Video viral menunjukkan Xabi Alonso dan stafnya sumringah ketika mendengar AS Roma yang bakal jadi musuhnya di semifinal Europa League. Hmmm.. aneh memang. Padahal Giallorossi kondisinya kini sedang gacor-gacornya bersama Daniele De Rossi.
De Rossi pun menanggapi santai video tersebut. Ia berasumsi bahwa Xabi Alonso senang karena mereka punya kesempatan membalaskan dendamnya musim lalu. Namun apakah Xabi Alonso bisa melakukannya?
👀📱 The moment Xabi Alonso and his staff found out they will be playing Roma in the Europa League semi-finals. pic.twitter.com/6M5NpkZdqo
— EuroFoot (@eurofootcom) April 19, 2024
Sebelum mengulas laga panas AS Roma vs Bayer Leverkusen, baiknya subscribe dulu dan nyalakan loncengnya agar tak ketinggalan sajian menarik dari Starting Eleven Story.
Daftar Isi
Memori Pahit Xabi Alonso
Sungguh pahit nasib Xabi Alonso musim lalu di semifinal Europa League. Langkah Die Werkself menuju final berhasil digagalkan AS Roma yang saat itu dilatih mantan guru Xabi Alonso, Jose Mourinho. Yang lebih menyakitkan lagi, Serigala Roma berpesta merayakan kelolosannya ke final di rumah mereka.
Publik Leverkusen maupun Xabi Alonso, bagaimanapun kini masih menyimpan luka. Selain luka, mereka juga masih merasa kesal dengan cara Roma lolos ke final. Pasalnya, salah satu faktor kegagalan Leverkusen lolos ke final yakni taktik parkir bus Jose Mourinho di kandang Leverkusen.
FT: Bayer Leverkusen 0-0 AS Roma. (0-1 AGG)
One year after reaching & winning the Conference League with AS Roma, José Mourinho reaches the EUROPA LEAGUE FINAL! 🌟 pic.twitter.com/TElqAYZXY0
— 𝐀𝐅𝐂 𝐀𝐉𝐀𝐗 💎 (@TheEuropeanLad) May 18, 2023
Bayangkan saja, dari segi statistik Leverkusen semuanya unggul, namun gagal cetak gol satupun. Bahkan Roma hanya mampu ciptakan satu tembakan saja sepanjang laga. Bagaimana nggak sebal coba?
Leverkusen Kini Lebih Superior
Namun kini Xabi Alonso tak mau berlarut-larut dengan kepahitan tersebut. Buktinya ia bisa cepat move on dan menjadikan Leverkusen lebih superior musim ini. Nggak ada yang menyangka, Xabi Alonso bisa membangun Leverkusen segacor ini.
Leverkusen benar-benar jadi primadona sepakbola dunia musim ini. Performa Die Werkself bahkan mengejutkan dengan rekor unbeaten-nya di semua ajang. Gelar juara Bundesliga yang jadi milik Munchen selama 11 musim, juga sudah mampu mereka rampas. Peluang mengawinkan gelar dengan trofi DFB pokal juga di depan mata.
Deséalo tanto, que un día el universo diga: “ahí está tu #Bundesliga” 😍🏆.#SomosBayer04 pic.twitter.com/3KhMAeZzQ5
— Bayer 04 Leverkusen (@bayer04_es) April 25, 2024
Namun di ajang Eropa, Xabi Alonso masih penasaran. Pelatih berdarah Basque ini masih punya ambisi untuk menaklukkan Eropa. Ia tak mau gagal lagi seperti musim lalu. Apalagi kondisinya kini Leverkusen sedang superior.
Ambisi Xabi Alonso
Kini ambisi Xabi Alonso menaklukan ajang Eropa kian dekat. Leverkusen sudah berhasil back to back ke Semifinal Europa League. Kelolosannya pun juga digapai dengan cara yang mengesankan. Sejak babak grup, Die Werkself tak pernah menderita kekalahan dan hanya dua kali seri.
🇮🇹✨ Daniele De Rossi has a 67% win percentage as Roma boss! 👨🏫 pic.twitter.com/Z5NFjxM2yx
— EuroFoot (@eurofootcom) April 9, 2024
Namun ambisi Xabi Alonso menaklukan Europa League musim ini kembali akan coba dijegal oleh lawan yang sama musim lalu, AS Roma. Bukannya takut, Xabi Alonso kini malah antusias kembali hadapi Giallorossi. Pasalnya, inilah momen yang ia tunggu-tunggu.
Rasa sakit para pendukungnya musim lalu, ingin coba ia balaskan lunas musim ini. Inilah kesempatan kedua yang langka bagi Xabi Alonso. Laga rematch ini bisa jadi momentum untuk membuktikan bahwa timnya kini lebih baik dari AS Roma.
Evaluasi Leverkusen
Akan tetapi untuk mewujudkan ambisi itu semua, Leverkusen butuh banyak hal. Selain harus tetap pede dengan kualitasnya musim ini, mereka juga harus banyak belajar. Xabi Alonso harus cermat mengevaluasi kekurangan performa anak asuhnya.
Misal soal ketinggalan lebih dulu dari lawan. Sebagai contoh saat laga melawan Qarabag di 16 besar. Mereka susah payah lolos melawan klub Liga Azerbaijan tersebut. Bahkan dua gol kemenangan mereka tercipta di menit 90+. Lalu di 8 besar menghadapi West Ham, mereka juga hampir saja kalah di London, jika Jeremie Frimpong tak mencetak gol penyama kedudukan di menit 90.
Jeremie Frimpong has 13 goals and 11 assists from the right flank this season.
He was Man of the Match in Bayer Leverkusen’s crucial second leg at West Ham 💥 pic.twitter.com/wJNzy8HTHY
— B/R Football (@brfootball) April 19, 2024
Di Bundesliga pun sama. Leverkusen juga sering terselamatkan oleh gol-gol di menit akhirnya. Saat melawan Dortmund misalnya, mereka saat itu selamat dari kekalahan oleh gol Josip Stanisic di menit 90+7.
Beberapa catatan tersebut harus jadi perhatian khusus Xabi Alonso jelang melawan Roma. Xabi Alonso jangan terlalu terlena dengan mental membalikan keadaan tersebut. Kalau bisa mencetak gol duluan, kenapa tidak sih? Toh itu lebih aman.
Bayer Leverkusen extened their undefeated streak to 45 games in all competitions thanks to a late goal from Josip Stanisic.
Highlights ⤵️#beINBundesliga #BVBB04 https://t.co/f63CmZEWTE
— beIN SPORTS (@beINSPORTS_EN) April 22, 2024
Jangan Sepelekan De Rossi
Sembari evaluasi dilakukan, Xabi Alonso juga harus melihat siapa lawannya sekarang. Ya, lawannya tak lagi Jose Mourinho yang pragmatis itu, melainkan Daniele De Rossi. Bagaimanapun performa Giallorossi sejak diambil alih Daniele De Rossi terbukti makin membaik.
De Rossi mampu mengubah il Lupi tampil lebih atraktif, dibanding saat bersama Mourinho. Roma lebih banyak pegang bola dan bermain menyerang di tangan De Rossi. Hasilnya positif, De Rossi perlahan mampu membawa Roma bangkit, baik di liga domestik maupun ajang Eropa.
⚠️Daniele #DeRossi spoke to the press following #ASRoma‘s 0-3 win, with Dean Hujsen’s wondergoal followed by two more – the boss mentions tactics, Svilar’s starting space, Bove’s bench time, Angelino…
How was the idea born of playing the 4-2-3-1?
“Maybe I wasn’t very happy… pic.twitter.com/ScpfHN8EM4
— Wayne Girard (@WayneinRome) February 18, 2024
Di Serie A, sejak dipegang De Rossi Roma baru kalah dua kali. Di Europa League, mental yang ditanamkan De Rossi ke anak asuhnya terbukti berhasil, ketika menang dramatis atas Feyenoord di babak playoff 16 besar maupun saat melawan AC Milan di 8 besar.
Namun Xabi Alonso tak takut dengan pencapaian De Rossi tersebut. Xabi Alonso malah senang jika menghadapi permainan lawan yang sama-sama menyerang seperti De Rossi. Ia justru muak apabila menemui lawan yang bertahan.
Menurut Xabi, pasti ada celah untuk menghukum tim yang bermain lebih atraktif. Ia sempat mencontohkan ketika AS Roma kalah di Olimpico atas Bologna. Taktik menyerang De Rossi saat itu kalah efektif dari taktik Thiago Motta. Bologna lebih disiplin dan efektif dalam memanfaatkan peluang. Ya, tampaknya Xabi Alonso ingin meniru apa yang dilakukan Thiago Motta tersebut.
Serie A 🇮🇹 || Bologna un paso más cerca de la Champions
AS Roma 1-3 Bologna
Con goles de Oussama El Azzouzi, Joshua Zirkzee y Alexis Saelemaekers, el cuadro de Thiago Motta venció a los de Daniele De Rossi, con lo que llegó a 62 puntos que lo colocan como cuarto.#SerieATIM pic.twitter.com/0Z48G8DzdA
— Futbol Vertical (@VerticalFutbol) April 22, 2024
Adu Taktik Pelatih Muda
Sama-sama akan menerapkan sepakbola atraktif dan menyerang, laga ini tentu akan lebih menarik. Jual beli serangan pasti banyak terjadi. Tinggal mental siapa nantinya yang lebih unggul.
Bicara soal mental, kedua pelatih ini juga sama-sama pelatih yang punya mental juara. Sejak menjadi pemain, mental tersebut sudah ada dalam diri mereka. Baik De Rossi maupun Xabi Alonso, keduanya dulu juga sama-sama tipe pemain petarung di timnya masing-masing. Jiwa tak kenal menyerah di lapangan, pasti sudah ditanamkan kepada anak asuhnya.
Xabi Alonso and Daniele De Rossi played seven games against each other:
◉ Roma 1-7 Bayern
◉ Bayern 2-0 Roma◉ Spain 1-0 Italy
◎ Italy 2-1 Spain
○ Spain 1-1 Italy
◉ Spain 4-0 Italy 🏆
◉ Spain 1-0 ItalyNow they will meet for the first time on the touchline. 😤#UEL pic.twitter.com/viO0qs0u2E
— Squawka (@Squawka) April 18, 2024
Mungkin yang sedikit jadi perbedaan dari kedua pelatih tersebut adalah dari segi formasi. De Rossi lebih suka menggunakan empat bek dengan skema 4-3-3 atau 4-2-3-1. Sedangkan Xabi Alonso konsisten menggunakan taktik tiga beknya dengan skema 3-4-3 atau 3-4-2-1.
Nantinya De Rossi tetap akan mengandalkan pemain seperti Pellegrini, Dybala, maupun Lukaku. Yang harus jadi sorotan bagi Xabi Alonso, De Rossi punya senjata bola mati yang sering dimanfaatkan beknya seperti Gianluca Mancini untuk cetak gol. Oh iya, jangan sepelekan juga pemain supersub seperti Eduardo Bove. Ya, musim lalu justru gol Bove-lah yang membuat Leverkusen gagal ke final.
🚨 BUT POUR L’AS ROMA !!!
⚽️ Edoardo Bove 62′
🟠🔴AS Roma 1-0 Leverkusen⚪️🔴 pic.twitter.com/orFh5Q8nDz
— Mahito (@Mahito_Tomura) May 11, 2023
Xabi Alonso dalam menghadapi Roma nanti tetap akan mengandalkan kekuatan utamanya seperti Florian Wirtz, Victor Boniface, maupun Patrik Schick di lini depan. Tak lupa juga, dua wing back-nya yang gacor Grimaldo dan Frimpong. Keseimbangan lini tengah mereka juga tetap akan dikomandoi oleh Granit Xhaka.
Dendam Xabi Alonso Di Olimpico
Dengan segala evaluasi dan kekuatan lengkap yang dimiliki, Xabi Alonso harusnya pede bisa membalaskan dendamnya musim lalu, saat kalah di Olimpico. Xabi Alonso harus curi poin terlebih dahulu di Olimpico, agar beban mereka di leg kedua nanti jadi lebih ringan. Entah itu dengan hasil seri atau syukur-syukur bisa menang.
Dengan begitu, ambisi menggebu Xabi Alonso menaklukan ajang Eropa musim ini bisa makin terwujud. Inilah kesempatan emas Xabi Alonso, kapan lagi? Bagi AS Roma, tolonglah.. jangan hentikan lagi langkah Xabi Alonso.
This Xabi Alonso Bayern leverkusen is winning the Europa League pic.twitter.com/1hSgyfHqv3
— Femi X (@AmosunFemi_) April 18, 2024
Sumber Referensi : footballitalia, tuttosport, aisscore, goal.com, dailymail, theanalyst


