Kabar tak sedap datang dari federasi sepakbola Spanyol, RFEF. Pada awal Oktober 2024 ini, RFEF terancam akan dihukum oleh FIFA dan UEFA. Ancaman tersebut terjadi karena kegaduhan yang sedang melanda mereka tak kunjung mereda dan menemukan titik terangnya.
Hukuman yang bisa dijatuhkan pun tak main-main, Spanyol bisa terancam gagal menggelar Piala Dunia 2030 dan klub-klub mereka terancam di-banned dari kompetisi Eropa. Jadi, tak akan ada lagi Real Madrid dan Barcelona di kompetisi antarklub terbaik sejagad raya. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Semua Gara-gara Luis Rubiales
Semua kekacauan yang terjadi di tubuh RFEF terjadi gara-gara ulah presiden lama mereka, Luis Rubiales. Mantan Presiden RFEF itu berulah dengan mencium dan memeluk pemain Timnas Putri Spanyol, Jenni Hermoso, pada saat selebrasi kemenangan Timnas Putri di ajang Piala Dunia Wanita 2023 silam.
Aksi tersebut jelas mengundang kemarahan dari berbagai pihak. Rubiales dipaksa untuk mundur. Bahkan 81 pemain putri Spanyol, termasuk 23 pemain Timnas menandatangani janji bahwa mereka tak akan bermain untuk Timnas Spanyol jika Rubiales masih jadi presiden. Tak hanya itu, FIFPro sebagai serikat pemain sepak bola pun melakukan desakan untuk menggulingkan Rubiales.
Kasus ini awalnya berjalan cukup alot karena Rubiales selalu saja punya alasan untuk berkilah dari apa yang telah dilakukannya. Barulah ketika FIFA turun tangan, Rubiales bisa ditaklukkan. Ia akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya setelah dirinya dijatuhi hukuman.
“Setelah skors yang dilakukan oleh FIFA, ditambah tindakan yang dikenakan terhadap saya, itu bukti bahwa saya tak lagi bisa kembali ke posisi saya,” ucap Rubiales dalam pernyataan, dikutip dari BBC.
Setelah Rubiales mengundurkan diri, masalah selanjutnya pun tumbuh. Pengunduran diri Rubiales ini sebenarnya sesuatu yang mendadak. RFEF belum siap untuk mengadakan pemilihan presiden yang baru. Akhirnya, dibuatlah semacam komite sementara yang tujuan utamanya adalah mempersiapkan pemilihan presiden baru. Meski secara sementara, komite ini pula yang akan menjalankan RFEF sampai presiden baru terpilih.
Komite yang didirikan September 2023 ini diketuai oleh Pedro Rocha, orang yang ternyata dipilih oleh Rubiales. Mungkin Rubiales hanya menjadikan Rocha sebagai boneka saja. Pasalnya, dengan menjabatnya Rocha, Rubiales benar-benar bisa menjadikannya sebagai perantara untuk mengatur sepak bola Spanyol.
Meskipun hanya menjabat sebagai presiden sementara, Pedro Rocha masih bisa melakukan keputusan-keputusan penting. Salah satunya adalah memperpanjang kontrak Luis de la Fuente, yang nantinya ternyata menghasilkan sebuah trofi untuk La Furia Roja. Rocha juga ikut menjadi perwakilan Spanyol dalam pertemuan yang membahas mengenai persiapan Piala Dunia 2030. Ajang yang rencananya akan melibatkan Spanyol dalam penyelenggaraannya.
Kewenangannya untuk menjalankan RFEF seakan membuat Pedro Rocha melupakan tugas aslinya, yakni menyiapkan pemilihan presiden federasi baru. Dugaan bahwa dirinya hanyalah boneka Rubiales seakan terjawab dengan sendirinya. Alhasil, tekanan kembali tertuju pada RFEF. Publik sepak bola Spanyol menagih janji. Di titik ini, posisi Rocha sebagai boneka menjadi sama rentannya dengan sang tuan, Luis Rubiales.
Spanish Football Federation President Luis Rubiales is taking heat after he kissed forward Jenni Hermoso on the lips after the team’s World Cup victory.
Hermoso initially said she “didn’t like” the kiss, but later said it was a “natural gesture of affection and gratitude.” pic.twitter.com/mtgqOYmYSP
— The Recount (@therecount) August 21, 2023
Tak Kunjung Punya Presiden Baru
Akhirnya, tekanan secara hukum langsung diajukan oleh presiden Pusat Pelatihan Nasional Spanyol (CENAFE), Miguel Galan. Ia mengajukan tuntutan kepada Pengadilan Tinggi Olahraga (CSD) dan Pengadilan Administrasi Olahraga (TAD) untuk mengeliminasi Pedro Rocha dari posisinya. Akhirnya, TAD mendesak Rocha untuk segera memberi kepastian pada Januari 2024 lalu.
Selain itu, Galan juga mendesak pengadilan untuk mengatasi pelanggaran-pelanggaran yang telah Rocha lakukan. Pelanggaran tersebut antara lain: tak mengikuti statuta federasi untuk mengadakan pemilu dan menerima gaji untuk posisi presiden secara penuh, padahal jabatannya hanya ketua sementara.
Tak hanya itu, para calon presiden lain juga mengeluhkan tindakan Rocha mengulur-ulur waktu. Mereka menyebut Rocha tak kunjung mengadakan pemilihan karena dirinya ingin mencoba menggaet dukungan terlebih dahulu agar dirinya juga bisa maju. Dengan Rocha maju, Rubiales bisa secara tidak langsung memiliki pengaruh di RFEF untuk waktu yang akan datang.
Namun, karena kekisruhan yang tak kunjung usai ini, pemerintah Spanyol akhirnya turun tangan. Pada Juli 2024, Rocha diberhentikan oleh kekuatan pemerintah dan RFEF sementara dipegang oleh pemerintah. Nah, di titik ini seharusnya Spanyol dihukum. Pasalnya, ada campur tangan pemerintah atas federasi. Seperti yang pernah terjadi di Indonesia dulu.
Setelah hampir tiga bulan diintervensi oleh pemerintah, FIFA dan UEFA turun tangan untuk memaksa RFEF segera mengadakan pemilihan presiden sebelum tahun berganti ke 2025. FIFA dan UEFA nampaknya sudah jengah dengan apa yang terjadi di Spanyol. Padahal mereka secara tidak langsung memberi kesempatan pemerintah Spanyol untuk membereskan kekacauan ini selama tiga purnama.
Pada awal Oktober lalu, FIFA dan UEFA mengadakan pertemuan dengan pihak pemerintah Spanyol. Isi tuntutannya jelas, RFEF harus secepat mungkin memiliki presiden baru. Plus, ultimatum mengenai hukuman apabila tuntutan itu tak terpenuhi pun ikut disampaikan. Sekarang, malah seantero pelaku sepak bola Spanyol yang jadi terancam.
CSD menerima tuntutan tersebut dengan senang hati. Terlebih, FIFA dan UEFA sendiri juga yakin bahwa konflik ini akan bisa segera diatasi. Sosok Vicente del Bosque sebagai kepala Komite Normalisasi RFEF memberi mereka optimisme bahwa kegaduhan ini bisa segera tuntas. Sebab, RFEF dianggap sebagai salah satu federasi sepak bola yang penting, baik di mata FIFA ataupun UEFA.
📸 Pedro Rocha, presidente de la @RFEF, y el presidente de la federación georgiana, @GeorgiaGFF, Levan Kobiashvili, han intercambiado obsequios conmemorativos antes del partido de la @sefutbol en Colonia. #Euro2024 #VamosEspaña pic.twitter.com/Ba41rvs97p
— RFEF (@rfef) June 30, 2024
Ancaman Hukuman
Lantas, apabila tuntutan tersebut tidak terlaksana, apa hukuman yang akan diterima oleh Spanyol? Hukuman yang paling jelas adalah pencabutan status tuan rumah Piala Dunia 2030. Spanyol sebagai salah satu negara yang sudah ditetapkan sejak jauh-jauh hari akan kehilangan haknya begitu saja.
Pencabutan status tuan rumah jelas menjadi sebuah kerugian tersendiri untuk RFEF maupun Spanyol itu sendiri. Bagi RFEF, kegagalan ini bisa membuat mereka kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan kucuran dana dari FIFA guna persiapan dan revitalisasi sarana yang akan dipakai untuk Piala Dunia nanti.
Sementara bagi Spanyol, kegagalan ini akan membuat mereka terancam kehilangan potensi pemasukan dari para turis yang datang untuk berkunjung.
Di level klub, Spanyol pun terancam kehilangan hak untuk mengirimkan delegasinya untuk bertarung di kompetisi Eropa. Jadi, Real Madrid dan Barcelona tak akan bisa lagi bermain di Champions League. Hal ini tentu bencana bagi klub-klub Spanyol. Nilai tawar mereka untuk menggaet pundi-pundi dari sponsor bisa merosot tajam.
Klub seperti Barcelona bisa menjerit keras jika hukuman ini terjadi. Mereka yang sedang berjuang mengumpulkan pundi-pundi uang dari Champions League, terancam kehilangan mata pencahariannya. Padahal uang revenue dari Champions League merupakan salah satu pemasukan pertandingan yang tergolong besar.
Jika hukuman ini suatu saat benar-benar kejadian, kalian jangan heran apabila pada akhirnya ada berita sebuah klub bubar. Apalagi klub yang sedang dilanda bencana ekonomi seperti Blaugrana.
https://youtu.be/tK-tCUldQyc
Sumber: BBC, The Athletic, Football Espana, Beinsport, dan Footboom 1


