Sayang sekali Timnas Indonesia mesti kalah atas Uzbekistan di semifinal Piala Asia U-23. Skor 2-0 mengakhiri laga yang bukan hanya penuh drama, tapi juga sangat amat melelahkan bagi Timnas Indonesia. Namun, tak usah khawatir, kekalahan bukan akhir dari segalanya.
Kalimat itu bisa dimaknai bukan hanya kata-kata bijak saja. Tapi secara harfiah pun, kekalahan atas Uzbek tidak berarti perjuangan Timnas Indonesia tamat. Kalau untuk juara di Piala Asia U-23 memang tertutup, tapi masih ada kesempatan untuk merebut tempat ketiga.
Dengan menjadi juara ketiga, Indonesia akan langsung terbang ke Paris. Tidak perlu capek-capek melakoni babak play-off untuk lolos ke Olimpiade. Di perebutan tempat ketiga, anak asuh Shin Tae-yong akan menghadapi Irak U-23 yang di semifinal dibekuk Jepang.
Mampukah Indonesia menumpas perlawanan Irak? Sebelum kita mulai membahasnya, jangan lupa subscribe dan nyalakan loncengnya agar tak ketinggalan video terbaru dari Starting Eleven Story.
Daftar Isi
Head to Head
Irak yang akan menjadi lawan Timnas Indonesia di perebutan tempat ketiga bukanlah lawan enteng. Sekalipun dihabisi Jepang dan susah payah menaklukkan Vietnam. Bagi Timnas Indonesia itu sendiri, Irak amat sulit untuk ditaklukkan.
Dalam delapan pertemuan terakhir terhitung dari tahun 1973, Timnas Indonesia belum pernah sekali saja menaklukkan Irak. Di dua pertemuan terakhir, Timnas Indonesia malah dihajar dengan skor mencolok. 5-1 di Kualifikasi Piala Dunia zona Asia dan 3-1 di fase grup Piala Asia lalu.
Satu-satunya catatan manis atas Irak terjadi di kualifikasi Olimpiade tahun 1968. Dua tahun sebelum Shin Tae-yong lahir. Ketika itu, Timnas Indonesia yang diperkuat Jacob Sihasale, pemain yang pernah bertukar jersey dengan Pele, menumpas perlawanan Irak lewat skor 2-1.
Memang, kemenangan Indonesia atas Irak sudah lama sekali. Namun, kalau melihat momentumnya, asa untuk mengalahkan Singa Mesopotamia ada. Indonesia terakhir kali menang atas Irak di kualifikasi Olimpiade, kebetulan laga nanti bukan cuma perebutan tempat ketiga, tapi juga dijadikan kualifikasi Olimpiade.
Shin Tae-yong Selalu Kalah Melawan Irak
Namun, kalau bicara jujur dan realistis, untuk mengulangi kemenangan atas Irak pada kualifikasi Olimpiade 1968 tidak semudah mengalahkan Yordania. Apalagi selama menjadi pelatih, Irak masih membuat Shin Tae-yong penasaran.
Eks pelatih Korea Selatan itu sanggup mempermalukan Jerman, tapi di hadapan Irak, Shin Tae-yong lah yang menutup mukanya. Dua kali Tae-yong bertemu Irak, dua kali pula menelan kekalahan. Kebetulan dua pertemuan itu terjadi kala STY sudah menukangi Timnas Indonesia.
Parahnya, Tae-yong bukan sekadar kalah, tapi dihajar lewat skor mending WO. Rekor kurang sedap ini mungkin akan menghantui Shin Tae-yong. Di dalam tempurung kepalanya itu, otaknya akan terus bekerja untuk mencari cara menaklukkan Irak.
Namun, tenang saja, coach! Irak yang akan dihadapi nanti bukan tim senior. Bukan tim yang dilatih Jesus Casas. Jadi, antum tak perlu cemas. Sekalipun belum pernah menang melawan Irak, tapi ada perbedaan yang cukup signifikan antara tim senior Irak dengan tim U-23-nya. Dan celah itu bisa dimanfaatkan.
Irak U-23 Tak Terlalu Superior
Irak di Piala Asia U-23 sendiri tidak terlalu superior. Ia tidak seperti Uzbekistan U-23 yang bahkan belum kebobolan sampai semifinal. Kendati harus diakui, Irak lolos ke fase gugur berstatus juara Grup C. Singa Mesopotamia mengungguli Arab Saudi, Tajikistan, dan Thailand dengan enam poin.
Irak bisa menjadi juara Grup C karena unggul head to head atas Arab Saudi. Namun, dari segi produktivitas mencetak gol saja, Irak masih kalah dari Arab Saudi. Anak asuh Radhi Shenaishil hingga babak semifinal baru mencetak tujuh gol saja.
Sementara Arab Saudi mengemas 10 gol sampai semifinal. Jumlah gol yang dicetak Irak U-23 sama persis dengan Indonesia. Baru dari segi gol yang diciptakan saja, Indonesia dan Irak berimbang. Nah, menariknya, tidak seperti Uzbekistan, Irak U-23 adalah tim yang mudah kebobolan.
Sampai laga semifinal kontra Jepang, gawang Ali Jasim dan kolega jebol tujuh kali. Jumlahnya sama dengan Timnas Indonesia. Namun, anak asuh Shin Tae-yong bisa lebih baik dari Irak, terutama di fase grup. Sebab di babak grup, Indonesia cuma kebobolan tiga gol saja, sedangkan Irak sudah lima kali gawangnya jebol.
Ali Jasim vs Rafael Struick
Pundi-pundi gol Irak U-23 kebanyakan berasal dari satu pemain, yakni Ali Jasim. Pemain yang juga mempunyai 11 kaps di tim senior ini bahkan menjadi top skor sementara Piala Asia U-23 dengan tiga gol. Dengan kata lain, Justin Hubner CS harus mengencangkan ikat pinggang untuk menghadapi gelombang ancaman dari pemain 20 tahun itu.
Jasim yang versatile bisa menebar ancaman dari segala sisi. Sebagai striker dia berbahaya, sebagai pemain sayap, Jasim cepat dan tangkas melewati lawan. Muhammad Ferrari dan, terutama Fajar Faturrahman yang sering kalah lari dan kalah duel, harus bisa mengantisipasi pergerakannya.
Joint top goalscorer in the AFC U23 Asian Cup… Ali Jasim ⚽️🔥#AFCU23 pic.twitter.com/stPX6C64Q3
— Iraq Football 🇮🇶⚽️ (@IraqFootball_EN) April 26, 2024
Selain seorang top skor sementara, Ali Jasim juga menjadi pemain yang paling sering melepas tembakan tepat sasaran di Piala Asia U-23 kali ini. Situs resmi AFC mencatat, sudah delapan kali ia melepas shoot on target. Benar-benar ngeri si Jasim ini. Namun begitu, Timnas Indonesia tak perlu berkecil hati.
Jika Irak punya Ali Jasim, Garuda punya Rafael Struick. Kalau tidak tiba-tiba sakit perut, Struick bisa bermain di laga perebutan tempat ketiga nanti. Pemain kelahiran Leidschendam, Belanda ini akan menyaingi Ali Jasim di lini depan. Struick tak seperti Jasim yang meledak-ledak dan murah senyum. Ia kurang ekspresif dan pelit senyum di atas lapangan.
Tidak hanya perangainya, gaya main keduanya pun berseberangan. Jika Jasim sangat sporadis, Struick kelihatan malas berlari. Namun, justru itulah keahliannya. Mobilitas pemain keturunan Semarang ini begitu mengagumkan.
GOAL PERTAMA YANG SANGAT APA DARI RAFAEL STRUICK 🔥🔥🔥😱😱😱 pic.twitter.com/qAoGjyRDaj
— Extra Time Indonesia (@idextratime) April 25, 2024
Ia tak hanya fokus di lini depan, tapi kadang juga turun ke belakang, menjadi penghubung antarlini.Struick ini gaya mainnya seperti Kai Havertz yang terlihat tak bergairah tapi cakap menafsir ruang. Keahliannya menafsir ruang ini membuat Struick tahu kapan harus menjadi penghubung, kapan melepas tembakan.
Struick juga telah membuktikan kapasitasnya sebagai penyerang. Di Piala Asia U-23 kali ini, El Klemer bahkan termasuk pemain yang paling sering melepas tembakan ke arah gawang. Total sudah enam kali ia melakukannya. Jumlah itu hanya kalah dari Khusyain Nurchaev (7) dan Ali Jasim (8).
Kelemahan Timnas Indonesia U-23
Kurang jantan kalau cuma nyalahin wasit atas kekalahan melawan Uzbekistan. Timnas Indonesia tidak boleh menjadi udang yang tak tahu bungkuknya. Mereka harus mencium telapak tangan sendiri, bau atau tidak.
Ada banyak kekurangan saat ditekuk Uzbekistan. Misalnya, anak asuh Shin Tae-yong tidak bisa menguasai bola. Mereka terus ditekan oleh pasukan Uzbek. Betul, STY sering menyesuaikan taktik sesuai lawannya. Namun, jika hanya bertahan justru fisik makin mudah lelah. Jadi, di laga melawan Irak nanti tidak ada salahnya mengambil inisiatif untuk menekan.
Saat dikalahkan Uzbekistan, Indonesia memilih menyerang lewat tengah. Sayangnya, itu bisa diantisipasi dengan baik oleh Uzbekistan. Ivar Jenner dan Nathan Noel berhasil dimatikan. Nah, di laga melawan Irak, Indonesia harus lebih variatif lagi. Bisa dengan memanfaatkan lebar lapangan jika lini tengah terkunci.
Mengurangi miskomunikasi wajib hukumnya. Akurasi umpan juga perlu ditingkatkan. Karena itu bisa menjadi senjata ketika dapat momentum menyerang. Nah, dalam kondisi ini, Struick saja tidak cukup. Determinasi Witan Sulaeman dan penetrasi Marselino Ferdinan juga diperlukan.
Belum lagi, Indonesia juga tanpa Rizki Ridho yang dikartu merah. Kehilangan bek yang mirip Kim Soohyun itu jelas kerugian bagi Timnas Indonesia. Namun, STY pasti punya rencana siapa yang akan mengisi posisi Ridho.
Calon Lawan di Olimpiade
Laga bisa jadi akan berlangsung ketat. Atau malah mungkin antitesis bagi salah satu tim. Kendati begitu, mari optimis. Katakanlah Indonesia bisa mengalahkan Irak dan lolos ke Olimpiade langsung, siapa calon lawan mereka?
Indonesia berpeluang menempati slot AFC 3. Dan akan bergabung ke Grup B di Olimpiade 2024 cabang sepak bola putra. Di sana tim raksasa Argentina menanti. Selain Argentina, ada Maroko dan Ukraina.
Indonesia memang masih punya kesempatan di babak play-off andai kalah atas Irak. Tapi kalau bisa satu grup dengan Argentina, kenapa tidak?
Sumber: Detik, TribunNews, Detik, TheJakartaPost, BolaTimes, 11v11


