Kamis, 11 April 2024, Bilbao, sebuah kota berpenduduk 347 ribu jiwa di provinsi Bizkaia, wilayah otonomi Euskadi atau yang lebih dikenal dengan Basque Country, menggelar sebuah perayaan juara yang sangat meriah.
Kemacetan terjadi di berbagai sudut kota. Band-band lokal tampil dalam pesta dadakan yang digelar sedari pagi. Dan puncaknya, lautan manusia berbaris dari muara sungai Nervion hingga balai kota untuk menyaksikan “La Gabarra” yang legendaris membawa para penggawa Athletic Bilbao.
Perayaan juara yang sangat meriah dan emosional tersebut bukanlah untuk merayakan gelar juara liga, Champions League, atau bahkan treble winner. Melainkan hanya sebuah trofi Copa del Rey.
Akan tetapi, bagi Athletic Bilbao dan para pendukungnya, Copa del Rey 2024 bukanlah sekedar trofi biasa. Untuk memahami bagaimana perayaan juara yang bersejarah tersebut bisa terjadi, maka kita mesti kembali ke masa lalu, tepatnya di musim 1983/1984.
Athletic Bilbao ended a 40-year major trophy drought and celebrated with a boat parade pic.twitter.com/bPizvgJvCL
— Kendall Baker (@kendallbaker) April 12, 2024
Sejarah “La Gabarra”
5 Mei 1984, Estadio Santiago Bernabeu menggelar laga final Copa del Rey antara FC Barcelona vs Athletic Bilbao. Laga yang berlangsung dengan tensi panas tersebut berakhir dengan kericuhan. Biang keroknya adalah Diego Maradona.
Usai peluit akhir dibunyikan, Maradona menendang pemain pengganti Bilbao, Miguel Angel Sola hingga membuatnya terkapar dan tak sadarkan diri. Maradona, bersama Bernd Schuster kemudian terlihat menendangi setiap pemain yang berseragam merah dan putih.
Insiden tersebut membuat para pemain Athletic Bilbao menghentikan selebrasi mereka. Balasan serangan pun dilayangkan. Alhasil, tawuran pun pecah. Polisi anti huru-hara kemudian diterjunkan untuk mengawal para pemain Barcelona dan menghentikan para suporter yang melempar berbagai benda ke dalam lapangan.
In 1984, Athletic Club Bilbao won their 23rd Copa del Rey final. No club had won the trophy more often. They played Barcelona in that final too. They haven’t won the Copa in 37 years since. Any excuse to re-post the infamous brawl that followed that game.pic.twitter.com/zhe3GyLx6Z
— Colin Millar (@Millar_Colin) April 17, 2021
Usut punya usut, keonaran yang dibuat Maradona dipicu karena rasa frustrasinya. Pada tahun 1983, Maradona harus menepi beberapa bulan karena cedera patah kaki usai dilanggar Andoni Goikoetxea. Selain Maradona, Bernd Schuster juga pernah menjadi korban tekel pemain berjuluk “the Butcher of Bilbao” itu di tahun 1981.
Terlepas dari itu, Barcelona dan Athletic Bilbao memang tengah saling membenci. Suporter kedua tim bahkan sudah terlibat cekcok sejak awal pertandingan. Penyebabnya adalah sentimen antarwilayah antara Basque dan Katalunya.
Meski berakhir dengan kericuhan, tetapi Athletic Bilbao berhak atas trofi Copa del Rey. Berbekal skuad bertalenta semacam, Andoni Zubizarreta, Andoni Goikoetxea, Patxi Salinas, Dani Ruiz-Bazán, hingga Luis de la Fuente, Los Leones yang kala itu dilatih oleh Javier Clemente berhasil menang 1-0 berkat gol tunggal Endika.
Trofi Copa del Rey tersebut melengkapi musim manis Bilbao yang beberapa hari sebelumnya memastikan menjadi jawara Spanyol. La Liga musim 1983/1984 adalah salah satu musim paling ketat dalam sejarah Liga Spanyol. Dan, Atletic Bilbao berhasil mendapat trofi kedelapan mereka usai unggul 1 poin dari Barcelona dan hanya unggul selisih gol atas Real Madrid.
Trofi Copa del Rey 1984 sendiri menjadi trofi Copa del Rey ke-23 bagi Athletic Bilbao. Kala itu, tidak ada tim yang lebih banyak meraih trofi Copa del Rey dibanding Los Leones.
Untuk merayakan musim manis tersebut, Athletic Bilbao kemudian menggelar parade juara dengan menaiki “La Gabarra”, sebuah kapal tongkang tradisional untuk menyusuri Sungai Nervion, mulai dari Las Arenas di muara sungai sampai ke balai kota di jantung kota Bilbao.
Tongkang memang menjadi jenis kapal penting dalam industri lokal Bilbao. Biasanya, tongkang dipakai untuk mengangkut bijih besi, tetapi “La Gabarra” dipakai khusus sebagai tamu kehormatan untuk merayakan gelar juara Athletic Bilbao.
Perayaan juara dengan “La Gabarra” tersebut pertama kali terjadi di tahun 1983 ketika Athletic Bilbao meraih trofi La Liga ketujuhnya. Tradisi ini pertama kali dicetuskan oleh salah satu direktur klub pada saat itu, Cecilio Gerrikabeitia.
Sebelum meraih trofi La Liga 1983, Athletic Bilbao telah berpuasa gelar La Liga selama 27 tahun dan tak meraih trofi mayor apapun selama 10 tahun lamanya. Pada saat itu, kota Bilbao juga tengah jatuh dalam kesedihan. Kondisi industri lokal sedang tidak baik-baik saja dan tingkat pengangguran sedang tinggi-tingginya.
Oleh karena itu, Cecilio Gerrikabeitia berpikir bahwa sebuah perayaan juara di balkon Balai Kota, seperti yang sudah biasa mereka lakukan, tidaklah cukup. Maka untuk memberi hiburan sekaligus perayaan yang akan terus tertanam abadi dalam ingatan, lahirlah parade juara dengan “La Gabarra”.
Sejak saat itu, perayaan juara dengan “La Gabarra” menjadi tradisi bagi Los Leones dan para pendukungnya. Sayangnya, tradisi tersebut hanya dapat berlangsung 2 kali. Sebab, setelah menjuarai La Liga dan Copa del Rey di musim 1984, Athletic Bilbao harus kembali berpuasa gelar.
Logo mais começa a pintar uma coleção de imagens fantásticas da “gabarra” do Athletic Bilbao, com as margens do rio abarrotadas de gente para festejar a Copa do Rei. A primeira vez que o cortejo de barco aconteceu foi em 1983. Legal relembrar algumas imagens: pic.twitter.com/RZQZvWEHWS
— Leandro Stein (@leandro_stein) April 11, 2024
6 Kali Kalah di Final
Bilbao memang tak pernah berhenti memproduksi talenta lokal berbakat. Seiring dengan berjalannya waktu, politik cantera juga telah dimodifikasi sehingga memungkinkan klub untuk merekrut pemain keturunan Basque atau pemain berdarah Basque dari klub rival. Sayangnya, segala upaya tersebut belum mampu membuat “La Gabarra” kembali mengarak pahlawan Bilbao menyusuri Sungai Nervion.
Athletic Bilbao memang belum pernah turun kasta dari La Liga. Namun, pada musim 2005/2006 dan 2006/2007, mereka sempat berjuang keras untuk menghindari degradasi. Dua musim beruntun tersebut jadi musim terburuk dalam sejarah Los Leones.
Sementara itu, di ajang Copa del Rey, Bilbao butuh 24 tahun lamanya untuk kembali menginjakkan kakinya di laga final, tepatnya di final Copa del Rey 2009. Sayangnya, mereka kala itu harus takluk 4-1 dari Barcelona.
Sejak saat itu, prestasi Athletic Bilbao memang berangsur membaik, ditandai dengan keberhasilan mereka merengkuh trofi Piala Super Spanyol di musim 2016 dan 2021. Namun, di ajang mayor, Bilbao masih nirgelar.
Pada musim 2012, kesempatan emas untuk mengakhiri puasa datang di final Liga Europa dan Copa del Rey. Namun, di dua laga final tersebut, Bilbao sama-sama menelan kekalahan. Setelah itu, Los Leones kembali mendapat kesempatan di final Copa del Rey 2015, 2020, dan 2021. Sayangnya, hasilnya tetap sama. Dan, puasa Bilbao kembali berlanjut.
Puasa gelar yang dialami Athletic Bilbao di era modern ternyata jauh lebih lama ketimbang saat mereka terpuruk di era 60an hingga 70an. Hal ini lantas membuat “La Gabarra” harus menunggu lama untuk kembali berlayar.
“La Gabarra” tak sepenuhnya menganggur. Setelah dipakai di parade juara musim 1984, “La Gabarra” tetap dipakai selayaknya kapal tongkang pada umumnya, yakni sebagai kapal angkut, perbaikan dermaga, hingga penyebaran pelampung. Namun, karena semakin tua, “La Gabarra” akhirnya dipensiunkan dan ditaruh ke Museum Maritim Bilbao sejak tahun 2013.
Kalahkan Real Mallorca, Athletic Bilbao Juara Copa del Rey 2024
Hingga akhirnya, tibalah kesempatan emas berikutnya untuk mengakhiri puasa gelar di Copa del Rey musim 2023/2024. Dilatih oleh Ernesto Valverde yang pernah membawa mereka menjuarai Piala Super Spanyol 2015, Bilbao sukses mencapai babak final Copa del Rey usai mengalahkan Barcelona dan Atletico Madrid di babak perempat final dan semifinal.
Los Leones pun menuju Estadio de la Cartuja di kota Sevilla dengan suka cita. Oscar de Marcos dan kawan-kawan membawa misi mulia. Di final ke-40 Athletic Bilbao di ajang Copa del Rey, mereka berambisi untuk mengakhiri puasa gelar klub yang telah berlangsung selama 40 tahun.
Tak kurang dari 80 ribu pendukung Bilbao juga dilaporkan menjalani away ke Sevilla untuk mendukung langsung tim kesayangannya. Sementara itu, San Mames yang berkapasitas 53 ribu penonton penuh sesak dengan para fans yang menggelar nobar.
Sancet marcó…
Y llegó la locura a San Mamés.
🎥 @JoniRamos pic.twitter.com/KDqiNMle1v
— Relevo (@relevo) April 6, 2024
Namun, itu bukanlah sebuah final yang mudah. Lawan mereka, Real Mallorca juga berambisi untuk mengakhiri puasa gelar yang sudah berlangsung sejak tahun 2003. Laga sengit pun terjadi. Mallorca dan Bilbao saling berbalas gol lewat Dani Rodriguez dan Oihan Sancet.
Hingga dua kali babak tambahan waktu, tidak ada gol tambahan tercipta. Laga pun dilanjutkan ke babak adu penalti. Singkat cerita, usai Manu Morianes dan Nemanja Radonjic gagal menuntaskan tugasnya, Alex Berenguer yang jadi penendang keempat berhasil memastikan kemenangan Athletic Bilbao.
Pemandangan haru sekaligus suka cita kemudian menghiasi raut wajah para penggawa dan fans Athletic Bilbao. Dan akhirnya, momen Iker Muniain mengangkat trofi Copa del Rey 2024 menjadi penanda berakhirnya masa penantian Athletic Bilbao selama 40 tahun lamanya.
Lo has logrado, capitán ❤️🤍🦁 pic.twitter.com/uPKBk5e1wo
— 🇵🇲 (@sancetazas) April 7, 2024
Ya, Copa del Rey 2024 bukanlah sekadar trofi biasa bagi Los Leones dan seluruh penduduk kota Bilbao. Wajar, sebab trofi tersebut diraih setelah menanti selama 40 tahun dan kalah dalam 6 laga final.
Maka, perencanaan dan persiapan matang pun dilakukan untuk merayakan gelar juara tersebut. Dan, pihak klub akhirnya memutuskan untuk kembali menghidupkan “La Gabarra” yang legendaris dari masa pensiunnya.
Pemandangan serupa dengan parade juara 1984 kemudian kembali terjadi di kota Bilbao. Diiringi 160 perahu, “La Gabarra” kembali berlayar membawa skuad juara Athletic Bilbao mengarak trofi Copa del Rey 2024. Menurut laporan, lebih dari 1 juta orang menjadi saksi dari parade unik tersebut.
Sebelum ditutup dengan pesta meriah di Balai Kota dan Dewan Provinsi, para pemain dan staff Athletic Bilbao sempat menggelar tabur bunga ke dalam sungai di depan San Mamés sebagai penghormatan kepada mereka yang telah meninggal dalam empat dekade terakhir dan juga sebagai bentuk penghormatan kepada surat-surat yang dikirimkan oleh anak-anak kepada para pemain sebelum partai final.
Sebuah perayaan juara yang unik dari klub paling unik di dunia.
***
Referensi: The Guardian, San Mames, Forbes, CNN, Athletic Club.


