Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Itulah yang sedang dialami Newcastle United musim ini. Laju mereka layaknya mobil yang bensinya hampir habis. Tersendat. Musim ini, anak asuh Eddie Howe memang berhasil kembali ke Liga Champions. Namun, sebagai debutan yang sudah lama absen mereka sama sekali tak menarik ditonton.
Performa yang tak jauh berbeda juga menjalar ke kompetisi domestik. The Magpies tak lagi sama seperti musim lalu. Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi? Apa yang salah dari perjalanan Newcastle United di musim 2023/24? Sebelum itu, jangan lupa subscribe dan bunyikan loncengnya untuk mendapatkan update terbaru dari Starting Eleven Story.
Daftar Isi
Musim Lalu yang Indah
Musim ini, Newcastle United benar-benar mengalami kemerosotan yang luar biasa. Hingga gameweek ke 28, klub yang identik dengan warna hitam dan putih masih saja bercokol di peringkat kesepuluh klasemen sementara Liga Inggris. Itu sangat berbanding jauh dengan performa mereka musim lalu.
Skuad racikan Eddie Howe bahkan berhasil menembus empat besar Liga Inggris dengan melangkahi tim-tim lain seperti Tottenham, Aston Villa, hingga Liverpool. Musim lalu jadi salah satu musim terbaik mereka di Inggris. Newcastle bahkan sulit dikalahkan. Musim 2022/23, Newcastle tercatat hanya kalah lima kali. Itu jumlah yang sama dengan sang juara, Manchester City.
Tak cuma di liga, performa mereka juga mengecewakan di kompetisi domestik lain. Jika musim lalu mampu menembus final Carabao Cup, musim ini menyentuh semifinal saja tak mampu. The Magpies sudah lebih dulu disepak oleh tim yang ah sudahlahh (Chelsea) di perempat final. Di Piala FA pun mereka terhenti di perempat final. Kali ini oleh Manchester City.
Jadwal Padat
Untuk mencapai sesuatu memang mudah, tapi mempertahankannya yang susah. Usai tampil mengejutkan di musim lalu, Newcastle United lupa bagaimana caranya untuk tampil konsisten. Padatnya jadwal kompetisi jadi salah satu biang keladi. The Magpies seperti belum siap menjalani musim-musim yang melelahkan.
Tembus ke Liga Champions justru jadi bumerang bagi mereka. Tampil di empat kompetisi sekaligus membuat mereka kagok, bingung, dan kewalahan. Awalnya Newcastle berusaha membagi porsi dengan sebaik mungkin. Namun, seiring berjalannya waktu hambatan demi hambatan mulai mengusik ketenangan Miguel Almiron cs.
Newcastle United mulai hilang konsentrasi. Mereka seperti belum tahu kompetisi mana yang ingin diprioritaskan. Biasalah, namanya juga klub kaya baru. Semuanya pengen diembat. Tapi di sisi lain mereka tak sadar bahwa kapasitas tim belum berada di level tersebut. Meski telah memperbaiki kedalaman skuad, para pemain belum terbiasa dengan tingginya intensitas kompetisi.
Kehilangan Banyak Pemain
Sulitnya menjaga konsistensi berdampak pada hasil akhir di lapangan. Newcastle mulai sering menuai hasil buruk. Sejak akhir Oktober hingga paruh musim pertama, Newcastle United hanya mengantongi empat kemenangan. Bahkan hanya menang sekali di bulan Desember.
Padahal, adanya Boxing Day di akhir tahun seharusnya jadi ajang mendulang poin bagi tim-tim Inggris. Sebagai perbandingan saja, di periode yang sama pada musim lalu Newcastle berhasil meraup banyak poin guna mendongkrak posisi di klasemen. Mereka bahkan tak terkalahkan sejak September hingga pergantian tahun.
Dampak menghadapi padatnya kompetisi ternyata lebih buruk dari itu. Para pemain yang kelelahan mulai tumbang satu per satu. Newcastle diterpa badai cedera beberapa pekan setelah kick off Liga Inggris. Situasi ini membuat sederet pilar utama harus absen dengan waktu yang cukup lama. Tak tanggung-tanggung, Newcastle mengakhiri tahun 2023 dengan kehilangan sembilan pemain sekaligus.
Pemain-pemain yang cedera antara lain Kieran Trippier, Alexander Isak, Joelinton, Harvey Barnes, Miguel Almiron, Callum Wilson, Jacub Murphy hingga Sven Botman. Meski saat ini sudah ada beberapa yang pulih, kehilangan mereka jadi suatu kendala serius. Mereka adalah pemain-pemain paling diandalkan oleh sang pelatih. Tanpa mereka, The Magpies kesulitan menjalankan skema permainan dengan maksimal.
Yang terbaru, Newcastle United harus kehilangan penjaga gawang utama mereka, yakni Nick Pope. Kita semua tahu, The Toon Army menjelma salah satu tim dengan pertahanan terkuat musim lalu adalah berkat performa gemilang sang penjaga gawang. Di luar daftar cedera yang panjang, Newcastle juga harus rela kehilangan Sandro Tonali hingga akhir musim lantaran terlibat skandal judi online.
Lini Belakang yang Jebol
Tak memiliki kedalaman skuad yang baik berimbas ke beberapa sektor, terutama lini bertahan. Tidak adanya Joelinton dan Tonali di tengah membuat Bruno Guimaraes harus bekerja ekstra. Itu sangat melelahkan, mengingat peran ketiganya selalu berkaitan. Jika salah satu tidak ada, maka trio lini tengah Newcastle layaknya sebuah rantai yang terputus.
Bruno tak bisa fokus untuk menyaring serangan lawan karena musti mengcover peran gelandang lain. Hal ini pula yang menyebabkan pertahanan Newcastle jadi bulan-bulanan tim lawan. Mereka jadi tim ke-7 yang paling sering menghadapi shoot on target, yakni 149 tembakan. Dari segitu banyaknya tembakan yang dihadapi, paling cuma 60% yang bisa ditepis oleh penjaga gawang.
Ketimbang musim lalu, Newcastle musim ini terlalu mudah kebobolan. Kita bisa melihat perbedaanya melalui statistik. Musim lalu, The Toons Army hanya kebobolan 33 gol saja. Sementara, musim 2023/24 pertahanan kokoh mereka bocor alus. Newcastle sudah kebobolan 48 gol dari 28 pertandingan.
Dengan menyisakan 10 pertandingan lagi, jumlah kebobolan Newcastle masih bisa melonjak. Catatan ini bahkan lebih buruk dari Wolves dan Everton. Kemerosotan ini tentu bukan tanpa sebab. Kehilangan banyak pemain belakang, termasuk sang penjaga gawang utama, yakni Nick Pope sangat mempengaruhi.
Martin Dubravka sebagai pelapisnya tak memiliki kemampuan di level yang sama dengan Pope. Sebelum cedera, Pope kebobolan 14 gol dari 14 pertandingan musim ini. Sementara Dubravka sudah kebobolan 30 gol dari jumlah laga yang sama. Catatan ini menunjukkan bahwa hilangnya Pope dari mistar gawang merupakan pukulan telak bagi tim.
Masalah Babak Kedua
Hilang fokus di babak kedua juga jadi pekerjaan rumah yang sulit diselesaikan. Di laga kontra Liverpool misalnya. Newcastle sebetulnya unggul lebih dulu melalui gol Anthony Gordon di babak pertama. Namun Newcastle sulit mengendalikan pertandingan di babak kedua. Keputusan ngawur Eddie Howe jadi salah satu penyebabnya.
Disaat masih unggul tipis, mantan pelatih Bournemouth itu justru menarik keluar Sandro Tonali, Alexander Isak, Anthony Gordon, dan Sven Botman. Ini jadi kesalahan yang fatal. Howe tampaknya lupa, ia sedang menghadapi siapa. Celah pun berhasil dideteksi oleh Jurgen Klopp. Ia langsung memasukan Darwin Nunez dan boom! Serigala Uruguay langsung membalikan keadaan melalui dua gol berkelasnya.
Kesalahan serupa yang membuat Newcastle kehilangan poin-poin penting kala menghadapi tim yang kualitasnya jauh di bawah mereka. Laga kontra Everton jadi salah satu contoh nyata. Bermain di Goodison Park, Newcastle kalah 3-0 dan seluruh gol tersebut tercipta di babak kedua. Newcastle juga kehilangan poin penuh di laga kontra Luton Town, Nottingham Forest, bahkan Bournemouth.
Situasi ini diperburuk dengan keterbatasan Newcastle di bursa transfer. Alih-alih mendatangkan amunisi baru di bursa transfer musim dingin, Newcastle justru dipaksa ngirit. Jika tidak, mereka bisa saja bernasib sama dengan Everton dan Nottingham Forest yang dikurangi poinnya. Jika harus memperbaiki kedalaman skuad, Newcastle setidaknya harus bersabar hingga musim depan.
Sumber: CBS Sport, The Athletic, NUFC, Fbref, Sport.detik


