Wajah baru Timnas Indonesia pimpinan Patrick Kluivert akan melanjutkan perjuangan menuju Piala Dunia 2026 dengan bertamu ke Sydney pada 20 Maret 2025 sebentar lagi. Laga nanti bukan hanya debut bagi Kluivert. Lebih dari itu, perlawanan kontra Socceroos jadi penentu lolos atau tidaknya skuad Garuda ke Amerika Serikat-Kanada-Meksiko tahun depan.
Lawatan ke Sydney kali ini bukan yang pertama bagi Indonesia. Sebelumnya timnas sudah pernah mampir ke kota ini guna melakoni lima laga internasional. Lalu, kapan Indonesia pertama dan terakhir berkunjung ke Sydney? Bagaimana hasil dari kelima laga timnas yang pernah dimainkan di Sydney?
Sydney, The Emerald City
Terletak di wilayah pantai timur, Sydney adalah batu permata berkilauan yang dimiliki Australia. Ibukota negara bagian New South Wales ini menyandang status kota metropolitan dengan jumlah penduduk terbanyak sekaligus pusat ekonomi negeri kanguru. Tidak heran kalau Sydney dijuluki sebagai The Emerald City.
Memiliki luas wilayah sebesar 12.000 kilometer persegi, Sydney dihuni oleh 5,1 juta jiwa menurut data sensus tahun 2024. Jumlah tersebut menempatkan Sydney di peringkat atas kota terpadat di Australia mengungguli Melbourne, Brisbane, apalagi Canberra yang jadi ibukota Australia.
Secara ekonomi, Sydney memainkan peran besar sebagai penopang ekonomi lokal Australia. Dari sektor pariwisata, Sydney terkenal dengan landmark yang ikonik dan jadi primadona turis mancanegara seperti Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge. Sementara dari sektor perniagaan, pelabuhan Port Jackson, Sydney menjadi pusat kegiatan ekonomi maritim dengan hiruk-pikuk pelayaran kapal yang masif setiap hari.
Kota Sepak Bola Australia
Sejak zaman baheula, Timnas Australia sudah memilih Sydney sebagai markas untuk melangsungkan pertandingan kelas dunia, termasuk Kualifikasi Piala Dunia. Penyebabnya karena Sydney lebih dulu punya fasilitas sepak bola yang layak dibandingkan kota lain, yakni Sydney Sports Ground di kawasan Moore Park yang berdiri sejak 1911.
Sydney pernah ditunjuk sebagai salah satu kota tuan rumah penyelenggara AFC Asian Cup 2015. Tahun itu, Sydney sudah memiliki stadion yang modern nan megah, yakni Australia Stadium dengan kapasitas fantastis hingga 114.000 penonton. Australia Stadium aslinya disiapkan sebagai venue untuk Olimpiade Sydney 2000.
AND THE FINAL WHISTLE GOES! AUSTRALIA ARE CHAMPIONS OF ASIA! Australia 2-1 South Korea (AET) pic.twitter.com/AvUdXl2w51
— ESPN FC (@ESPNFC) January 31, 2015
Pada hajatan AFC Asian Cup 2015, Sydney membawa tuah bagi Australia. Pasukan Australia yang saat itu dihuni armada seperti Massimo Luongo, Mile Jedinak, hingga penyerang legendaris Tim Cahill berjaya melesat ke final dan berjumpa Korea Selatan.
Anak buah Ange Postecoglou akhirnya sukses membuat Taeguk Warriors bertekuk lutut dengan skor 2-1. James Troisi mendadak jadi pahlawan di extra time dan Australia keluar sebagai kampiun Asia untuk pertama kali.
Memori Kelam Timnas di Sydney
Sydney mungkin berkesan bagi sejarah persepakbolaan Australia, tapi tidak bagi Timnas Indonesia. Jauh sebelum 2025, timnas sudah pernah melancong ke Sydney pada dekade 1970-an untuk menjalankan misi tanding di lima match Kualifikasi Piala Dunia Jerman Barat 1974 Zona B.
Serdadu Garuda pertama kali menjejak Sydney pada 11 Maret 1973 guna melawan kesebelasan Selandia Baru di Sydney Football Ground. Mendiang Endang Witarsa yang kala itu bertindak sebagai arsitek membawa tim yang berisi pemain nasional jempolan, sebut saja Ronny Pattinasarany, Iswadi Idris, serta top skor sepanjang masa timnas Abdul Kadir.
11 Maret 1973, New Zealand vs Indonesia 1-1 kualifikasi Piala Dunia 1974 di Sydney Australia. pic.twitter.com/z4BkXOYG7k
— Dani Suryaman (@dani_suryaman) March 11, 2016
Tak dinyana, timnas mampu mengimbangi tempo permainan Selandia Baru. Bahkan Indonesia memimpin duluan lewat Sarman Panggabean saat laga baru berjalan 13 menit. Keunggulan 1-0 bertahan hingga jeda turun minum. Sialnya, gawang Indonesia yang dijaga Ronny Paslan bergetar menit 74 lewat aksi Alan Vest. Indonesia harus puas berbagi 1 poin di laga pembuka grup B1.
Selang dua hari kemudian, Indonesia bertemu Australia pada 13 Maret 1973. Berbekal hasil seri di laga sebelumnya, Indonesia mencoba untuk pede menghadapi Aussie yang waktu itu dikenal tangguh dan unggul secara skill dan tinggi badan. Nyatanya, pede saja tidak cukup untuk menggondol kemenangan dari empunya rumah.
12.000 lebih penonton yang hadir memadati Sydney Sport Ground bersorak kegirangan setelah Ernie Campbell bisa mengelabui Ronny Paslan di menit 23. Indonesia sejatinya sempat memiliki asa untuk curi poin lewat gol yang disarangkan Iswadi Idris menit 36. Sayangnya, Australia malah comeback di menit 42 melalui Adrian Alston. Tidak ada lagi gol yang tercipta hingga wasit menutup laga.
Irak jadi lawan ketiga Indonesia di Sydney pada 16 Maret 1973. Sebelum laga bergulir, Irak diunggulkan karena sudah mengantongi 3 poin, sementara Indonesia baru punya 1 poin. Meski begitu, para pejuang merah-putih tetap tampil all-out di atas lapangan. Sempat tertinggal dulu lewat Ali Kadhim menit 23, Iswadi Idris berjasa selamatkan muka Indonesia 20 menit setelahnya.
Indonesia yang sukses menjinakkan Selandia Baru di Melbourne mengusung misi balas dendam ketika kembali bersua Irak di Sydney. Laga pada 21 Maret 1973 berjalan seru dan menegangkan. Jual-beli serangan tidak berhenti selama 90 menit. Naas, Irak lebih hoki karena mengakhiri medan perang dengan kemenangan 3-2. Dwigol timnas disumbang Sarman Panggabean menit 25 dan Anjas Asmara menit 58.
Perjalanan timnas di Kualifikasi Piala Dunia 1974 dipungkasi dengan hasil yang memilukan. Indonesia diganyang Australia setengah lusin gol pada 24 Maret 1973. Semua pemain timnas di hari itu bak anak cupu yang dibully habis-habisan oleh akamsi sampai babak belur. Pasrah dan tanpa perlawanan.
Seusai pembantaian tak berdarah itu, Australia mengamankan satu jatah ke putaran final di Jerman Barat dan jadi keikutsertaan perdana Socceroos di pentas akbar Piala Dunia.
Sementara Indonesia harus angkat koper pulang ke Jakarta setelah finish di tangga ketiga klasemen akhir dengan mengumpulkan poin 4. Membelakangi Selandia Baru sebagai juru kunci dan terpaut 4 marka dari runner up, Irak.
Sydney, Please Be Nice
Setelah 52 tahun berlalu, Timnas Indonesia akan kembali mengunjungi Sydney. Destinasi yang dituju kali ini adalah Allianz Stadium, rumah Sydney FC berkapasitas 42.500 penonton yang dibuka pada 2022. Oleh panpel, stadion ini dipilih untuk menggelar laga Australia vs Indonesia 20 Maret 2025.
✅ RESMI : PSSI Australia mengumumkan Sydney Football Stadium akan menjadi venue laga Kualifikasi Piala Dunia ronde ketiga menghadapi Indonesia (20 Maret 2025).
Australia memang memiliki tradisi berpindah-pindah lokasi setiap menggelar laga kandang.
Dalam lima pertandingan… pic.twitter.com/0CgFczbmXJ
— Extra Time Indonesia (@idextratime) December 10, 2024
Fakta menariknya, lahan parkir di sekitar Allianz Stadium adalah bekas lokasi berdirinya Sydney Football Ground, neraka di mana timnas pernah dipermak Australia pada 1973 lalu. Bangunan Sydney Football Ground sendiri sudah rata seluruhnya dengan tanah sejak 1987. Tidak ada yang tersisa kecuali kenangan menyesakkan bagi timnas.
Indonesia memang belum pernah mendulang poin setiap kali away ke kandang Australia. Namun, selalu ada harapan untuk pecah telur. Dengan dukungan ribuan diaspora yang dipastikan akan datang memeriahkan dari tribun Allianz Stadium, semoga lawatan kali ini jadi milik Garuda. So, Sydney…..please be nice.
kamustimnas.com, panditfootball.com, theguardian.com, footballaustralia.com.au, socceroos.com.au


