Kisah Fadly Alberto Tidur di Gubuk Reyot, hingga Bawa Indonesia ke Piala Dunia

spot_img

Indonesia untuk pertama kalinya lolos ke Piala Dunia U-17 tanpa jalur tuan rumah. Di tengah kebahagiaan itu, terselip kisah inspiratif yang datang dari sang pencetak gol, Fadly Alberto. Demi sampai di titik ini, pemain blasteran Papua-Jawa itu harus melalui petualangan yang penuh kerikil. Perjalanan yang dimulai dari tidur di sebuah gubuk kecil.

Bagaimana Fadly Alberto berjuang dari gubuk kecil hingga membawa Indonesia ke Piala Dunia?

Lahir di Papua, Hidup di Bojonegoro

Membaca namanya saja, kita pasti akan berpikir kalau Fadly Alberto Hengga adalah orang timur. Itu benar, meski tak sepenuhnya benar. Alberto memang lahir di Papua, tepatnya di Kota Timika, pada 22 Juni 2008. Ia merupakan anak pertama dari pasangan John Clif Hengga, pria asal Timika, dan Piana, perempuan yang berasal dari Bojonegoro, Jawa Timur.

Namun sebelum benar-benar mengenal Timika, ibunya membawa Alberto ke kampung halamannya di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Tepat ketika Alberto baru menginjak usia tiga tahun.

Alberto pindah dari Timika ke sebuah desa bernama Banjarsari di Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Ia pun hidup dan dibesarkan di desa dengan tujuh ribu lebih jiwa itu. Alberto pun tumbuh dengan kultur, budaya, tradisi, dan bahasa jawa timuran. 

Meski tampangnya bernuansa Bumi Cenderawasih, tapi Alberto merupakan penutur Bahasa Jawa. Bahkan hingga saat ini, selain Bahasa Indonesia, Alberto hanya bisa berbahasa Jawa. Ia sama sekali tak bisa berbahasa Papua.

Hidup Penuh Keterbatasan

Selama berdomisili di Bojonegoro, Alberto bersama ibu dan satu adik perempuannya tinggal di sebuah rumah kecil. Saking kecilnya, daripada menyebutnya rumah, tempat tinggal Alberto lebih pas disebut gubuk. Bayangkan, ukurannya saja hanya 4×8 meter.

Bangunan itu dibangun dengan papan kayu, beralas tanah, dan atapnya menggunakan seng. Bangunan itu berdiri di atas lahan milik Perhutani. Dilihat dari depan, rumah Alberto tampak seperti warung kopi.

Karena tinggal di lahan milik Perhutani, keluarga Alberto mesti membayar sewa. Dan walau mengeluarkan ongkos sewa, masih harus bersiap andai digusur. Pemilik lahan bisa menggusur bangunan itu kapan saja.

Hidup melarat tak lantas melenyapkan impian, cita-cita, keinginan, hasrat setiap anak. Begitu pula Alberto. Hanya saja, ada anak yang punya privilese, sehingga mungkin tak perlu bekerja terlalu keras. Tapi Alberto jelas mesti bekerja berkali-kali lipat lebih keras.

Asa dan tekad yang bulat wajib dimiliki. Dan itu yang menjadi bahan bakar dalam diri Alberto. Sama seperti anak-anak seusianya, Alberto juga menempuh pendidikan formal. Ia bersekolah di TK Putra Bakti Desa Banjarsari. Setelah lulus tahun 2015, Alberto melanjutkan sekolah ke SD Negeri Banjarsari 1, dan lulus tahun 2021.

Alberto lalu keterima di SMP Negeri 5 Bojonegoro. Usai menuntaskan pendidikan tingkat menengah pertama pada 2023, Alberto melanjutkan pendidikan di SMK Negeri Dander, Bojonegoro. Lalu sejak kapan Alberto bermain sepak bola?

Dari SSB Kecil ke Bhayangkara Presisi FC

Bakat sepak bolanya terlihat saat masih berusia delapan tahun. Saat itu Alberto memang memiliki kecintaan pada sepak bola yang teramat dalam. Kecintaan yang pada waktunya nanti, menembus kemiskinan yang menjeratnya. Di usia delapan tahun, Alberto sudah bergabung ke SSB Sukorejo Putra.

Bukan SSB yang besar, namun sering mendulang berbagai prestasi. Tujuh tahun Fadly Alberto menimba ilmu dan pengetahuan sepak bola di SSB tersebut. Pada 2023 lalu, ketika Bhayangkara Presisi FC membuka seleksi masuk tim muda, pelatih Alberto mendorongnya ikut. Bocah berdarah Papua-Jawa ini diterima di Bhayangkara Presisi FC.

Alberto lalu mengalami perkembangan pesat di klub milik Kepolisian Republik Indonesia itu. Performanya yang bagus membawanya naik kelas dari tim B ke tim A. Soal ekonomi, Alberto memang kurang beruntung, tapi nasib baik dari segi karier berada di pundaknya. Belum genap setahun bergabung ke Bhayangkara Presisi FC, karier Alberto melesat ke tim nasional.

Berada di Tim Nova Arianto

Ceritanya dimulai sebelum Piala AFF U-16. Shin Tae-yong, yang kala itu menjadi pelatih kepala di Timnas Indonesia Senior mempercayakan Timnas U-16 pada asistennya, Nova Arianto. Ini jadi kesempatan Nova untuk mengikuti jejak ayahnya, Sartono Anwar, sebagai seorang pelatih.

Nova pun membuka seleksi untuk Timnas Indonesia U-16 yang akan mengikuti ASEAN U-16 Boys Championship alias Piala AFF U-16. Nah, Alberto mengikuti seleksi itu. Sang pemain lolos seleksi tahap pertama dan ikut rombongan Timnas Indonesia U-16 pemusatan latihan di Yogyakarta.

Di situ Nova menyeleksi lagi untuk menentukan pemain yang layak dibawa ke Piala AFF U-16. Kemujuran masih berhembus pada Fadly Alberto. Ia masuk ke Timnas U-16 yang mengikuti Piala AFF U-16 2024 lalu, yang digelar di Indonesia.

Di turnamen tersebut, Alberto membuktikan keputusan Nova memilihnya tidak keliru. Bocah kelahiran Timika itu turut menjebol gawang Singapura dalam kemenangan 3-0 di laga pertama.

Penampilan apik itu membuatnya jadi salah satu andalan Nova Arianto. Tapi sayang, di turnamen itu, Indonesia gagal ke final. Langkah pasukan Nova Arianto dijegal Australia di empat besar. Kabar baiknya, Indonesia masih bisa juara ketiga setelah menumpas Vietnam lima gol tanpa balas.

Mendapat Hadiah Rumah

Beberapa hari setelah Piala AFF U-16, Fadly Alberto kedatangan tamu. Sebuah kabar bahagia. CEO perusahaan makanan dan suplemen kesehatan, PT Realfood Winta Asia, Lusianto Handoko menghadiahi Alberto satu unit rumah.

Penyerahan hadiah rumah itu dilakukan secara simbolis pada Juli 2024 lalu. Tentu saja Fadly Alberto hanya bisa mencurahkan air mata kebahagiaan. Pemuda Bojonegoro ini juga tak henti-hentinya mengucap syukur. Mendapat hadiah rumah berarti satu keinginannya terkabul. Saat tinggal di gubuk reyot, Alberto ingin memberikan rumah untuk ibundanya.

Keinginan itu pun terwujud walau lewat wasilah orang lain. Kini, Fadly Alberto dan keluarganya tak lagi tinggal di gubuk di atas lahan milik Perhutani. Namun, kerasnya hidup melatih seseorang untuk terus berdaya, bekerja, dan berupaya meski sudah nyaman dan sentosa.

Begitulah yang dilakukan ibu Alberto. Saat sang anak terus melatih skill dan sudah berlabel pemain tim nasional di level junior, Piana bersikukuh untuk tetap menjalani usaha. Sang ibu bergabung menjadi nasabah PNM Mekaar unit Trucuk. Dari sana, Piana mendapat modal usaha untuk membuka warung.

Lolos ke Piala Dunia U-17

Puji Tuhan, ada hikmah di balik gagalnya Alberto dan kawan-kawan ke final Piala AFF U-16 tahun lalu. Ya, ternyata Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang besar bagi Timnas Indonesia U-17. Sesuatu yang besar itu adalah tiket ke Piala Dunia U-17 lewat jalur Piala Asia, bukan tuan rumah seperti Qatar.

Demikianlah kisah Fadly Alberto. Semoga kisah Alberto bisa menginspirasi anak muda Indonesia untuk tidak menyerah pada keadaan. Hanya nyala harap, semangat pantang menyerah, dan timnas yang jago yang mungkin bisa membantu kita bertahan di kondisi negara yang carut-marut dipimpin mantan Menhan.

Sumber: Okezone, Pikiran-Rakyat, MediaIndonesia, BlokBojonegoro, Detikcom, Kumparan, Kompas

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru