Tiba-tiba Ganti Logo, Klub Ini Bikin Fans Ngamuk!

spot_img

Di Indonesia kita cukup akrab dengan fenomena kontroversial dalam rebranding sebuah klub sepakbola. Misalnya, ada nih klub yang berbasis di daerah Samarinda, tiba-tiba bisa ganti nama, logo, dan menghilangkan segala bentuk sejarahnya karena pindah homebase ke Bali. Tanpa menyebutkan nama, kalian pasti tahu klub apa yang dimaksud.

Terlepas dari kearifan lokal itu, mengganti nama dan logo sebuah kesebelasan bukan hal baru di dunia sepakbola. Bahkan sudah banyak klub-klub Eropa yang juga melakukan hal serupa. Namun dari sebagian klub itu, ada yang paling kontroversial sehingga membuat fans mereka ngamuk. 

Manchester City

Selain sukses di kompetisi domestik, Manchester City juga pernah sukses bikin fansnya murka. Itu karena rebranding logo yang dilakukan oleh manajemen klub. Sebelum menggunakan logo yang sekarang, logo klub Manchester biru ini identik dengan gambar burung elang dan ada tulisan MCFC yang memiliki arti Manchester City Football Club. 

City juga dikenal dengan detail kecil yang sangat melambangkan klub tersebut. Detail itu berbentuk slogan yang diambil dari bahasa latin yaitu “Superbia In Proelio”. Jika diartikan dalam bahasa Inggris akan menjadi “Pride In Battle” yang artinya kebanggaan dalam pertempuran.

Awalnya Sheikh Mansour yang datang tahun 2008 tak berambisi untuk mengganti logo. Namun, pada tahun 2016 klub harus melakukan modernisasi untuk menyesuaikan perkembangan industri sepakbola. Selain itu, gambar elang emas tak ada kaitannya dengan sejarah kota Manchester. Jadi, ngapain juga dipertahankan?

Namun, keputusan menghilangkan slogan berbahasa latin tersebut cukup dipermasalahkan oleh sejumlah fans. Mereka menilai Sheikh Mansour ingin menghilangkan sejarah, semangat juang tim, serta membuat City menjadi seperti klub-klub Prancis. Tapi kenyataannya, City justru makin berjaya setelah berganti logo.

Juventus

Loyalitas ultras Juventus terkadang sulit untuk dijelaskan. Seringkali hal yang diperhatikan fans tak melulu soal permainan dan prestasi. Saat manajemen Juventus memutuskan untuk mengganti logo pada tahun 2017 ternyata menjadi perhatian para suporter. Pro dan kontra lahir di kalangan penggemar.

Pembaharuan kali ini begitu ekstrim ketimbang sebelumnya. Tampilan logo baru dari klub yang berjuluk Si Nyonya Tua itu menjadi seperti huruf “J” tok yang diwarnai hitam. Terlihat terlalu minimalis, jadi aneh aja gitu kalau dilihat karena sebelumnya berbentuk perisai oval layaknya beberapa klub Italia lainnya. 

Ini jadi perubahan yang berani tapi juga kontroversial. Bahkan tidak sedikit fans yang melayangkan protes melalui media sosial karena manajemen juga menghilangkan simbol Kota Turin di logo baru. Mereka menyebut Juventus berusaha mengesampingkan tradisi hanya demi nilai komersial. Itu karena lambang “J” begitu identik dengan sponsor Juve saat ini, Jeep. 

Namun, Interbrand selaku pihak yang mendesain punya alasan. Mereka mengklaim bahwa logo tersebut bisa merambah pasar yang lebih luas di masa depan. Mereka juga percaya bahwa logo itu akan tetap relevan dalam 50 tahun mendatang. Meski begitu, beberapa fans masih belum bisa menerima logo baru yang bukan Juve banget itu. 

West Ham United

West Ham United juga pernah melakukan rebranding logo yang membuat para fans jengkel. Tepatnya pada tahun 2016 ketika klub memutuskan untuk hijrah dari Boleyn Ground ke Olympic Stadium, London. Para petinggi West Ham ingin melakukan peremajaan logo agar terlihat lebih modern macam Manchester City.

Klub yang didirikan oleh sekelompok pandai besi ini identik dengan gambar dua palu menyilang dan sebuah kastil yang merepresentatifkan Boleyn Castle, sebuah landmark bersejarah di wilayah London Timur. Nah, di logo yang baru itu manajemen klub dan fans sepakat untuk menyisakan gambar palu saja. Alasannya karena mereka tak lagi bermarkas di Boleyn Ground.

Nah, kebijakan yang sulit diterima oleh fans adalah penambahan kata “London” di bawah lambang palu. Sejumlah fans merasa bahwa kata “London” kurang tepat karena West Ham bukan satu-satunya klub yang berasal dari London. Selain itu, seperti sudah menjadi semacam konsensus bahwa tak boleh ada satu pun klub yang memiliki nama “London”.

Jika itu dilakukan, akan timbul ketidakadilan antara satu klub dengan klub London lainnya. Manajemen West Ham pun menjelaskan bahwa keberadaan kata “London” adalah salah satu upaya mereka untuk menarik penonton dari seluruh London, bukan dari wilayah timur saja.

MK Dons

MK Dons dianggap terbentuk dengan cara yang kotor karena menghilangkan sejarah klub sebelumnya, Wimbledon FC. Tak heran jika MK Dons jadi salah satu klub yang paling dibenci di Inggris. 

Semua berawal pada tahun 1990-an. Karena markas Wimbledon FC tak memenuhi regulasi FA, Wimbledon FC mau nggak mau harus jadi tim musafir. Akhirnya pada tahun 1991 mereka berbagi kandang dengan Crystal Palace di Selhurst Park.

Setelah kurang lebih 12 tahun harus berbagi kandang dengan Palace, Wimbledon mendapat uluran tangan dari Pete Winkelman, pemilik The Milton Keynes Stadium Consortium. Wimbledon boleh memakai Consortium asal Pete boleh masuk di jajaran manajemen. Pemilik Wimbledon pada saat itu, Charles Koppel setuju untuk memindahkan klub ke Milton Keynes. Ia pun setuju agar Pete bisa masuk jajaran manajemen.

Setahun berada di Milton Keynes, Pete mengakuisisi saham Wimbledon pada tahun 2004. Punya hak atas klub, Pete akhirnya mengganti nama Wimbledon menjad MK Dons, ia juga mengubah logo klub yang sudah berdiri sejak 1889 tersebut. Keputusan ini tentunya memicu protes dari suporter Wimbledon FC kala itu. Namun, suara fans tak didengar oleh Pete.

Akhirnya sejumlah fans yang tidak puas membuat klub baru dengan nama AFC Wimbledon. Kabarnya, AFC bukan berarti Association Football Club, melainkan “A Fans Club” Ini menunjukkan bahwa AFC Wimbledon adalah klub yang berdiri atas inisiatif fans dan berorientasi pada fans.

PSG

PSG menandai musim 2013/14 dengan peremajaan logo. Mereka melakukan ini demi memperkenalkan PSG yang bukan lagi sekadar klub sepakbola melainkan sebuah brand. Yang paling kentara dari perubahan logo tersebut adalah diturunkannya kata “Saint-Germain” di bagian atas logo serta digantinya stroller dengan bunga lili. 

Gambar menara Eiffel yang sudah mengisi tengah logo sejak 1972 tetap dipertahankan. Sebetulnya, logo PSG tidak menimbulkan protes besar-besaran hingga demo di depan stadion. Tapi sempat menimbulkan polemik lantaran manajemen ingin mengubah warnanya menjadi biru muda.

Usulan itu jelas ditolak mentah-mentah oleh fans. Mereka enggan klub kebanggaannya berwarna sama dengan sang rival, Marseille. Meski akhirnya tak jadi, beberapa pendukung PSG, terutama fans yang sudah mendukung sejak era 90-an tetap kecewa karena kereta bayi yang melambangkan kelahiran Raja Louis XIV dihapus keberadaannya.

Cardiff City

Dari banyaknya klub sepakbola di Wales, Cardiff City salah satu yang paling beruntung pernah mencicipi bermain di kasta tertinggi sepakbola Inggris. Namun, keberlangsungan hidup Cardiff tak selamanya adem ayem. Gonjang-ganjing diciptakan oleh pemiliknya yang kontroversial, yakni Vincent Tan.

Tan dikenal kerap memicu perselisihan di antara jajaran pemilik dan manajemen klub karena keputusannya yang kontroversial. Salah satu kebijakan yang paling kontroversial adalah mengganti logo dan warna jersey Cardiff City.

Pada tahun 2012, pengusaha asal Malaysia itu mengubah jersey Cardiff yang identik dengan warna biru menjadi merah. Ia juga mengubah logo klub yang awalnya bergambar burung menjadi gambar naga. Sontak keputusan konyol ini membuat fans ngamuk.

Para suporter bahkan sampai melakukan aksi demo besar-besaran beberapa kali dalam satu tahun. Mereka bahkan sempat mengosongkan stadion agar sang pemilik sadar bahwa fans adalah bagian penting dari sebuah klub. Meski pada akhirnya Tan mengembalikan logo dan jersey ke warna semula, perubahan logo ini jadi salah satu yang paling kontroversial saat itu.

Aston Villa

Sebetulnya pada tahun 2016 tak banyak yang berubah dari logo Aston Villa. Namun, detail kecil yang diganti justru membuat fans Villa kebakaran jenggot. Di logo baru tersebut, perubahan ada pada tulisan “prepared” dan detail pada lambang singa yang sudah lama menjadi ikon The Villans.

Namun, pemilihan waktu untuk meluncurkan logo yang menjadi masalah. Situasi ini berawal saat Aston Villa harus turun kasta ke Divisi Championship untuk pertama kalinya dalam 28 tahun pada musim 2015/16. Di saat bersamaan, sang pemilik, yakni Randy Lerner justru meluncurkan logo baru.

Protes pun terjadi di seantero Kota Birmingham. Mereka menjelek-jelekkan pemilik klub Randy Lerner karena gagal menjaga tradisi kuat yang sudah melekat sejak lama. Mereka juga beranggapan bahwa Lerner tak tahu malu karena mengganti logo saat klub sedang terpuruk.

Situasi yang kurang lebih sama pun terjadi pada tahun 2023. Kali ini, perubahannya cukup drastis. Yang awalnya berbentuk perisai, menjadi lingkaran dan mengubah hadap singa dari kiri ke kanan. Logo terbaru mendapat ejekan konyol di media sosial lantaran dianggap mirip dengan Chelsea.

https://youtu.be/VAHwOBx40lA

Sumber: Forza Italian, MEN, Daily Star, GMS

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru