Gol Ramadhan Sananta ketika Persis Solo melumat Madura United 4-0 menciptakan sebuah diskusi menarik mengenai lini penyerangan Timnas Indonesia. Gol tersebut merupakan gol pertama Sananta di Liga 1 musim ini. Yang menarik, gol itu disebut merupakan efek dari salah satu pelatihnya di Timnas.
Artinya, Ramadhan Sananta makin tajam. Dan itu berarti STY bisa mulai lebih sering memainkan Sananta di lini depan. Soliditas lini belakang Timnas Indonesia perlu diimbangi dengan ketajaman di lini depan. Sananta bisa jadi opsi ketimbang terus memaksakan Rafael Struick yang sering stuck.
Daftar Isi
Efek Pelatih Baru Timnas
Ramadhan Sananta mengakui bahwa gol tunggalnya bersama Persis Solo pada Jumat, 13 September lalu merupakan efek dari pelatih anyarnya di Timnas. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, pada bulan Agustus lalu, Shin Tae-yong datang ke Indonesia dengan membawa oleh-oleh baru bernama Yeom Ki-hun.
Mantan pemain Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2010 tersebut mendapatkan misi berat di Timnas Indonesia. Ki-hun ditunjuk sebagai pelatih penyerangan Timnas untuk mengatasi lini depan yang tumpul.
Misi tersebut sudah jelas gagal apabila kita berkaca pada dua hasil imbang melawan Arab Saudi dan Australia. Namun, apakah kedatangannya hanyalah sebuah kesia-siaan belaka? Sepertinya sih tidak. Kerja Yeom Ki-hun pelan-pelan mulai terlihat dan salah satu buktinya ada pada sosok Ramadhan Sananta.
Pemuda asal kelahiran Daik, Riau tersebut mengakui bahwa Yeom Ki-hun memiliki andil besar terhadap golnya ke gawang Madura United. Yeom Ki-hun bertanggung jawab atas ayunan kaki Sananta sehingga bola bisa meluncur deras menghujam gawang lawannya.
“Kemarin saat pertama kali datang, beliau menyampaikan bahwa finishing-nya harus begini. Jadi, selama berlatih bersama Timnas, saya banyak belajar dari dia,” sebut mantan pemain Persikabo 1973 tersebut dikutip dari Bola.
Gol tersebut jelas menjadi bukti bahwa arahan dari asisten Shin Tae-yong itu langsung dilaksanakan dengan baik oleh Sananta. Ini menunjukkan bahwa Sananta merupakan pemain yang mau belajar. Bukankah attitude seperti ini yang selalu STY tekankan?
STY selalu berujar bahwa ia memakai banyak pemain muda karena mereka mau belajar. Nah, ini buktinya sudah ada di depan mata. Tidak mungkin STY tak tahu seperti apa performa anak asuhnya di liga. Jadi, harus menunggu apa lagi agar STY bermurah hati memberi Sananta kesempatan untuk membuktikan diri?
Ramadhan Sananta sukses mencetak gol di laga Persis Solo vs Madura United (4-0), sementara Hokky Caraka, berkontribusi dalam gol PSS Sleman vs Borneo FC.
Sananta mengakui ada efek pelatih striker Timnas Indonesia yang baru, Yeom Ki-hun atas terciptanya gol perdananya di Liga 1. pic.twitter.com/sLoVC4QUCB
— turunminumid (@turunminum_id) September 14, 2024
Apakah Pemanggilan Sananta Hanya Formalitas?
Untungnya, Ramadhan Sananta ini tergolong pemain yang mau bersabar. Ia selalu menanggapi minimnya kesempatan turun ke lapangan dengan santai. Sebelumnya, pada dua laga di Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026 putaran ketiga, Sananta tak sedetik pun diberi kesempatan. Bahkan di laga melawan Australia, nama Sananta juga tak masuk daftar pemain.
Apakah jangan-jangan pemanggilan Sananta hanya formalitas belaka? Mungkin saja. Selain karena sudah terbiasa bersama STY, keberadaan Sananta bisa jadi sebuah pernyataan dari STY bahwa pemain liga lokal juga bisa masuk Timnas. Tapi apa iya sekadar masuk saja tanpa diberi menit bermain juga? Jika hanya formalitas, rasanya kok agak gimana.
Sananta sendiri memang cukup subur untuk ukuran striker lokal. Musim lalu, Sananta mampu mencetak 8 gol di Liga 1. Catatan yang setara dengan Ilija Spasojevic. Namun, Spaso sudah uzur umurnya, STY sepertinya kurang suka. Hal ini juga sepertinya terjadi pada Stefano Lilipaly. Ia tak masuk Timnas, meski dirinya merupakan pemain lokal paling subur di Liga 1.
Sebenarnya, jika STY tak mempermasalahkan kategori usia bagi pemain di liga lokal, ada dua nama yang musim lalu juga tampil impresif di posisi nomor 9. Mereka adalah Dedik Setiawan dan Yandi Sofyan Munawar. Keduanya sama-sama mencetak 9 gol dan menjadi pemain nomor 9 lokal dengan gol terbanyak. Namun, sekali lagi, usia keduanya sudah kepala tiga.
Dengan usia, performa, dan attitude yang sesuai, STY jelas tak punya pilihan lain selain mengambil Ramadhan Sananta. Kalaupun tidak, palingan STY ambil Dimas Drajad atau Hokky Caraka. Tapi masuk ke skuad Tim Garuda pun, kesempatan bermain masih saja tak memihak pada Sananta. Nama Rafael Struick masih menjadi pilihan utama.
Milomir Seslija dan perwakilan manajemen mewakili 𝗟𝗮𝘀𝗸𝗮𝗿 𝗦𝗮𝗺𝗯𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘄𝗮 setelah berhasil meraih posisi ketiga Piala Presiden 2024. Ramadhan Sananta yang tampil produktif berhasil raih gelar top skor dengan mengemas tiga gol. #LaskarSambernyawa#BersamaSambernyawa pic.twitter.com/HvQQO2snBi
— PERSIS (@persisofficial) August 5, 2024
Apakah Sananta Bukan Tipe Kesukaan STY?
Jika usia, performa, dan attitude berhasil membuat Sananta lolos seleksi untuk masuk ke skuad asuhan STY, lalu hal apa yang membuatnya tak bisa tembus ke 11 pertama? Apakah karena gaya bermainnya tak sesuai dengan skema? Hmm, bukan tidak mungkin juga.
Coba kita menengok sebentar ke belakang. Kita lihat nama-nama yang pernah Shin Tae-yong pakai untuk mengisi pos nomor 9 di Timnas senior. Sejak laga pertamanya melawan Oman pada 29 Mei 2021, STY pernah memakai beberapa nama seperti Kushedya Hari Yudo, Dedik Setiawan, Ezra Walian, Hanis Sagara, Muhammad Rafli, Dimas Drajad, Hokky Caraka, Rafael Struick, Ilija Spasojevic, dan Ramadhan Sananta.
Kalian bisa melihat apa kesamaan dari kebanyakan pemain tersebut? Ya, betul, banyak dari pemain nomor 9 tadi merupakan tipe pemain yang bisa bergerak melebar. Hampir dari semua nama tadi bukanlah tipe striker klasik yang hanya menerima dan melesatkan bola. Namun, banyak dari mereka merupakan striker yang bisa ikut andil dalam bangun serangan.
Praktis hanya dua nama terakhir yang tak memiliki gaya bermain natural seperti yang Shin Tae-yong inginkan. Ilija Spasojevic dan Ramadhan Sananta merupakan tipe bomber klasik. Meskipun keduanya mampu untuk ikut andil membangun serangan, kemampuan mereka untuk hal ini jelas terbatas. Sebab, secara tugas pokok dan fungsi, Spaso dan Sananta memang lebih pas untuk diandalkan mencetak gol saja.
Ketidakcocokan gaya main Sananta dengan skema STY sepertinya menjadi pokok masalah utama kenapa ia jarang diberi kesempatan bermain. Namun, kalau tolok ukurnya statistik gol Sananta unggul di atas Rafael Struick, striker andalan STY. Dalam 10 pertandingan Timnas senior, Sananta mampu mencetak 5 gol, sementara Struick? Ia belum mencetak satu gol pun dalam 14 laga.
Pemain seperti Ramadhan Sananta ini juga sebenarnya bisa dipakai oleh Shin Tae-yong ketika bermain di kondisi lapangan seperti GBK kemarin. Ia tak butuh banyak adaptasi untuk lapangan model begini, lah wong sudah jadi makanan sehari-hari.
Menurut Dimas Drajad, Bojan Hodak maupun Shin Tae-yong tipe yang ada kalanya bercanda. Uniknya, ada persamaan dari cara kedua pelatih tersebut melakukan candaanhttps://t.co/yJI2wXuGcG
— BolaSport.com (@BolaSportcom) July 20, 2024
Waktunya STY Beradaptasi
Lalu, apakah sebenarnya malah Shin Tae-yong sendiri yang harus berbenah diri? Menengok dari tumpulnya lini serang Timnas, mungkinkah STY mau untuk beradaptasi? Dalam artian, STY mencoba bermain menyesuaikan dengan sumber daya yang ada. Mirip-mirip Carlo Ancelotti gitulah.
Sebab, Shin Tae-yong tak bisa selamanya mengandalkan hasil imbang untuk membawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia. Okelah kita punya lini pertahanan yang menawan, tapi kalau kita terbobol, yakin punya cara untuk menyamakan keunggulan?
Oleh karena itu, mungkin ini juga merupakan waktu untuk STY mencoba strategi baru. Apabila melihat laga melawan Australia lalu, lini depan Timnas benar-benar tak memiliki taji. Saat Timnas mencoba melakukan serangan balik, mereka tak punya target untuk mengirim umpan.
Nah, Sananta sebetulnya bisa dipakai untuk situasi seperti ini, daripada Rafael Struick yang bahkan di laga melawan Australia tak menciptakan satu pun tembakan tepat sasaran.
Sumber: CNN, Bola, Bolasport, Transfermarkt dan iNews


