Liga Indonesia Busuk! Pemain Timnas U17 Ini Harus Diselamatkan dari Sana

spot_img

Timnas Indonesia U-17 asuhan Nova Arianto menunjukkan pemain yang hidup dan besar di Indonesia juga punya potensi. Meski kalau melihat ke belakang, penampilan apik timnas kelompok umur bukan hal baru. Yang jadi persoalan, kan, pemain yang bagus di level umur seringnya meredup dan bahkan lesap ketika masuk ke level senior.

Ini mungkin bukan hanya karena kualitas hidup di Indonesia tergolong rendah, tapi juga lantaran program pengembangan sepak bola di Indonesia yang sering kali digarap secara serampangan. Atau bahkan, tidak digarap sama sekali.

Memang, anak didik Nova Arianto kebanyakan berasal dari Elite Pro Academy. Tapi EPA, hanya sekadar kompetisi usia muda. Ia tidak masuk dalam piramida kompetisi sebagaimana di beberapa negara seperti Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Sehingga kompetisi seperti EPA bisa mati kapan pun.

Persoalan berikutnya, belum tentu pemain-pemain U-17 akan memperkuat tim utama di Liga 1. Andaipun masuk, yakin performa mereka akan meningkat di Liga Indonesia? Makanya, para pemain ini harus segera diselamatkan dari Liga Indonesia. Siapa saja para pemain tersebut?

Zahaby Gholy

Semua orang pasti sepakat, itu gol yang indah. Ya, Muhammad Zahaby Gholy memang sekeren itu. Winger lincah ini selalu diandalkan oleh Nova Arianto. Penampilan luar biasa di laga kontra Yaman U-17 memperlihatkan bahwa Gholy, bukan cuma pemain yang konsisten, tapi meningkat.

Sebelum ini Gholy sudah mencetak gol ke gawang Mariana Utara di babak kualifikasi. Gholy dengan kecepatannya ahli dalam merusak pertahanan lawan. Gaya bermain ini cocok diterapkan dalam skema Nova Arianto yang mengusung sepak bola reaktif.

Gholy bisa berkembang lebih baik lagi. Sayang kalau ia hanya berkutat di tim muda Persija Jakarta. Pemain yang lahir 5 Desember 2008 ini  memang bisa menembus tim utama. Tapi jalannya tentu tidak mudah.

Gholy pernah debut di tim senior Persija. Hanya saja itu terjadi di Piala Presiden bukan kompetisi liga. Jika kemampuannya ingin lebih baik, Gholy bisa abroad dan memperkuat tim muda.

Evandra Florasta

Punggawa berikutnya memiliki nama yang menurut mimin keren. Evandra Florasta. Keren bukan? Sama seperti Zahaby Gholy, kera ngalam (bahasa walikan khas Malang) yang satu ini menjadi andalan Nova Arianto di Timnas U-17 sejak Piala AFF U-16 lalu.

Evandra memang lahir di Malang, tapi orang tuanya berasal dari Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur. Jadi ada darah NTT juga nih dalam dirinya. Pemain yang memperkuat Bhayangkara U-16 ini sebetulnya adalah seorang gelandang. Tapi sang pemain malah jadi mesin gol Timnas U-17.

Hingga sebelum laga melawan Afghanistan di Piala Asia U-17, Evandra berstatus sebagai top skor sementara turnamen itu dengan tiga gol. Inilah yang membuat Evandra acap kali bikin lawan kebingungan. Mau mengantisipasinya sebagai seorang gelandang atau pemburu gol.

Evandra ini udah kayak Jude Bellingham yang jadi goal getter Real Madrid musim lalu. Atau Tijjani Reijnders yang produktif di AC Milan dan Belanda. Hmm… kayaknya biar beneran sampai ke level mereka, Evandra perlu menapaki jalan yang benar. Tetap bertahan di Liga Indonesia adalah keputusan yang penuh resiko negatif. Jadi, abroad-lah, Ndra!

Putu Panji Apriawan

Jika di tim senior ada Rizky Ridho Ramadhani, di level U-23 punya Kadek Arel, di kelompok U-17 ada Putu Panji Apriawan. Nggak nyangka banget deh timnas bisa punya bek-bek hebat kayak mereka. Panji juga selama ini adalah pemain yang konsisten mengawal pertahanan Timnas U-17.

Ketenangan dan kemampuannya dalam mengantisipasi serangan lawan cukup mempesona. Bahkan Panji punya atribut tambahan sebagai leader. Nova sendiri yang mengakui hal itu. Makanya, tak mengherankan kalau Panji bukan hanya selalu diturunkan, tapi juga diberi mandat sebagai kapten tim.

Pemain yang bulan ini baru saja berulang tahun ke-17 itu berseragam Bali United muda. Betul bahwa Bali United punya fasilitas menawan, terutama bagi perkembangan pemain muda. Tapi kompetisi yang kadang ada, kadang tidak, membuat para pemain muda di Bali United akan minim menit bermain. Tak terkecuali Putu Panji.

Bersaing di tim senior pun tidak mudah. Selain di sana ada pemain Thailand, Elias Dolah, Panji juga mesti bersaing dengan seniornya, Kadek Arel. Pergi ke luar negeri, bergabung dengan tim muda di luar negeri yang punya kompetisi yang konsisten, mungkin bisa menjadi jalan keluar.

Fadly Alberto

Selain Zahaby Gholy, di laga kontra Yaman U-17, Fadly Alberto juga mencetak gol setelah menafsir ruang yang ditinggalkan pemain Yaman. Gol yang tak disangka-sangka, bahkan oleh Alberto itu sendiri. Tapi memang, pemain kelahiran Timika itu dianugerahi insting yang baik untuk melacak arah bola. Itu bahkan sudah ia tunjukkan di Piala AFF U-16 tahun lalu.

Alberto seperti Evandra. Walau seorang gelandang, tapi sanggup menjadi pemecah kebuntuan. Di tim muda Bhayangkara Presisi FC, Alberto adalah seorang gelandang serang, tapi Nova tak jarang menaruhnya sebagai penyerang atau penyerang tambahan dari lini kedua.

Beberapa kali kesempatan, termasuk di laga kontra Yaman, Alberto bisa memperlihatkan ketajamannya. Bukan itu saja, Alberto juga diberkati agresivitas yang itu, bisa membuat lawan keteteran dalam mengantisipasi pergerakannya. Kemampuan-kemampuannya itu sangat disayangkan kalau Alberto hanya bertahan di tim muda Bhayangkara FC.

Berada di tim muda saja sudah disayangkan, ini tim muda dari klub yang bahkan terdegradasi ke Liga 2. Saran mimin sih, Alberto perlu melancong ke tempat yang lebih baik. Mumpung masih muda.

Mierza Firjatullah

Sebelum Evandra Florasta menggila di Piala Asia U-17, Mierza Firjatullah adalah bomber andalan Nova. Di turnamen Piala AFF U-16 tahun lalu, Mierza bahkan sempat menjadi top skor sementara dengan mencetak empat gol. Tapi di Piala Asia U-17, pemain yang memperkuat tim muda Persik Kediri tersebut seolah tidak kelihatan.

Setelah Piala AFF U16 lalu, Mierza memang mengalami penurunan. Terutama ketika dipinjam Persik U-18 dari Asiana pada September 2024 lalu. Namun saat bermain di EPA U-18 musim 2024/25, mengutip Lapang Bola, Mierza cuma mencetak 1 gol dari 11 laga bersama Persik U-18. Macan Putih muda juga gagal melaju jauh di turnamen itu.

Tak ayal kalau menit bermain Mierza tak bertambah di level klub. Memilih untuk dipinjamkan dari Sekolah Sepak Bola Asiana ke Persik U-18 sebenarnya langkah yang bagus. Artinya, pemain kelahiran 15 Februari 2009 itu berkesempatan menjajal kompetisi yang sesungguhnya.

Tapi balik lagi, yang jadi soal adalah menit bermain. Saran sih, setelah Piala Asia U-17, Mierza mesti bermain di klub yang bisa memberi menit bermain. Biar stamina dan kemampuannya minimal terjaga. Kalau mau abroad, lebih baik. Karena toh Mierza juga pernah berlatih di Spanyol dan Jepang.

Dafa Al Gasemi

Nama terakhir sang kiper, Dafa Al Gasemi Setiawarman. Berlatih dengan Sonny Stevens, kiper utama Dewa United yang pernah juara Eerste Divisie ternyata menjadi modal berharga baginya. Ya, Dafa memang berada di tim muda Dewa United. Nova menaruh kepercayaan pada Dafa karena yakin akan kemampuannya.

Kiper kelahiran 12 Februari 2008 ini menunjukkan kerja keras dan dedikasi yang tinggi. Bahkan nih, denger-denger, dia ini kiper yang populer selama pemusatan latihan. Dan itu ia buktikan dengan penampilan di atas lapangan hijau. Saat menghadapi Korea Selatan U-17 tempo hari misalnya.

Tatkala tensi pertandingan meninggi, Dafa tetap tenang dan mampu menjaga konsentrasi. Ia juga disiplin untuk menjaga gawang Timnas U-17 dari gempuran para pemain Korea Selatan. Nah, ketimbang di tim muda Dewa United yang belum tentu mendapat kesempatan bermain di tim senior, Dafa mungkin bisa coba mencari pengalaman. Meski bagi seorang kiper muda, itu tak gampang.

Well, football lovers setuju kan kalau para pemain ini harus diselamatkan dari rusaknya Liga Indonesia? Selain nama-nama tadi ada lagi nggak ya football lovers?

Sumber: PTLIB, CNNIndo, Detikcom, AFSPort, RadarBali, Jawapos, Kumparan, Bolacom, LapangBola

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru