Pelatih Ini Jadi Korban Berengseknya Bayern Munchen

spot_img

Pepatah “Semua akan Bayern Munchen pada waktunya” tampaknya sudah tak berlaku lagi apabila melihat kondisi klub sekarang. Musim 2023/24 jadi periode yang kurang menguntungkan bagi klub berjuluk FC Hollywood tersebut. Seperti julukannya, klub kebanggaan warga Munich itu justru diselimuti berbagai drama di luar lapangan.

Puncaknya, manajemen Bayern Munchen secara resmi tidak memperpanjang masa kerja sang pelatih, Thomas Tuchel. Namun, sama halnya seperti Xavi Hernandez di Barcelona dan Jurgen Klopp di Liverpool, Tuchel baru akan meninggalkan Allianz Arena pada akhir musim nanti.

Dengan begini, Bayern Munchen seperti sedang membangun reputasi buruk sebagai sebuah klub yang sering bongkar pasang pelatih. Tuchel jadi korban kesekian. The Bavarian mungkin sudah layak dijuluki sebagai tempat pemakaman bagi pelatih-pelatih top.

Pep Guardiola

Ternyata, buruknya hubungan Bayern Munchen dengan pelatihnya sudah menjadi tradisi sejak tahun 2016. Pep Guardiola jadi yang mengawali rangkaian pelatih yang pada akhirnya hengkang sebelum kontraknya habis bersama Bayern Munchen. Kabarnya, kepergian Pep tidak meninggalkan kesan yang baik.

Meski begitu, tak bisa dipungkiri bahwa Pep Guardiola telah menghadirkan beberapa gelar domestik untuk Bayern Munchen, termasuk tiga gelar Bundesliga berturut-turut. Namun, Pep ternyata punya masalah dengan kebijakan transfer yang dijalankan oleh manajemen klub.

Sebelum Pep datang pada tahun 2013, Munchen baru saja memenangkan segalanya, termasuk Liga Champions bersama Jupp Hykes. Manajemen pun akhirnya menuntut hal yang sama pada Pep. Namun, manajemen kerap menolak usulan pemain yang harus didatangkan oleh Pep. 

Itu membuat pelatih asal Spanyol itu tak puas. Ia merasa tak bisa membentuk tim yang sesuai dengan kemauannya. Yang makin bikin Pep heran, bukannya memperbaiki sikap, Munchen justru menyiapkan Carlo Ancelotti sebagai penggantinya. Karena merasa tak ada keseriusan, Pep akhirnya memutuskan tidak memperpanjang kontrak di Munchen.

Carlo Ancelotti

Pelatih yang menggantikan Pep Guardiola, yakni Carlo Ancelotti pun merasakan hal yang tak jauh berbeda. Intrik dan konflik di luar lapangan jadi pengantar Ancelotti menuju pintu keluar Allianz Arena. Didatangkan dengan harapan bisa menjuarai Liga Champions, pelatih asal Italia itu justru bertahan semusim saja.

Ancelotti datang dengan CV mentereng. Mantan juru taktik Everton itu baru saja menangani Real Madrid dan mendulang banyak trofi. Don Carlo juga menyandang status sebagai pelatih yang mampu menjuarai Liga Champions bersama dua tim yang berbeda. Namun, di musim pertamanya Ancelotti cukup kesulitan. Meski pada akhirnya bisa mengamankan gelar Bundesliga musim 2016/17, Ancelotti gagal di DFB Pokal dan Liga Champions.

Permasalahan mulai muncul di awal musim 2017/18. Kontraknya yang masih tersisa sampai tahun 2019, Ancelotti tiba-tiba ditendang begitu saja usai mengalami kekalahan 3-0 dari PSG di ajang Liga Champions. Tapi itu tidak bisa jadi alasan. Terkuaklah intrik di balik itu. Ternyata, Don Carlo tak mendapat dukungan dari banyak pihak.

Ancelotti tak mendapat dukungan dari manajemen, fans, dan bahkan pemainnya sendiri. Semua meragukan gaya bermainnya yang terkesan pragmatis dan membosankan. Menurut presiden klub, Uli Hoeness sampai ada pemain yang secara gamblang menyatakan ketidaksukaannya pada Ancelotti. Pemain-pemain itu adalah Arjen Robben, Franck Ribery, Thomas Muller, dan Robert Lewandowski. 

Niko Kovac

Pelatih asal Kroasia ini jadi salah satu pelatih yang melanjutkan dominasi Bayern Munchen di Bundesliga musim 2018/19. Tak hanya itu, Niko Kovac juga berhasil mengawinkan gelar Bundesliga dengan DFB Pokal. Itu seharusnya jadi pencapaian yang harus diapresiasi oleh Munchen. Sayang, dirinya justru dipecat setelah hanya memimpin tim selama 18 bulan.

Kepergiannya pun meninggalkan gosip yang masih seru untuk dibahas hingga sekarang. Di musim keduanya bersama Bayern Munchen, Kovac tiba-tiba dipecat bulan November 2019. Kalah di final Piala Super Jerman dari Borussia Dortmund dan Munchen yang masih bercokol di peringkat empat Bundesliga jadi alasan manajemen memecatnya.

Setelah ditelisik, penyebab dipecatnya Kovac bukan sekadar performa buruk atau kehilangan trofi DFL-Supercup, melainkan ada konflik yang pecah di ruang ganti. Pemicunya adalah kekalahan memalukan 5-1 dari Eintracht Frankfurt. Usai kekalahan itu, terjadi keributan hebat antara Niko dan beberapa pemain seperti Thiago Alcantara dan Serge Gnabry.

Itu jadi kesalahan fatal bagi Niko Kovac. Kita semua tahu bahwa manajemen Bayern Munchen lebih membela teman ketimbang pelatih. Karena tak menemui jalan tengah, manajemen akhirnya memecat Niko lantaran situasi ruang ganti sudah tidak kondusif lagi.

Hansi Flick

Niko Kovac masih mending, Hansi Flick lebih tak dihargai lagi. Kurang apa sih Flick sama Munchen? Pelatih asal Jerman itu bahkan menghadirkan enam gelar sekaligus dalam satu tahun kalender 2020. Menjadikan Die Roten klub kedua yang pernah meraih sextuple sepanjang sejarah. 

Seharusnya itu lebih dari cukup untuk membuat suara Hansi Flick lebih didengar oleh para petinggi yang kala itu dijabat orang-orang seperti Oliver Khan dan Hasan Salihamidzic. Namun hal yang terjadi justru sebaliknya. Segala usulan Flick justru tak diindahkan oleh manajemen.

Salah satu kasusnya adalah soal pemilihan pemain. Hansi Flick menuntut klub untuk mempertahankan beberapa pemain yang dinilai masih berguna untuknya. Salah satu pemain yang kala itu diminta untuk tak dijual adalah Thiago Alcantara. Salihamidzic justru melepas Thiago ke Liverpool pada musim panas tahun 2020.

Flick kian murka dengan sikap Salihamidzic kala memutuskan untuk melepas David Alaba ke Real Madrid tahun 2021. Emosi yang sudah memuncak akhirnya membuat Flick hengkang dari Munchen di tahun yang sama.

Julian Nagelsmann

Musim liburan harusnya jadi momen untuk melepas penat. Namun, masa liburan justru jadi hal yang traumatik bagi Julian Nagelsmann. Pada 24 Maret 2023, Nagelsmann yang tengah menikmati liburan di Austria malah dikejutkan dengan kabar pemecatan dari Bayern Munchen.

Nagelsmann harus menyudahi masa baktinya meski belum genap dua tahun melatih. Lantas apa yang mendasari Munchen memecatnya? Ternyata Nagelsmann banyak menerima kritik dari manajemen tentang taktiknya yang tak konsisten. Manajemen menilai bahwa Munchen tak memiliki identitas permainan di bawahnya.

Awalnya Munchen belum mau memecat Nagelsmann di pertengahan musim, mereka ingin menahan sang pelatih setidaknya hingga akhir musim 2022/23. Namun, rencana tersebut berubah gara-gara Munchen tidak ingin kehilangan kesempatan untuk merekrut Thomas Tuchel.

Loh, apa hubungannya? Munchen ternyata sudah ingin mengganti Nagelsmann dengan Tuchel. Kala itu, Tuchel masih nganggur tapi sudah diminati oleh Real Madrid dan Tottenham. Apabila Munchen harus menunggu hingga akhir musim, mereka takut Tuchel malah mencapai kesepakatan lebih dulu dengan klub lain. Meski pada akhirnya mendapatkan sang pelatih, itu jadi salah satu alasan konyol yang terungkap baru-baru ini.

Apa Salah Tuchel?

Ngedapetinnya penuh pengorbanan, Tuchel malah dipecat juga musim ini. Dilansir Football London, disingkirkannya Tuchel merupakan buntut dari seringnya Munchen kehilangan poin-poin penting kala menghadapi tim yang notabene kualitasnya di bawah mereka.

Namun, menurut laporan yang sama, Tuchel juga gagal menciptakan ruang ganti yang harmonis. Pemain Bayern Munchen dikabarkan sampai terbelah menjadi dua kubu terkait kasus Tuchel kali ini. 

Pemain-pemain seperti Manuel Neuer dan Jamal Musiala menginginkan Tuchel bertahan. Sedangkan Thomas Muller dan Joshua Kimmich ingin Tuchel segera dipecat. Dapat disimpulkan bahwa tidak semua pemain yang memiliki pengaruh besar di dalam menginginkan Thomas Tuchel.

https://youtu.be/MGw9fTiap34

Sumber: ESPN, Sportstar, Sky Sport, FFT

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru