7 Penyerang IKONIK yang Pernah Dimiliki Italia

spot_img

Italia dalam percaturan sepakbola dunia dikenal sebagai penghasil talenta penyerang yang luar biasa bahkan ikonik. Misal dari mulai Giuseppe Meazza hingga Paolo Rossi. Setelah era dua pemain itu, attacante-attacante tajam yang ikonik juga lahir di Italia. Siapa saja mereka?

Roberto Baggio

Tampil dengan gaya rambut ikal, gondrong, lalu diikat. Jarang-jarang penampilan pesepakbola model beginian. Itulah ciri khas Roberto Baggio. Baggio awalnya melambung namanya kala membela Fiorentina di periode akhir 80-an. Di klub Tuscany itu ia sudah banyak digembar-gemborkan media Italia sebagai calon fantasista terbaik Italia.

Ia dikenal tak hanya sebagai seorang pemain yang kreatif dengan skill tinggi. Namun insting mencetak golnya juga tak kaleng-kaleng. Termasuk kalau dilihat dari golnya saat membela timnas. 27 gol dan satu-satunya pemain Gli Azzurri yang bisa cetak gol di tiga edisi Piala Dunia telah jadi bukti.

Tak hanya gol, Baggio juga punya visi, kreativitas, dan akurasi umpan yang aduhai. Wajar saja jika ia adalah masternya bola-bola mati di Italia pada masanya.

Dari Fiorentina, Juventus, AC Milan, Inter Milan, hingga tim medioker macam Bologna dan Brescia merasakan sendiri magis Baggio. Beberapa trofi pun sudah banyak diraih pemain kelahiran Caldogno ini.

Namun sayang, di puncak kariernya pada Piala Dunia 1994 ia malah diingat sebagai biang kerok kegagalan Gli Azzurri meraih gelar juara dunia. Kegagalan penaltinya masih menjadi luka bagi publik Italia. Namun ia rela meminta maaf. Ia menyesalinya dan hingga kini masih merasa berhutang pada sepakbola Italia.

Terlepas dari itu semua, Baggio tetap melegenda di tanah Italia. Ia dikenang sebagai teladan karena semangat, dedikasi, dan kegigihannya dalam sepak bola. Kisah perjuangannya juga menginspirasi banyak orang di Italia.

Christian Vieri

Di Italia pernah lahir orang yang hobinya bermain kriket, namun lebih memilih sepakbola untuk hidup. Bahkan pemain ini pernah bilang, jika pendapatan sepakbola tak menggiurkan, ia lebih baik jadi atlet kriket. Ya, pemain itu adalah Christian Vieri. Striker tajam yang pernah dimiliki Italia periode akhir 90-an hingga awal 2000-an.

Di masa kejayaannya, striker tinggi besar ini dikenal sebagai pengembara. Pasalnya, lebih dari sepuluh klub pernah disinggahi pemain kehadiran Bologna ini.

Nama Vieri awalnya melambung ketika singgah di Atalanta pada tahun 1995. Lewat penampilannya yang memukau di klub berjuluk La Dea inilah Vieri akhirnya bisa berlabuh ke klub besar Juventus.

Namanya juga pengembara, ia cenderung singkat jika membela tim. Namun yang paling diingat dan ikonik dari striker ini adalah, jadi orang Italia pertama dan satu-satunya yang menjadi top skor La Liga. Vieri meraihnya ketika membela Atletico Madrid di tahun 1998.

Italia jelas bangga punya striker predator macam dirinya. Tubuhnya yang ideal dan fisik yang prima, jadi kekuatan utamanya. Dalam duel bola atas maupun duel satu lawan satu, ia sangat mumpuni. Tembakannya yang keras dari kedua kakinya sering membuat kiper lawan kelabakan.

Pemain yang identik dengan nomor 32 ini, juga sangat besar jasanya bagi Timnas Italia. Pemain berjuluk Bobo ini telah menyumbangan 9 gol bagi Gli Azzurri di Piala Dunia 1998 dan 2002. Torehan itu membuat namanya bersanding dengan Baggio dan Paolo Rossi sebagai top skor Italia di Piala Dunia.

Alessandro Del Piero

Pasca era Roberto Baggio,lahir lagi pemuda bertalenta bernama Alessandro Del Piero. Siapa tak kenal pemain yang satu ini? Bagi fans Juventus pasti pemain ini dicap bak dewa. Dedikasi dan pengabdiannya sudah tak ternilai.

Del Piero lahir bukan sebagai pemain yang punya fisik tinggi besar layaknya seorang striker. Namun kalau dilihat dari jumlah golnya, bisa diadu dengan para striker lain. Lihat saja selama kariernya bersama Juventus, sudah 290 gol ia ciptakan.

Penyerang mungil 173 meter itu sudah sejak tahun 1993 berseragam Juventus. Del Piero sejak muda tak malu belajar dari para seniornya seperti Roberto Baggio, Ravanelli, maupun Vialli. Ia tumbuh menjadi pemain yang kreatif dan punya skill tinggi. Caranya umpan dan memanfaatkan bola mati, juga mirip Roberto Baggio.

Pemain kelahiran Conegliano ini mencapai puncak kejayaannya di akhir 90-an hingga 2000-an awal. Banyak gelar yang sudah ia persembahkan bagi La Vecchia Signora. Tak lupa juga, sumbangsihnya bagi negara yang tak bisa dilupakan.

Berusia 32 tahun di 2006, ia masih berjasa mengantarkan Gli Azzurri jadi juara dunia. Bahkan gol pentingnya di semifinal melawan Jerman telah membantu Italia lolos ke final.

Selain kejayaannya sebagai pesepakbola, hal lain yang diingat dari sosok pemain bernomor punggung 10 ini adalah soal kesetiaan. 19 tahun ia hanya membela satu klub saja yakni Juventus.

Bahkan ia rela lho, bertahan di klub yang dicintainya itu ketika terdegradasi karena kasus Calciopoli. Ya, Del Piero tak hanya sekedar maskot bagi Italia dan Juve saja. Teladan, dedikasi, dan kesetiaannya patut untuk dicontoh pemain-pemain lainnya.

Francesco Totti

Ngomongin soal kesetiaan Del Piero, ujung-ujungnya teringat akan satu sosok penyerang lagi di Italia yang juga tak kalah setia. Ia adalah Pangeran Roma, Francesco Totti. Totti seperti dilahirkan sebagai maskot AS Roma. Hanya Giallorossi, klub yang ia bela hingga pensiun. Bahkan nih, ia sempat bilang lebih memilih mati daripada meninggalkan AS Roma.

Kecintaan pada panji-panji AS Roma sudah ia tunjukan sejak masih berusia 17 tahun. Ia menempa karier sepakbola pertamanya di akademi AS Roma. Ia tumbuh menjadi penyerang yang handal. Tendangan ikoniknya yang keras, serta kemampuan eksekusi bola matinya tak usah diragukan lagi.

Totti juga pandai bermain di berbagai posisi lini serang. Salah satu yang ikonik yakni ketika di tahun 2006 ia sempat diposisikan sebagai false nine oleh Spalletti di AS Roma.

Totti adalah kapten termuda dalam sejarah AS Roma. Ia diberi mandat ban kapten disaat usianya baru menginjak 20 tahun. Kepercayaan serigala ibu kota terhadapnya, telah ia buktikan sepanjang kariernya.

Scudetto di tahun 2001 adalah salah satunya. Totti membawa publik ibukota Italia berpesta merayakan gelar itu. Sejak itu media-media Italia menyebut Totti sebagai The King of Rome.

Namun yang tak dilupakan juga oleh Totti, adalah gelar juara dunia tahun 2006. Ia menjadi saksi sekaligus bagian skuad Gli Azzurri yang berpesta di Jerman. Gelar itu dianggap Totti sebagai gelar penyempurnanya dalam hidup. Totti sangat mencintai negaranya, seperti juga ia mencintai AS Roma.

Filippo Inzaghi

Siapa yang tak kenal Filippo Inzaghi? Striker unik yang pernah dipunyai Italia. Bagaimana tidak unik coba, tipe striker kerempeng itu bisa ciptakan gol dari momen apa saja. Masih ingat ketika Final Liga Champions 2007 antara Milan melawan Liverpool? Ia mencetak gol cuma dengan tubuhnya karena tak sengaja menghindari tendangan bebas Pirlo.

Sir Alex Ferguson pernah menjulukinya pemain yang terlahir offside. Maklum karena gol-golnya juga kebanyakan lahir dari lepasnya Inzaghi dari jebakan offside lawan. Namun bukannya itu adalah salah satu keahlian terbaiknya? Di era sekarang ada yang beranggapan bahwa jika Inzaghi hidup di era VAR, pasti banyak golnya yang dianulir.

Selain itu, saking cintanya Filippo Inzaghi dengan Italia, selama kariernya sebagai pesepakbola ia hanya berseragam klub dari Italia saja. Pengabdiannya di level timnas juga sudah ia lengkapi dengan gelar juara dunia 2006. Ya, pria kelahiran Piacenza itu telah melegenda sebagai striker Italia yang ikonik. Jarang ada pemain lain yang bisa menyaingi keunikannya itu.

Luca Toni

Satu lagi yang tak boleh dilupa. Italia pernah punya striker gacor yang punya tinggi badan hingga 1,93 meter bernama Luca Toni. Karier Toni mulai menanjak ketika membela Fiorentina. Ia menjadi Capocannoniere di klub Tuscany itu. Sepatu emas yang diraihnya di Serie A pada tahun 2006, lalu mengantarkannya jadi bagian skuad Marcello Lippi di Piala Dunia 2006. Sungguh beruntungnya Toni. Ia bisa merasakan indahnya gelar juara dunia bersama Gli Azzurri.

Sejak itulah namanya populer di dunia. Sampai-sampai legenda Munchen Franz Beckenbauer tergiur dan akhirnya meminta Die Roten untuk merekrutnya.

Sebagai striker murni, karakter bermain Toni unik. Meskipun tidak cepat, tapi ia piawai menempatkan posisi. Selain duel udara, jangkauan kakinya yang panjang dan kuat dalam menguasai bola, jadi beberapa kelebihannya.

Beberapa gelar telah ia koleksi. Termasuk yang spesial adalah gelar sepatu emasnya. Sudah lima sepatu emas ia dapatkan selama kariernya. Namun yang paling ikonik adalah sepatu emasnya yang diraih di tahun 2015 bersama Hellas Verona. Pasalnya, Toni meraihnya di usia 38 tahun. Itu adalah pencapaian yang gila bagi seorang striker yang sudah berusia senja.

Sumber Referensi : footballparadise, thesefootballtimes, romapress, bleacherreport, historyofsoccer, blackandwhite

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru