Daniele De Rossi, Pangeran Terbuang AS Roma yang Kini Jadi Pahlawan

spot_img

Bak cerita Gladiator di zaman Romawi Kuno. Kalau sudah di arena pertarungan, hanya hidup dan mati pilihanya. Hal itu pernah dialami oleh pemain AS Roma Daniele De Rossi. Perjuangannya membela AS Roma sudah ibarat Gladiator. Tak kenal takut, dan siapapun bisa ia lawan.

Sayang, perjuangan “Gladiator Roma” itu sempat disepelekan. Sampai-sampai para fans marah besar. Tapi kini sang Gladiator itu telah kembali. De Rossi ingin membayar hutang pengabdiannya kepada klub yang dicintainya itu.

Penerus Totti

Juli 2017, menjadi awal yang baru bagi AS Roma ketika ditinggal pangerannya Francesco Totti yang gantung sepatu. Namun bagi sebagian besar fans Roma, tak khawatir lagi soal siapa penggantinya. De Rossi saat itu sudah banyak disebut sebagai “kapten masa depan” Giallorossi. De Rossi dianggap yang paling ideal sebagai pewaris Totti. Toh, De Rossi sudah jadi wakil kapten Totti sebelumnya.

Secara loyalitas De Rossi juga tak usah diragukan lagi. Sejak 2002, ia hanya membela satu klub saja yakni AS Roma. Sorri ya, ia bukan pemain kutu loncat yang pindah sana-sini. Dedikasi dan kepemimpinannya juga banyak diakui berpengaruh bagi tim.

De Rossi adalah jenderal lini tengah serigala ibukota yang tangguh. Ia tak kenal menyerah. Tak pandang bulu, semua lawan tak ada yang ia takuti. Namun, ia agak berbeda dengan Totti. Ya, soal emosi. Ia terkesan temperamental. Tak jarang ia meluap-luap dan brutal ketika tanding. Tekel, provokasi, hingga adu fisik adalah ciri khasnya yang menonjol di lapangan. Berkat gaya permainannya tersebut, ia kerap beberapa kali diberi alarm oleh pelatihnya.

Sempat Diperingatkan

Seperti apa yang terjadi di tahun 2012 ketika Roma dilatih oleh Zdenek Zeman. Meski belum menjadi kapten tim, Zeman menilai karakter De Rossi yang brutal dapat merugikan tim. Dengan gayanya tersebut, De Rossi akhirnya mendapat hukuman yakni jarang mendapat menit bermain yang diharapkannya.

Begitupun ketika Roma dilatih Rudi Garcia. De Rossi kembali diperingatkan soal gaya permainannya yang cenderung galak itu. Dasarnya jiwa Gladiator, pelatih pun sempat ia lawan. De Rossi sempat berani menentang Rudi Garcia karena pelatih Prancis itu hanya merusak gaya permainan Roma.

Hubungannya Dengan Pemilik

Tak hanya beberapa kali diperingatkan pelatih, De Rossi juga sempat diperingatkan oleh pemilik Roma yang asal Amerika, James Pallotta, pada 2012. Bukan, bukan soal gaya permainan brutalnya. Melainkan soal masa depan De Rossi di Olimpico.

Pasca mengambil alih klub, Pallotta mengungkapkan bahwa semua pemain kecuali Francesco Totti posisinya belum aman. Artinya sewaktu-waktu Roma bakal kehilangan calon kapten masa depannya yakni De Rossi. Sejak itulah kemudian menjadikan hubungan De Rossi dengan Pallotta renggang. De Rossi lebih memilih mengambil jarak kepada pebisnis Amerika itu selama di AS Roma.

Sampai akhirnya hubungan mereka benar-benar memanas di musim 2018/19. Musim tersebut merupakan “musim bencana” bagi AS Roma. Roma jauh dari ekspektasi saat mereka finis di urutan keenam di Serie A. Pelatih Eusebio Di Francesco dipecat, dan direktur olahraga Monchi juga menanggalkan kopernya.

Namun Presiden AS Roma itu tak tau malu. Pallotta pede dan tidak merasa bersalah atas merosotnya performa klub. Ia malah menyalahkan kinerja tim. De Rossi pun makin muak terhadap sikap Pallotta itu. Ia bahkan sempat berani menunjukkan fakta bahwa Roma belum pernah memenangkan trofi apapun sejak Pallotta mengambil alih klub.

De Rossi Rela Pergi

Namun kedongkolan De Rossi tersebut ternyata harus dibayar mahal. Puncaknya, Pallotta benar-benar menghukum De Rossi. Ya, dengan berbagai macam alasan termasuk usia, klub memilih untuk tidak memperbarui kontrak sang kapten.

Tentu hal ini menjadi kejutan besar bagi para fans Il Lupi. Banyak fans yang menganggap bahwa De Rossi masih memiliki banyak kontribusi untuk tim meskipun usianya sudah terbilang semakin senja.

Proses keputusan tidak menawarkan perpanjangan kontrak kepada De Rossi juga tidak baik. Dalam konferensi persnya, De Rossi mengatakan bahwa dia belum berbicara dengan Pallotta tentang keputusan tersebut. “Tak ada telepon dari pemilik. Namun sebenarnya, saya masih ingin bermain di klub yang saya cintai ini” Kata De Rossi.

Kemarahan Fans

Mendengar kaptennya dikhianati oleh pemilik klub, fans pun kemudian ikut cawe-cawe. Fans meradang dengan sikap pemilik klub. Fans kemudian melancarkan protes bertubi-tubi. Baik itu di lapangan, jalanan, maupun media sosial.

di beberapa sudut kota Roma terbentang beberapa spanduk bernada melawan Pallotta.
Spanduk-spanduk itu ada yang tertulis “Ini soal respek dan cinta yang masyarakat ini tidak akan pernah miliki. Daniele De Rossi selalu ada di hati fans”.

Di dekat rumah De Rossi, spanduk bertuliskan “Daniele De Rossi Vanto Nostro” juga terbentang. Sementara di dekat kantor klub, beberapa bendera Amerika Serikat dipasang dalam keadaan terbalik.

Kali Kedua

Namun apa daya, beberapa protes tersebut tak membuat pemilik asal Amerika itu memberikan kontrak baru kepada De Rossi. Ya, nasi telah menjadi bubur. Pallotta memang bengis dan tak punya hati pada De Rossi. Ia membiarkan karier Gladiator Roma itu terbengkalai sebelum pensiun sebagai pesepakbola.

Sampai akhirnya ketika ia sudah menjadi pelatih, cinta lamanya terhadap Roma pun bersemi kembali. Setelah Jose Mourinho dipecat, ia ditunjuk menjadi pelatih sementara Giallorossi.

Seperti lirik lagu Raisa, “kali kedua pada yang sama”, De Rossi kini kembali menjadi bagian dari AS Roma. Ia ingin kesempatan kedua kalinya bersama Roma tak disia-siakan. Pelatih 40 tahun itu masih banyak hutang budi kepada klub kesayangannya ini.

Pahlawan Kebangkitan

Menjadi pelatih bukannya seperti menjadi pemain. De Rossi awalnya dianggap remeh karena CV-nya dalam melatih kurang mentereng. Ia masih dianggap bau kencur untuk menangani klub sebesar Roma. Namun dasarnya mental De Rossi seperti baja, ia tak menghiraukan beberapa anggapan tersebut. Ia terus melangkah.

Usaha keras memang tak menghianati hasil. Sejak mengambil alih Roma dari Mourinho, De Rossi selalu mendapat hasil yang positif. Giallorossi perlahan mulai bangkit, baik di liga domestik maupun Eropa.

Di Serie A, sejak mengambil alih Serigala Roma, De Rossi sudah catatkan enam kemenangan dari tujuh laga. Di Europa League kemenangan dramatis di babak playoff 16 besar dari Feyenoord juga jadi bukti bahwa tuah kepemimpinan dan keteladanan De Rossi berpengaruh.

Ketika ditanya, apa resepnya untuk bisa membawa Roma bangkit?. Ia malah menjawab, hanya memperkuat hubungan dengan para pemain yang sebelumnya terasa lebih tegang saat di bawah Mourinho. De Rossi percaya hubungan yang kuat dengan para pemain membantunya memaksimalkan potensi pemain hebat seperti Dybala, Lukaku, maupun Pellegrini.

Bagi De Rossi, kebangkitan Roma ini hanya bagian kecil dari kebahagiaannya. Yang paling penting adalah De Rossi bisa membayar hutang pengabdiannya yang belum selesai sebagai pemain di AS Roma. Ia juga ingin membuktikan bahwa ia adalah pangeran yang tak pantas didepak. Ya, inilah bukti kecintaan sang Gladiator sejati. Forza Daniele De Rossi.

Sumber Referensi : espn, footballitalia, fotmob, giallorossi, transfermarkt, footballitalia

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru