Anak Legenda yang Cuma Jadi Pemain Medioker

spot_img

Sebelumnya Starting Eleven pernah membahas tentang ayah dan anak yang pernah bermain di klub yang sama. Kali ini, channel kesayangan kalian akan kembali membahas tentang hubungan ayah dan anak dalam sepakbola. Namun, kali ini tentang kegagalan putra dari sosok legenda sepakbola dalam mengikuti jejak sang ayah.

Mereka memang diarahkan untuk mengikuti jejak sebagai pesepakbola profesional. Namun, keberadaan mereka justru jadi pertanda bahwa ternyata buah bisa jatuh, jauh dari pohonnya. Anak-anak dari legenda ini cuma jadi pemain medioker. Siapa saja mereka?

Justin Kluivert

Dalam sejarah sepakbola Belanda, Patrick Kluivert masuk dalam daftar penyerang-penyerang hebat. Dirinya bahkan tergabung dalam generasi emas Ajax Amsterdam yang menjuarai Liga Champions musim 1994/95. Kluivert juga sempat membela klub-klub raksasa lain seperti Barcelona, AC Milan, hingga Newcastle United.

https://twitter.com/premierleague/status/1764280093269000325

Patrick sendiri punya empat putra yang semuanya dididik menjadi pesepakbola. Mereka adalah Justin, Ruben, Quincey, dan Quincey. Justin Kluivert jadi yang tertua dengan berusia 24 tahun. Di usianya yang sudah matang, Justin tak kunjung mencapai puncak potensinya.

Sempat mencuri perhatian ketika bermain di Ajax, karir Justin justru kian meredup setelah hijrah ke AS Roma tahun 2018. Dirinya bahkan tercatat tiga kali dipinjamkan ke Nice, RB Leipzig, dan Valencia sebelum akhirnya terdampar di tim gurem Liga Inggris, Bournemouth.

Zidane bersaudara

Tandukan ke dada Marco Materazzi dan gol spektakuler di final Liga Champions 2001/02 jadi momen yang langsung membuat kita teringat pada sosok Zinedine Zidane. Status legenda Zidane sudah tidak perlu diragukan lagi. Ia adalah sosok legenda sesungguhnya bagi Real Madrid dan Timnas Prancis.

Pernikahannya dengan Véronique Zidane melahirkan empat buah hati, yakni Enzo Zidane, Luca Zidane, Theo Zidane, dan Elyaz Zidane. Semuanya menggeluti sepakbola dan semuanya bisa dibilang gagal. Keempat anak Zidane ternyata tak mewarisi talenta hebat dari sang ayah.

Meski semuanya disekolahkan di akademi La Fabrica milik Real Madrid, Zidane bersaudara terlihat kesulitan untuk bersaing ketika memasuki usia remaja. Enzo Zidane yang memiliki posisi sama dengan sang ayah pun hanya bermain di klub-klub medioker seperti Alaves dan Almeria. Saking tak bertalentanya, kini Enzo berstatus tanpa klub sejak Juli 2023.

Joe Van Der Sar

Siapa yang tak kenal penjaga gawang ini? Edwin Van Der Sar adalah kiper andalan Manchester United edisi 2005 hingga 2011. Sepanjang kariernya, Edwin telah meraih 26 trofi termasuk dua trofi Liga Champions bersama Ajax dan Manchester United. Nah, Edwin punya seorang putra yang dinamai Joe Van Der Sar.

https://twitter.com/Pitt_MSOC/status/1586151690943705088

Joe mengikuti jejak sang ayah menjadi pesepakbola profesional. Bahkan, posisi yang dipilih pun sama, yakni penjaga gawang. Namun, hingga usianya menginjak 25 tahun. Tak ada tanda-tanda bahwa karirnya akan sebaik bapaknya. Dirinya kini hanya bermain di kasta ketiga Liga Belanda bersama Koninklijke.

Maxim Gullit 

Selanjutnya ada anak dari Ruud Gullit, Maxim Gullit. Berkarir di dunia sepakbola dengan bayang-bayang kesuksesan ayahnya tampak jadi suatu hal yang sulit bagi Maxim. Ayahnya yang pernah meraih banyak gelar termasuk dua gelar Liga Champions dan Ballon d’Or justru jadi beban baginya.

Maxim masih berusia 22 tahun memang, karirnya masih panjang. Namun, di usianya yang masih muda saja dirinya begitu kesulitan untuk menemukan klub baru. Setelah bermain di SC Cambuur dari tahun 2021 hingga 2023, Maxim kini menganggur. Dirinya tak kunjung mendapatkan klub baru.

Daniel Maldini

Keluarga Maldini adalah keluarga sepakbola yang sangat terkenal di Italia. Dari Cesare Maldini, bakat sepakbola menurun kepada Paolo Maldini. Kita semua tahu bahwa Paulo adalah bek terbaik yang pernah lahir di sepakbola Italia. Berbagai gelar domestik dan Eropa pernah diraihnya bersama AC Milan.

https://twitter.com/Squawka/status/1759337436809765291

Sayangnya, bakat sepakbola keluarga Maldini tak menurun kepada anak-anak dari Paolo Maldini. Daniel Maldini misalnya. Digadang-gadang bakal menjadi penerus keluarga Maldini di AC Milan, justru kesulitan untuk bersaing di skuad utama. Berposisi sebagai gelandang serang, Daniel malah sering dipinjamkan ke beberapa klub semenjana seperti Spezia, Empoli, dan kini AC Monza. 

Romeo Beckham

David Beckham adalah sosok mega bintang baik di dalam maupun luar lapangan. Bahkan setelah sekian tahun pensiun, pesonanya tak pernah hilang dari dunia yang membesarkan namanya itu. Mencapai puncak karir di Manchester United dan Real Madrid, Beckham memiliki segudang prestasi.

https://twitter.com/ESPNFC/status/1611463631715049494

Sayang, bakat dan keahliannya dalam bermain bola tak menurun sepenuhnya kepada kedua putranya, Brooklyn Beckham dan Romeo Beckham. Keduanya tak begitu menggemari dunia si kulit bundar. Tercatat hanya Romeo yang masih menekuni dunia sepakbola. Namun, karirnya tak spesial. 

Sebagian besar karir sepakbolanya juga bergantung pada sang ayah. Setelah dianggap tak layak oleh Arsenal, Romeo melanjutkan karirnya bersama Inter Miami, klub ayahnya sendiri. Lagi-lagi dengan bantuan David Beckham, Romeo bisa melakoni trial di salah satu klub Liga Inggris, Brentford tahun 2023. Sayang, kualitasnya hanya cocok untuk Brentford B, bukan tim utama.

Jordan Larsson

Jauh sebelum era Zlatan Ibrahimovic dan Alexander Isak, Timnas Swedia pernah memiliki predator ulung di depan mulut gawang dalam wujud Henrik Larsson. Pemain yang satu ini memiliki reputasi bagus di Celtic dan beberapa tim Eropa lain seperti Manchester United dan Barcelona.

Meski demikian, nasib mujurnya tak menurun kepada sang putra, Jordan Larsson. Meski Jordan pernah menjadi bagian dari La Masia, tapi dirinya tak pernah main di tim utama Barcelona. Setelahnya, petualangan Jordan dimulai dengan mentas di Belanda, Rusia, Jerman dan kini tengah memupuk karir bersama raksasa Denmark, FC Copenhagen.

Maurizio Pochettino

Publik sepakbola tentu tidak asing dengan sosok pelatih Mauricio Pochettino. Sebelum menjadi pelatih, Pochettino dikenal sebagai pemain kenyang pengalaman. Dirinya pernah bermain untuk PSG, Espanyol, dan Bordeaux. Selama karirnya, Pochettino juga mengantongi 20 caps bersama Timnas Argentina.

Sebagai mantan pesepakbola, Pochettino menuntun anaknya, yakni Maurizio untuk menekuni karir yang sama dengannya. Sayangnya, meski sempat mengenyam pendidikan sepakbola di akademi Tottenham, Maurizio biasa-biasa saja. Dirinya cuma bisa menembus skuad utama di tim kasta ketiga Liga Spanyol, Gimnastic.

Devante Cole

Andy Cole dikenal sebagai salah satu penyerang haus gol ketika bermain di Liga Inggris. Ia tercatat pernah memperkuat Newcastle United, Blackburn Rovers, Manchester United hingga Manchester City. Cole bahkan masih menjadi pencetak gol terbanyak keempat di era Premier League dengan 187 gol.

https://twitter.com/mh_bfc/status/1764416637308924224

Ketika masih membela City, anak Andy Cole, yakni Devante Cole lahir. Ia sempat tergabung dalam akademi City dari 2003 hingga 2014. Namun, karena tak kunjung menembus skuad utama, akhirnya Devante hengkang. Meski berstatus alumni akademi City, skillnya di bawah rata-rata. Devante yang kini berusia 28 tahun hanya mampu bermain di tim papan bawah macam Bradford City, Fleetwood Town, dan Barnsley.

Hugo Samir 

Nama terakhir muncul dari sepakbola tanah air. Ia adalah Hugo Samir anak Jacksen F. Tiago. Jika ayahnya dikenal sebagai mantan pesepakbola berprestasi dan sosok yang dikagumi baik dalam lapangan maupun di luar lapangan, maka Hugo adalah kebalikannya. Di usianya yang masih 19 tahun, Hugo merupakan pemain temperamental.

Akhir tahun lalu, Hugo menjadi perbincangan hangat di jagat sepakbola Tanah Air usai kedapatan memukul pemain lawan di laga Persib U-20 vs Borneo FC U-20. Mirisnya, itu bukan kali pertama Samir melakukan aksi anarkis. Sebelumnya, dirinya juga pernah menyikut pemain Timnas Uzbekistan, dan mendapat sejumlah sanksi dari Komdis PSSI. Jelas, kelakuan nakalnya ini bisa merusak karirnya di masa depan.

https://youtu.be/W09_jq5kEuY

Sumber: VIVA Goal, Marca, Sky Sport, Sportskeeda

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru