yang doyan naik turun kasta, biasanya disebut dengan klub yoyo. Tapi, kalau pemain yang doyan naik turun kasta? Sepertinya, kita belum punya sebutan khusus untuk itu. Tapi, apakah ada pemain semacam itu? Ada, banyak. Dan mungkin, yang paling terkenal adalah Aaron Ramsdale.

Penjaga gawang yang satu ini dianggap sebagai salah satu kiper terbaik yang dimiliki Timnas Inggris. Setidaknya, nomor dua setelah Jordan Pickford. Namun, perjalanan karirnya cukup aneh. Berbeda dengan Pickford yang berkali-kali menyelamatkan Everton dari jurang degradasi, Ramsdale justru sebaliknya.

Dia lebih sering terdegradasi, ketimbang meraih trofi di kasta tertinggi. Penasaran bagaimana perjalanan karir yang apes dari Ramsdale? Selengkapnya mari kita bahas. Namun, sebelum itu kalian bisa klik tombol subscribe dan nyalakan lonceng terlebih dahulu agar tak ketinggalan konten terbaru dari Starting Eleven Story.

Produk Sheffield

Perlu dipahami, perjalanan karir Aaron Ramsdale tak terlalu spesial. Tapi, banyak hal-hal janggal dan kebetulan-kebetulan unik yang menyertainnya. Sebagai penjaga gawang, Ramsdale merupakan produk asli akademi Sheffield United. Dirinya satu angkatan dengan striker Everton, Dominic Calvert-Lewin dan striker Torino, Che Adams.

Di usianya yang ke 18 tahun, Ramsdale ditebus oleh Bournemouth dengan mahar 940 ribu euro tahun 2017. Bournemouth merawat Ramsdale lebih sabar daripada Sheffield. Dirasa masih terlalu muda untuk menembus skuad utama, The Cherries mau menunggu dan memutuskan untuk meminjamkannya ke beberapa tim kasta bawah Inggris terlebih dahulu. Chesterfield dan AFC Wimbledon jadi klub yang merasakan servis Ramsdale.

Dirasa cukup pengalaman bermain di masa peminjaman, Bournemouth menarik kembali Ramsdale pada tahun 2019. Kala itu, Bournemouth sudah berstatus tim Premier League sejak tahun 2015. Era itu, Bournemouth dikenal sebagai tim papan tengah. Karena mampu konsisten finis di urutan belasan dalam tiga tahun berturut-turut. Lumayan untuk ukuran klub medioker seperti mereka.

Musim Pertama di Premier League

Aaron Ramsdale dipanggil untuk mengisi posisi penjaga gawang utama. Hal itu karena kiper-kiper Bournemouth sebelumnya pada tua. Pihak klub pun enggan mengandalkan mereka. Artur Boruc tidak diperpanjang kontraknya dan memilih pergi ke Polandia untuk bergabung ke Legia Warsawa. Sedangkan Asmir Begovic dipinjamkan ke AC Milan.

Praktis, posisi penjaga gawang Bournemouth untuk musim 2019/20 jatuh ke tangan Aaron Ramsdale. Di usianya yang baru 21 tahun, Ramsdale langsung memikul beban berat. Musim itu jadi musim perdananya bermain di kompetisi selevel Premier League. Tak dipungkiri, berkat minimnya pengalaman, Ramsdale pun babak belur dihajar pemain lawan.

Ramsdale tak tergantikan memang. Tapi, semakin sering ia bermain, semakin sering pula ia dipermalukan oleh striker-striker lawan. Setidaknya ada 187 tembakan yang menyasar gawangnya. Sayangnya, pertahanan The Cherries terlalu rapuh. Ramsdale pun harus memungut bola sebanyak 62 kali dari gawangnya sendiri.

Hasil buruk pun menyambangi Ramsdale tiap minggunya. Dari 37 pertandingan yang ia mainkan, 21 diantaranya berakhir dengan kekalahan. Serangkaian performa buruk itu mengantarkan Bournemouth ke jurang degradasi. 

Terdegradasi, Tapi Ditebus Mahal

Meski terdegradasi, Aaron Ramsdale tak sepi peminat. Di sini keanehan itu mulai muncul. Dirinya dinilai gagal menyelamatkan timnya dari jurang degradasi, tapi mantan klubnya, yakni Sheffield United justru rela merogoh kocek di angka 20 juta euro untuk membawa pulang Ramsdale.

Bournemouth yang kurang puas dengan performa Ramsdale pun tak keberatan. Toh, itu jadi bisnis yang sangat menguntungkan bagi klub. Bagaimana tidak? Sheffield berani membayar 8 juta lebih mahal dari market valuenya. 

Ternyata, ada faktor yang membuat Sheffield rela membayar mahal. Itu karena persentase penyelamatan Ramsdale. Di musim 2019/20, Ramsdale harus menghadapi 187 tembakan tepat sasaran. Namun, hanya kebobolan 62 gol saja. Itu artinya, ia telah menggagalkan 124 peluang lainnya Itu catatan yang luar biasa untuk kiper muda sepertinya.

Back To Back Degradasi

Pandangan tersebut memang tak keliru, kembali ke Premier League bersama Sheffield United, Aaron Ramsdale mampu membuktikan bahwa ia memang jago menepis bola. Sialnya, pertahanan The Blades teramat busuk. 

John Egan dan kolega tak mampu memberikan rasa aman kepada Ramsdale. Alhasil, Sheffield jadi bulan-bulanan warga Premier League. The Blades mengalami serangkaian 17 pertandingan tanpa kemenangan. 

Di musim 2020/21, Ramsdale harus menghadapi lebih banyak shot on target. Mengutip statistik Fbref, Ramsdale setidaknya menerima 206 tembakan dalam 38 pertandingan Premier League. Itu artinya, Ramsdale rata-rata harus menerima 5,4 tembakan per laganya. Meski begitu, Ramsdale tetap tampil prima. Dari 206 tembakan, 145 diantaranya mampu dimentahkan oleh Ramsdale.

Tapi, sebaik-baiknya performa Ramsdale, pada akhirnya yang dinilai oleh publik adalah performa tim. Dengan hanya mengantongi tujuh kemenangan, The Blades terdegradasi. Lucunya, bukan malah menurun dan terbuang, terdegradasinya untuk kedua kali justru membuka jalan karir yang lebih bagus bagi Ramsdale. Musim panas 2021, Arsenal datang. Mereka memandang Ramsdale bak berlian di kubangan lumpur. Mau sekotor apapun, berlian akan tetap memiliki nilai tinggi. 

Peak Performa di Arsenal

Mikel Arteta, selaku pelatih Arsenal meminta secara khusus kepada manajemen untuk membawa Aaron Ramsdale ke Emirates Stadium. Berapapun harganya. Kesempatan ini pun dimanfaatkan dengan baik oleh Sheffield. Mereka memasang harga yang cukup gila, yakni 30 juta pound untuk kiper asal Inggris tersebut. Arsenal tanpa basa-basi langsung mengiyakan. 

Ramsdale yang enggan makan gaji buta pun membuktikan diri bahwa ia layak bermain di skuad utama Arsenal. Salah satu klub terbesar di London, bahkan seantero Inggris Raya. Tak butuh waktu lama bagi Ramsdale untuk meraih kepercayaan penuh dari Mikel Arteta. Di matchday ketiga Premier League musim 2021/22, Ramsdale langsung jadi starter.

Dan mulai hari itu, Ramsdale tak tergantikan. Didukung dengan bek-bek berpengalaman macam Gabriel Magalhaes dan Ben White, Ramsdale tampil optimal. Jumlah tembakan yang harus dihadapi pun turun drastis. Dari yang awalnya 206 menjadi 128. Ramsdale pun mencatatkan 12 clean sheet. Itu jadi kali pertama dalam karirnya mencatatkan dua digit clean sheet di Premier League. 

Kembali Degradasi di Soton

Masa-masanya di Arsenal jadi yang paling indah. Tampil apik, mulai konsisten dipanggil ke Timnas Inggris, dan meraih trofi pertamanya. Yaaa, meskipun cuma Community Shield sih. Yang terpenting, ia tak merasakan degradasi lagi. Ia justru berhasil membantu Arsenal konsisten di empat besar Premier League.

Tapi, bukan Aaron Ramsdale namanya kalau karirnya baik-baik saja. Kenyamanan di Arsenal tak bertahan lama. Mikel Arteta kembali mendatangkan kiper baru sepeninggalan Bernd Leno ke Fulham. Pada tahun 2023, Arsenal mendatangkan David Raya dari Brentford dengan status pinjaman.

Tujuannya ya sama, untuk memberikan kompetisi bagi Ramsdale. Namun, bukannya skill Ramsdale yang meningkat, ia justru jadi korban. Ia tergusur dari posisinya. Mungkin ini jadi salah satu bentuk karmanya kepada Bernd Leno beberapa tahun lalu. Ramsdale pun menuntut pindah demi mendapat menit bermain.

Di musim panas 2024, Southampton datang untuk menawar. 21 juta euro jadi angka yang disepakati oleh kedua belah pihak. Tapi, merekrut Ramsdale justru jadi awal masalah bagi Soton. Mereka justru tampil buruk di musim 2024/25.

Puncak dari performa buruk Soton adalah pekan ke-31. Di mana Aaron Ramsdale cs harus menyerah 3-1 di tangan Tottenham. Kekalahan itu menjadi akhir perjuangan mereka di Premier League. Mereka resmi terdegradasi ke Divisi Championship.

Dicap Sebagai Kutukan

Beberapa fans Soton pun mulai mengait-ngaitkan performa buruk tim dengan keberadaan Aaron Ramsdale. Mengutip dari The Sun, ada salah satu fans yang mengatakan bahwa ia khawatir kalau kutukan Ramsdale terhadap klub-klub kecil itu benar adanya. Bagaimana tidak? Semua klub medioker yang ia bela terdegradasi dari Premier League.

Tercatat hanya Arsenal saja yang tidak merasakan degradasi. Ironisnya lagi, Ramsdale ternyata sejak awal sudah ragu bisa membantu Soton untuk bertahan di Premier League musim ini. Itu ditandai dengan adanya klausul khusus di kontraknya. Klausul itu bernama “Klausul Degradasi”.

Yang mana, memperbolehkan Ramsdale untuk hengkang secara gratis meski masih menyisakan kontrak jika tim terdegradasi dari Premier League. Dengan Soton yang telah resmi turun kasta, kabarnya Ramsdale akan mencari klub baru di musim panas nanti. Fans MU kayaknya harus mulai berdoa nih. Jangan sampai Ramsdale gabung musim depan. MU yang kini berstatus tim medioker bisa jadi korban selanjutnya.

Sumber: The Athletic, Sky Sport, The Sun, Premier League

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru