Mengutip Football Italia, Stevan Jovetic berkata bahwa dirinya tidak akan berselebrasi jika mencetak gol dan memenangkan pertandingan final Conference League nanti. Sikap tersebut muncul lantaran Jovetic merupakan mantan pemain Fiorentina. Maka dari itu ia ingin menunjukan cinta dan rasa hormat kepada klub dan fans yang hadir di stadion nanti.
Namun, apa yang membuat Jovetic sangat percaya diri bahwa Olympiakos akan memenangkan turnamen ini? Padahal, Fiorentina bukan klub sembarangan. Mereka adalah finalis UECL musim lalu. Untuk menjawab itu, berikut adalah preview laga final Conference League musim 2023/24.
Daftar Isi
Pertemuan Pertama
Pertandingan ini jadi kali pertama Fiorentina dan Olympiakos bertemu, maka tak ada statistik yang menunjukan head to head. Ini suatu hal yang wajar, mengingat Fiorentina bukan tim langganan mentas di kompetisi Eropa.
Musim 2022/23 bahkan jadi musim kembalinya Fiorentina di kompetisi Eropa setelah lima tahun absen. Comeback-nya pun hanya di Conference League karena Fiorentina cuma bisa finis di urutan ketujuh Serie A musim 2021/22. Menariknya, mereka justru menampilkan performa menawan di Conference League musim lalu dengan menjadi runner up.
Meski demikian, itu tetap menjadi sejarah bagi Fiorentina. Karena musim tersebut jadi kali pertama La Viola tampil di final kompetisi Eropa setelah terakhir kali di Europa League tahun 1990.
Berbeda dengan Fiorentina yang jarang main di kompetisi Eropa, selama bertahun-tahun lamanya, Olympiakos telah menjadi wakil Yunani di berbagai ajang kompetisi Eropa. Bahkan, melalui debutnya di Piala Eropa musim 1959/60, klub berjuluk Thrylos itu jadi klub Yunani pertama yang berpartisipasi di kompetisi Eropa.
Selama keikutsertaannya, pencapaian terbaik Thrylos adalah mencapai babak perempat final Liga Champions. Itu terjadi pada musim 1998/99. Olympiakos sebetulnya hampir lolos ke semifinal melalui keunggulan gol tandang andai Antonio Conte tak mencetak gol yang memaksa laga leg kedua di kandang Olympiakos berakhir dengan skor 1-1.
Perjalanan Fiorentina ke Final
Nah, pada musim 2023/24, baik Fiorentina dan Olympiakos kembali menampilkan performa yang menawan di kompetisi Eropa sehingga mencapai final Conference League. Meski tujuan mereka sama, jalur yang ditempuh ternyata berbeda. Kita bahas satu-satu, mulai dari Fiorentina terlebih dahulu.
Pemilik dua gelar Serie A ini sebetulnya cukup beruntung masih bisa berlaga di kompetisi Eropa musim ini. Itu karena tempat di Conference League musim 2023/24 merupakan hibahan dari Juventus. Juve finis di urutan ke-7 klasemen akhir Serie A musim sebelumnya. Namun, keikutsertaannya dianulir UEFA usai dinyatakan melanggar Financial Fair Play.
Maka dari itu, jatah UECL diberikan ke Fiorentina yang finis di posisi kedelapan klasemen Serie A. Fiorentina beruntung karena bergabung dengan tim medioker seperti Ferencvaros, Genk, dan Cukaricki di Grup F. Melawan tim-tim tersebut, Fiorentina tak terkalahkan. Dari enam laga, La Viola mengantongi tiga kemenangan dan tiga hasil imbang untuk menjadi pemuncak klasemen Grup F.
Pada babak 16 besar, Fiorentina hanya bersua dengan wakil Israel, Maccabi Haifa. Meski diprediksi menang mudah, ternyata Maccabi mampu memberikan perlawanan sengit dalam dua leg. Alhasil, tim asal Firenze tersebut harus puas dengan perolehan agregat tipis 5-4. Sementara di babak perempat final, Fiorentina berhasil menaklukan Viktoria Plzen dengan skor 2-0.
Lawan terberat La Viola mungkin bisa dibilang baru tersaji di babak semifinal, kala harus menghadapi Club Brugge. Wakil Belgia itu tampil perkasa dengan keluar sebagai juara Grup D. Sempat kesulitan di leg pertama, pada akhirnya Fiorentina mengunci kemenangan dengan agregat 4-3. Hasil ini memastikan Fiorentina merebut tiket final Conference League untuk kedua kalinya secara beruntun.
Olympiakos Buangan dari Europa League
Lantas bagaimana dengan Olympiakos? Berbeda dengan Fiorentina yang berjuang dari fase grup, Olympiakos merupakan tim buangan dari Europa League. Berada di Grup A bersama dengan West Ham, SC Freiburg, dan Backa Topola. Olympiakos akhirnya duduk di posisi ketiga dan harus menerima nasib turun ke Conference League.
Menjadi tim buangan, Olympiakos harus melakoni babak play off melawan runner up Grup F, Ferencvaros. Dirasa bukan levelnya, Olympiakos lolos ke babak 16 besar setelah menang agregat 2-0 atas tim asal Hungaria tersebut. Nah, di babak 16 besar lah Olympiakos menerima perlawanan alot.
Menghadapi Maccabi Tel Aviv di leg pertama, Olympiakos harus mengalami kekalahan 1-4 yang memalukan di kandang sendiri. Menghadapi kemustahilan, Olympiakos berhasil bangkit di leg kedua. Bermodal keyakinan dan sedikit bantuan dari Dewi Fortuna, Thrylos menundukkan Tel Aviv dengan skor 6-1 lewat babak perpanjangan waktu.
Dengan agregat 7-5, Olympiakos berhasil lolos ke babak berikutnya. Di perempat final dan semifinal, cobaan mereka tak kalah berat. Thrylos harus mengalahkan Fenerbahce melalui babak adu penalti dan meredam perlawanan alot dari tim Inggris yang sedang naik daun, Aston Villa di semifinal. Dengan begitu, ini jadi final Conference League pertama bagi Olympiakos
Kondisi Kedua Tim
Jelang laga final, kedua pelatih telah mempersiapkan pemain-pemain terbaiknya. Terutama Vincenzo Italiano yang ingin menjadikan final ini sebagai pelipur lara atas kegagalan di musim lalu. Fiorentina diprediksi akan hadir dengan skuad lengkap. Untuk saat ini, hanya Ricardo Sottil yang diragukan tampil. Sisanya, siap berjuang sampai titik darah penghabisan.
Pemain yang harus diwaspadai oleh Olympiakos adalah Nicolas Gonzalez. Pemain asal Argentina itu jadi pemain paling produktif di skuad Fiorentina saat ini. Meski berposisi sebagai pemain sayap, dirinya sudah mengemas 15 gol musim ini. Sebelas diantaranya dicetak di Serie A. Lantas, bagaimana performanya di Conference League? Nicolas telah berkontribusi dalam empat gol Fiorentina di kasta ketiga kompetisi Eropa tersebut.
Situasi yang cukup sulit justru dialami oleh Olympiakos. Mereka diprediksi tak akan diperkuat oleh beberapa pemain pentingnya. Menariknya, hal tersebut bukan karena cedera, melainkan karena pemain-pemain itu tidak memenuhi syarat untuk membela Olympiakos di Conference League musim ini.
Pemain-pemain itu antara lain Gelson Martins, Ivan Brnic, Jovane, Rúben Vezo, Giulian Biancone, Fran Navarro, dan Nelson Abbey. Dinyatakan tidak memenuhi syarat karena sebelum bergabung dengan Olympiakos, mereka sudah pernah tampil untuk tim lain di kompetisi yang sama atau belum didaftarkan ke skuad Eropa karena baru bergabung pada bulan Januari kemarin.
Meski begitu, Luis Jose Mendilibar tetap bisa memainkan pemain-pemain bintang yang lain, seperti Ayoub El Kaabi. Dengan sepuluh golnya, pria berkebangsaan Maroko itu berstatus sebagai top skor sementara di Conference League musim ini.
Ambisi Fiorentina di Tanah Para Dewa
Kedua tim memang sama-sama berambisi untuk menjuarai kompetisi ini. Tapi, Fiorentina jadi yang lebih berkepentingan. Mereka enggan jatuh di lubang yang sama untuk kedua kali. Musim lalu, boleh jadi pembelajaran. Tapi, musim ini? Gelar Conference League adalah harga mati.
Di tengah misi wajib menang, rintangan yang dihadapi justru makin berat. Yang akan dihadapi Fiorentina bukan hanya sebelas orang di lapangan. Melainkan seluruh masyarakat Yunani. Karena laga final nanti akan diselenggarakan di Stadion Agia Sophia, Athena, Yunani.
Jelas, dukungan publik Yunani bakal menjadi mimpi buruk bagi Fiorentina nanti. Apalagi, kita juga tahu bahwa fans Olympiakos dikenal brutal dalam memberikan teror pada lawan-lawannya.
Hambatan yang akan dihadapi bukan itu saja. Vincenzo Italiano akan menghadapi Jose Luis Mendilibar, pelatih yang berpengalaman di kompetisi Eropa. Pengalamannya bukan sebatas jumlah laga, melainkan gelar juara. Mendilibar adalah sosok di balik kejayaan Sevilla di Europa League musim lalu.
Meski baru menangani klub pada bulan Februari kemarin, Mendilibar cukup pede. Ia percaya bahwa dirinya bisa menularkan kesuksesannya di kancah Eropa kepada Olympiakos. Toh, siapa yang tak mau mengantarkan timnya juara Eropa di hadapan publik sendiri.
Sumber: UEFA, 90min, Football Italia, Olympiacos


