Jika Inggris meyakini sepak bola adalah permainan, orang Italia percaya bahwa sepak bola adalah pekerjaan. Maka dari itu, hasil akhir, bagi orang Italia lebih diutamakan.
Orang Italia selalu meyakini, bermain bagus pun jika hasilnya tidak berpihak, maka akan tetap disebut pecundang. Kultur yang kejam seperti inilah yang membuat Italia bisa melahirkan para pelatih hebat di dunia sepak bola.
Dan itu kontinu. Ketika orang mengira generasi pelatih Italia habis ditelan zaman. Taktiknya jadul dan dianggap tak eksploratif, justru di titik itu para pelatih Italia mengejutkan. Tengoklah musim ini. Di tiga final kompetisi Eropa, ada tiga pelatih asal Italia. Siapa saja mereka?
Daftar Isi
Musim Lalu Tiga Tim di Final, Sekarang Tiga Pelatih di Final!
Musim lalu Italia mengirim tiga wakilnya di tiga final kompetisi Eropa. Inter di Liga Champions, AS Roma di Liga Eropa, dan Fiorentina di Liga Konferensi Eropa. Sayangnya, ketiganya tak ada satu pun yang menutup musim dengan gelar kompetisi Eropa.
Musim ini agak berbeda. Italia cuma mengirimkan dua wakilnya ke final kompetisi Eropa. Fiorentina di Liga Konferensi dan Atalanta di Liga Eropa. Tapi ada tiga orang Italia yang akan bertarung di tiga final tersebut.
Gian Piero Gasperini dengan Atalanta-nya, Vincenzo Italiano dengan Fiorentina-nya, dan tentu saja Carlo Ancelotti dengan Los Galacticos-nya. Ini pencapaian langka. Pencapaian ini juga menjadikan Italia satu-satunya negara yang memiliki manajer dari negara asalnya di ketiga final tersebut.
Ini sekaligus membuktikan bahwa pelatih asal Italia masih bisa berbicara banyak di level Eropa. Carletto, Italiano, dan Gian Piero membuktikan supremasi pelatih asal Italia di Eropa. Ketiganya melanjutkan kehebatan para pelatih Italia terdahulu seperti Giovanni Trapattoni, Marcello Lippi, hingga Arrigo Sacchi.
Tiga pelatih Italia di tiga final kejuaraan Eropa berbeda musim ini
📌 Piala Intertoto:
Vincenzo Italiano (Fiorentina)📌 Piala UEFA:
Gian Piero Gasperini (Atalanta)📌 Piala Champions:
Carlo Ancelotti (Real Madrid)Sepakbola Italia masih ada. pic.twitter.com/6mSKZ4m98s
— SERIE A LAWAS (@SerieA_Lawas) May 10, 2024
Vincenzo Italiano, Dua Kali Bawa Fiorentina ke Final
Dari ketiga pelatih, Vincenzo Italiano adalah yang paling muda. Usianya baru 46 tahun. Dibanding Carletto dan Gian Piero, Italiano bisa dibilang generasi muda pelatih Italia. Walau begitu, ini adalah final Eropa kedua Italiano secara beruntun.
Pelatih kelahiran Jerman itu pernah membawa Fiorentina ke final Liga Konferensi Eropa musim lalu. Eks pelatih Spezia itu sepertinya masih penasaran dengan kompetisi Eropa.
Ia masih berambisi mengantarkan trofi bagi Fiorentina. Karena untuk meraih scudetto tidak mudah, maka ia mengincar trofi lain. Kebetulan Fiorentina, tanpa satu halangan apa pun, lolos ke final Liga Konferensi.
Musim lalu, ia dikandaskan lewat cara kurang menyenangkan oleh David Moyes. Tahun ini peluang untuk mematahkan kegagalan ganda di final Liga Konferensi Eropa terbuka.
Vincenzo Italiano has now steered Fiorentina to a Coppa Italia final and a UEFA Europa Conference League semi-final. 🟣
What a job he’s doing in Florence! 👏#TheGoalpostNews #Fiorentina #Viola #CoppaItalia #UECL #EuropaConferenceLeague #SerieA #Calcio #Italiano pic.twitter.com/6vhZ8dnwvq
— The Goalpost (@TGoalpost) April 28, 2023
Italiano Membangun Fiorentina
Vincenzo Italiano sendiri bukan nama besar. Namanya tak menyerempet kuping kita kalau Fiorentina tak ke final Liga Konferensi Eropa. Italiano tenggelam di antara Simone Inzaghi, Stefano Pioli, Gian Piero Gasperini, bahkan pelatih muda Thiago Motta yang membawa Bologna ke UCL.
Satu hal yang menggambarkan Italiano. Dia sosok petarung. Sosok yang memahami sekali filosofi sepak bola Italia. Italiano membimbing tim kecil merangkak ke level lebih tinggi. Misalnya, ia bawa Trapani promosi ke Serie C dan memimpin Spezia naik ke Serie B.
Pria yang satu ini telah membangun reputasinya sebagai manajer muda yang tajam dan berorientasi pada hasil. Sebelum ke Fiorentina, ia pernah hampir merapat ke Napoli. Salah satu direktur di sana pernah menjulukinya “Un Piccolo Pep” atau “Si Kecil Pep Guardiola”.
Fiorentina have made back-to-back UEFA Conference League finals 👏🇮🇹
Great achievement for Vincenzo Italiano 💜⚜️ pic.twitter.com/WMvTj3ZXnd
— Italy Propaganda 🇮🇹⚽️ (@ItalyProp) May 8, 2024
Bagi orang yang cuma tergila-gila sama trofi, julukan itu mungkin tak berarti. Atau bahkan, tak layak disematkan ke pelatih yang satu ini. Namun, baik Guardiola maupun Italiano punya kegilaan yang sama pada taktik. Daripada pendekatan emosional, Italiano menyukai pendekatan taktik.
Cara ini berhasil meningkatkan martabat La Viola. Semula publik Artemio Franchi sering tertunduk lesu. Namun, kehadiran Italiano membawa harapan baru. Ia memadukan gaya penguasaan bola dan pragmatisme. Kolektivitas permainan adalah ciri khasnya.
Lihat saja, untuk gol pun dibagi rata. Nico Gonzalez emang top skor klub, tapi gol La Viola juga datang dari Bonaventura, Lucas Beltran, Mandragora, bahkan seorang bek seperti Lucas Martinez Quarta.
Sensasi Gian Piero Gasperini
Jika Italiano adalah generasi baru, Gian Piero Gasperini adalah generasi lawas tapi rasa baru. Ya, usianya sudah 66 tahun. Dua tahun lebih tua dari Carletto. Namun, sensasi Gasperini sering tak diperhatikan sana-sini. Namanya timbul-tenggelam seiring prestasi Atalanta yang itu-itu saja.
Berbeda dengan Italiano yang dua kali menyentuh final kompetisi Eropa. Final Liga Eropa menghadapi Bayer Leverkusen nanti akan menjadi final Eropa pertama pelatih gaek tersebut. Benar, Gasperini memang senior di dunia kepelatihan.
Namun, silakan cek profilnya. Selain kosong trofi, Gasperini juga tak pernah membawa timnya ke final kompetisi Eropa. Paling baik ia membawa La Dea ke perempat final UCL musim 2019/20.
Prior to 2016, Atalanta hadn’t played European football since 1991 and had never featured in the Champions League.
Enter Gian Piero Gasperini:
2017-18: UEL Round of 32
2018-19: UEL Play-off Round
2019-20: UCL Quarter-finals
2020-21: Begins UCL Group Stage with 4-0 win. pic.twitter.com/QbrykYYt7p— Matchday365 (@Matchday365) October 21, 2020
Gasperini tak begitu tergila-gila pada taktik. Ia punya prinsip yang lebih sederhana. Penganut mazhab tiga bek itu menempatkan serangan sebagai identitas Atalanta. La Dea dibuatnya tim yang mempersetankan kekuatan musuh.
Pokoknya menyerang, titik! Prinsip itu dipakai musim ini. Mau di Italia maupun Eropa, menyerang telah menjadi nama tengah La Dea. Beruntungnya, musim ini Gasperini punya pemain yang mendukung ide itu. Charles De Ketelaere, Ademola Lookman, dan Gianluca Scamacca misalnya.
Kalau kita melihat yang melakukannya Atalanta bukan Juventus, gaya menyerang cukup aneh. Kita selalu berpikir kalau tim kecil tidak akan mungkin bermain menyerang. Apalagi ketika menghadapi tim besar.
Namun, seperti orang Indonesia memegang erat Pancasila, Atalanta dan Gasperini menggenggam erat prinsip tadi. Prinsip pokoknya menyerang ini bahkan membuat tim sekelas Liverpool jiper bermain di rumahnya sendiri.
Dari ketiga pelatih Italia yang meloloskan timnya ke final, Gasperini adalah yang paling lama. Ia berada di Atalanta selama kurang lebih delapan tahun sejak pertama kali gabung tahun 2016. Kontraknya juga baru akan berakhir 2025 mendatang.
🔙 17/18 UEFA Avrupa Ligi Son 32
🔙 19/20 UEFA Şampiyonlar Ligi Çeyrek Final
🔙 20/21 UEFA Şampiyonlar Ligi Son 16
🔙 21/22 UEFA Avrupa Ligi Çeyrek Final
🆕 23/24 UEFA Avrupa Ligi Final🧣 Gian Piero Gasperini yönetimindeki Atalanta, gururla sunar… | #UEL pic.twitter.com/LsmOKmjoaJ
— beIN SPORTS Türkiye (@beINSPORTS_TR) May 9, 2024
Tahu rahasianya bisa selama itu melatih? Gasperini bukan pelatih yang neko-neko. Daripada merengek minta pemain, ia selalu menerima pemain apa pun yang tersedia. Namun, Gasperini selalu tahu cara memakai pemainnya. Lihat saja apa yang terjadi pada Ketelere dan Scamacca.
Carlo Ancelotti Tak Usah Diragukan Lagi!
Yang terakhir, Carlo Ancelotti. Real Madrid, tim yang dilatihnya menghadapi segudang masalah di musim ini. Thibaut Courtois sang pahlawan di semifinal Liga Champions musim 2021/22 harus absen lama karena cedera. Pemain-pemain lain seperti Eder Militao dan David Alaba menyusul cedera.
Belum lagi Karim Benzema yang memperoleh Ballon d’Or malah hengkang ke Ittihad. Real Madrid tim besar, tapi di awal musim ini menjagokan Real Madrid juara Liga Champions selama di sana ada Manchester City dan Pep Guardiola dianggap pepesan kosong.
Carlo Ancelotti se convirtió en el PRIMER ENTRENADOR en eliminar en tres ocasiones a Pep Guardiola de la UEFA Champions League.
✅️ 2014 en semifinales (vs. Bayern)
✅️ 2022 en semifinales (vs. Manchester City).
✅️ 2024 en cuartos (vs. Manchester City. pic.twitter.com/i761NMb6em— Express Futbol (@ExpressFutbolCL) April 17, 2024
Diremehkan dan berada dalam tumpukan masalah tak menghalangi Ancelotti membawa Real Madrid ke final Liga Champions. Ancelotti berhasil melewati ujian sulit. Mengalahkan Pep Guardiola dan City yang diagungkan itu di perempat final. Lalu, mengalahkan Bayern Munchen yang berambisi meraih minimal satu trofi.
Ada yang bilang, kelolosan Real Madrid ke final dibantu wasit. Namun, orang itu pasti tak paham, Ancelotti terbiasa membawa timnya ke final UCL. Enam kali ia melakukannya. Sedangkan Real Madrid adalah peraih gelar UCL terbanyak.
Keduanya perpaduan yang tak terbantahkan. Lagi pula prinsip orang Italia yang penting adalah hasil akhir. Carletto mengerti, seandainya Real Madrid kalah di semifinal, bukan hanya tim dan penggemarnya yang menahan malu. Namun, dirinya juga akan dianggap pecundang.
Jika Italiano terobsesi pada taktik, Gian Piero pada prinsip, Carletto adalah manifestasi paling pas pelatih dengan kemampuan man management yang bisa jadi terbaik di dunia. Alih-alih pendekatan prinsip dan taktik, Ancelotti melakukan pendekatan emosional.
⏱️ ¡FINAAAAL! Joselu y el ADN del Real Madrid meten a los blancos en la final de Wembley. #UCL
🇪🇸 Real Madrid 2-1 Bayern 🇩🇪 | (Global: 4-3) pic.twitter.com/ms0rjCv97F
— El Chiringuito TV (@elchiringuitotv) May 8, 2024
Ia percaya saja pada pemainnya. Kepercayaan ini ia kuatkan dengan keahlian memetakan potensi pemain. Hasilnya, pemain yang terlunta-lunta dan terbuang seperti Joselu malah bisa jadi penentu.
Musim lalu ada dua pelatih Italia di final, dan keduanya, gagal. Kini ada tiga. Mungkinkah ketiganya membawa pulang pialanya? Atau malah mengulangi apa yang terjadi musim lalu?
Sumber: TheGuardian, OneFootball, BreakingTheLines, Football-Italia, LigaOlahraga, GFNI, Detik, StartingEleven


