Ketika Real Madrid Diremehkan Pep Guardiola Saat Datangkan Vinicius

spot_img

Layaknya isi hati manusia yang mudah berubah, performa para pemain sepakbola juga bisa berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Di suatu hari, mungkin ia menjadi pemain terburuk di lapangan. Namun, musim depan, bulan depan, atau bahkan esok hari, akan lain ceritanya. Sang pemain bisa saja menjadi yang terbaik di lapangan di kemudian hari.

Semua tergantung pada usaha sang pemain itu sendiri. Itu lah yang dipercaya oleh bintang Real Madrid, Vinicius Jr. Jauh sebelum menjadi tulang punggung lini depan Madrid, Vini menjalani kehidupan yang berat. Tak dihargai, dihina, diremehkan, hingga tak diinginkan oleh rekan satu tim.

Salah satu momen yang cukup menggemparkan jagad media sosial kala itu adalah ketika dirinya dikritik oleh Pep Guardiola dan tak disukai oleh rekan satu timnya sendiri. Lantas, bagaimana Vini menghadapi kenyataan pahit itu? Berikut adalah kisah di mana Real Madrid yang dihina karena datangkan Vinicius.

Talenta Vini Menarik Perhatian

Lahir pada 12 Juli 2000 di Sao Goncalo, Brazil, pemain yang memiliki nama lengkap Vinícius José Paixão de Oliveira Júnior sudah melejit di persepakbolaan Brazil. Namanya mulai dibicarakan oleh banyak orang setelah tampil apik bersama tim U-13 klub lokal Brazil, Flamengo. Di usia yang masih belia, Vini juga sudah masuk tim nasional.

Ia sukses membawa timnas Brazil U-15 memenangkan kejuaraan U-15 Amerika Selatan pada 2015. Pencapaian Vinicius yang menarik perhatian dunia tak berhenti di situ. Puncaknya, saat Vini membawa Timnas Brazil U-17 menjuarai turnamen antar negara se-Amerika Selatan pada tahun 2017.

Vinicius jadi pemain yang paling menonjol di skuad Negeri Samba. Itu dibuktikan dengan penghargaan individu yang diraihnya. Selain jadi pemenang, Vini juga menggondol gelar pemain terbaik sekaligus pencetak gol terbanyak dengan torehan tujuh gol. Di bawah asuhan Carlos Amadeu, Vini mencatatkan 17 gol dari 19 penampilan selama membela Timnas Brazil U-17

Sang pelatih pun tanpa ragu memuji anak asuhnya. Amadeu mengatakan bahwa Vini telah memiliki segalanya untuk menjadi pemain bintang suatu saat nanti. Ia telah memiliki pemahaman taktik dan kemampuan olah bola yang cukup untuk tampil di tim nasional senior atau bermain untuk klub top Eropa.

Mendengar pernyataan yang begitu meyakinkan, beberapa klub top Eropa mulai memantau situasi Vinicius. Mereka berbondong-bondong menerbangkan para tim pencari bakat untuk menonton pertandingan Vinicius bersama Flamengo muda. Saat itu, usianya masih 16 tahun. Jadi, Vini belum pernah mentas di level senior bersama Flamengo.

Diangkut Real Madrid

Munculnya ketertarikan dari banyak klub Eropa justru membuat Flamengo waspada. Mereka enggan kehilangan Vinicius begitu saja. Di saat rumor di media kian liar, manajemen Flamengo justru menyusun kontrak baru. Kali ini, mereka menyertakan klausul pelepasan untuk Vini. Tak tanggung-tanggung, 45 juta euro atau hampir Rp800 miliar jadi jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh klub yang serius menginginkannya.

Dengan bandrol segitu, Vini langsung menjadi pemain Brazil termahal kedua setelah Neymar yang dihargai 88 juta euro saat diboyong Barcelona dari Santos pada tahun 2013 silam. Pada tahun 2017, itu jadi angka yang teramat tinggi. Apalagi, Vini masih berusia 16 tahun. Orang gila mana yang akan mengeluarkan uang segitu untuk bocah yang bahkan belum legal secara hukum?

Jelas jawabannya adalah Real Madrid. Klub ibukota Spanyol itu jadi satu-satunya klub yang tak beranjak dari kursi penonton saat mendengar kabar bahwa harga klausul Vinicius sudah ditingkatkan. Florentino Perez tetap meminta Juni Calafat untuk tetap stay di Brazil untuk memantau Vini.

Setelah mendapat approval dari Calafat, perwakilan Madrid yang lain langsung diterbangkan ke Brazil untuk mengadakan diskusi dengan manajemen Flamengo. Satu-satunya syarat untuk mengamankan tanda tangan Vini pun dipenuhi oleh Madrid. Pemilik gelar Liga Champions terbanyak itu menebus klausul Vini.

Setelah diskusi panjang, melalui situs resmi klub Los Blancos menuliskan bahwa mereka sudah mencapai kesepakatan dengan Flamengo untuk transfer Vini. Sang pemain akan sah menjadi milik Madrid per 12 Juli 2018, atau saat usianya sudah 18 tahun. Namun, Vinicius akan tetap membela Flamengo hingga 2019. Meski begitu, tak menutup kemungkinan jika nantinya Vini bisa terbang ke Spanyol lebih cepat dari perkiraan.

Pep Guardiola Merespon

Kesepakatan antara Flamengo dan Real Madrid langsung menjadi bahan pergunjingan di jagad media sosial. Beberapa pengamat dan praktisi sepakbola bahkan tak segan mengomentari transfer ini. Salah satu komentar yang paling menarik perhatian saat itu datang dari manajer Manchester City, Pep Guardiola.

Sebetulnya, Guardiola berniat untuk memberikan pendapatnya mengenai situasi transfer saat itu secara keseluruhan, tanpa menyudutkan salah satu pihak. Terlebih, setelah City dinobatkan sebagai salah satu klub dengan pengeluaran paling banyak di dunia. Dengan sokongan dana melimpah dari Timur Tengah, City bisa bebas belanja mendatangkan pemain yang mereka inginkan.

Mantan pelatih Barcelona itu menegaskan bahwa transfer pemain sudah melibatkan banyak uang. Ia juga membahas tentang betapa tingginya inflasi harga pemain dalam beberapa tahun terakhir. Namun, karena terlalu asik berbicara Pep pun sampai menyinggung beberapa transfer yang baru terjadi, termasuk mempertanyakan harga transfer Vinicius ke Real Madrid.

Mengutip Four Four Two, Pep merasa bahwa angka segitu adalah jumlah yang sangat besar bagi seseorang yang sama sekali belum pernah memainkan pertandingan di level senior. Dirinya meragukan kebijakan transfer El Real. Dalam laporan yang sama, FFT juga menuliskan bahwa kebanyakan klub Spanyol memang lebih senang mengeluarkan banyak uang tanpa memikirkan resiko di kemudian hari.

Awal yang Mengecewakan

Meski menimbulkan banyak respons negatif dari banyak orang, Real Madrid tetap percaya bahwa Vinicius adalah calon pemain besar di masa depan. Manajemen percaya bahwa Vini bisa jadi penerus atau mungkin pesaing Neymar di tim nasional Brazil dalam dua sampai tiga tahun kedepan.

Tapi tampaknya Madrid harus bersabar karena kesan pertama yang ditunjukan Vini cukup buruk. Sebelumnya, El Real memutuskan untuk memangkas masa pinjaman Vini. Mereka menerbangkan Vini ke Spanyol lebih cepat dari jadwal yang sudah ditetapkan. Alhasil, saat usianya baru 18 tahun, ia langsung diperkenalkan di Santiago Bernabeu.

Sudah menjadi tradisi bagi Los Merengues ketika membawa pemain baru ke Spanyol. Siapa pun yang diperkenalkan di Bernabeu wajib menunjukan skill olah bolanya. Yaaa, minimal juggling tipis-tipis lah ya. Apalagi, Vini adalah pemain asal Brazil. Pasti punya banyak pilihan skill untuk dipamerkan kepada publik Bernabeu.

Meski terlihat malu-malu, Vini cukup mahir dalam melakukan juggling bola. Tapi, cuma itu yang bisa dia lakukan. Ketika mencoba trik lain justru gagal dan terlihat kaku. Wajar, mungkin grogi karena dilihat oleh ribuan fans yang hadir di stadion. Setidaknya tak seburuk perkenalan Theo Hernandez.

Momen perkenalan belum seberapa, karena sudah ada rintangan yang lebih besar telah menanti Vinicius. Jersey putih Madrid tampaknya cukup berat bagi Vini yang baru menginjakkan kaki di Eropa. Hari-harinya di Spanyol dipenuhi ekspektasi setinggi langit. Ia dipaksa menjadi sosok yang luar biasa meski baru berusia 18 tahun.

Awal-awal bermain untuk Real Madrid, Vinicius cukup kesulitan. Berposisi sebagai pemain sayap, Vinicius sering salah dalam mengambil keputusan. Ia bahkan sempat dicap sebagai pemain yang egois karena taunya cuma dribbling tanpa memberikan produk akhir yang jelas. 

Tolok ukur seorang pemain depan adalah kontribusinya terhadap gol. Tapi Vini tak menunjukan potensi untuk memuaskan semua pihak. Di bawah asuhan Santiago Solari, Vini mengantongi 18 penampilan di La Liga musim 2018/19. Yang bikin mengecewakan adalah jumlah golnya.

Dari 18 laga, Vini hanya mencetak satu gol. Begitu pun di musim-musim berikutnya. Total, selama tiga musim berseragam El Real, Vini hanya mencetak tujuh gol di Liga Spanyol. Itu statistik yang buruk untuk pemain yang digadang-gadang bakal jadi masa depan sepakbola Brazil.

Tak Disukai Rekan Satu Tim

Situasi Vinicius kian memburuk pada tahun 2020. Saat itu, Real Madrid sedang memainkan laga melawan Borussia Monchengladbach di babak penyisihan grup Liga Champions 2020/21. Keraguan akan kualitas Vinicius kian membesar manakala rekan satu timnya, Karim Benzema tertangkap kamera sedang berbicara kepada Ferland Mendy soal ketidaksukaannya terhadap Vinicius.

Di jeda babak pertama, keduanya dilaporkan berbicara dalam bahasa Prancis dan menjelek-jelekan Vinicius di lorong stadion. “Dia hanya melakukan apa yang dia inginkan. Dia bermain seperti sampah. Jangan bermain dengannya, Saudaraku. Dia bermain melawan kita,” kata Benzema, sebagaimana diterjemahkan oleh media Prancis, Telefoot.

Karena menggunakan bahasa Prancis, Benzema berani mengatakan itu tepat di depan Vinicius yang berdiri hanya sekitar dua meter darinya. Pernyataan Benzema dibuktikan oleh statistik yang diunggah oleh OptaJose. Di 45 menit kedua, penyerang asal Prancis itu tercatat tidak sekalipun melepaskan umpan akurat pada Vinicius.

Meski kabarnya Benzema sudah meminta maaf atas perbuatannya, percakapannya dengan Mendy tersebut menandakan bagaimana Benzema yang begitu tidak puas dengan permainan Vinicius. Munculnya percakapan itu pasti karena Wak Haji sudah tak tahan dengan Vini yang tak bisa diajak kerjasama saat tim membutuhkan gol.

Dibantu Carlo Ancelotti

Musim 2020/21 pun berakhir tanpa gelar bagi Real Madrid dan Vinicius. Situasi ini jadi pembahasan di rapat tahunan El Real. Untuk memperbaiki musim 2021/22, alhasil manajemen menunjuk Carlo Ancelotti untuk menggantikan Zinedine Zidane yang memutuskan hengkang.

Sebelum bergabung lagi dengan Madrid, Ancelotti sudah lebih dulu mempelajari calon pemain-pemainnya. Tak terkecuali Vinicius. Don Carlo penasaran, kenapa Vini tak kunjung mencapai potensi maksimalnya. Sang pelatih pun mengadakan pertemuan empat mata dengan Vini. Ancelotti menaruh harap tinggi padanya dan Vini bersedia untuk meningkatkan kinerjanya.

Di bawah asuhan Carlo Ancelotti, Vini mengubah bagaimana cara ia bermain. Layaknya pemain muda lainnya, ia merupakan pemain yang meledak-ledak. Terlebih dengan kecepatan yang ia miliki, Vini selalu berusaha memegang bola lebih lama dari pemain lain. Nah, sikap demikian lah yang justru menghambat perkembangan Vini.

Vinicius Mulai Memperbaiki Diri

Ancelotti menyadari ada yang salah dari cara Vini membawa bola. Ancelotti mengatakan pada Vini untuk mencoba menggiring bola dengan lebih efisien. Bukan sekadar gocek-gocek dan melewati lawan. Tapi, agar dirinya bisa lebih sering terlibat dalam permainan. Vini pun mencatat baik-baik arahan sang allenatore.

Bersama tim kepelatihan, Vini akhirnya menemukan porsi latihan yang tepat untuk meningkatkan sentuhannya terhadap bola. Selain itu, ia juga belajar untuk lebih bijaksana dalam menghadapi situasi satu lawan satu. Semua itu dilakukan agar dribble cepatnya tetap efisien dalam menciptakan peluang di kotak penalti lawan.

Guardiola pun Mengakui Kehebatan Vini

Perlahan namun pasti, tusukan-tusukan yang Vinicius lancarkan saat pertandingan semakin membaik. Ia tak lagi menyia-nyiakan peluang dengan terlalu lama menggiring bola atau sekadar melakukan dribble yang tidak perlu. Itu dibuktikan dengan statistik di musim 2021/22 dimana Vini mencatatkan 17 gol dan 13 assist di La Liga. Berbanding jauh dengan musim sebelumnya yang hanya mencetak tiga gol.

Vini menjadi bagian penting dalam skuad Real Madrid yang berhasil mengawinkan gelar La Liga dan Liga Champions musim 2021/22. Setelah itu, peran pemain berkebangsaan Brazil itu tak tergantikan di lini depan El Real. Dirinya bahkan membangun koneksi yang luar biasa dengan Karim Benzema, sosok yang sempat tak menginginkannya.

Di sisi lain, Pep Guardiola yang awalnya sempat meremehkan Vini pun mulai mengakui kehebatannya. Pujian pun terlempar saat Manchester City akan menghadapi Real Madrid di perempat final Liga Champions musim 2023/24. 

Dalam konferensi pers jelang laga, mantan pelatih Barcelona itu menyebut Vini sebagai salah satu winger terbaik saat ini. Bahkan, Pep mengaku bahwa tak ada pemain Manchester City yang mampu menandingi kecepatannya, karena Kyle Walker sedang cedera. Jika berkaca dari perkataannya waktu itu, Pep seharusnya meminta maaf pada Vini.

Sumber: ESPN, FFT, Marca, The Sun, Goal

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru