Mari kita memulainya dengan kalimat yang bisa membesarkan hati Arsenal dan para fansnya. Kalau boleh jujur, sudah sepantasnya Arsenal mengakhiri musim yang luar biasa dengan pencapaian yang tak kalah luar biasanya.
Tak seperti musim lalu, musim ini, Arsenal berusaha semaksimal mungkin untuk meraih titel Premier League yang lebih dari 20 tahun tidak mereka dapatkan. Namun, yah, hasil memang tidak pernah mengkhianati usaha, tapi ia bisa mengkhianati Arsenal.
Bukan mereka yang menjadi juara di akhir musim, tapi Manchester City. Bagaimana The Citizens meraih gelar keempatnya secara beruntun? Dan yang paling penting, bagaimana pasukan Josep Guardiola sekali lagi mengalahkan Arsenal dalam perburuan gelar?
Daftar Isi
Arsenal yang Konsisten Hingga Akhir Musim
Kendati gagal, kita tak bisa menafikan performa Arsenal di musim ini. The Gunners punya konsistensi yang sedikit lebih baik dari musim lalu. Setidaknya, bagi penantang gelar, menjadi lebih konsisten daripada musim lalu, sangatlah perlu.
Musim ini, jarak poinnya dari Manchester City lebih tipis. Kedua tim cuma terpaut dua poin saja. Sementara musim lalu, Arsenal yang finis di peringkat kedua berjarak lima poin dari Manchester City. Itu baru soal poin. Menjaga gawang supaya tidak kebobolan dan perihal mencetak gol juga ditingkatkan oleh The Gunners.
You pushed us all the way, Gooners.
A journey to remember. This is just the beginning. pic.twitter.com/ePdzVtkJlh
— Arsenal (@Arsenal) May 19, 2024
Lihat saja, di akhir musim, baik Arsenal maupun Manchester City punya selisih gol yang sama, yaitu 62 gol. Musim lalu, dari April hingga Mei, selain telan tiga kekalahan termasuk melawan Nottingham Forest, Arsenal juga gagal memenangkan laga melawan West Ham, Liverpool, dan Southampton.
Sementara musim ini, pasukan Mikel Arteta membungkus tahun 2024 dengan hanya kalah sekali, yakni melawan Aston Villa. Anak asuh Mikel Arteta juga dua kali membuat Manchester City tak bisa menang. Dua kali menghadapi Arsenal, City kalah sekali dan imbang satu kali.
Manchester City yang Sempat Terpuruk
Di lain tempat, Manchester City sebenarnya tidak terlalu superior sepanjang musim ini. Bahkan dalam rentang waktu tertentu, City mengalami masa-masa sulit. Katakanlah dari September hingga Desember 2023. Pada titimangsa tersebut, Manchester City gagal memenangkan pertandingan yang seharusnya mereka menangkan.
Misalnya, ketika berkunjung ke Molineux. Alih-alih menang, pasukan Josep Guardiola justru bertekuk lutut di hadapan Wolverhampton Wanderers. Sepekan berikutnya, The Citizens malah kalah dari Arsenal.
Manchester United won against Wolves
Manchester City lost against WolvesNow who’s the best Team in England again? pic.twitter.com/SguOZtJWJK
— Ghana Yesu (@GhanaYesu_) September 30, 2023
Tentu kalian masih ingat ketika Manchester City tak berdaya di hadapan Aston Villa. Nah, kekalahan atas Aston Villa pada 6 Desember 2023 itu menjadi laga keempat secara beruntun yang tak bisa dimenangkan City, setelah ditahan imbang Chelsea, Liverpool, dan Tottenham Hotspur.
Atas hasil itu, City bahkan terlempar ke posisi keempat. Berada di bawah Aston Villa, sedangkan Arsenal bertahta di puncak klasemen. Keterpurukan City itu sempat menjadi perbincangan hangat di mana-mana, termasuk Starting Eleven Story.
Penulis 90 Minutes, James Cormack kala itu tak segan menyebut kalau musim ini bisa menjadi musim terburuk The Citizens era Josep Guardiola. Kerapuhan City kala itu salah satunya karena mereka mudah kebobolan. City juga kehilangan beberapa pemain kunci seperti Kevin de Bruyne, Erling Haaland, Rodri, hingga John Stones.
No Rodri no party 😒 pic.twitter.com/4iJHU61w5i
— Special tips (@Special_tipx) December 7, 2023
Selain Rodri, kebanyakan pemain City absen karena cedera. Gelimpangnya City melahirkan prediksi liar soal siapa yang akan mengambil trofinya. Arsenal, Liverpool, Tottenham Hotspur, bahkan Aston Villa disebut-sebut bisa merebut supremasi Manchester City. Namun, apa yang terjadi? Mereka justru liyut, tak terkecuali Arsenal.
Arsenal Gagal Memanfaatkan Momentum
Meriam London tidak berhasil memanfaatkan momentum keterpurukan City untuk memastikan gelar lebih cepat. Padahal musuh-musuh yang dihadapi Arsenal dalam rentang waktu saat City terpuruk tidaklah sulit. Paling cuma Liverpool yang berpotensi menghabisi mereka.
Namun, dasar Arsenal. Daripada mengisi meriam dengan peluru besi, mereka malah mengisinya dengan bola karet. Laga yang mestinya dapat dimenangkan, justru kalah. Arsenal dibekuk Newcastle. Arsenal juga terkapar di hadapan Aston Villa. Lalu di ujung tahun 2023, Arsenal justru keok atas West Ham di markasnya sendiri. Juga kalah dari Fulham.
Liverpool remain top of the Premier League table after a huge West Ham victory over London rivals Arsenal at the Emirates 👀⚒️ pic.twitter.com/ioCmSoqnVw
— Sky Sports Premier League (@SkySportsPL) December 28, 2023
Musim ini Arsenal tidak bisa memenangkan 10 laga mereka. Rinciannya, lima kali remis dan lima kali kalah. Nah, delapan dari 10 laga itu, kinerja Arsenal sangat buruk, dua di antaranya tatkala keok atas West Ham dan Aston Villa. Sebagian besar dari 10 laga itu, Arsenal sebenarnya mampu mendominasi permainan.
Akan tetapi, mereka tak becus memanfaatkan peluang. Contoh saja, dalam empat laga pada periode Natal, yakni melawan Aston Villa, Brighton, Liverpool, dan West Ham, Arsenal cuma bisa mencetak tiga gol. Padahal di empat laga itu, Arsenal melepas sedikitnya 81 tembakan.
Busuk dalam mengonversi peluang merugikan diri sendiri dalam perebutan gelar. Betul bahwa Sir Alex Ferguson pernah mengatakan kalau menyerang bisa memenangkan pertandingan, tapi bertahan bisa membawakan gelar. Namun, Fergie itu orang lama, dan omongannya tak selamanya relevan.
Arsenal have not lost a Premier League game against a ‘Big Six’ team this season:
◉ (H) 3-1 vs. Man Utd
◉ (H) 2-2 vs. Spurs
◉ (H) 1-0 vs. Man City
◉ (A) 2-2 vs. Chelsea
◉ (A) 1-1 vs. Liverpool
◉ (H) 3-1 vs. Liverpool
◉ (A) 0-0 vs. Man City
◉ (H) 5-0 vs. Chelsea
◉ (A)… pic.twitter.com/QGjebYuoKO— Squawka (@Squawka) April 28, 2024
Bertahan mungkin masih bisa memenangkan gelar di Italia. Tapi di Liga Inggris hari ini, tim yang tak mampu mencetak gol jangan harap bisa memenangkan gelar. Itulah kenapa Manchester City bisa memenangkan Premier League lagi.
Mereka tak hanya fokus bertahan tapi juga memburu gol. Lihat saja, di laga terakhir, ketika hanya perlu menang pun, City justru menuntaskannya dengan kemenangan telak atas West Ham.
Titik Balik Manchester City
Ketika Arsenal tak memanfaatkan momentum, City keburu balik ke setelan pabrik. Pemain kunci sudah kembali. Pemain baru seperti Josko Gvardiol nyetel dengan permainan Guardiola. Titik baliknya terjadi kala Guardiola dan seluruh penggemar di Etihad bersukacita menyambut kembalinya Kevin de Bruyne.
KDB kembali dari cedera hamstring dan membantu City mengalahkan Huddersfield di Piala FA. Guardiola cerdik memainkan De Bruyne sebentar saja di laga itu. Ia disimpan di laga yang lebih krusial, menghadapi Newcastle di Liga Inggris.
Sakatlıktan döndükten sonra Kevin De Bruyne
🅰️ Huddersfield
⚽🅰️ Newcastle
❌ Tottenham
🅰️ Burnley
🅰️ Brentford
🅰️ Everton
⚽ Kopenhag pic.twitter.com/X1W8QGSV8y— SPOR – ZAMANI (@SporZamani034) February 13, 2024
Tanggal 13 Januari 2024, City melawat ke Newcastle upon Tyne. Pasukan Guardiola tertinggal 2-1 di babak pertama. Pada menit 70, De Bruyne yang sudah bagas waras dimainkan. Dan…. duar! Ia mencetak gol penyama kedudukan. Jelang laga bubar, sang pemain lalu memberi asis kepada Oscar Bobb untuk mencetak gol kemenangan The Citizens.
Kemenangan atas The Magpies itu benar-benar titik balik kebangkitan City. Usai kemenangan itu, City tancap gas. Mereka tak menelan satu pun kekalahan sampai musim tuntas. Sementara Arsenal malah kepeleset dari Aston Villa. Kekalahan atas The Villans membuat Arsenal tertinggal dari City.
Awal Dominasi The Citizens?
Setelah kalah dari Villa, Arsenal cuma bisa berharap City kalah. Tapi mengharapkan City kalah seperti berharap UKT akan turun. Konon tidak ada yang sudi bantu Arsenal mengalahkan City, sekalipun sesama tim London. Lagian, fans Arsenal ini aneh, berharap kok sama Fulham, West Ham, dan Tottenham.
Alih-alih menggeprek City, jelas mereka yang kena geprek. Sembilan kemenangan beruntun dari awal April 2024 membuat The Citizens akhirnya mengunci gelar Premier League. Ini sekali lagi, adalah gelar keempat City secara beruntun.
Dengan memenangkan empat gelar beruntun, ini bisa jadi awal mula City mendominasi Premier League sebagaimana Bayern Munchen mendominasi Bundesliga. Sepanjang sejarah Bundesliga, dari tahun 1963, tidak ada satu pun tim yang juara empat musim beruntun.
Bayern Munich are the only team from Europe’s big five leagues to win the league title in 11 consecutive seasons…
Bayer 04 Leverkusen have just ended that streak. 💀 pic.twitter.com/qQDMru5coA
— Squawka (@Squawka) April 14, 2024
Lalu hadirlah Bayern Munchen yang juara empat musim beruntun sejak 2013 sampai 2016. Setelah itu mereka mendominasi dan baru patah di musim ke-12. Nah, di Premier League dari 1992 sama, tidak ada satu pun klub yang bisa juara dalam empat musim beruntun.
Sampai muncullah Manchester City. Mungkinkah ini adalah awal mula The Citizens mendominasi dalam 11 musim? Wallahualam.
Btw, selamat buat Manchester City dan para fansnya. Untuk Arsenal dan fansnya, jangan berkecil hati ya. Ingat kata-kata bijak ini:
“Semua akan indah pada….. hal tidak.”
Sumber: SkySports, CA, Optus, FlashScore, PaintTheArsenal


